
Pergulatan panas keduanya berakhir di ranjang yang ada di kamar pribadi Gilang di ruangannya.
Belva masih tertidur lelap setelah aktifitas mereka. Tak cukup sekali, Gilang butuh berkali-kali baru dia membiarkan Belva tidur dengan nyenyak.
"Kamu yang memancingku, Sayang," ucap Gilang saat Belva memohon agar Gilang menyudahi permainannya.
Belva tak bisa berbuat banyak. Hanya bisa menikmati sembari mende*ah tak karuan.
Jam satu siang, Gilang terpaksa meninggalkan Belva yang kembali tertidur lelap setelah mandi dan sholat dhuhur.
Bahkan Belva belum sempat makan siang. Rasa lelah dan kantuknya lebih mendominasi daripada rasa laparnya.
Sebelum Gilang menuju ruang meeting, Gilang memastikan lagi kalau pintu ruangannya sudah terkunci rapat. Dia juga sudah mengirim pesan pada Belva agar meneleponnya jika nanti sudah bangun dan ingin keluar ruangan.
Saat bertemu dengan Juan, Gilang menatap Juan dengan bingung. Pasalnya, Juan terlihat salah tingkah dan aneh menurut Gilang.
"Kenapa, Lo?" tanya Gilang.
Dengan cepat Juan menggelengkan kepalanya. "Nggak ada apa-apa, bos."
"Beneran?"
Juan mengangguk yakin. "Hanya saja..."
"Hanya apa?"
"Lain kali kalau begituan di kamar saja, bos. Ruangan bos, kan, nggak kedap suara. Untung hanya saya yang naik ke ruangan bos. Coba kalau yang lain. Kayaknya udah pingsan dengar suara bos dan Non Belva."
Gilang menyemburkan tawanya. Gilang bukannya lupa kalau ruangannya tidak kedap suara. Berbeda dengan kamarnya.
Tapi itulah sensasinya. Lagipula Gilang tidak perlu khawatir kalau ada yang mendengarnya. Yang berani naik ke ruangannya hanya Juan dan seorang OB khusus yang ditugaskan untuk membersihkan ruangan Gilang beserta kamarnya.
Karyawan lain tidak akan naik ke ruangannya kecuali diminta oleh Gilang. Kalaupun ada, pasti mereka menelepon Juan terlebih dahulu untuk memastikan Gilang tidak sedang sibuk.
"Udah datang ke pacarmu belum setelah dengar gue sama Belva?"
"Udah sempat, bos, walaupun cuma setengah jam."
Lagi-lagi Gilang menyemburkan tawanya. Lalu tangannya menepuk bahu Juan dengan sedikit keras. "Cepat nikahi itu si April. Gue nggak mau kalau dia hamil duluan karena Lo yang terus saja memasuki dia. Bikin buruk nama perusahaan nanti."
"Kita sudah menikah, bos."
Gilang melebarkan kedua matanya mendengar pernyataan Juan. "Kapan? Kok, gue nggak tau?"
"Seminggu yang lalu, bos. Waktu lamaran, sekalian nikah siri dulu. Biar nggak kebanyakan zina kata bapaknya, bos."
"Lo lamaran nggak ngabarin gue?"
"Waktu itu bos lagi di Surabaya. Saya nggak enak ganggu waktu bos."
__ADS_1
Gilang mengangguk paham. "Cepat diresmikan dan diumumkan agar tidak terjadi fitnah."
Juan menganggukkan kepalanya. "Siap, bos."
***
Belva membuka kedua matanya. Tubuhnya masih berselimut tebal. Jakarta panas. Tapi di dalam ruangan dan kamar Gilang tentu saja terasa dingin dan sejuk efek pendingin ruangan.
Tak ada Gilang di sampingnya. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua siang. Belva ingat bahwa siang ini Gilang ada meeting dengan para karyawannya.
Perut Belva terasa lapar. Beruntung Gilang perhatian sehingga dia pun sudah menyiapkan makanan untuk dimakan Belva setelah dia terbangun.
Minuman di kulkas kecil juga sudah lengkap. Belva tak perlu kesusahan mencari makan dan minum sendiri ketika ditinggal Gilang seperti ini.
Sembari menikmati makanan yang dipesan Gilang di sebuah restoran ternama. Makanan kesukaan Belva pula. Gilang sangat tau tentang selera Belva. Kedua matanya memandang lepas kota Jakarta dari atas ketinggian.
^^^[ Mas Gilang sampai jam berapa? ]^^^
Tulis Belva di room chatnya bersama Gilang lalu dia kirimkan.
Paham jika Gilang sedang sibuk, pesan itu tak kunjung dibalas. Baru setelah seperempat jam kemudian Gilang membalasnya.
