Gadis Belia Istri CEO Duda

Gadis Belia Istri CEO Duda
Part 38


__ADS_3

Belva kini berada di kediaman Mikha untuk menyambut kepulangan Mikha dan ketiga bayi kembarnya.


Bersama sahabat Belva dan Gavin. Yaitu ada Sena dan Bella. Di antara mereka, Belva yang paling muda. Belva juga yang jadi bulan-bulanan keusilan Bella dan Sena.


"Kok, mau sama duda, sih, Va? Kayak nggak ada cowok lain aja," tanya Bella.


Mereka sepakat memanggil Belva dengan nama Va. Karena namanya dan Bella hampir sama. Daripada keliru, mending memanggilnya dengan sebutan yang berbeda.


"Iya, loh. Udah duda, tua. Emang masih kuat?" Sena menimpali.


"Masih umur tiga puluh, Kak. Seger-segernya kayaknya," jawab Belva yang mengundang kehebohan.


"Dih, udah nggak polos, nih. Ni bocah udah nggak polos nih," ucap Bella yang tak menyangka Belva berucap seperti itu.


"Kalian apain istriku?" Gilang datang dan langsung memeluk Belva dengan posesif.


Meskipun Belva terlihat risih dan malu, tapi Gilang seolah tak mau tahu.


"Males, ah, yang punya udah datang. Mana posesif banget lagi," ucap Sena malas. Mereka tahu kalau itu hanya sebuah candaan saja.


Sena yang dulu membenci Gilang karena ulahnya yang menyakiti Mikha, kini sudah biasa saja. Lagipula Mikha juga sudah bahagia dengan Gavin. Mikha juga sudah bisa berdamai dengan Gilang.


Jadi tak ada alasan bagi Sena untuk membenci Gilang.


🌻🌻🌻


Apa yang dikatakan Gilang semuanya benar. Honeymoon tidak harus selalu berpergian jauh. Naik pesawat atau mobil berjam-jam.


Gilang hanya perlu cuti selama satu bulan. Lalu mengajak Belva berjalan-jalan keliling Jakarta sampai ke Bandung. Dan berakhir dengan check in di hotel terdekat dari tempat terakhir mereka berjalan-jalan malam itu.


Atau kapanpun Gilang menginginkan Belva, tak peduli waktu. Siang atau malam. Gilang pasti langsung mencari hotel.


Belva sendiri seolah diberikan tenaga yang lebih. Kapanpun Gilang menginginkannya, Belva tak pernah menolak. Dia sendiri juga menyukai aktivitas mereka. Juga siap untuk hamil jika diijinkan untuk hamil dalam waktu dekat.


"Kenapa, Sayang?" tanya Gilang yang melihat Belva begitu lesu saat baru saja keluar dari kamar mandi.


"Aku datang bulan lagi, Kak."


Mendengarnya, Gilang langsung mendekati Belva. Paham mood Belva akan mudah berubah jika seperti ini. Lebih baik Gilang perhatian lebih cepat daripada Belva terlanjur berubah mood nantinya.


Gilang memeluk Belva dari samping. Mencium pelipis Belva, lalu turun ke pipi Belva. "It's oke, Sayang. Masih ada waktu lagi, kan?"


"Maafin aku ya, Kak. Aku belum bisa hamil bulan ini."


"Hey, itu bukan salah kamu, Sayang. Itu murni kuasa Allah. Kalau Allah belum kasih, ya kakak nggak bisa salahin kamu," Gilang mencium kening Belva.


Menenangkan Belva kendati hatinya sendiri sedikit kecewa karena bulan ini Belva belum juga hamil.


Sepertinya dulu Belva yang menginginkan agar dia tidak hamil dulu sebelum lulus kuliah. Kini Allah mengabulkan doanya agar tidak hamil dulu. Tapi kenapa hatinya sehancur ini melihat dirinya yang kembali datang bulan?


