Gadis Belia Istri CEO Duda

Gadis Belia Istri CEO Duda
Part 41


__ADS_3

"Mas Gilang masih bayar orang buat ngawasin aku? Masih nggak percaya sama aku?" Belva memberondong Gilang dengan pertanyaan.


Saat ini keduanya tengah berbaring di atas ranjang, saling berpelukan. Keringat yang keluar karena aktivitas mereka belum mengering.


"Udah enggak, Sayang. Mas percaya sepenuhnya sama kamu. Jangan dikhianati,ya?"


Bibir Belva menampilkan sebuah senyuman manis. "Aku seneng kalau Mas Gilang udah percaya sama aku. Hebat, ya, suruhan Mas itu?"


"Hebat kenapa?"


"Sampai dia berhenti mengawasi aku pun aku bisa nggak tau dia itu siapa."


Mendengarnya, Gilang tertawa renyah. "Orang suruhan Mas memang tidak pernah gagal dalam urusan seperti ini, Sayang."


"Iya, percaya!"


Gilang tertawa lagi. "Kalau gitu, kapan kamu mau pernikahan kita diumumkan, Sayang? Sudah hampir sepuluh bulan loh kita nikahnya."


Belva terlihat berpikir sejenak. Mencari waktu yang pas untuk mengadakan resepsi, menunjukkan kepada semua orang kalau Belva sudah bersuami.


"Masih mikir mau apa enggak, ya?" ujar Gilang mengusik diamnya Belva.


Belva menggelengkan kepalanya. "Bukan itu yang aku pikirkan."


"Lalu?"


"Aku mikir kapan mau resepsi."


Gilang bernapas lega. Bibirnya bisa tersenyum lebar mendengar jawaban Belva kali ini. Dia tak lagi menolak untuk diadakan resepsi.


"Minggu depan? Dua Minggu lagi? Atau bulan depan?"


"Nunggu aku hamil. Nanti sekalian kita umumkan kehamilan aku, Mas. Biar doanya bukan cuma buat kita. Tapi untuk anak kita juga."


"Kalau gitu, bulan ini Mas akan buat kamu hamil," ucap Gilang dengan senyuman mesum di bibirnya.


Belva mengerutkan keningnya. "Emang yakin bulan ini aku bisa hamil?"


"Yang yakin, dong, Sayang. Ucapan itu doa."


"Oke. Aamiin," balas Belva dengan cepat.


"Selain doa, juga butuh usaha," sambung Gilang.


"Kan, tadi udah?"


"Ya lagi, dong."


"Capek."


Gilang sudah bertindak lebih. Mulut Belva berkata lelah. Tapi reaksi tubuhnya tidak bisa berbohong. Belva juga menginginkannya.


"Tubuh kamu nggak bisa bohong, Sayang."


"Iya. Aku ngaku."


Gilang tertawa keras. Lalu kembali melanjutkan aksinya untuk berusaha membuat Belva hamil secepatnya.


***


Walaupun Gilang tak lagi mengawasi dirinya, bukan berarti Belva bisa bertindak semaunya.


Meskipun usianya masih usia muda, dimana gadis-gadis seusia Belva masih ingin bebas, tapi Belva sadar diri. Dia sudah menikah. Dan dia pun begitu mencintai suaminya.


Kebebasan dari Gilang kali ini tidak serta-merta membuat Belva bebas berteman dan dekat dengan laki-laki.


Berteman iya. Tapi kalau pembicaraan lelaki itu sudah mengarah ke tanda-tanda dia menyukai Belva, Belva langsung jaga jarak.

__ADS_1


Takut semakin menyakiti, takut semakin diharapkan, takut perasaannya kebablasan.


Berbeda dengan Indra. Lelaki itupun sudah memiliki kekasih. Tapi dia bisa akrab dengan Belva, dan masih tetap ada batasan.


