
Rencana pergi honeymoon, kini berubah menjadi babymoon.
Untung saja Belva hanya mual di pagi hari saja. Setelahnya dia enjoy menikmati harinya menjadi seorang ibu hamil anak kedua.
Hal ini menguntungkan si bapak negara yang merangkai acara honeymoon adalah hari di kamar dan di kasur saja untuk terus dekat-dekat dengan Belva.
Satu menit saja Belva lepas dari jangkauan tangan Gilang, Gilang sudah rewel meminta Belva untuk mendekat.
Belva bingung sendiri. Sebenarnya yang hamil dia atau Gilang. Kenapa Gilang bisa semanja ini pada dirinya?
Rasanya masih tak percaya kalau sebentar lagi Belva akan menjadi ibu dari tiga orang anak meskipun satu anaknya tidak lahir dari rahimnya sendiri.
Kabar kehamilannya belum dia beritahukan kepada keluarga. Keduanya berniat mengatakannya kalau sudah berusia empat bulan nanti.
Mungkin akan menjadi kejutan yang luar biasa nantinya.
"Mau kemana, Sayang?" tanya Gilang saat Belva menyingkirkan tangan Gilang yang bertengger manis di pinggangnya. Memeluk tubuhnya dari belakang.
"Mas Gilang nggak lapar apa? Ini udah siang loh. Aku juga mau jalan-jalan."
Gilang tertawa kecil. Dia lupa kalau mereka belum makan siang. Padahal sudah jam dua siang. "Maaf, sayang. Kita makan di resto resort ini aja sekalian jalan-jalan."
Belva bernapas lega. Kali ini Gilang menuruti keinginannya. Mungkin Gilang sudah paham kalau Belva bosan dan stres terlalu lama di kamar akan mempengaruhi janin di dalam kandungannya.
Keduanya makan siang dengan makanan khas Lombok. Beruntung kali ini perut Belva tak menolak makanan tersebut. Belva justru terlihat begitu lahap menikmatinya.
Saat tengah menikmati makan siang, Gilang sedikit terganggu dengan seorang lelaki muda yang terus saja mencuri pandang ke arah Belva.
Gilang tau Belva pun tidak menyadari hal tersebut. Tapi Gilang mulai risih dengan cara lelaki muda tersebut menatap Belva.
"Makannya udah, Sayang? Kalau udah kita langsung jalan-jalan aja?" Gilang tak ingin mencari masalah dengan lelaki tersebut. Dia lebih memilih segera membawa Belva pergi dari restoran tersebut.
"Kok, buru-buru, sih, Mas? Baru juga selesai makan," protes Belva saat keduanya sudah berada di dalam mobil.
"Tadi ada laki-laki yang lihatin kamu terus. Mas nggak rela makanya cepet-cepet ngajak kamu pergi."
Belva tersenyum lebar mendengar ucapan Gilang.
"Udahlah, Sayang. Emang paling bener Mas kurung kamu di kamar aja,"lanjut Gilang yang membuat senyum di bibirnya memudar.
"Kok, gitu?"
"Setiap kamu keluar selalu dilihatin laki-laki. Mas nggak suka, Sayang."
"Ya nggak harus dikurung juga, Mas. Mereka yang lihatin itu bukan urusan aku. Yang penting, kan, akunya nggak ngerespon. Jangankan menanggapi, nyadar dilihatin aja enggak. Tau nggak kenapa?"
__ADS_1
Gilang menggelengkan kepalanya dengan cepat. Saat seperti ini rasanya tidak mood untuk bermain tebak-tebakan.
Belva mencondongkan tubuhnya agar bisa berbisik di telinga Gilang. "Karena yang bisa mencuri perhatian aku cuma Mas Gilang," bisik Belva dengan lembut.
Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, Gilang segera menahan tubuh edam langsung menyambar bibir Belva begitu saja.
Gilang memperdalam ciumannya. Tak peduli bahwa mobil milik resort yang mereka sewa yang mereka naiki sekarang masih ada di parkiran resort.
Keduanya saling menatap dengan napas yang terengah-engah. Ciuman keduanya sudah terlepas. Tapi ada sesuatu yang memberontak di dalam tubuh keduanya.
"Balik ke kamar aja, yuk."
Belva tersenyum. Senyumnya seolah memberi tanda bahwa dia setuju dengan usulan Gilang.
Tapi setelahnya Gilang dibuat kecewa dengan gelengan kepala Belva dan bibirnya sembari berucap. "No! Aku mau jalan-jalan, Mas."
Gilang menghembuskan napas panjang. Pada akhirnya dia harus berusaha sendiri menenangkan senjatanya yang baperan itu.
Lalu menuruti Belva untuk pergi kemanapun yang Belva mau sekarang.
***
Masa liburan telah usai. Belva dan Gilang sudah kembali ke Jakarta untuk kembali bekerja.
