
Bangun di dalam pelukan orang yang dicintai, adalah salah satu hal yang paling membahagiakan bagi Belva.
Dini hari Belva sering terbangun. Dan yang pertama kali dia lihat adalah wajah tampan Gilang yang tertidur lelap. Tangan memeluk pinggangnya. Dan satu tangannya lagi digunakan sebagai bantal oleh Belva.
Belva begitu menyukai aroma tubuh Gilang yang wangi. Selalu wangi jika berada di dekat Belva. Aromanya selalu membuat Belva rindu jika mereka sedang berjauhan.
Melihat Gilang yang tertidur lelap membuat Belva bisa puas menatap wajah tampan Gilang. Tak bisa dibilang tua, wajah Gilang terlihat masih berumur dua puluh lima tahun. Serasi dan pas jika bersanding dengan Belva.
"Udah puas lihatin Mas?"
Belva terperanjat mendengar suara Gilang. Setau Belva, Gilang masih tertidur lelap.
"Mas Gilang udah bangun?"
Gilang tertawa kecil. "Bahkan Mas lebih dulu bangun daripada kamu. Mas lihatin kamu dulu. Pas tau kamu mau bangun, Mas pura-pura tidur."
"Ih, jadi kegeeran, kan, tau aku mengangumi Mas Gilang pas Mas Gilang tidur."
Tawa Gilang berderai. Terdengar menggema di jam empat pagi karena suasana masih sepi.
"Ya nggak apa-apa, kan, mengagumi suami sendiri."
"Gimana, sih, biar Mas Gilang itu awet muda begini? Suami aku nggak kelihatan kalau umurnya udah tiga puluh tahun."
"Itu karena Mas rutin bercinta sama kamu, Sayang."
Belva mengernyitkan keningnya memandang Gilang penuh curiga. "Sejak sebelum menikah sama aku pun Mas Gilang sudah kelihatan masih muda. Kalau alasannya karena sering gituan sama aku, terus selama belum menikah sama aku Mas Gilang begituan sama siapa?"
Gilang membelalakkan kedua matanya. Jawaban dan pertanyaan Belva diluar ekspektasi Gilang. Gilang pikir Belva akan tersipu. Tapi ternyata justru memberikan pertanyaan yang tidak pernah Gilang sangka sebelumnya.
"Kenapa diam, Mas? Bingung mau jawab apa?" Belva membuyarkan diamnya Gilang.
Gilang menggelengkan kepalanya. "Enggak bingung, Sayang. Karena memang nggak dekat sama wanita manapun."
"Katanya begituan nggak harus dekat juga bisa."
"Tapi Mas nggak kayak gitu. Kamu nggak percaya sama Mas, sayang? Mas kasih tau, ya. Terserah, deh, mau percaya apa enggak. Setelah Mas bercerai dari Mikha, Mas nggak pernah melakukan hal itu dengan wanita manapun. Kedengarannya seperti tidak mungkin untuk Mas yang memiliki masa lalu yang buruk. Tapi memang kenyataannya seperti itu, Sayang."
Bibir Belva membentuk sebuah senyuman. Merasa bahagia dengan jawaban yang Gilang berikan. Entah benar atau tidak, tugas Belva hanya percaya. Apalagi itu semua sudah masa lalu. Yang terpenting sekarang hati dan tubuh Gilang hanya untuk dirinya.
"Makasih, ya, Mas, udah meyakinkan aku. Padahal tadi aku cuma bercanda."
Hidung Belva dicubit Gilang dengan gemas. "Ih, iseng banget, ya, kamu. Mau Mas hukum apa gimana?"
Belva menggelengkan kepalanya. "Nggak gimana-gimana, Mas. Mandi, habis itu sholat subuh. Sebentar lagi mau adzan."
"Mandi bareng, ya?"
Dengan cepat Belva menggelengkan kepalanya. "No! Kalau Mas Gilang mau cepet, mandi di kamar mandi lain aja."
"Mandi bareng juga cepet, Sayang. Hemat waktu."
"Nggak ada ceritanya hemat waktu. Mas Gilang kalau mandi bareng pasti ngajak begituan dulu."
"Pagi ini enggak, Sayang."
__ADS_1
"Kali ini aku nggak percaya sama Mas Gilang."
Tapi sekuat apapun Belva menolak, Gilang tetap berhasil mewujudkan keinginannya.
Mandi bersama adalah hal yang tidak boleh terlewatkan selama ada kesempatan.
Dan dugaan Belva pun benar adanya. Ada ritual selama dua puluh menit sebelum mereka benar-benar mandi dan melaksanakan sholat subuh berjamaah di dalam kamar mereka.
***
Pertama kalinya selama setahun menjadi istri Gilang, Belva ikut ke kantor Gilang.
Dengan senyum mengembang di bibirnya, Gilang menggandeng tangan Belva. Bahkan tangannya pun sudah berpindah ke pinggang Belva saat keduanya sudah berdiri di hadapan para karyawan.
Mereka bertanya-tanya, siapa wanita cantik yang tengah hamil yang digandeng oleh Gilang. Usianya masih terlihat sangat muda. Mereka pasti terperangah kalau seandainya tau berapa usia Belva saat ini.
"Selamat pagi, semuanya," ucap Gilang memulai apel khusus pagi ini.
