Gadis Belia Istri CEO Duda

Gadis Belia Istri CEO Duda
Part 52


__ADS_3

"Kamu minta diapain, Rey? Selalu saja bertindak semaumu sendiri seperti ini?"


Reynaldi tertawa. Sedangkan Belva tersenyum lebar mendengar Papa dan Mamanya mengomel secara bergantian melalui panggilan video yang tengah mereka lakukan.


Setelah berpikir beberapa saat, Darmawan memutuskan untuk tidak menemui Belva dan Rey di tempat mereka bersembunyi saat ini.


Demi menjaga mereka dari Gilang, agar Gilang tidak tahu dimana keberadaan Belva.


Darmawan pun akan berbicara kepada polisi bahwa keberadaan Belva sudah dia ketahui. Dia akan meminta untuk menghentikan pencarian Belva, namun hal itu tidak tetap ditutupi.


Lagi-lagi hal itu dilakukan demi melindungi Belva dari Gilang.


"Terus ngapain kamu bawa mobil Belva ke rumah Gilang di Jakarta? Mau membuat cerita seolah-olah Gilang yang menculik Belva?" tanya Darmawan di seberang sana.


Rey tertawa lagi. "Sesekali bolehlah main-main, Om. Gimana si Gilang, kelimpungan nggak dia?"


"Kemarin dia sempat diperiksa polisi terkait hal tersebut. Sampai sekarang dia pun masih dalam pengawasan. Oh, iya. Ini kamu mau saya penjarakan apa enggak nih karena udah bawa Belva seenaknya sendiri?"


"Orang Belva-nya aja nggak masalah, Om. Dia malah seneng di sini. Lihat aja pipinya yang semakin tembam itu. Tanda dia banyak makan dan senang berada di sini."


"Kak Rey, ih. Pasti mau bilang aku gendut, kan?" Belva menyela dengan kesal.


"Enggak, Bel. Itu pipi emang udah bulat banget kayak bakpao."


"Kak!"


"Awas, ya, Rey, kalau sampai kamu macam-macam sama Belva." Vita mengancam Rey.


Pasalnya, dia tahu bahwa Rey diam-diam menyukai Belva. Bahkan sejak Rey belum berangkat ke Kanada lima tahun yang lalu.


"Nggak akan, Tante. Belva aman di sini sampai dia sendiri mau pulang."


Vita menganggukkan kepalanya. "Terus kandungan kamu gimana, Bel?"


"Baik, Ma. Paling mual aja pas pagi bangun tidur. Selebihnya masih wajar, kok. Makan apa aja mau, nggak nolak."


"Syukurlah kalau begitu, Bel. Mama khawatir sekali sama kamu. Cepat pulang, ya. Nanti kita periksa kandungan kamu ke teman Mama aja."


Belva menganggukkan kepalanya. "Beberapa hari lagi, ya, Ma. Aku masih betah di sini."


"Karena ada aku, Tante." Rey menyela ucapan Belva. Membuat Belva menampar kecil pipi Rey saat itu juga saking kesalnya.

__ADS_1


"Berisik amat, sih, Kak," ucap Belva.


"Ya sudah, Papa mau ngurus laporan ke polisi dulu. Baik-baik kalian di sana. Rey, awas kalau kamu macam-macam!"


"Iya, Pa."


"Oke, Om."


Jawaban Rey dan Belva terucap secara bersamaan.


🌻🌻🌻


Kedatangan Anton dan Yunita di rumah Darmawan di sambut ramah oleh Darmawan dan Vita.


Bagaimanapun juga, ini semua murni kesalahan Gilang. Bukan kedua orangtuanya sehingga Darmawan dan Vita harus marah juga pada Anton dan Yunita.


Anton dan Yunita pun datang dengan membawa segudang rasa bersalah atas kelakuan anak bungsunya yang selalu saja membuat ulah.


Mereka pikir Gilang sudah berubah. Tapi ternyata masih sama saja.


Belum cukup Gilang mempermalukan mereka di hadapan kedua orangtua Mikha. Kini dia berulah lagi kepada Belva yang saat ini saja tengah mengandung anaknya.


Darmawan dan Vita saling berpandangan. Lima menit sebelum kedatangan Anton dan Yunita, mereka baru saja selesai melakukan panggilan video dengan Belva.


Vita menggelengkan kepalanya dengan terpaksa. Sebenarnya Vita tidak pernah melakukan kebohongan kecuali dalam keadaan yang benar-benar mendesak. Itupun dalam hal kebaikan.


"Kami hanya bisa berharap semoga Belva baik-baik saja di manapun dia berada, Mbak," jawab Vita mengambang.


Tidak menunjukkan bahwa mereka telah mengetahui bagaimana keadaan dan keberadaan Belva saat ini.


"Kami minta maaf atas kelakuan Gilang kepada Belva ya, Darmawan, Vita. Jujur, kami malu mendengar ulah Gilang seperti itu," ucap Anton seraya menundukkan kepalanya.