"Kita sudah berdoa, berusaha siang dan malam tak kenal waktu. Selebihnya itu sudah bukan urusan kita lagi, Sayang. Allah yang akan mengurus semuanya. Allah yang akan memperhitungkan doa dan usaha kita. Berdoa yang lebih lagi, ya, Sayang. Usahanya juga lebih sering lagi nanti kalau udah selesai datang bulannya."


"Ih. Itu, sih, maunya kakak." Belva mencubit perut kotak-kotak Gilang. Membuat Gilang mengaduh kecil.


"Orang kamunya juga mau, kok. Kak, aku mau lagi. Iya, kak, disitu, Kak, enak banget. Aku mau di at_"


"Stop, kak." Belva membungkam mulut Gilang sebelum Gilang berhasil melanjutkan ucapannya.


Belva merasa malu setiap Gilang menirukan apa yang Belva ucapkan ketika mereka sedang melakukannya.

__ADS_1


Melihat Belva yang terlihat malu, Gilang tertawa keras. Puas sekali menertawakan Belva.


"Terusin ketawanya! Jangan berhenti!"


Mendengarnya, Gilang langsung berusaha menghentikan tawanya. Daripada merusak mood Belva, lebih baik Gilang segera diam dan tidak menggoda Belva lagi.


"Aku mau bakso, Kak. Boleh?"


"Boleh, dong, Sayang. Apa, sih, yang enggak buat kamu? Kita siap-siap dulu. Check out sekalian. Kita pulang dulu aja, ya."


"Oke, deh. Lagian kerjaannya ngajak check in mulu kamu, Kak. Capek juga aku pindah-pindah tempat tidur gini. Kayak nggak punya rumah aja."


"Cari sensasi baru, Sayang. Lagian beda hotel, beda suasana kamar, beda juga sensasinya. Kemarin waktu di Bandung itu kamu hot banget. Kakak mau lagi, ya, nanti."


"Ih, nggak mau! Aku nggak mau mengulang malam itu lagi, ya. Nggak, deh, makasih."


Gilang tertawa lagi mendengar ucapan Belva.


Malam itu, Belva yang lebih dulu menggoda Gilang dengan sebuah cara. Sesuai dengan saran yang diberikan Mikha. Tapi ujung-ujungnya Belva sendiri yang malu setiap kali mengingatnya.


Dan itu membuat Belva tak ingin mengulangnya lagi meskipun diminta oleh Gilang.


***


"Hai, baby. Ganteng banget, sih, kamu. Aunty gemes banget jadinya."


"Kita bisa bikin yang lebih ganteng, Sayang."


Semua orang memandang Gilang dengan geli. Geli karena mendengar ucapan Gilang yang terdengar begitu frontal. Belva malu sendiri dibuatnya.


"Kalau jadinya cewek masa ganteng?" tanya Yunita.


Wajah Belva memerah, menahan malu karena pujian bercampur godaan dari Gilang.


"Iya. Anak sama menantu Mama memang bibit unggul semua," ucap Yunita dengan percaya diri.


"Jangan lupain Papanya yang berperan paling penting, dong, Ma. Nggak ada papanya juga nggak akan jadi Gavin dan Gilang." Anton menimpali. Merasa tak terima kalau hanya Yunita yang mengungguli bibit ketampanan Gavin dan Gilang.


"Mereka ganteng juga keturunan dari Papanya. Iya, kan, Vin, Gilang?"


Gavin dan Gilang tertawa kecil menanggapi pertanyaan papanya.


"Iyain aja, deh," ujar Yunita pasrah.


***


"Eh, Kak. Dari dulu aku pengen tanya soal ini ke kak Gilang."


"Tanya apa, Sayang?"


Sebelum melanjutkan ucapannya, Belva lebih dulu masuk ke dalam selimut. Lalu Gilang pun menyusulnya. Tidak bisa meminta jatah, tapi minimal pillow talk seperti ini juga bisa menambah keharmonisan diantara mereka.


"Kak Mikha, kan, hamil kembar, ya? Katanya yang kayak gitu bisa keturunan. Emang ada keturunan kembar? Setahu aku Kak Mikha anak tunggal. Kak Gavin sama kak Gilang jaraknya juga jauh banget, kan, umurnya?"


