
Kata maaf tak selalu terucap dari hati. Kadang hanya sebagai formalitas belaka agar semua kembali baik-baik saja.
Mungkin untuk Belva, Gina bisa dengan tulus meminta maaf. Sadar selama ini dia yang merawatnya dan melengkapi sosok ibu yang telah hilang dari hidupnya.
Tapi untuk Zurra, hatinya belum bisa sepenuhnya menerima bahwa orang-orang lebih menyukai Zurra ketimbang dirinya.
Senyum di bibir Gina palsu. Canda tawanya hanya sekedar basa-basi. Hatinya tidak bisa berbohong bahwa masih ada hal besar yang mengganjal hatinya.
Pagi tadi, momen haru diciptakan oleh Gina saat dia meminta maaf pada Belva dan Zurra. Tak perlu diceritakan bagaimana proses maaf dan memaafkan yang terjadi pagi tadi.
🌻🌻🌻
Zurra sudah lulus SMA. Hebatnya lagi, dia diterima di beberapa universitas terbaik di Indonesia dan ada tiga universitas di luar negeri yang menerima Zurra.
Rasa iri yang dirasakan Gina lebih besar lagi saat Zurra diijinkan untuk melanjutkan pendidikannya di luar negeri.
Dulu Gina tidak pernah berani untuk mendaftar di universitas luar negeri karena sadar kemampuannya yang jauh di bawah Zurra.
"Bawa baju yang mana aja, Sayang?" tanya Belva saat dia tengah membantu Zurra menyiapkan segala keperluannya.
Besok sore Zurra akan berangkat ke New York dan akan di sana sampai empat tahun ke depan untuk menyelesaikan kuliahnya.
"Nggak usah bawa banyak-banyak, Ma. Nanti kalau ada yang aku butuhkan aku bisa beli di sana."
"Oke." Belva mengiyakan. Menurutnya juga terlalu ribet kalau harus membawa barang terlalu banyak.
Di sana pun pasti ada jika ingin membeli barang yang dibutuhkan tapi tidak terbawa dari Indonesia. Yah, meskipun harganya pasti lebih mahal.
"Eh, apa ini?" Belva mengangkat sebuah paper bag yang cukup besar yang ada di lemari Zurra.
Zurra pun menoleh, melihat paper bag yang sudah diangkat oleh Mamanya.
"Wah, boneka baru, ya, Ra? Eh, ada suratnya. Yang ngasih orang pasti. Cowok, ya?"
Kedua mata Zurra terbelalak teringat siapa yang memberikan boneka tersebut. Zurra sendiri pun belum sempat membukanya sejak diberikan kemarin pada saat farewell party kecil-kecilan yang diadakan oleh para sahabatnya.
"Ma, jangan dibuka, Ma!"
Belva memandang Zurra dengan tatapan menggoda. "Emm... Dari siapa, sih? Mama juga pengen tau."
"Ih, jangan, Ma. Aku juga belum baca, kok."
"Masa?"
__ADS_1
Zurra menganggukkan kepalanya. "Kemarin langsung aku taruh di situ tanpa aku buka, Ma."
"Ya sudah, kita baca berdua, ya?"
Zurra menggelengkan kepalanya. "Enggak, Ma. Jangan! Aku baca sendiri aja."
Belva tertawa kecil lalu meletakkan kembali kertas surat tersebut ke dalam paper bag. Memang penasaran. Sebagai orangtua, tentu Belva ingin tahu. Tapi dia juga menghargai privasi anak-anaknya.
***
Mae,
Baru juga pembukaan, tapi Zurra sudah dibuat kesal dengan panggilan itu. Tapi justru jantungnya berdegup kencang, bersiap membaca isi surat selanjutnya.
Tiga tahun itu cepat, ya? Kayaknya baru kemarin kita murid baru, tapi sekarang udah lulus. Kamu udah mau ke luar negeri aja.
Jangan suka marah-marah lagi, ya, Mae. Nanti di sana nggak punya teman kalau kamu sukanya marah-marah. Hehe...
Aneh, baru kali ini Zurra mulai senang dengan panggilan itu. Mae, entah kapan lagi Zurra akan kembali mendengar panggilan tersebut.
Berangkat Kamis, ya?
Oh, iya. Mae, aku.... Aku sayang sama kamu. Aku sering jailin kamu karena sebenarnya aku suka sama kamu. Sejak awal kita ketemu.
