
Eliza memeluk erat Belva setelah Belva menceritakan apa yang telah terjadi. Memang keterlaluan. Kalau saja Eliza ada di sana saat kejadian, pasti sudah melumuri mulut Gilang dengan ulekan cabai satu kilo.
Dia kenal betul dengan Belva. Wajahnya yang berbinar ketika menceritakan soal bahagianya hidup dengan Gilang membuat Eliza tidak percaya Belva telah melakukan hal serendah itu.
Gilang saja yang keterlaluan. Terpancing emosi dan cemburu buta.
Belva tertidur tak lama kemudian. Padahal baru jam tujuh malam. Belva juga belum makan apapun. Tapi Eliza juga tidak berani membangunkan Belva.
Wajahnya terlihat begitu satu dan sangat lelah. Tangannya terulur untuk mengelus perut Belva yang masih rata. "Sehat, ya, kamu di dalam sana. Kuatin Mama kamu. Kamu mau makan apa? Aku beliin biar kalau Mama kamu bangun nanti bisa langsung makan?" Eliza berbicara sendiri.
Lagipula tidak mungkin juga janin berusia kurang dari tujuh Minggu itu akan menjawab pertanyaannya.
Lewat aplikasi memesan makanan secara online, Eliza memesan satu cup salad buah, satu jus alpukat, dan juga dua porsi sup buntut. Satu untuk dirinya sendiri, dan satu untuk Belva nanti.
***
"Kamu mau kuliah hari ini, Bel?"
Belva menggelengkan kepalanya. "Enggak dulu, El. Tapi aku numpang di sini boleh, kan?"
Eliza terdiam sejenak. Sebenarnya dia tidak masalah sampai kapan Belva ada di sini. Tapi yang Eliza takutkan, Belva akan bertindak yang aneh-aneh saat dia meninggalkan Belva nanti.
"Boleh, sih. Tapi aku takut kamu_"
"Bunuh diri?" Belva tertawa kecil. Sedangkan Eliza tersenyum kikuk saat Belva berkata seolah dia mengerti apa yang ada di pikiran Eliza.
"Itu nggak akan terjadi, El. Kecuali kalau aku udah ditakdirkan meninggal dengan cara yang lain. Aku masih sayang sama diri aku sendiri. Aku juga masih harus menjaga anakku. Dia harus hidup, El," ucapnya panjang dengan tatapan yang kembali kosong. "Meskipun tidak diakui oleh Papanya," lanjut Belva. Setetes air mata kembali terjatuh. Cepat-cepat Belva mengusapnya.
Eliza paham sesakit apa hati Belva saat ini. Sehancur apa hatinya sekarang. Eliza sangat paham. Tapi Eliza juga tidak bisa membantu banyak selain membiarkan Belva menenangkan dirinya di sini.
"Aku cuma bisa bilang sabar, Bel. Dia pasti akan menyesal nanti. Percaya sama aku."
Belva mengangguk ragu. "Ya udah berangkat sana. Nanti keburu telat lagi."
"Tapi janji jangan aneh-aneh, ya?"
Belva menganggukkan kepalanya.
"Kalau mau cemilan bisa telepon aku, nanti aku pesanin biar diantar ke sini," lanjut Eliza yang dibalas senyuman oleh Belva.
"Aku berangkat dulu."
"Iya. Hati-hati."
__ADS_1
***
Belva masih menonaktifkan handphonenya. Dia sedang tidak peduli dengan apa yang terjadi di luar sana. Kepanikan kedua orangtuanya mengetahui Belva tidak ada kabar seperti ini, Belva tidak peduli.
Entah Gilang mencarinya atau tidak, Belva juga tidak peduli.
Belva benar-benar ingin sendiri saat ini. Tapi untuk pergi terlalu jauh, Belva tidak ingin. Dia hanya butuh waktu untuk menjernihkan pikirannya, lalu kembali dengan keputusan terbaik nantinya.
Ucapan Gilang kemarin terus terngiang. Kemana Gilang yang selalu menatapnya penuh cinta?
Bukankah dia pun mengharapkan kehamilan Belva? Lantas kenapa dia bisa setega itu berkata bahwa dia meragukan anak yang dikandung Belva adalah anaknya? Belva tak habis pikir rasanya.
Sejahat itu apa yang dia ucapkan. Tidak sedikitpun memikirkan perasaan Belva. Sesakit apa hati Belva saat mendengarnya.
🌻🌻🌻
"Kamu temannya Belva kemarin, kan? Di mana Belva sekarang?"
Rania mengerutkan keningnya. Lelaki itu mengejar motornya lalu menghadangnya sampai Rania terpaksa menghentikan motornya.
Rania menggelengkan kepalanya. "Saya nggak tau Belva ada di mana."
"Jangan bohong kamu! Kemarin dia sama kamu dan pacarnya itu, kan? Kemana dia sekarang? Dimana pacarnya menyembunyikan Belva?"