"Numpang di sini, ya, Bel. Tempat duduknya udah penuh semua," ucap Indra sambil mendudukkan dirinya di atas kursi yang masih kosong di meja Belva. Ada Rania juga di sana.


Dan juga ada seorang wanita cantik yang dibawa oleh Indra. Siapa lagi kalau bukan kekasih Indra? Tiara.


"Oke, Kak Tiara, Kak Indra. Silahkan duduk!" ucap Belva mempersilahkan.


"Kenapa nggak pernah cerita, sih, Bel, kalau udah nikah?"


Mendengar pertanyaan Indra, Belva sampai tersedak minumannya. Rania sampai harus membantu menepuk punggung atas Belva agar batuknya sedikit reda.


"Indra nanyanya to the point banget. Kasian si Belva sampai tersedak begitu." Tiara mengomel pada Indra yang justru hanya tersenyum tanpa dosa melihat Belva seperti itu.


"Sumpah, jahat banget ekspresinya." Belva berucap, membuat tawa Indra semakin terdengar nyaring di telinga.


"Makanya, nggak usah menyembunyikan status."


"Nggak ada yang nyembunyiin status. Orang nggak ada yang nanya juga aku udah nikah apa belum. Lagian Kak Indra tau darimana, sih? Kayaknya di sini yang tau cuma Rania doang. Eh?" Kedua mata Belva langsung menatap Rania dengan penuh curiga.


Sedangkan Rania sendiri sudah tersenyum dan menatap Belva dengan rasa bersalah. Jarinya membentuk huruf v. "Sorry, Bel. Keceplosan."


"Raaannnn..." Dengan sedikit kesal Belva memanggil Rania.


"Iya, maaf. Cuma Kak Indra sama Kak Tiara doang yang tau. Beneran, deh."


Belva menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Nggak usah malu, Bel. Kan, udah halal," kata Indra. "Lagian aku juga nggak akan ngomong ke siapa-siapa juga. Takut dibilang biang gosip," lanjutnya lalu tertawa lagi.


"Untung sadar," ucap Belva yang kembali membuat Indra tertawa. Rania dan Tiara pun turut menertawakannya.


"Ngomong-ngomong, gimana rasanya begituan, Bel? Biar ada pandangan buat praktek sama si Indra," tanya Tiara. Membuat mereka semua melongo mendengarnya.


Buru-buru Indra menyentil dahi Tiara dengan jarinya. "Ngomongnya jauh banget."


"Please! Ini obrolan macam apa?" Rania yang jomblo pun hanya bisa mendengarkan pembicaraan delapan belas plus.


"Yang jomblo diam!" Serentak Tiara dan Indra berucap. Rania langsung mengerucutkan bibirnya dengan kesal.


Sepandai-pandainya tupai meloncat, pasti akan jatuh juga. Sepandai-pandainya menyimpan bangkai, pasti akan tercium juga bau busuknya.


Tapi, yang disimpan Belva bukanlah sebuah bangkai. Tapi sebuah kebahagiaan yang memang belum ingin dia sebarluaskan.


Jika ada satu atau dua orang yang akhirnya tau, itu wajar. Karena tentu saja Belva tidak bisa menutup mulut semua orang yang mengetahui pernikahannya dengan Gilang.


***


"Jajan apa, ya, Bel?"


Belva dan Rania mengendarai motor di belakang kampus yang pinggir jalannya pun berjajar warung-warung yang menjual makanan dengan harga yang sesuai dengan kantong mahasiswa.


"Terserah, deh, Ran."


"Ini yang nanya sesama cewek, ya. Bukan suami kamu yang nanya sampai harus jawabnya terserah gitu."


Belva yang dibonceng Rania pun tertawa terbahak.


"Suka bakso, kan?"


"Suka."


"Ya udah, bakso aja gimana?"


"Oke."

__ADS_1


Rania langsung membelokkan motornya ke warung bakso langganan mahasiswa.


Tapi baru juga turun dari motor, Belva sudah mual dengan bau uap kuah bakso yang tercium sampai ke luar.