"Selamat pagi, Pak," balas mereka semua secara bersamaan.
"Kalian pasti bertanya-tanya, siapa wanita cantik yang berdiri di samping saya."
Belva mengulas sebuah senyuman dan menatap Gilang sebentar. Siapa yang tidak berbunga-bunga dipuji cantik di hadapan banyak orang seperti ini.
Gilang terlihat begitu bangga memiliki Belva sebagai istrinya.
"Dia adalah istri saya. Namanya Belva. Kami sudah resmi menikah setahun yang lalu."
Hampir semua karyawan terkejut mendengar bahwa pimpinannya itu sudah setahun yang lalu melepas masa dudanya.
Setau mereka, bukan Belva yang saat itu bertunangan dengan Gilang.
"Kalian boleh berkenalan. Tapi tolong jangan berdesakan karena istri saya tengah hamil."
Satu persatu menyalami Belva untuk berkenalan. Sebagian besar antusias, sebagian kecil memandangnya sinis. Tak peduli bahwa Belva adalah istri petinggi di perusahaan tempat mereka bekerja.
Setelah sesi perkenalan tersebut selesai, Gilang langsung menggandeng tangan Belva untuk naik ke ruangannya yang berada di lantai paling atas.
Ruangan Gilang begitu luas dengan design yang menurut Belva monoton. Tak heran karena yang menempatinya pun awalnya juga manusia dingin yang sekarang bisa mencair karena cinta Belva.
"Jadwal saya hari ini apa, Ju?" tanya Gilang pada Juan.
"Hanya meeting akhir bulan nanti siang, bos."
Gilang mengangguk paham. "Kamu bisa telepon saya kalau semua sudah siap nanti."
"Baik, bos."
Juan keluar dari ruangan Gilang. Gilang pun langsung mengunci ruangannya kemudian duduk di samping Belva.
"Kok, dikunci?"
"Suka-suka, Mas, dong. Ruangan Mas sendiri."
Belva mencebikkan bibirnya melihat kesombongan suaminya itu. "Terus aku ngapain di sini?" tanyanya pada Gilang.
__ADS_1
"Nemenin Mas kerja, dong."
"Diam aja begini? Ngebosenin banget. Mending aku dirumah Mama aja kalau begini."
"Sesekali, Sayang. Kamu duduk di sini boleh, tiduran di kamar juga boleh. Ada sedikit yang harus Mas kerjakan sekarang."
"Emang ada kamarnya?"
Gilang menganggukkan kepalanya. "Pintu itu dalamnya kamar, Sayang," jawabnya sambil menunjuk pintu yang ada di salah satu sudut ruangannya.
"Ku pikir itu kamar mandi."
Gilang tertawa kecil lalu beranjak menuju mejanya untuk menyelesaikan pekerjaannya.
***
Ternyata hanya duduk diam saja itu sangat membosankan. Belva sudah selesai membaca satu novel yang dia bawa selama satu jam menunggu Gilang menyelesaikan percakapannya.
Belva mengantuk. Belum ada tanda-tanda Gilang akan selesai.
Melihat Gilang yang fokus pada laptopnya dengan kacamata yang bertengger manis di atas hidungnya, Belva terpesona.
Ketampanan Gilang bertambah berkali-kali lipat saat dia tengah serius seperti ini.
Tiba-tiba ada yang berdesir di dalam tubuhnya.
Bisa jadi ini adalah hormon kehamilan yang dia rasakan. Selama hamil, gai*ahnya semakin meninggi. Kapanpun Gilang meminta Belva tidak pernah menolak. Apalagi dokter sudah memastikan bahwa kandungannya kuat dan tidak ada masalah apapun.
Belva mendekati Gilang yang tengah serius. Mengusap pundak Gilang secara perlahan untuk membangkitkan gai*ah Gilang.
Jangankan dipancing terlebih dahulu. Melihat Belva diam saja Gilang sudah tak bisa menahan hasratnya.
"Tinggal sedikit lagi, Sayang. Sabar, ya."
Sebenarnya Gilang sedang berucap pada dirinya sendiri. Menyuruh dirinya untuk sabar sebentar lagi.
"Yang dibawah udah nggak sabar, Mas," bisik Belva tepat di telinga Gilang.
Hangat hembusan napas Belva membuat Gilang mengepalkan tangannya. Berusaha menahan, tapi tetap tidak bisa.
Gilang menarik Belva untuk duduk di pangkuannya.
Belva tersenyum puas melihat Gilang yang tergoda oleh dirinya.
"Mulai nakal kamu, Sayang."
"Aku mau kamu sekarang, Mas."
"Dengan senang hati, sayangku."
Pagi menjelang siang, keduanya sibuk bertukar peluh dan kenikmatan. Pendingin ruangan tak berpengaruh pada suasana panas yang mereka ciptakan.
Ruangan itu dipenuhi dengan suara des*han keduanya.
Ada sensasi yang tak biasa yang Belva rasakan. Biasanya hanya di kasur, sofa atau kamar mandi. Kini keduanya melakukannya di ruangan kantor Gilang. Di atas kursi kerja yang Gilang duduki.
__ADS_1
🌻🌻🌻
Sepertinya pada pengen dispill yang di kantor 🤣🤣🤣