
Pelukan penuh rindu dilakukan oleh Belva dan Eliza. Rania belum datang karena masih ada urusan mengenai tugas kuliahnya.
Mereka bertemu di salah satu cafe yang dulu sering dijadikan tempat Belva dan Eliza menghabiskan waktu.
"Sumpah kamu makin cantik, Bel," ucap Eliza sambil memandangi penampilan Belva dari atas sampai bawah.
"Nggak keliatan kalau udah emak anak satu," lanjut Belva.
"Anak dua tau, El."
"Hah? Seriusan? Hamil lagi apa gimana?"
Belva tertawa kecil. "Ceritanya panjang. Nanti aku ceritain. Tapi tungguin Rania dulu, ya. Ketimbang aku ngulang cerita lagi."
"Oke. Meskipun aku udah penasaran setengah mati."
"Belum mati, kan?"
"Kamu doain aku mati, Bel?"
"Bercanda doang, El. Sensitif amat. Nggak dapat jatah dari Kak Wisnu apa gimana?"
Eliza memalingkan wajahnya ketika mendengar nama Wisnu disebut oleh Belva.
Belva memandang Eliza penuh selidik. "Ada apa, nih? Apa yang nggak aku tau?"
Terlihat Eliza menghembuskan napas berat. "Aku sama dia lagi break."
"Kenapa?"
"Kita hanya butuh waktu untuk saling introspeksi diri, kok."
"Tapi hubungan kamu dengan Rania baik-baik aja, kan?"
Eliza menganggukkan kepalanya dan tersenyum lebar. "Baik, kok. Kita sering pergi bersama. Apa yang terjadi antara aku dengan kakaknya itu nggak ada urusannya sama sekali sama Rania. Dan Rania pun anaknya nggak mau kepo dan ikut campur."
"Syukurlah. Apapun itu, semoga kalian diberikan jalan yang terbaik, ya, El."
Kepala Eliza mengangguk dan bibirnya mengaminkan apa yang Belva ucapkan.
Tak lama setelah itu, Rania datang dan langsung memeluk Belva juga. Meskipun wajah Rania terlihat ceria, tapi Belva tau kalau matanya tak seceria wajahnya.
Ingin bertanya kenapa, tapi Belva rasa itu terlalu dalam jika untuk sekedar basa-basi.
"Mama Zurra apa kabar, nih? Makin cantik aja," ucap Rania. Pujiannya sama dengan apa yang diucapkan Eliza tadi.
"Bisa aja kamu, Ran. Kamu baik kabarnya?"
"Aku baik, Bel."
Rania dipersilahkan duduk oleh Belva dan Eliza.
__ADS_1
"Nah, sekarang Rania udah datang. Kamu harus cerita soal Mama dua anak itu," ucap Eliza mengingatkan Belva bahwa dia ada hutang cerita.
Belva menghembuskan napas panjang sebelum memulai ceritanya. Mengingat masa lalu sebenarnya sudah tidak ingin Belva lakukan.
Satu persatu apa yang terjadi pada kehidupan Belva selama di Jakarta dia ceritakan kepada Eliza dan Rania.
Tentang hadirnya kembali Viona beserta anaknya. Dan kepergian Viona yang membuat Belva memilih untuk menerima Regina untuk masuk ke rumahnya bersama Gilang.
Juga pengalaman-pengalamannya dalam mengurus dua anak yang salah satunya tidak berasal dari rahimnya sendiri.
"Kenapa kamu mau, Bel? Padahal Mas Gilang, kan, nggak maksa kamu untuk menerima anak itu."
Belva tersenyum mendengar pertanyaan Eliza. "Aku juga nggak tau kenapa aku tiba-tiba mau, El. Yang pasti, saat itu aku merasa nggak keberatan sama sekali kalau anak itu memanggilku Mama, dan tinggal bersama kami. Dia udah nggak punya ibu. Satu-satunya orang yang dia miliki hanya Mas Gilang."
"I'm so proud of you, Bel. Nggak nyangka kamu udah sedewasa ini," ucap Rania memuji Belva.
Belva yang dulu dia kenal memang tidak kekanakan. Tapi cara berpikirnya belum sedewasa ini. Mungkin keadaan yang sudah melatihnya untuk dewasa.
"Aku belum sedewasa itu, Ran. Kadang aku juga masih sering ngeluh capek ketika aku harus berbuat adil antara Zurra dan Gina. Meskipun adil untuk mereka memang tidak harus selalu sama."
"Tapi sejauh ini kamu mampu menjalaninya meskipun kamu sering mengeluh."
Belva mengangguk membenarkan. Benar memang. Selama ini walaupun sering mengeluh tapi dia mampu sampai sejauh ini. Bahkan Belva tak pernah berharap dan mengatakan kapan semua akan berakhir. Kapan dia akan berhenti untuk mencoba adil?
Semua karena Belva sadar bahwa untuk hal tersebut tidak akan pernah berakhir.
"Kalau kamu gimana, Ran?"
"Kamu masih jomblo sekarang? Atau udah punya pacar? Kamu nggak pernah cerita sama aku."