"Kenapa, Bel?" tanya Rania yang menyadari keanehan Belva.


"Aku mual banget bau bakso," jawab Belva sambil menutup mulut dan hidungnya dengan tangan.


"Ya udah kita pindah sekarang."


Mereka berdua batal masuk ke warung bakso. Rania segera menyalakan motornya dan Belva segera naik ke boncengannya.


Tanpa mengulur waktu lagi, Rania segera menjalankan motornya untuk meninggalkan warung bakso tersebut.


"Kamu hamil kali, Bel."


"Emang orang hamil kayak gitu, ya?"


"Ya aku nggak tau rasanya gimana, orang belum pernah hamil. Tapi itu kayak temenku dulu waktu hamil."


"Temenmu?"


Rania menganggukkan kepalanya. "Dulu waktu kelas tiga ada temenku yang udah hamil."


"Hah. Kok, bisa?"


"Ya bisalah orang dia begituan sama pacarnya."


"Terus sekolah dia gimana?"


"Dia dikeluarkan dari sekolah. Awalnya kan, dia mual tuh tiap cium bau mie ayam. Padahal dia suka banget sama mie ayam. Dia lihat mie ayam di mangkuk aja bisa muntah-muntah, Bel. Terus badan dia itu sering banget lemes gitu. Tiap ditanya kenapa, dia jawabnya cuma masuk angin. Sampai saat upacara, dia pingsan. Pas sadar muntah-muntah lagi, kan, dia. Katanya nggak tahan bau obat di UKS. Terus akhirnya wali kelas kita bawa dia ke klinik. Takut kenapa-kenapa, kan, karena ini anak mual muntah terus. Di situlah semua tahu kalau dia lagi hamil tiga bulan."


"Nekat, ya, dia begituan? Padahal masih sekolah," gumam Belva pelan. Tidak bisa dipungkiri bahwa aktivitas itu memang sangat menyenangkan.


Tapi, apa iya bisa semenyenangkan itu kalau dilakukan tanpa ikatan pernikahan? Bahkan masih usia sekolah. Berakhir hamil pula.


"Orang kalau udah cinta terus nggak bisa nahan hawa na*su larinya kemana, sih, Bel? Gaya pacaran mereka yang diluar batas sampai terjadi kayak gitu."


"Tapi masa aku hamil, sih, Ran?"


"Ya bisa jadi kalau kamu begituan terus sama suami kamu. Coba, deh, beli testpack di apotik sana! Di cek, siapa tau emang beneran hamil."


"Tolong beliin, ya," ucap Belva yang langsung dibalas gelengan kepala oleh Rania.


"Kenapa?"


"Malu aku, Bel. Lagian yang udah nikah, kan, kamu. Yang ngerasa mual kamu juga. Masa yang suruh beli testpack aku?"


"Aku malu." Belva berucap pelan.


"Tapi kamu punya foto waktu akad nikah yang bisa ditunjukkan kalau kamu dicurigai sama petugas apotek."


"Iya juga, ya? Tapi apa mungkin aku beneran hami, Ran?"


"Udah telah belum datang bulannya?"


"Harusnya, sih, seminggu yang lalu."


"Fiks, kamu hamil. Ayo kita ke apotek beli testpack."


Belva menurut saja saat Rania menarik tangannya pelan. Belva segera naik ke motor Rania yang sudah dinyalakan dan siap untuk berangkat.


Siang itu, akhirnya Belva memutuskan untuk membeli testpack.


Dengan harapan bahwa dia benar-benar hamil seperti yang dikatakan oleh Rania.


Kalau memang iya, mungkin ini akan menjadi hal yang membahagiakan bagi Gilang yang seminggu lagi akan genap tiga puluh tahun.

__ADS_1


🌻🌻🌻


Yang tengah agak nggak nyambung ya gaes ya. wes Ben lah yaa 😅


__ADS_2