
Belva yang menyambut kepulangan Gilang dengan wajah yang tertekuk tentu saja mengundang tanya di benak Gilang.
Gilang berpikir, apa ada yang salah di dalam dirinya seharian ini? Tapi Gilang rasa dia tak berbuat salah apapun.
Seharian ini dia tak sempat berkomunikasi dengan Belva karena kesibukannya meeting di luar kantor.
"Mau makan dulu apa mandi dulu?" tanya Belva tanpa memandang Gilang.
Belva berjalan mendahului Gilang begitu saja.
"Anak-anak udah pada tidur, Ma? Sepi banget. Emangnya nggak makan malam apa gimana?"
"Ada di kamar mereka masing-masing, Pa."
"Ya sudah. Kita ngobrol dulu aja yuk. Kayaknya ada yang ganggu pikiran Mama, deh."
Belva menghembuskan napas beratnya. Salah satu hal yang sangat Belva cintai dari seorang Gilang, dia begitu peka. Melihat perubahan sikap Belva begini, atau yang sudah pernah terjadi, pasti yang Gilang lakukan adalah mengajak Belva mengobrol dari hati ke hati.
Gilang menggenggam tangan Belva dan mengajaknya ke taman taman yang ada di samping rumah. Belva pun mengikuti langkah Gilang tanpa penolakan sama sekali.
"Capek banget, ya, Ma, hari ini?"
Ditanya seperti itu, Belva berpikir sejenak. Bukankah Gilang yang harusnya hari ini sangat lelah? Tapi Gilang justru menanyakan hal tersebut kepada Belva yang jelas-jelas di rumah seharian.
"Papa nggak capek? Ah, lagu berdua gini jangan panggil Papa sama Mama-lah."
Gilang tertawa kecil. "Tadi capek, Sayang. Tapi capeknya hilang setelah lihat belahan jiwa aku ini."
Belva tersenyum tipis. Meskipun umur mereka tak lagi muda, tapi sikap romantis Gilang juga masih tetap terjaga.
"Ada apa, Sayang? Ada masalah di rumah selama Mas kerja?"
Lagi-lagi Belva menghembuskan napasnya dengan kasar. "Gina sama Zurra bertengkar, Mas."
"Kenapa bisa bertengkar? Selama ini mereka jarang bahkan hampir nggak pernah bertengkar loh. Apalagi sampai buat kamu seperti ini."
Satu persatu permasalah Zurra dan Gina Belva ceritakan pada Gilang. Dengan penuh emosi dan penekanan-penekanan di beberapa bagian cerita.
Beberapa kali Gilang mengusap punggung Belva agar Belva berbicara lebih pelan dan lebih sabar lagi.
__ADS_1
Tak pernah sebelumnya dia melihat Belva bisa semarah ini. Apalagi marah kepada anak-anaknya.
"Aku heran tau, Mas. Di bagian mana kita membeda-bedakan antara Zurra dan Gina? Aku menyayangi Gina seperti aku sayang pada Zurra. Bahkan aku juga yang memperjuangkan agar Gina bisa diterima di keluarga kita. Tapi dia bisa loh bilang aku pilih kasih. Dia pikir mudah buat aku membagi kasih sayang antara anak kandungku dengan anak selingkuhanmu, Mas? Nggak!" Belva mengusap air matanya yang menetes.
Sekali lagi, walaupun bukan pada saat Gilang menikah dengannya Gilang berselingkuh, tapi tetap saja hal itu sangat menyebalkan bagi Belva.
Tapi selama ini Belva selalu berusaha mengenyahkan rasa itu dari dalam hatinya. Menerima Gina dengan seikhlas-ikhlasnya tanpa mengingat dia itu anak siapa.
"Udah, ya. Biar nanti Mas yang ngomong sama Gina. Mas minta maaf soal hal itu."
Belva menggelengkan kepalanya. "Nggak, Mas. Aku yang minta maaf. Maaf udah menyinggung hal itu lagi."
Sebenarnya Gilang juga serba salah. Jika dia membela Belva, dia takut menyinggung Gina. Gina juga anaknya meskipun sikapnya kali ini juga keterlaluan.
***
"Gina, ini Papa," ucap Gilang sembari mengetuk pintu kamar Gina.
Gina menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu dengan sedikit kesal. Dia yakin kalau Mamanya pasti sudah menceritakan semuanya kepada papanya.
Tapi Gina tetap membuka pintu kamarnya meskipun dia menunjukkan wajah kesalnya di depan Gilang yang sudah dapat dipastikan akan menyidangnya malam ini.
