Gadis Belia Istri CEO Duda

Gadis Belia Istri CEO Duda
Part 44


__ADS_3


"Pregnant? Aku hamil?"


Menggunakan testpack yang satunya, Belva baru bisa yakin kalau dirinya memang hamil.


Kalau kemarin hanya sebuah garis samar saja, sekarang dengan memakai alat yang lain, hasilnya terlihat lebih jelas.


Belva masih terlihat bingung. Masih belum bisa percaya bahwa dia benar-benar hamil kali ini.


Ada hasil buah cintanya bersama Gilang yang selama ini Gilang nantikan. Belva pun juga menantikannya. Tapi baru beberapa bulan terakhir karena sebelumnya dia nekat meminum pil KB secara diam-diam.


***


"Gimana hasilnya?" tanya Rania dengan sedikit berbisik. Pasalnya, saat ini mereka tengah berada di dalam kelas.


Belva belum menjawab, karena dia tau reaksi Rania pasti akan heboh dan mengundang perhatian.


"Nanti aja!" balas Belva.


"Penasaran tau."


"Sabar!"


Setengah jam berlalu. Satu per satu teman-teman mereka pergi meninggalkan kelas karena kuliah pagi ini sudah selesai. Dan akan dilanjut lagi nanti jam sebelas siang.


"Bel, gimana?" Rania masih mendesak Belva dengan rasa penasarannya.


"Pregnant."


"Waaaaaaaa... Seriusan, Bel?"


"Bisa pelan dikit nggak, sih?"


Benar dugaan Belva. Reaksi Rania begitu hebohnya mendengar Belva hamil. Andai tadi Belva langsung menjawabnya, sudah pasti perhatian semua orang akan tertuju kepada keduanya.


"Aku seneng dengernya. Suami udah tau? Mama sama Papa kamu?"


Belva menggelengkan kepalanya. "Baru kamu doang. Kan, rencana aku mau buat surprise."


"Kalau gitu surprise-nya sekalian di kasih hasil USG."


"Periksa ke dokter gitu?"


"Ya iyalah. Kalau nggak ke dokter gimana bisa dapat itu hasil USG?"


"Iya juga, ya? Nanti, deh, atau besok aku ke dokter."


Rania tersenyum lebar. Lalu mengelus perut Belva yang masih rata. "Ih, perut segini ada baby-nya tau. Gemes!" ucap Rania.


"Pengen, ya?"


Rania menganggukkan kepalanya.


"Buat lah."


"Nggak ada yang bisa diajak buat, Bel."


"Nikah dulu woy. Awas macam-macam sebelum nikah."


"Ya enggaklah. Bisa dibunuh sama Papa dan kakakku kalau aku kayak gitu."


"Nah, iya. Nanti aku bantu mereka, deh."

__ADS_1


"Jahat banget."


Belva tertawa lepas. Sadar itu hanya candaan, Rania pun ikut tertawa.


***


"Kamu belum datang bulan, kan, Sayang? Coba di cek, deh. Siapa tau kamu hamil."


Belva yerdiam sesaat mendengar ucapan Gilang. Ingin jujur kalau dia sudah test, tapi belum waktunya. Belva ingin hal ini menjadi kejutan untuk Gilang setelah Gilang pulang nanti.


Karena Belva yakin, Gilang pasti tidak akan fokus bekerja dan pasti akan pulang tanpa peduli dengan pekerjaannya kalau mendengar Belva hamil.


"Biasanya juga mundur, kok, Mas. Di tunggu aja seminggu lagi," jawab Belva tanpa berbohong.


Selama ini Belva selalu telat datang bulan. Tapi akhirnya juga tidak hamil.


"Dicoba dulu, Sayang."


"Nungguin Mas Gilang pulang aja, deh."


"Kenapa?"


"Ya biar kita tahunya langsung berdua, Mas. Misal nggak_"


"Ucapan itu doa, Sayang. Mas yakin kamu hamil, kok."


Belva menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. "Kalau belum, Mas jangan kecewa, ya."


"Rasa kecewa pasti ada, Sayang."


"Tuh, kaaaannn..."


"Mas belum selesai bicara, Sayang. Sabar dulu, dong. Maksud Mas itu, kecewa pasti ada. Tapi juga nggak bisa marah karena itu bukan kuasa kita."


Sebenarnya mulut Belva rasanya gatal ingin mengucapkan bahwa dia sudah melakukan test dan hasilnya positif.


Bahkan Belva harus sesekali menyingkir dari depan kamera untuk tertawa. Menertawakan kekonyolannya sendiri karena nekat membohongi Gilang.


Tak apa. Pasti nanti Gilang akan sangat bahagia jika pulang-pulang sudah mendapatkan kejutan istimewa.


"Di cek, ya, Sayang. Kakak tunggu hasilnya." Gilang masih kekeh menyuruh Belva melakukan testpack.


Belva menggelengkan kepalanya. "Enggak, ah. Nungguin Mas Gilang pulang aja."


"Kalau gitu Mas pulang sekarang nih."


"Jangan, dong! Mas harus kerja, cari uang banyak buat aku."


"Sayang?"


Belva tertawa keras.