[ Sekitar jam tiga, Sayang. Makan dulu, ya. Tunggu Mas selesai. Ruangan Mas kunci biar kamu nyaman di dalam. ]
Belva tak membalasnya. Memilih untuk berkeliling ruangan Gilang, mencari sisa-sisa jejak mantan. Eh.
Belva membuka lemari kayu yang ada di sudut kamar Gilang. Barangkali masih ada sehelai underwear mantan yang tertinggal. Aduh!
Belva keluar dari kamar lalu duduk di atas kursi kerja Gilang. Setelah memperhatikan meja Gilang, dia baru sadar bahwa ada foto keduanya yang dibingkai dan di letakkan di atas meja.
"Manis juga om-om satu ini," gumamnya sambil tersipu melihat foto keduanya yang terpajang.
Belva hanya duduk sembari memainkan handphonenya. Dia tak berani menyentuh apapun yang ada di meja kerja Gilang.
Belum sampai jam tiga, Gilang sudah kembali lagi ke ruangannya.
Kedua mata Belva berbinar menyambut kedatangan suaminya. Belva segera menghampiri dan memeluknya, seperti tidak bertemu satu bulan saja.
"Sekali lagi, habis itu kita ke rumah Papa dan Mama," bisik Gilang membuat Belva mendelik menatapnya.
"Ih, capek," tolak Belva.
"Sebentar aja, Sayang."
"Sebentarnya Mas Gilang itu lebih dari tiga puluh menit. Enggak ada."
"Ayolah..." Gilang menatap Belva dengan tatapan memohon.
Dengan tegas Belva menggelengkan kepalanya. "Emangnya tadi masih kurang?"
__ADS_1
Gilang mengangguk cepat. "Nggak akan pernah cukup, Sayang."
Belva menghembuskan napas panjang. "Nanti aja di rumah. Di dapur, di ruang makan, di kolam renang, di depan tv."
"Ide bagus, Sayang. Kita langsung pulang dan nggak jadi ke rumah Mama dan papa."
"Lah, kok, gitu?"
"Ini lebih penting dari apapun, Sayang."
Belva tak menolak saat Gilang menggandeng tangannya dan keluar dari ruangannya.
Gilang rasa mereka harus cepat sampai di rumah untuk melakukan ide bagus yang diberikan oleh Belva.
***
Keduanya mampir ke sebuah minimarket saat tengah berada di perjalanan pulang. Belva menginginkan sebuah minuman yang dijual di minimarket tersebut.
Saat Belva tengah berkeliling mencari cemilan juga, kedua mata Belva tak sengaja menangkap sosok yang tak asing baginya sedang berdiri di depan kasir.
Namun ketika Belva akan menghampirinya, seseorang itu sudah lebih dulu keluar dari minimarket.
"Mbak, bayar dulu, Mbak."
Teriakan penjaga kasir menghentikan langkah Belva yang hampir membuka pintu keluar.
Belva baru sadar bahwa dia membawa keranjang yang berisi belanjaannya.
"Eh, iya, Mbak. Maaf, nggak niat kabur, kok. Mau ngejar mbak-mbak yang barusan keluar aja."
"Iya, Mbak," jawab kasir dengan wajah yang cukup ramah menurut Belva.
Sembari menunggu belanjaannya selesai dihitung, Belva terus melihat ke arah luar. Melihat ke arah mobil orang yang tadinya akan dia kejar.
Sayang, selesai Belva membayar belanjaannya, orang itu juga sudah meninggalkan parkiran minimarket.
Belva menghembuskan napas kecewa. Kemana lagi dia harus mencari orang tersebut nantinya? Sekali bertemu, Belva tak sempat menyapanya.
Padahal Belva ingin berterimakasih kepadanya. Berkat ide konyolnya malam itu, Belva akhirnya dinikahi oleh Gilang hingga hidupnya sebahagia ini meskipun pernah melewatkan hari-hari yang buruk karena perbuatan Gilang.
"Kenapa, Sayang?" Kedatangan Gilang membuyarkan lamunan Belva.
"Eh, enggak, kok, Mas. Kok, nyusul, sih? Aku udah selesai ini."
"Kamu lama banget, Sayang. Sekalinya keluar malah bengong di parkiran begini. Kenapa, sih?"
Belva tertawa kecil. "Nggak apa-apa. Pulang, yuk. Katanya mau main," ucap Belva sambil mengedipkan satu matanya.
Tawa Gilang berderai seiring dengan langkah keduanya menuju mobil. Belva sudah pandai menggodanya.
__ADS_1
Tanpa mengulur waktu lagi, Gilang segera menjalankan mobilnya meninggalkan parkiran minimarket tersebut.
🌻🌻🌻