"Kok, kakak cemburu, ya kamu panggil Gavin kakak juga? Kayak nggak ada bedanya kakak sama dia, Sayang." Gilang justru membahas yang lain.


"Terus aku panggilnya harus apa, dong? Abang? Mas? Kan, nggak lucu. Ke kak Mikha aja panggilnya kakak."


"Panggilan kamu ke kakak aja yang diganti."

__ADS_1


"Ganti apa?" Belva menatap Gilang penuh tanya. "Abang?" Lanjutnya.


"Kayak tukang siomay langganan kamu yang setiap sore lewat depan rumah kita, dong, Sayang."


"Terus apa, dong? Ayang? Beb? Cinta? Ih, nggak pantas, udah tua juga."


"Kok, malah bawa-bawa umur, sih?"


Belva tertawa kecil lalu meminta maaf dengan mengecup pipi Gilang.


"Apa aku panggilnya Mas aja? Mas Gilang? Tapi kayak nggak pantes juga. Lagian kenapa, sih, kalau sama panggilannya ke Kak Gavin?" tanya Belva frustasi. Keinginan Gilang kali ini cukup aneh.


"Mas?" Gilang tampak berpikir keras. "Sounds not bad, Sayang," ucapnya tak lama kemudian.


"Mas Gilang, gitu?"


"Yes. Mas mulai suka dengan panggilannya."


"Ih, geli... Nggak biasa panggil begitu."


"Nanti terbiasa, Sayang. Lanjutkan, ya."


Belva menghembuskan napas dengan sedikit keras. "Oke. Sekarang jawab pertanyaan aku, Mas Gilang."


Mendengar panggilan baru untuknya, Gilang tertawa renyah. Terdengar begitu asyik di telinganya. "Mikha itu dulu punya Kakak, jaraknya juga cukup jauh. Tapi kakaknya meninggal."


"Ya ampun. Meninggal kenapa?"


"Sakit, katanya." Gilang sengaja tidak membuka kisah masa lalu. Perbuatannya yang membuat kakak Mikha mengakhiri hidupnya.


"Terus gen kembar itu dari siapa?"


"Dari Gavin. Dia kembar. Tapi kembarannya juga meninggal waktu usianya dua belas tahun."


"Hah? Kenapa?"


"Kecelakaan, sayang." Lagi-lagi Gilang menutupinya dari Belva. Tidak akan pernah menceritakannya, atau suatu saat nanti akan bercerita. Tapi tidak sekarang.


"Berarti kemungkinan besar Mas Gilang juga ada gen kembar, kan? Kan, Kak Gavin kembar juga."


"Gavin ada gen kembar itu dari papanya, sayang. Sedangkan Mas dan Gavin itu beda Papa walaupun satu ibu. Papanya Gavin sendiri juga sudah meninggal waktu Gavin berumur satu tahun. Dua tahun kemudian, Mama menikah dengan papa. Lalu Mas lahir satu tahun setelahnya."


Belva menutup mulutnya tak percaya dengan kenyataan yang baru dia dengar kali ini. Sebelumnya Belva tak pernah bertanya lebih tentang keluarga Gilang. Gilang pun juga tak mengatakan apapun soal keluarganya.


"Mas Gilang nggak pernah cerita."


"Kamunya nggak nanya, Sayang."


"Harusnya Mas Gilang cerita biar aku tau keluarga Mas Gilang juga."


"Ini udah cerita, Sayang. Udah, ya, Sayang. Mending cium dulu sini. Kamu kapan, sih, selesai datang bulannya? Udah kangen tau."


"Baru juga mulai kemarin."


Gilang tak membalas ucapan Belva lagi. Dia lebih memilih mencium bibir Belva, melum*tnya lebih lama lagi.


Seperti ini yang tak ingin Gilang lewatkan setiap malam. Andai jarak tak akan lagi memisahkan, tentu hal itu akan sangat membahagiakan.


🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2