Gadis Belia Istri CEO Duda

Gadis Belia Istri CEO Duda
Part 68


__ADS_3

"Lagi ngapain, Sayang?"


"Pesen tiket pesawat ke Bali sekalian hotelnya. Nanti malam aku berangkat dari Juanda."


Gilang mengerutkan keningnya. Memandang Belva penuh tanya. "Kok, aku? Mas nggak diajak?"


"Memangnya Mas Gilang mau ikut?" Belva bertanya dengan ekspresi wajah seolah dia tak tau.


"Terus Mas biarin kamu berangkat sendiri? Ya nggak mungkin, dong, Sayang."


"Terus gimana? Aku pesen tiketnya cuma satu. Kamar hotelnya juga single bed. Ku pikir Mas Gilang beneran nggak mau nemenin aku ke Bali."


Gilang menatap Belva tak percaya. Rasanya tak percaya Belva melakukan ini semua. Bagaimana bisa dia berpikir kalau Gilang akan membiarkan dia pergi sendiri? Dalam keadaan hamil pula.


Padahal Belva tau bahwa sekarang Gilang tak bisa berpisah dengan dirinya walau satu menit saja.


"Pesen lagi tiketnya. Soal kamar gampang nanti. Tinggal cancel yang itu terus pesan lagi."


Belva mengangguk tanpa beban. Seolah dia baru saja tidak melakukan kesalahan apapun terhadap Gilang. "Oke."


"Masih ada seat. Tapi jaraknya lumayan jauh sama aku, Mas."


"Gimana bisa begitu?" protes Gilang yang dibalas dengan mengendikkan bahunya.


"Ya aku mana tau, sih, Mas. Tinggal ini mau apa enggak? Kalau mau ya cepetan keburu habis tiketnya."


"Okelah," jawab Gilang pasrah.


Rasanya begitu kesal dengan Belva saat ini. Tapi Belva seperti cuek saja dan tidak peduli sama sekali dengan kekesalan Gilang.


***


Cueknya Belva masih terus berlanjut.


Belva yang biasa bermanja kini terlihat menghindari Gilang. Padahal baru kemarin mereka bahagia dengan resepsi pernikahan mereka. Tapi hari ini sudah ada perang dingin diantara keduanya.


Entah siapa yang salah. Gilang tak tahu.


Bahkan Belva menyiapkan semua keperluannya sendiri tanpa meminta bantuan dari Gilang. Belva juga menyiapkan keperluan Gilang meskipun sikapnya masih mendiamkan Gilang.


Pukul tiga sore, mereka sudah berangkat ke bandara. Penerbangan masih pukul sembilan malam tapi mereka harus datang lebih awal untuk melakukan serangkaian kewajiban yang harus dilakukan sebelum masuk ke dalam pesawat.


Belva dan Gilang sama-sama memakai masker. Mungkin keduanya sudah sadar tanpa saling berbicara.


Gilang yang sudah dikenal banyak orang. Belva juga mulai dikenal di dunia Gilang sejak Gilang mengumumkan pernikahan mereka.


Jika mereka terlihat saling diam, tidak lucu rasanya. Pasangan yang baru saja mengadakan resepsi sudah perang dingin. Bahkan di pesawat pun tidak duduk berdekatan karena memesan tiket di waktu yang berbeda.

__ADS_1


Gilang membulatkan matanya saat tahu bahwa yang duduk di samping Belva di dalam pesawat adalah seorang lelaki yang usianya jauh lebih muda dari dirinya.


"Mas bayar orang itu biar pindah ke belakang, ya, Sayang?"


"Biar apa?"


"Masa kamu mau dekat-dekat sama lelaki itu? Kamu ada suami loh."


"Tempat duduknya doang yang dekat. Kenapa, sih? Nggak usah aneh-aneh, deh." Belva menggerutu kesal.


"Maaf, bapak, ibu. Ada yang bisa kami bantu?" tegur salah seorang pramugari di pesawat tersebut.


"Oh, enggak, Mbak. Masnya mungkin sedang kesusahan untuk mencari tempat duduknya," jawab Belva sambil menunjuk Gilang.


Gilang kembali membulatkan matanya saat Belva berpura-pura tidak mengenal dirinya.


"Mari saya antar, Pak," ucap pramugari tersebut setelah melihat tempat duduk Gilang di dalam tiketnya.


Gilang mengangguk. Melirik Belva dengan kesal sebelum menuju tempat duduknya sendiri. "Awas kamu, anak nakal! Kalau tidak sedang hamil, ku pastikan kamu akan kesulitan berjalan berhari-hari nanti," ucap Gilang dalam hati mengancam Belva.