Aku menahan diri untuk tidak mengatakan hal ini sama kamu, Mae. Aku takut kamu menolaknya. Nanti malah ada yang lain dari hubungan kita kalau kamu tolak cinta aku.
Aku nggak mungkin bisa panggil kamu Mae lagi. Nggak mungkin bisa aku jailin kamu karena kita pasti canggung.
Aku nggak berharap kamu terima aku, kok, Mae. Walaupun pasti aku bahagia kalau akhirnya kamu terima cintaku.
Aihh... Udah cinta aja ngomongnya.
Kalau kamu terima aku, tolong kamu WhatsApp aku jam berapa kamu berangkat, ya. Biar kita bisa ketemu dulu sebelum pisah selama empat tahun. Hehe...
Baik-baik di sana, ya, Mae. Jaga diri baik-baik. Dan tetap jadi anak yang baik.
Good luck, ya...
Raka
Hati Zurra mendadak bimbang. Bagaimana mungkin perasaan cinta itu akan tumbuh begitu cepat. Mungkin bisa, tapi rasa yakin belum tentu ada.
Empat tahun bukanlah waktu yang singkat. Zurra tidak ingin pergi membawa hati seseorang yang nantinya justru akan membuatnya kepikiran dan tidak fokus.
__ADS_1
Zurra pergi untuk bersekolah. Bukan untuk traveling. Dan Zurra tidak ingin membawa pikiran berat dan terlalu overthingking nantinya karena di Indonesia ada pacar.
Zurra memutuskan untuk tidak mengabari Raka. Itu artinya dia juga tidak menerima ungkapan perasaan yang Raka ungkapkan.
***
Keberangkatan Zurra diantar Belva sampai ke New York. Gilang yang seharusnya juga ikut pun ternyata tidak bisa karena urusan pekerjaan. Gina sedang masa ujian, dan Biru yang sudah masuk sekolah lagi.
Saat berpamitan dengan Gina, keduanya berpelukan.
Zurra meneteskan air matanya karena sedih harus berpisah dalam waktu yang cukup lama.
"Nanti kalau liburan, kakak ke sana, ya?"
Gina menganggukkan kepalanya. "Iya. insyaaAllah, ya. Hati-hati di sana. Pasti rumah sepi banget nggak ada kamu."
Dalam hati Gina berucap lain saat mengantar keberangkatan Zurra. "Ini adalah kesempatan aku untuk menjadi satu-satunya anak perempuan Papa dan Mama," ucap Gina dalam hati.
🌻🌻🌻
Sejak sesaat setelah memberikan boneka tersebut kepada Zurra, Raka selalu menanti pesan dari Zurra yang masuk ke handphonenya.
Setiap ada notifikasi, Raka selalu buru-buru melihatnya. Tapi berkali-kali Raka harus menelan kekecewaan karena notifikasi tersebut bukan berasal dari Zurra.
Sampai hari dimana Zurra berangkat, Raka belum juga menerima satu pesan pun dari Zurra.
Hatinya semakin yakin bahwa cintanya ditolak. Zurra tidak menerima cintanya.
Pagi-pagi sekali dia sudah sampai di bandara. Raka tidak tahu jam berapa Zurra akan berangkat. Harapannya, dia bisa melihat Zurra walaupun tidak bisa menyapanya.
Dari jam enam pagi Raka sudah menunggu. Dan Zurra baru saja datang di jam dua siang bersama kedua orangtuanya dan kedua saudaranya.
Ingin menyapa, tapi Raka enggan mengingat bahwa Zurra telah menolak cintanya.
Raka hanya bisa memandang Zurra dari kejauhan. Melihatnya untuk yang terakhir sebelum mereka berpisah selama empat tahun.
Setelah empat tahun nanti pun Raka belum tau apakah takdir akan mempertemukan mereka kembali.
Atau mungkin saja cintanya masih tetap utuh untuk Zurra, atau mereka akan bertemu dengan membawa pasangan mereka masing-masing.
"Sampai jumpa lagi, Mae. Jika takdir tidak menyatukan kita kelak, semoga kita bisa bahagia dengan takdir kita masing-masing," ucap Raka seiring dengan roda pesawat yang dinaiki oleh Zurra dan Belva mulai berputar di atas landasan pacu.
🌻🌻🌻
__ADS_1