"Pacar Belva?" Rania tertawa sinis. "Pantas kalau Belva memilih pergi. Untuk apa dia ada untuk orang yang tidak bisa percaya dengannya?"
"Anak kecil?" Rania mengulang ucapan Gilang. "Hey, Om. Om lupa kalau Belva itu seumuran saya? Tapi sayang, punya suami yang meskipun usianya sudah sangat matang, tapi kedewasaannya nol. Permisi!"
Rania segera meninggalkan Gilang dengan melajukan motornya lewat jalur yang kosong dari mobil Gilang yang berhenti di tengah-tengah jalan.
Tak cukup menghadang Rania, Gilang juga datang ke kampus. Tapi yang Gilang lakukan hanya berada di dalam mobil yang terparkir.
Gilang tidak mungkin keluar dan mencari keributan untuk mencari seorang lelaki yang bersama Belva kemarin. Atau kalau bisa sekalian Belva juga.
Sayang, tidak dia lihat mobil Belva ada di parkiran tersebut. Setelah dua jam menunggu pun tak juga dia melihat Indra. Lelaki yang dimaksud oleh Gilang.
"Sial! Buang-buang waktuku saja," ucapnya kesal lalu meninggalkan kampus dengan tangan kosong. Belva maupun Indra, tak ada yang dia temui.
Jika semalam Darmawan yang menelepon. Sekarang gantian nama Vita yang memenuhi layar handphone Gilang.
Niat Gilang mengabaikannya, tapi Vita tak berhenti meneleponnya.
"Ya, Ma? Ada apa?"
__ADS_1
"Halo, Lang. Belva kemana, ya? Nomornya, kok, nggak aktif juga? Dia baik-baik aja, kan?"
Gilang berdehem kecil. Lagi-lagi dia harus berbohong tentang keberadaan Belva. "Dia kuliah, Ma. Handphonenya dia mati karena tadi jatuh dari lantai tiga."
"Kok, bisa?"
"Belva pegangnya kurang hati-hati, Ma. Makanya jatuh waktu turun tangga."
"Tapi dia baik-baik aja, kan?"
"Iya, Ma. Belva baik-baik aja, kok." Gilang menghembuskan napas pelan. "Mungkin," lanjutnya dalam hati.
"Ya sudah. Nanti kalau Belva udah selesai kuliah suruh telepon Mama, ya. Pakai handphone kamu dulu bisa, kan?"
"Bisa, Ma. Bisa, kok. Iya. Nanti saya sampaikan."
Artinya Gilang harus menemukan keberadaan Belva secepatnya. Sebelum Darmawan dan Vita kembali menghubungi dirinya dan menanyakan Belva lagi nantinya.
Gilang masih belum tau akan menjawab apa lagi.
***
Berbeda dengan Gilang yang sibuk mencari cara untuk berbohong lagi, Belva di rumah kedua orangtuanya tertawa sinis mendengar kebohongan yang Gilang ucapkan saat mamanya menelepon Gilang. Atas permintaan Belva.
Dia ingin tahu bagaimana cara Gilang membohongi kedua orangtuanya sejak semalam.
Setelah bergelut dengan isi kepalanya sendiri, akhirnya Belva memutuskan untuk pulang. Dia tidak bisa menghadapi masalah sebesar ini sendirian.
Dengan wajah yang dibuat baik-baik saja, Belva masuk ke dalam rumahnya. Tentu membuat Vita dan Darmawan terkejut. Lantas Belva menceritakan apa yang telah terjadi antara dirinya dan Gilang.
Merasa tak terima anak dan calon cucu mereka diperlakukan seperti itu, mereka pun tak ingin lagi Gilang menemui Belva. Saat ini, atau entah kapan saat Gilang menyesali semuanya.
[ Jangan lagi temui anak kami. Anak dan cucu kami tidak butuh kamu untuk ada di hidup mereka ]
Isi pesan yang dikirimkan Vita untuk Gilang.
Lalu mereka kompak memblokir nomor Gilang saat itu juga.
Darmawan pun akan segera mengakhiri hubungan kerja samanya dengan Gilang. Tak peduli berapa banyak kerugian yang akan dia alami. Yang terpenting baginya adalah anak dan calon cucunya.
Selama Belva berniat untuk melepas Gilang, mereka pun akan mendukung apapun keputusan Belva.
Belva masih muda. Mereka pun juga belum terlalu tua. Tak masalah jika harus menghidupi Belva dan anaknya. Sejak dulu pun juga begitu sebelum Belva menikah dengan Gilang.
__ADS_1
***
Mau di buat cerai nggak nih? 🤣 Mau dibilang kayak sinetron ya biarin. Buktinya kebanyakan sinetron itu ngambil idenya dari novel. Iya nggak? 😂😂😂 Banyak juga film besar yang diambilnya dari novel. 😜