
Ketukan palu hakim menandakan bahwa pernikahan Belva dan Gilang telah berakhir.
Upaya mediasi yang ditempuh tak membuahkan hasil sama sekali. Belva tetap pada keputusannya. Bercerai dari Gilang.
Memilih untuk membesarkan anaknya seorang diri tanpa ada ayahnya yaitu Gilang.
Menyandang status janda di usia sembilan belas tahun. Apalagi dalam keadaan hamil besar.
Belva tau ini tak akan mudah. Pandangan miring tentang dirinya itu pasti. Apalagi tidak banyak yang tau tentang pernikahannya. Sudah pasti mereka menganggap Belva hamil di luar nikah.
Gilang pasrah. Tak ada yang bisa dia lakukan kecuali menerima keputusan yang telah Belva inginkan.
Segala macam cara sudah dia lakukan untuk memperjuangkan Belva untuk mempertahankan rumah tangga mereka yang belum lama terjalin.
Rasanya ingin memeluk dan mengusap perut Belva sebelum Belva benar-benar meninggalkan dirinya.
Tapi sepertinya Belva telah benar-benar membenci dirinya. Dengan senyum sumringahnya, Belva keluar dari ruang sidang bersama kedua orangtuanya. Dan juga Rey yang menenteng tas Belva dan berjalan di samping Belva.
Gilang sudah tau bahwa Rey adalah sepupu Belva. Dan Gilang pun juga tahu betul bahwa Rey mencintai Belva. Tentu Rey terlihat sangat bahagia menyambut perceraian Belva dan Gilang.
Karena setelah ini pun dia memiliki kesempatan besar untuk menikahi Belva.
Sedangkan Gilang, kedua orangtuanya memandang Gilang dengan penuh rasa kecewa. Lagi-lagi Gilang tidak bisa mempertahankan pernikahannya karena keegoisannya sendiri.
Sesuai dengan apa yang pernah diucapkan oleh Anton dan Yunita, Gilang tidak akan menjadi bagian keluarga mereka lagi jika Gilang dan Belva benar-benar bercerai.
"Papa sama Mama tega, ya? Aku ini anak kandung Papa sama Mama bukan, sih?" protes Gilang.
"Nggak tau. Papa juga ragu kamu anak Papa atau bukan. Dulu kamu tertukar mungkin. Di keluarga Papa nggak ada yang kayak gini kelakuannya. Di keluarga Mama kamu pun sama."
Yunita ingin protes mendengar ucapan Anton perihal Gilang anak mereka atau bukan. Tapi genggaman tangan Anton yang sedikit mengencang memberi tanda Yunita agar diam. Mereka perlu memberi Gilang pelajaran "lagi" agar Gilang bisa berubah menjadi lebih baik.
"Ayo, Ma. Bikin anak satu lagi. Semoga jadinya nggak kayak anak satu ini."
Anton menarik tangan Yunita pelan dan mengajaknya keluar dari ruang persidangan. Tak peduli dengan tatapan protes Yunita karena ucapan Anton tadi.
"Papa serius pengen Mama hamil lagi?"
"Memangnya masih bisa?"
"Ya nggak bisa lah. Kalaupun bisa ya terlalu bahaya. Papa mau anak lagi apa Mama sehat?"
"Ya Mama sehat lah. Itu cuma gertakan aja buat Gilang. Lagipula udah tua juga masih mikir mau punya anak lagi. Mending main-main sama cucu-cucu. Kita ke rumah Gavin dan Mikha, Ma. Papa kangen sama triplets. Cuma mereka yang bisa hilangkan stres di kepala Papa karena memikirkan ulah Gilang."
__ADS_1
Yunita mengangguk setuju. Mereka segera pergi ke rumah Gavin dan Mikha untuk bertemu dengan triplets.
🌻🌻🌻
Belva mengasingkan diri. Pergi ke luar negeri, dimana orang-orang tidak akan memperdulikan kehidupan Belva seperti apa.
Orang-orang tak akan bertanya kepadanya, dengan siapa kamu hamil? Dimana suami kamu? Apakah kamu hamil di luar nikah?
Tidak. Mereka tidak akan pernah peduli dengan hal itu.
Belva rasa dia bisa hidup tenang di sana bersa anaknya nanti.
Ada Rey yang menemaninya. Meskipun tidak hidup di satu apartemen, tapi Rey selalu ada saat Belva membutuhkan bantuannya. Termasuk mengusap punggungnya ketika Belva mulai merasakan pegal karena kehamilannya yang sudah membesar.
Lagi-lagi Rey harus bersabar lebih lama lagi. Hati Belva masih belum tersentuh olehnya, dengan segala pengorbanan yang dia lakukan.
Kadang, Rey masih sering melihat Belva melamun sambil melihat satu fotonya bersama Gilang yang masih dia simpan di galeri handphonenya.
"Kalau masih cinta, kenapa kemarin kekeh minta pisah?" Rey memberanikan diri untuk bertanya.