Rania tertawa kecil. "Jangan bahas soal itu, deh." Kemudian raut wajahnya berubah.
Belva tak tahu apa yang membuat raut wajah Rania berubah secepat itu. Atau mungkin dirinya terlalu kepo tentang kehidupan Rania dan membuatnya tak nyaman.
"Oke," ujar Belva mengalah. Dia tak mau menanyakan lagi jika Rania memang tidak nyaman dengan hal itu.
***
Banyak hal yang mereka obrolkan. Lama tidak berjumpa membuat banyak hal tertinggal dan tidak diketahui oleh Belva.
Banyak teman-temannya yang sudah menikah. Ada pula beberapa yang sudah meninggal.
Eliza dan Belva bisa bebas bercerita bahkan tertawa lepas. Rania pun sama sebenarnya. Tapi ada hal yang mengganjal di hati Belva.
Tawa Rania tak setulus itu. Mata Rania tak bisa berbohong bahwa ada satu hal yang dia tutupi dari Belva.
Mungkin Belva perlu bicara berdua saja dengan Rania setelah ini. Belva tak mau ada hal yang mengganjal antara dirinya dan Rania.
Apalagi mereka jarang sekali bertemu nantinya.
Sepulang mereka dari cafe, Belva tak langsung pulang seperti Eliza dan Rania. Melainkan mengikuti Rania sampai ke rumahnya.
__ADS_1
"Belva ngapain?" Rania memekik terkejut melihat Belva sudah ada di depan rumahnya. Dia keluar dari mobil beberapa saat setelah Rania masuk ke dalam rumah.
"Ada hal yang ingin aku tanyakan, Ran."
"Apa?"
Belva menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Dia mengajak Rania untuk duduk di kursi taman yang ada di halaman rumah Rania.
"Kamu kenapa?" tanya Belva tak lama setelah keduanya duduk.
"Kenapa apanya?"
"Ada yang lain dari kamu, Ran. Aku ada salah sama kamu apa gimana?"
Rania tertawa kecil. Belva tau tawa itu hanya sebuah kepalsuan. "Nggak ada salah apa-apa. Kita aja jarang ketemu, kan?"
Belva menganggukkan kepalanya. "Ya, kita jarang ketemu. Tapi aku tahu kalau sikap kamu ke aku itu beda. Ada apa? Aku ada salah apa, Ran? Katakan yang sebenarnya. Jangan ada yang ditutupi dan kamu pendam sendiri."
"Bel, aku beneran nggak _"
"Jangan bohong, Ran! Aku bukan anak kecil yang bisa dibohongin."
Terdengar hembusan napas panjang dan sedikit kasar yang terhembus dari hidung Rania. Kepalanya menunduk. "Oke," ucapnya memulai kata.
"Ini bukan salah kamu, Bel. Tapi ini salah aku yang nggak bisa mengendalikan diri aku sendiri untuk menganggap kamu tidak bersalah dalam hal ini."
"Maksudnya apa?" Belva dibuat tak mengerti. Dia tak tahu kemana arah bicara Rania.
"Aku dan Rey menjalin hubungan. Ehm, ralat! Pernah maksud aku."
"Pernah? Kapan?"
"Kami bertemu saat resepsi pernikahan kamu, Bel. Sejak saat itu dia rutin menemui ku. Sering ngajak jalan, sering telepon, sering bertukar kabar. Ku pikir dia tulus. Tapi setelah beberapa bulan jadian, aku baru tahu kalau aku hanya dijadikan tempat pelarian."
"Pelarian?"
Rania menganggukkan kepalanya. "Iya. Pelarian dari kamu. Dia masih mencintai kamu, nggak bisa lupain kamu, bahkan di saat status kamu sudah pacaran."
"Aku salah telah menganggap kamu bersalah dalam hal ini, Bel. Padahal kamu udah bahagia dengan kehidupan kamu dan nggak mungkin juga kamu ada hubungan dengan Rey."
Mulut Belva terbuka, menganga tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Rania. "Ran, demi Allah, aku dan Rey nggak ada hubungan apapun. Status kamu hanya sebagai saudara sepupu, nggak lebih. Aku bahkan belum pernah bertemu lagi dengan Rey sejak aku pindah ke Jakarta. Jangankan ketemu, nomor handphonenya aja aku nggak punya, Ran."
Rania sudah meneteskan air matanya. Dia benar-benar salah telah menganggap Belva juga bersalah dalam urusan hati Rey. Padahal, hati Rey hanya Rey sendiri yang bisa mengendalikan.
"Aku tau, Bel. Aku yang salah udah kesal sama kamu karena Rey masih cinta sama kamu. Makanya tadi aku ngerasa nggak enak sama kamu. Bukan karena apa-apa."
Belva segera memeluk erat Rania yang tengah menangis. "Jadi ini juga yang menjadi alasan kamu jarang hubungin aku atau balas pesan aku?"
"Aku minta maaf, Bel."
"It's oke, Ran. Aku nggak apa-apa."
__ADS_1
🌻🌻🌻