Gina menganggukkan kepalanya. Lalu membuka pintu menjadi sedikit lebih lebar, dan mempersilahkan Gilang untuk masuk ke dalam kamarnya.
"Lagi belajar?"
Lagi-lagi Gina menganggukkan kepalanya tanpa bersuara. Gina tau apa yang ditanyakan oleh Papanya hanyalah sebuah basa-basi saja.
"Papa dengar kamu ribut sama Zurra. Ada apa?"
Terlihat Gina menghembuskan napasnya dengan kasar. "Papa nggak usah tanya lagi kenapa kalau Mama juga udah cerita sama Papa."
"Tapi Papa mau dengar langsung dari kamu."
"Bagian mana yang mau Papa dengar langsung? Aku capek. Nggak mau kalau harus ceritain semua dari awal."
"Mau peluk Papa?" tawar Gilang. Memang wanita tidak bisa ditanya kenapa ketika perasaannya sedang tidak baik-baik saja.
Yang wanita butuhkan adalah sebuah pelukan hangat. Ketika dia sudah nyaman, dia akan bercerita dengan sendirinya.
__ADS_1
Gina segera memeluk Gilang. Sebenarnya hanya Gilang satu-satunya orang yang benar-benar memiliki hubungan darah dengannya.
Tapi selama ini Belva bisa melengkapi kekurangan yang Gina miliki. Yaitu hadirnya seorang ibu yang tidak bisa Gina rasakan semenjak ibunya pergi di usia Gina yang ke lima tahun.
"Aku cemburu lelaki yang aku suka, ternyata sukanya sama Zurra, Pa."
Benar, kan? Gina akan bercerita tanpa diminta.
"Bahkan ada yang terang-terangan mendekati aku hanya ingin tau tentang Zurra. Aku nggak secantik Zurra, ya, Pa? Aku nggak sepintar Zurra yang selalu jadi juara kelas."
"Dan Papa cemburu loh kalau Gina mencemburui lelaki seperti ini."
Gina mendongak. Memandang wajah Gilang dengan lekat. "Maksud Papa apa?"
"Anak Papa sudah punya rasa ke lawan jenis. Hal yang tidak pernah membuat Papa siap. Papa yang cinta pertama kalian ini, harus diduakan dengan lelaki lain."
"Ih, tapi, kan, tetap beda, Papa. Papa tetap cinta pertamaku."
Gilang tertawa renyah. "Iya, Papa tau. Suatu saat kamu dan Zurra juga akan menikah. Siap tidak siap Papa harus melepaskan kalian untuk lelaki yang datang meminta kalian secara baik-baik. Dan mereka harus sesuai dengan kriteria Papa juga. Untung saat ini, Papa mau anak-anak Papa fokus belajar terlebih dahulu. Baik Zurra maupun Gina sekalipun yang sudah kuliah, Papa nggak ijinkan buat pacaran."
"Kenapa?"
"Coba cari hukum pacaran di dalam Islam? Papa tau kamu sudah tau hal itu, Gina."
Gina kembali mengeratkan pelukannya kepada sang Papa. Dia tahu pacaran itu dilarang di dalam agamanya. Banyak hal yang tidak bermanfaat ketika menjalani pacaran. Bahkan lebih banyak hal yang menjurus ke dalam dosa.
"Papa dan Mama juga tidak pernah membedakan kamu dan Zurra. Apa yang Papa dan Mama berikan buat Zurra, kami juga memberikannya untukmu. Apa yang Zurra miliki, kamu pun juga memilikinya. Mama meskipun bukan Mama kandung kamu, tapi dia sudah menganggap kamu seperti anaknya sendiri, Gina. Jangan pernah lagi bicara kalau kami membedakan antara kamu dengan Zurra. Mama sedih dengar kamu bilang seperti itu."
Ya, Gina pun menyadarinya. Sesaat setelah dia mengatakan hal tersebut di depan Belva dan Zurra tadi.
"Boleh aku ketemu sama Mama? Aku mau minta maaf, Pa."
"Mama sudah tidur. Besok pagi aja bicara baik-baik sama Mama dan Zurra, ya. Bagaimanapun juga Zurra, kan, juga tidak tahu kalau teman-temanmu seperti itu. Zurra bahkan tidak kenal sama mereka."
Gina menganggukkan kepalanya. Sebenarnya dia sangat sadar bahwa apa yang dikatakan Gilang itu benar. Sebelum Gina mendiamkan Zurra pun dia sadar bahwa Zurra tidak bersalah.
Tapi kecemburuan serta kekesalannya tidak bisa membuatnya menahan diri untuk tidak menyalahkan Zurra.
🌻🌻🌻
__ADS_1