"Bukan aku masih cinta. Tapi bayi aku selalu tenang setiap aku melihat foto Gilang. Gerakannya kadang bikin perut aku sakit, Kak. Entahlah. Mungkin dia ikut melihat ayahnya. Aku nggak tau."
"Kamu terlalu terbawa perasaan mungkin. Bukan anak kamu yang kangen sama bapaknya. Tapi kamu yang berharap dia ada di sini."
"Sok tau kamu, Kak. Orang aku pengennya kamu yang jadi bapaknya."
Belva menggelengkan kepalanya. "Enggak apa-apa."
"Kamu tadi ngomong apa?"
"Nggak ngomong apa-apa."
"Kamu mulai jatuh cinta sama aku, Bel?"
Dengan tegas Belva menggelengkan kepalanya. "Enggak ada. Jangan terlalu percaya diri, deh."
"Orang aku pengennya kamu yang jadi bapaknya. Tadi kayaknya kamu ngomong gitu, Bel."
"Salah dengar aja kali. Orang aku nggak pernah ngomong apa-apa. Kak Rey yang terlalu berharap, kan? Iya_"
Ucapan Belva dihentikan oleh ciuman Rey di bibir Belva. Belva sempat terkejut dan melebarkan kedua matanya. Tapi selanjutnya, kedua matanya otomatis terpejam saat Rey memperdalam ciumannya. Belva tak menolak. Justru menikmatinya dengan dada yang bergemuruh.
Kurang ajarnya, tubuhnya menginginkan lebih dari sekedar ciuman.
__ADS_1
Belva terbuai dengan setiap sentuhan yang Rey berikan. Lama sudah Belva tidak merasakan hal ini. Sensasinya tak jauh berbeda ketika dia melakukannya bersama Gilang.
"Kak..." Berniat mengentikan, tapi suara Belva lebih ke sebuah desa*an. Membuat Rey tak bisa menahan semuanya lagi.
"Sempit, Bel."
"Sakit, Kak."
"Rileks. Ini bukan yang pertama kalinya buat kamu, kan?"
Belva tersadar bahwa ini salah. Tapi setiap sentuhan Rey membuatnya tak bisa menghentikan semuanya. Otaknya tak bisa berpikir jernih. Hingga tubuhnya terlihat begitu pasrah di bawah kuasa Rey.
Pertama kalinya "lagi" setelah sekian lama. Belva begitu menikmatinya hingga dia tak sadar bahwa Rey telah merekam kegiatan panas mereka malam ini.
Rey tak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Hal ini bisa dia jadikan tamparan untuk Gilang agar dia sadar dan tak lagi berharap pada Belva.
Berulangkali Belva dan Rey melakukannya malam itu. Sensasi yang Belva rasakan tentu berbeda. Rey dan Gilang punya cara masing-masing untuk memuaskan Belva.
Semuanya tak luput dari rekaman di handphone Rey. Belva pun tak juga menyadarinya.
***
"Aargghhhhh!!!!"
Gilang berteriak sekencang-kencangnya. Semua barang-barang yang ada di hadapannya terlempar entah kemana. Hancur berserakan.
Tubuh yang harusnya hanya menjadi miliknya, kini telah menjadi milik orang lain. Gilang tidak bisa terima itu semua.
Belva hanya miliknya. Tak boleh seorangpun memiliknya selain dirinya. Apalagi sampai menyentuhnya sejauh itu.
Gilang tak ingin membuang waktu. Dia berencana menyusul Belva ke Swiss malam ini juga. Belva harus kembali menjadi miliknya.
Gilang berkendara dengan kecepatan melebihi batas. Seperti sang pemilik jalan, kendaraan lain harus rela mengalah demi keselamatan mereka sendiri.
Menerobos lampu merah dengan kecepatan yang masih sangat tinggi. Hingga Gilang tak bisa lagi menguasai mobilnya saat dari arah lain melintas sebuah truk besar.
Tabrakan tak bisa dihindari. Mobil Gilang terguling beberapa kali sebelum terjatuh ke sebuah sungai kecil yang tak begitu dalam.
Mobil Gilang hancur. Bentuknya pun tak beraturan lagi. Kondisi Gilang sendiri sudah tidak sadarkan diri. Darah ada di mana-mana. Bahkan air sungai yang tak begitu tinggi pun warnanya nemerah karena aliran darah dari tubuh Gilang.
Dalam keadaan yang kembali tersadar meskipun tidak sepenuhnya, Gilang berpikir apakah ini akhir dari hidupnya?
Satu hal yang dia inginkan jika memang hidupnya tak akan lama lagi. Gilang ingin bertemu dengan Belva, memeluknya, lalu mengatakan bahwa dia sangat mencintai Belva dan menyesali semua perbuatan maupun perkataannya yang menyakiti hati Belva.
__ADS_1
🌻🌻🌻
eh, eh. gimana, gimana?