"Tanpa kamu minta, Mas sudah cari uang banyak buat kamu dan masa depan kita. Bahkan yang Mas punya sekarang masih bisa buat hidup tahun-tahunan ke depan."


"Iya, orang passive income-nya dari mana-mana."


Giliran Gilang yang tertawa keras di seberang sana.


"Ya sudah kalau pilih nungguin Mas pulang. Tapi untuk sekarang kamu hati-hati, ya. Pakai sepatu yang nggak licin. Jangan pakai celana jeans. Jangan petakilan. Jaga makanannya juga."


Belva mengangguk mengiyakan ucapan Gilang.


***

__ADS_1


Konsep kejutan untuk Gilang dan keluarganya sudah tersusun rapi. Lima hari lagi Gilang pulang. Malamnya Belva akan langsung mengatakan pada Gilang bahwa dia hamil lewat kejutan yang sudah dipikirkan Belva.


Siang ini Belva datang ke sebuah rumah sakit untuk memeriksakan kandungannya.


Hal yang sama pada waktu di apotek terjadi ketika Belva mendaftarkan dirinya dan mengatakan bahwa dokter tujuannya adalah SpOG.


Petugas tersebut menatap Belva dengan penuh tanya dan penuh curiga.


"Gini, ya, kalau pacaran kebablasan," ucap petugas tersebut. Memang tidak berbicara dengan Belva, melainkan dengan temannya.


Meskipun begitu, Belva masih bisa mendengarnya dengan jelas. Tapi Belva hanya diam dan tak ingin membalas. Tujuannya datang ke sini untuk bertemu dengan dokter, bukan untuk berdebat.


Nomor antrian sudah ada di tangan Belva. Butuh waktu setengah jam untuk bisa masuk ke ruangan dokter SpOG yang bernama Dr. Kalila.


"Silahkan! Ada keluhan apa?" tanya dokter tersebut dengan ramah.


Tapi raut wajahnya berubah seketika ketika Belva menunjukkan testpack miliknya yang menunjukkan tanda bahwa dia hamil sembari berkata, "mau USG, Dok. Kalau seperti ini berarti saya hamil, kan?"


Dokter Kalila berpandangan dengan suster yang berdiri di sampingnya. Tapi raut wajahnya kembali ramah seperti semula. Berbeda dengan suster tersebut yang langsung memandang Belva dengan sinis.


Kalila mengangguk. "Langsung USG saja, ya?"


Belva langsung diarahkan untuk tiduran di atas ranjang. Sedangkan dokter Kalila segera memeriksa Belva dengan menekan sedikit perut bagian bawahnya.


Tak banyak bicara, Dokter Kalila segera melakukan USG dengan menempelkan alat USG tersebut pada perut Belva setelah mengoleskan gel ke atas perut Belva.


"Hari pertama terakhir haid kapan?"


"Saya lupa, Dok."


"Coba diingat-ingat lagi."


Belva terlihat berpikir, mengingat kapan hari pertama datang bulan terakhirnya.


"Kalau nggak salah tanggal dua puluh sembilan bulan Januari kemarin," jawab Belva setelah beberapa saat terdiam.


"Dik Belva hamil, ya. Usia kandungannya sudah hampir enam Minggu. Sudah selesai. Suster tolong dibersihkan."


Suster tersebut segera membersihkan perut Belva dari gel yang sebelumnya dioleskan.


"Masih kuliah, ya? Semester berapa?" tanya dokter Kalila.


"Semester dua, Dok."


"Wah, baru, ya? Kalau gini sebaiknya segera menikah daripada ketahuannya pas belum nikah. Tambah repot nanti." Bukan Dokter tersebut yang berbicara, melainkan suster yang mendampingi Dokter Kalila.


"Maksudnya apa, ya?" Belva bertanya dengan nada tak suka. Belva sudah tau kalau mereka pasti mengira kalau Belva hamil di luar nikah. Apalagi datangnya tidak ditemani oleh siapapun.


"Kalian pikir saya hamil di luar nikah?" Belva tertawa sinis. "Saya punya suami, asal anda tau. Heran, deh. Kalian kerja buat nyinyirin orang apa gimana? Nggak di depan nggak di sini, sama aja suka berpikiran buruk sama orang. Masih untung, ya, saya nggak viralin, nggak rekam ucapan kamu. Bisa habis kamu kalau sampai saya tega," ucap Belva sambil menunjuk wajah dokter tersebut.


Sekalipun Belva lebih muda, tapi dia tidak takut kalau dirinya memang benar.


"Sudah, maafkan suster saya, ya. Maafkan saya juga kalau ada salah," ucap Dokter Kalila menengahi.


"Ini resep vitamin dan penguat kandungan. Untuk trimester pertama masih rawan, ya. Hati-hati, jangan banyak pikiran, dan juga kurangi dulu intensitas hubungan badan dengan suami. Karena ini akan sangat berpengaruh bagi kandungannya."


"Baik, terimakasih."


Tanpa basa-basi, Belva langsung berdiri setelah mengambil resep dan juga hasil USG dari dokter. Lalu dengan cepat melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan.


🌻🌻🌻


Jangan di senggol. bumil gampang emosi 😛

__ADS_1


__ADS_2