
"Mas Gilang!"
Tak ada suara yang lembut saat Belva membangunkan Gilang pagi ini. Kekonyolan macam apa yang Belva lihat pagi ini?
Gilang berada di dalam kamar dengan Juan dan satu orang lagi yang Belva tidak tahu dia siapa.
Gilang tidur di atas tempat tidur. Juan di atas sofa. Sedangkan satu temannya lagi tidur kasur tambahan yang ada di lantai.
Belva masih tak percaya. Dia berpikir bahwa ini hanyalah akal-akalan Gilang untuk menutupi kesalahannya semalam yang terlihat check-in dengan seorang perempuan.
Memang dasar buaya!
"Mas Gilang, bangun!" ucap Belva sedikit kasar. Tangannya juga mengguncang bahu Gilang dengan sedikit kencang.
Perlahan Gilang membuka kedua matanya. Matanya menyipit menyesuaikan cahaya lampu kamar. Juga memastikan bahwa yang ada di depannya saat ini adalah istrinya, Belva.
"Sayang? Kenapa di sini?"
"Kamu ngapain di sini?" Belva bertanya balik. Bukannya dia menjawab pertanyaan Gilang.
"Kan, semalam kamu yang nggak kasih Pak Eko buat bukain gerbang. Ya Mas tidur di sini, dong. Nggak mungkin Mas tidur di mobil."
"Alasan! Bilang aja mau check-in sama cewek lain."
"Nuduh terus!!! Dari kemarin cuma nuduh aja kerjaanmu."
"Siapa yang mulai? Mau pulang apa enggak? Atau mau di sini terus aku orderin cewek mich*t sekalian?"
"Bel... Ini masih pagi. Bisa tenang enggak?" tanya Gilang pasrah. Kedua tangannya mengusap wajahnya dengan kasar.
"Kamu yang mulai!" teriak Belva.
Teriakan Belva tersebut membangunkan Juan dan Martin, teman Gilang.
Sadar bahwa ini adalah urusan rumah tangga Gilang dan Belva, Juan dan Martin tak banyak bertanya.
Keduanya berpamitan untuk keluar. Mungkin pagi ini mereka juga langsung pulang karena mereka juga meninggalkan istri mereka di rumah demi menemani Gilang bermain karambol semalam.
Permintaan Gilang tersebut pun sebenarnya juga menimbulkan kecurigaan istri mereka. Sampai-sampai mereka harus melakukan panggilan video call non stop dan baru mati dengan sendirinya setelah adzan subuh tadi.
Setelah Juan dan Martin keluar, Gilang segera berdiri dan memeluk tubuh Belva. Tak peduli seberapa kuat Belva memberontak meminta untuk dilepaskan pelukannya.
"Lepasin!"
__ADS_1
"Kenapa, sih, harus marah-marah terus? Harus nuduh-nuduh yang nggak jelas begitu. Kenapa, Sayang?"
"Mas Gilang yang mulai. Nuduh aku yang enggak-enggak padahal aku telepon Rey itu masalah Rania. Aku ke kantor Mas Gilang nggak kasih ijin buat aku ketemu sama kamu. Semalam juga kak Mikha kirim foto Mas Gilang masuk ke lobi hotel bareng cewek. Dia kira itu aku padahal bukan. Siapa wanita itu, Mas? Kamu beneran check-in sama cewek, kan, sebelum tidur bareng mereka berdua?"
Gilang menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. "Semalam Mas masuk bareng istrinya temanku yang jadi manager di hotel ini. Nggak sengaja ketemu di depan. Memang mirip banget sama kamu kalau dari belakang, Sayang. Mereka juga mau menginap di sini."
Kepala Belva mendongak. Kedua matanya menatap Gilang dengan tatapan penuh tanya. "Beneran?"
"Kamu sudah lebih dari segalanya, Sayang. Mas udah nggak butuh lagi wanita lain selain kamu."
Ucapan Gilang diakhiri dengan kecupan lembut di kening Belva.
"Jadi itu alasan kamu pagi-pagi ke sini? Bayar berapa kamu bisa tau kalau Mas di kamar ini, Sayang?"
Belva menyembunyikan wajahnya di dada bidang Gilang. Malu mengingat kekesalan karena sebuah kesalahpahaman tadi. Sampai dia rela membayar resepsionis tadi demi bisa mengetahui kamar Gilang.
"Nggak seberapa, kok. Bilang sama temenmu yang manager di sini itu untuk tidak memecat karyawannya yang udah ngasih aku nomor kamar pelanggannya."
Tawa Gilang berderai. "Mana bisa begitu, sayang?"
