Gadis Belia Istri CEO Duda

Gadis Belia Istri CEO Duda
Part 48


__ADS_3

Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan terjatuh juga.


Sepandai-pandainya Belva mencoba bersembunyi dari Gilang, pasti akan ada saat dimana mereka bertemu.


Seperti siang menjelang sore kali ini. Belva terpaksa melangkahkan kakinya ke parkiran mobil karena pagi tadi terpaksa berangkat sendiri karena Pak Bambang tidak bisa mengantarnya.


"Ran." Belva menghentikan langkah Rania.


"Apaan?"


"Di sana ada Gilang."


"Terus kamu mau nunggu sampai dia pulang gitu baru kamu ke mobil kamu?"


Belva menggelengkan kepalanya. "Enggak. Kita tetap ke sana. Tapi kita pura-pura nggak lihat dia."


"Caranya?"


"Ya ngobrolin apa, kek. Yang penting jangan sampai ngeliat dia."


Rania mengangguk paham. "Oke."


Belva dan Rania mencari topik sebelum mereka melewati Gilang. Agar terlihat mereka tengah mengobrol serius sampai tak menyadari ada Gilang di sana.


"Pengen, deh, nonton konsernya Tulus," ucap Rania sambil melihat postingan penyanyi Tulus bahwa akan mengadakan konser.


"Kapan, dimana?"


"Bulan depan di Jakarta."


"Kita berangkat, Ran. Aku pesenin tiketnya tiga."


"Buat siapa aja?"


"Aku, kamu, Eliza."


Kedua mata Rania melotot memanang Belva. "Lagi hamil, ih. Nggak usah aneh-aneh nonton konser, deh."


Belva tertawa lepas. "Aku ambil VVIP semua. Kita bisa dapat tempat duduk di depan. Keluar nunggu sepi aja nggak usah ikut uyel-uyelan."

__ADS_1


"Kamu yakin?"


Belva mengangguk yakin. "Yakin, dong. Nanti kita nginep di hotel sekitar sana aja biar nggak jauh-jauh amat."


Mereka benar-benar melewati Gilang tanpa memandangnya. Sama sekali tak menganggap Gilang ada di sana.


Gilang yang hampir saja memanggil nama Belva pun langsung terdiam saat Belva begitu saja melewati dirinya.


Mobil Belva dan Gilang berjarak sekitar sepuluh meter. Jadi Belva harus melewati Gilang terlebih dahulu sebelum dia sampai ke mobilnya.


"Belva." Gilang mengejar dan memegang pergelangan tangan Belva, tanpa seijin Belva.


Belva menghentikan langkahnya. Lalu memandang cengkeraman tangan Gilang dan kedua mata Gilang secara bergantian. "Maaf," ucap Belva, namun bisa membuat Gilang segera melepaskan genggaman tangannya pada pergelangan tangan Belva.


"Kenapa kamu nggak ngangkat telepon Mama, Papa, maupun Mikha?" tanya Gilang tanpa basa-basi.


Dia memang tidak menganggap anak yang dikandung Belva itu anaknya. Sampai menanyakan kabar Belva dan janinnya pun tidak.


"Penting banget, ya?" balas Belva sarkasme.


"Kamu boleh marah dengan saya, silahkan! Tapi tolong pikirkan kedua orangtua saya yang mengkhawatirkan kamu."


"Kamu_" dengan geram Gilang menunjuk wajah Belva.


"Kenapa?" Belva menyela. "Kamu pikir aku akan ngemis-ngemis minta maaf ke kamu? Capek-capek jelasin hal yang nggak perlu aku jelasin lagi ke kamu gitu? Asal kamu tau, hati aku udah sakit banget karena tuduhan kamu. Dan itu membuat aku nggak peduli lagi kamu mau percaya sama aku atau enggak. Aku nggak peduli! Bahkan aku sudah siap jika kamu menceraikan aku saat ini juga."


"Kenapa? Biar kamu bisa bebas dengan lelaki lain? Atau bukan hanya satu lelaki itu saja yang sudah menanam benihnya di perut kamu?"


Dada Belva terasa begitu sesak mendengar ucapan Belva yang sama sekali tak pernah Belva sangka Gilang akan mengucapkan hal tersebut.


Tangannya terkepal erat untuk mengumpulkan tenaga. Tak lama kemudian, satu tamparan keras mendarat di pipi Gilang.