Kehamilan Belva masih belum diberitahukan. Keduanya masih diam dan didukung dengan kondisi tubuh Belva yang sangat sehat dan tidak rewel sama sekali.
Mual yang dirasakan hanya pada saat mereka ada di Lombok waktu itu. Mungkin janinnya hanya ingin memberitahukan bahwa dia sudah ada di dalam tubuh Belva pada saat itu.
"Badanmu sedikit berisi, ya, Bel?" tanya Vita ketika Vita berkunjung ke rumah Belva.
"Mas Gilang yang minta buat gemukin badan aku sedikit, Ma. Kemarin masih terlalu kurus katanya."
"Ya nggak masalah. Kamu, kan, juga tinggi. Nggak kelihatan banget kalau gemukan. Tapi bukan karena kamu lagi hamil, kan?"
"Doain aja, ya, Ma, semoga segera positif." Padahal Belva sudah hamil tiga belas Minggu. Hanya saja belum ada yang menyadari kalau perutnya sudah sedikit menyembul karena Belva lebih sering memakai pakaian yang cukup longgar.
"Bulan madu lagi, deh."
"Yaelah, Ma. Bulan madu didalam rencana Mas Gilang ya cuma di kasur aja nggak kemana-mana. Di rumah setiap hari juga bisa kalau mau bikin anak, Ma."
Vita hanya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Belva yang terlalu frontal menurutnya.
"Mama sama Papa udah kosongkan jadwal untuk grand opening resort baru Mas Gilang yang ada di Yogyakarta?"
Vita menganggukkan kepalanya. "Udah, kok. Kebetulan memang Papa nggak ada jadwal di Minggu tersebut."
__ADS_1
Belva tersenyum lebar. "Alhamdulillah, deh, kalau gitu."
Di hari itu juga, Belva akan mengatakan kepada keluarganya bahwa dia telah hamil.
Kebetulan hari itu bertepatan dengan usia kehamilan yang ke lima belas Minggu nantinya.
Semoga kejutannya bisa berhasil. Dan belum ada yang menyadari soal kehamilannya sebelum hari itu tiba.
Belva sudah bisa membayangkan bagaimana reaksi bahagia dari para orangtua nantinya. Juga Zurra dan Gina yang pastinya bahagia karena rengekan mereka untuk memiliki adik akan segera terwujud.
"Tieta." Zurra yang baru saja pulang sekolah langsung menghampiri Vita dan Belva. Tieta adalah panggilan Zurra untuk Vita.
Sebenarnya dulu Zurra memanggilnya Oma. Tapi tau-tau anak itu memanggil dengan sebutan Tieta. Karena terinspirasi dari cipung anak dari Nagita Slavina dan Raffi Ahmad yang memanggil neneknya dengan sebutan Tieta.
"Hai, Sayang. Udah pulang sekolah, ya?"
"Iya, dong. Besok Zurra udah mulai libur sekolah."
"Tieta tau, Sayang. Sebab itu, Tieta datang ke sini buat jemput Zurra pulang ke Surabaya."
Belva membulatkan kedua matanya mendengar ucapan Vita. "Mama nggak ada ngomong sama aku soal ini."
"Kejutan, Bel."
"Kejutan apaan? Mama mau ajak Zurra gitu ke Surabaya? Pisah dari aku?"
"Jangan lebay, deh. Kamu sering ninggalin dia aja dia nggak masalah, kok. Mama bawa juga Sus Yeni."
"Horreee Zurra ke Surabaya. Kak Gina diajak enggak?"
"Tuh, bingung, kan, Mama!" ucap Belva seolah mendapat angin segar. Berharap Vita tak jadi membawa Zurra karena takut membuat Gina cemburu.
"Kak Gina mau jalan-jalan sama Oma Yunita, Zurra Sayang. Kita satu-satu bagiannya. Nanti katanya juga mau mampir ke Surabaya, kok."
"Ini apaan, sih, Ma, pada bawa anak-anak tanpa bilang ke aku dulu?" protes Belva lagi.
"Sudahlah Belva, Sayang. Lagipula kamu bisa seneng, kan, berduaan sama Gilang terus? Sus Yeni, siapkan baju kamu sama Zurra, ya. Kita berangkat besok pagi."
"Baik, Bu Vita."
Melihatnya, Belva hanya bisa menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan sedikit kasar.
Percuma juga menghalangi para nenek yang sekarang lebih sayang ke cucu daripada ke anaknya sendiri.
Seiring berjalannya waktu, baik kedua orangtua Belva maupun orangtua Gilang sudah sepenuhnya menerima dan menganggap Gina seperti cucu mereka sendiri.
__ADS_1
Tidak ada yang dibedakan. Apa yang dimiliki Zurra, Gina juga memilikinya. Bahkan kamar Zurra sekarang sudah berpindah ke lantai dua semenjak dia berani tidur sendiri. Bersebalahan dengan kamar Gina.
🌻🌻🌻