"Kalau gitu misal dia dipecat, kasih dia kerjaan, ya, Mas? Aku udah terlanjur bilang gitu soalnya."
Lagi-lagi Gilang tertawa keras mendengar ucapan Belva. "Siap, Sayang. Sholat dulu, yuk. Habis itu kita..."
"Mereka selalu tenang asal tidak melihat kamu dulu, Sayang. Sudahlah. Kamu yang datang ke sini, berarti kamu menyerahkan diri kamu ke Mas, sayang."
"Mana ada yang begitu?"
"Ada. Udah, ayo sholat dulu sebelum matahari terbit."
Belva tak banyak bicara selain menuruti ucapan suaminya. Habis ini dia harus beribadah yang lain lagi dengan Gilang yang tidak tau waktu itu.
***
Kemesraan Gilang dan Belva kembali terjalin. Untuk apa juga berlama-lama berselisih hanya karena sebuah kesalahpahaman?
Keduanya berjalan bersama memasuki rumah besar mereka. Gilang merangkul pundak Belva, dan Belva merangkul pinggang Gilang.
Terlihat sangat mesra saat sesekali Gilang mendaratkan bibirnya di puncak kepala Belva.
"Katamu Pak Gilang dan Bu Belva sedang marahan? Itu mesra begitu," ucap Marni pada Eko.
"Dari kemarin memang nggak akur, Mar. Pagi, Bu Belva ngejar Pak Gilang. Ngebut banget. Malamnya, Pak Gilang nggak dikasih ijin masuk ke rumah. Jangankan ke rumah, ke halaman aja nggak boleh. Bu Belva ngelarang aku buat bukain pintu gerbang. Terus subuh tadi Bu Belva juga pergi gitu aja. Nggak tau kemana. Wajahnya kelihatan marah banget, Mar."
__ADS_1
Marni mengangguk paham mendengar penjelasan Eko. "Kalau begitu mereka udah baikan. Syukurlah kalau begitu."
"Iya. Alhamdulillah."
***
"Kamu ngomong apa sama Rey, Bel?"
"Kenapa emangnya? Dia udah hubungi kamu, Ran?"
Rania terlihat tengah menghembuskan napas dengan kasar. "Aku udah di fase hampir melupakan dia, Bel. Tapi dia datang lagi secara tiba-tiba."
"Jangan pernah mencoba melupakan karena justru akan selalu teringat. Biarkan semua mengalir begitu saja. Kalau dia kembali lagi, anggap saja dia alumni. Siapa tahu bisa reunian. Dengan buka bersama mungkin. Lama-lama dekat lagi, deh."
"Nggak nyambung, Bel."
Belva tertawa kecil. "Dia udah menyesal, Ran. Percaya sama aku."
"Tapi aku udah nggak peduli."
"Setidaknya maafkan dia agar hatimu bisa tenang. Melupakan dia pun bisa kamu lakukan kalau kamu ikhlas memaafkan. Ingat, Ran. Nggak ada yang bisa menyembuhkan sakit hati kecuali dengan keikhlasan. Ikhlas memaafkan, ikhlas menerima semuanya. Memaafkan bukan berarti menerima kembali, kan? Hanya agar hatimu tenang. Itu saja. Kalau jodoh, memang bukan kita yang mengatur."
Rania menganggukkan kepalanya tanda dia setuju dengan ucapan Belva. Tapi rasanya sulit sekali untuk memaafkan kesalahan Rey.
Apa yang dilakukan Rey itu sangat menyakitkan hatinya.
"Aku kayak gini bukan karena dia sepupuku, Ran. Tapi kalian bertemu secara baik-baik. Akhirnya pun harus tetap baik. Kamu tenang hidup dalam rasa kecewa dan benci?"
Rania menggelengkan kepalanya. "Aku nggak pernah merasa tenang setelah kepergiannya, Bel."
"Dia pulang?"
Rania menggeleng lagi. "Nggak. Tapi hubungin aku pakai nomor baru."
"Maaf kalau aku lancang ikut campur ya, Ran. Aku cuma merasa bersalah karena secara nggak langsung aku yang menyebabkan kalian seperti ini."
"No! Kamu nggak salah apa-apa. Ini salah kita berdua yang terlalu cepat memulai semuanya. Apalagi aku belum mengenal Rey lebih jauh lagi tapi udah mau dijadiin pacar."
"Kalau dia kembali, aku pastikan dia kembali dengan hati yang tulus, Ran."
Rania hanya tersenyum. Hatinya tak pernah berharap Rey kembali. Tapi jika takdir menyatukan, dia berharap memang Rey datang kembali dengan hati yang tulus.
🌻🌻🌻
__ADS_1