***


Tidak ada yang namanya tenang ketika dalam penerbangan menuju Bali malam ini. Gilang tak bisa duduk dengan tenang dengan membiarkan Belva duduk bersebelahan dengan lelaki lain tanpa dirinya ada di dekatnya.


Bahkan jarak keduanya pun lumayan jauh saat ini. Belva tidak bisa menjangkau Belva. Pandangannya akan Belva terbatas.


Berbeda dengan Gilang, Belva justru nampak tenang seperti tak ada beban apapun. Seperti sedang tidak bersama suaminya saat ini meskipun mereka duduk berjauhan.


Bayangan nasi liwet solo sudah ada di kepalanya. Dulu dia pernah menikmatinya saat sedang berlibur ke Bali. Dan kini belba ingin mengulangnya, mengenalkan makanan enak tersebut kepada calon buah hatinya.


"Mbaknya sendirian aja?" tanya lelaki yang duduk di sampingnya. Lelaki yang dicemburui oleh Gilang sebelum berangkat tadi.


"Tampang saya kayak mbak-mbak, ya?"


"Terus maunya dipanggil apa?"


"No! Nggak perlu panggilan yang lain. Saya nggak sendiri. Ada suami saya di belakang."


Meskipun sedang perang dingin, tapi Belva tetap mengakui keberadaan Gilang dalam penerbangan kali ini.


"Kenapa bisa jauhan seat-nya?"


"Apa perlu saya jelaskan?"


Lelaki itu menggelengkan kepalanya. "Oh, tidak perlu. Maaf sudah mengganggu."


Pikirnya, Belva itu sangat cantik meskipun dia tahu bahwa Belva tengah hamil. Maklum, jiwa pebinor sudah ada sejak usianya delapan belas tahun.

__ADS_1


Ah, sudahlah. Lupakan lelaki mata keranjang itu.


Satu jam serasa satu tahun bagi Gilang. Hanya karena sang istri tidak ada di sampingnya, malah berada di samping lelaki lain.


***


Sebenarnya ini bukan masalah yang besar. Belva juga tidak tahu kenapa bisa sampai sekesal ini pada suaminya.


Mengingat wajah Gilang saat melihat Belva duduk di dekat lelaki lain, tatapan nelangsanya saat tempat duduk mereka di pesawat ternyata tidak bersebalahan. Ditambah lagi dengan kamar yang hanya single bed. Belva merasa tidak tega.


Belva menghentikan langkahnya. Menengok ke kanan dan ke kiri tapi tak ada Gilang di sekitarnya.


Belva sampai tidak sadar sejak kapan Gilang tidak mengikuti dirinya.


"Mas Gilang!" panggil Belva yang mulai merasa ketakutan.


"Mas?" Panggilnya sekali lagi.


Tapi Gilang masih tak terlihat oleh Belva. Belva panik sendiri. Mengarahkan pandangannya ke segala arah untuk mencari keberadaan Gilang.


Belva semakin takut. Apalagi bandara mulai sepi karena hari sudah semakin malam.


"Mas Gilang..." Belva mulai menangis. Apa iya Gilang tega meninggalkan dirinya sendiri? Belva mulai overthingking.


"Sayang!"


Mendengar suara Gilang, Belva langsung memandang ke arah suara. Gilang sedang berdiri di dekatnya dengan tatapan paniknya.


"Kenapa?" tanya Gilang.


"Mas Gilang ninggalin aku sendiri? Aku nyariin Mas Gilang kemana-mana tapi nggak ada."


Gilang tertawa kecil. "Lihat, deh, yang tadi mau ke Bali sendiri. Ditinggal ke kamar mandi sebentar saja udah nangis begini."


Belva mengeraskan tangisnya guna menutupi rasa malunya. Benar. Tadi dia ngotot pergi sendiri. Giliran ditinggal sendiri seperti ini dia panik sendiri.


***


Dalam perjalanan menuju hotel, Belva tertidur lelap di pelukan Gilang.


Sedangkan Gilang memikirkan ucapan wanita yang mengejarnya tadi setelah keluar dari pesawat.


Gilang memikirkan bagaimana caranya untuk mengatakan yang sejujurnya pada Belva.


Memikirkan bagaimana reaksi Belva nantinya.


Gilang tak ingin hal ini menjadi masalah baru untuk rumah tangganya yang baru saja berbahagia.

__ADS_1


🌻🌻🌻


pendek aja. anakku lagi sakit. mohon doanya ya 🙏🙏


__ADS_2