"Kalian tidak bersalah dalam hal ini. Saya percaya kalian telah mendidik Gilang semampu kalian. Ini murni kesalahan Gilang. Saya pikir, biar Gilang saja yang menyelesaikannya bersama Belva nanti kalau Belva sudah pulang. Semoga dia cepat pulang dan berkumpul kembali dengan kami," jawab Darmawan dengan bijak meskipun rasanya ingin merobek bibir Gilang saat kepalanya kembali mengingat perkataan Gilang pada Belva.


"Kabarnya, mobil Belva ada di kediaman mereka yang di Jakarta. Bagaimana bisa? Apakah ini skenario agar semua menganggap Gilang yang menculiknya? Maaf, bukannya saya membela Gilang. Bahkan saya pun rela jika Gilang dijebloskan ke dalam penjara jika dia adalah dalang penculikan Belva."


"Kami juga belum paham soal hal itu," jawaban Darmawan tentu saja berbohong. Semua ulah Rey yang ingin bermain-main dengan Gilang.


***


"Sukurin, Lo!" umpat Mikha dalam hati.

__ADS_1


Kedua mertuanya telah kembali ke Jakarta, dengan Gilang bersama mereka.


Sepanjang penerbangan Surabaya - Jakarta, Anton dan Yunita mendiamkan Gilang. Tak peduli apapun yang dilakukan atau diucapkan oleh Gilang.


Tapi ketika sampai di rumah, tanpa aba-aba Anton langsung menonjok wajah Gilang. Meninggalkan bekas kebiruan dan bibir yang sedikit berdarah.


"Lanjutkan kelakuan kamu untuk mempermalukan keluarga kamu, Gilang! Papa udah capek sama kelakuan kamu. Sekali ini kamu gagal dalam rumah tangga, siap-siap namamu Papa coret dari kartu keluarga. Dan kamu bukan lagi anggota keluarga ini."


"Pa, saat itu Gilang sedang emosi. Papa tau sendiri perusahaan di Vietnam sedang mengalami masalah saat itu. Dan pulang-pulang aku melihat Belva dengan laki-laki lain. Tentu aku emosi melihatnya."


"Tapi tidak harus mengucapkan kata-kata seperti itu, Gilang! Kamu bisa bawa dia pulang dan tanya baik-baik pada Belva! Dia sudah wanita pilihan kamu, Lang. Berbeda saat dulu Papa dan Mama menjodohkan kamu dengan Mikha dan kamu berontak. Tapi ini pilihan kamu. Masih bisa kamu menyakiti dia yang menjadi pilihan kamu, hah?"


Gilang menundukkan kepalanya. "Aku juga menyesal, Pa. Akupun ingin bertemu lagi dengan Belva dan meminta maaf padanya. Lalu memperbaiki semuanya."


"Silahkan lakukan apa yang harus kamu lakukan. Ingat kata-kata Papa tadi. Kamu bukan lagi anggota keluarga ini kalau sampai pernikahan kamu kali ini gagal. Malu! Keluarga kita sudah dipandang banyak orang. Apa jadinya kalau mereka tau bagaimana kelakuan kamu? Sudah untung Belva nggak bicara di media soal tuduhan kamu dan kelakuan kamu terhadap dia."


Gilang menganggukkan kepalanya. "Iya, Pa. Gilang akan berusaha mencari Belva dan memperbaiki semuanya."


Anton tak merespon. Dia memilih pergi meninggalkan Gilang dan berjalan menuju kamarnya untuk beristirahat sebentar sebelum ke kantor siang nanti.


🌻🌻🌻


Berita hilangnya Belva sudah di takedown. Tak ada lagi akun-akun yang mengunggah perkembangan menghilangnya istri pengusaha ternama itu.


Sebagian tidak peduli, sebagian menganggap Belva sudah ketemu, dan sebagian lagi masih ingin tau dengan perkembangannya.


Gilang sendiri masih merasa ingin tau dimana keberadaan Belva sekarang.


Gilang kembali terbang ke Surabaya. Kembali mendatangi kediaman Darmawan. Namun yang Gilang lihat hanya sepi. Rumah itu seperti tak berpenghuni.


Pintu gerbang terkunci. Penjaga tak ada di sana. Pintu rumah dan gordennya pun tertutup semua. Mulai dari lantai satu sampai lantai dua.


Halaman rumah berserakan dedaunan kering yang terjatuh. Seperti sudah beberapa hari tidak di sapu.


Gilang bertanya-tanya, kemana perginya Darmawan dan keluarganya, hingga seluruh asisten rumah tangganya.


"Aarrgghhh." Gilang frustasi. Meninju pintu gerbang yang memperlihatkan keadaan depan rumah Darmawan yang sepi.


Tak peduli dengan perih yang dirasakan karena pukulannya. Yang Gilang ingin hanya bertemu dengan Belva.


🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2