"Jaga mulutmu! Aku nggak serendah kamu, yang menyetubuhi wanita lain di saat masih terikat pernikahan. Jangan kamu lupakan kelakuan kamu itu saat kamu masih menjadi suami Mikha."


Rania hanya bisa menyaksikan pertengkaran keduanya. Sambil menoleh ke kanan dan ke kiri, ternyata Gilang dan Belva sudah menjadi pusat perhatian meskipun mereka hanya lewat saja tak berniat untuk mendengar pertengkaran mereka.


Belva masuk ke dalam mobil setelah berpamitan dengan Rania yang juga sudah di jemput oleh Wisnu.


Dengan kecepatan yang tidak bisa dibilang rendah, Belva keluar dari gerbang kampus dan membelah jalanan kota Surabaya.

__ADS_1


Pertahanan air matanya runtuh juga saat dia sendiri berada di dalam mobil. Rasanya sulit untuk dipercaya Gilang telah berkata seperti itu kepada wanita yang dulu dia jadikan ratu di hidupnya.


Tapi semuanya nyata. Ucapan Gilang yang Belva dengar itu nyata.


Sehina itu Belva di mata Gilang.


🌻🌻🌻


"Kurang ajar Lo, Lang! Belum cukup Lo buat kembaran Kak Gavin meninggal? Belum cukup juga Lo buat kakak gue depresi dan akhirnya bunuh diri? Jangan sampai Belva mengalami hal yang sama dengan kakak gue, Lang. Lo emang bangs*t, Lang. Harusnya Lo nggak pantes dapat perempuan sebaik Belva!"


Mikha belum cukup puas melampiaskan emosinya pada Gilang. Sedangkan Gavin membiarkan Mikha melakukannya. Karena jika Gavin yang bertindak, tangan dan kaki dia yang akan maju menghajar Gilang.


Jam tujuh pagi tadi, Mikha dan Gavin sudah sampai di Surabaya. Selain ada urusan bisnis yang Gavin kerjakan di Surabaya, mereka datang juga atas permintaan Yunita untuk menyusul Gilang dan Belva.


Mikha dan Gavin langsung mendatangi kediaman kedua orangtua Belva. Ternyata bukan kabar baik yang mereka terima. Tapi ternyata kelakuan Gilang yang memalukan yang mereka dengar.


"Mikir, Lang! Perempuan mana yang mau menerima segala masa lalu Lo selain Belva dan keluarganya? Mereka nggak mempermasalahkan semuanya tapi Lo yang membuat ulah! Gimana bisa Lo mikir anak yang dikandung Belva itu bukan anak Lo hanya karena Lo melihat Belva duduk berdua dengan lelaki lain? Di tempat umum pula!"


Mikha menghembuskan napas dengan sedikit kasar. "Nggak habis pikir gue sama jalan pikiran Lo, Lang. Bikin malu!"


"Nggak usah ikut campur urusan gue bisa nggak?"


Mikha tertawa hambar. "Nggak usah ikut campur kata Lo? Terus apa yang mau Lo lakuin, hah? Mama drop gara-gara Belva nggak mau ngangkat teleponnya. Mama kepikiran sama Belva dan Lo. Kalau bukan karena Mama, Papa, dan juga Belva, gue juga ogah ikut campur sama urusan Lo."


Pembicaraan mereka di dengar oleh Belva yang ada di luar rumah yang dulu sering dia tempati bersama Gilang.


Belva berniat untuk mengambil pakaiannya, tapi dia justru mendengar hal yang tidak pernah dia duga sebelumnya.


Gilang adalah penyebab kematian kembaran Gavin dan juga kakak dari Mikha. Apa yang telah Gilang lakukan sampai membuat kedua wanita itu meninggal? tanya Belva dalam hati.


Ternyata masih banyak hal tentang Gilang yang belum Belva ketahui.


Belva urung masuk ke dalam rumah. Dia lebih memilih pergi meninggalkan rumah sejuta kenangan dengan Gilang tersebut.


Dia menerima semua masa lalu Gilang. Bahkan mungkin Belva tidak peduli bagaimana masa lalu Gilang. Tapi Gilang malah menyakitinya. Tak terkira sakitnya.


Sampai Belva pun rasanya tak sanggup lagi jika harus hidup dengan lelaki seperti Gilang yang mudah mengucapkan kata-kata yang menyakitkan seperti kemarin.


♥️♥️♥️

__ADS_1


__ADS_2