
Awan hitam menyelimuti langit Surabaya sore ini. Tak butuh waktu lama, gumpalan awan hitam pun menjadi hujan yang begitu deras turun membasahi bumi Surabaya.
Belva masih berada di jalan saat hujan turun dengan lebatnya.
Saat mobil Belva mulai memasuki kawasan yang cukup sepi, ditambah lagi dengan hujan yang turun dengan derasnya, membuat hampir tak ada kendaraan yang melewati kawasan tersebut.
Sebenarnya jalan tersebut tak begitu jauh untuk sampai di jalan raya lagi. Hanya seperti jalan pintas agar Belva cepat sampai di rumah.
Dua buah mobil mewah berwarna putih dan merah berada di belakang mobil Belva.
Awalnya, Belva sama sekali tidak menaruh rasa curiga. Tapi mobil yang berwarna putih terus membunyikan klakson seolah meminta Belva untuk berhenti.
Belva mulai takut dan panik. Berusaha untuk tetap tenang dan menambah kecepatan mobilnya agar cepat sampai di jalan raya.
Namun sayang, dia kalah cepat dari mobil tersebut hingga kini mobil berwarna putih tersebut sudah berhenti di depannya. Sedangkan mobil merah berhenti di belakang untuk mengepung mobil Belva.
"Ada apa, nih?" ucap Belva panik. Berusaha menjangkau handphonenya tapi justru semakin panik saat dua orang lelaki berpakaian serba hitam keluar dari mobil berwarna putih. Wajahnya pun ditutup dengan masker dan kacamata hitam. Seseorang lagi membawa payung untuk melindungi dari air hujan.
Di susul oleh orang-orang yang ada di mobil berwarna merah.
Berulangkali kaca mobil Belva di ketuk dan meminta Belva untuk keluar. Di luar masih hujan deras dan tak ada satupun kendaraan yang lewat.
Belva menyesal kenapa tadi harus lewat jalan yang sepi tersebut. Niat hati ingin cepat sampai rumah. Tapi malah seperti ini kejadiannya.
Sekuat apapun usahanya untuk tetap tenang, tetap saja tidak bisa. Belva panik dan mulai meneteskan air mata. Wajahnya begitu ketakutan. Dia tidak tahu harus minta tolong pada siapa selain berharap ada orang yang lewat dan menyelamatkan dirinya.
"Keluar!" teriak lelaki tersebut.
Belva pasrah. Dia buka pintu mobil dan keluar dari dalam mobil.
"Tolong, jangan macam-macam! Saya sedang hamil dan saya tidak mau terjadi apa-apa pada anak saya," ucap Belva penuh permohonan.
"Banyak omong kamu. Ikut saya sekarang kalau tidak mau saya berbuat kasar!"
__ADS_1
"Saya mau pulang."
"Ikut saya sekarang kalau tidak mau saya berbuat kasar!" Lelaki tersebut menyilang ucapannya dengan sedikit kasar.
Belva tidak tahu lagi harus berbuat apa selain menuruti perintah lelaki tersebut.
Akhirnya Belva pun masuk ke dalam mobil yang berwarna putih. Dan mobilnya pun tidak ditinggalkan begitu saja. Mobil Belva di bawa salah satu anak buah dari lelaki tersebut.
🌻🌻🌻
Belva sudah menghilang sejak dua hari yang lalu. Orangtuanya begitu panik karena anak semata wayangnya menghilang entah kemana. Handphonenya tidak dapat dihubungi.
Vita terus saja menangis dan hanya berbaring di tempat tidur Belva sambil memeluk foto Belva.
Belva tengah hamil, dia sedang rapuh. Vita takut Belva melakukan hal-hal yang tidak diinginkan.
Upaya untuk pencarian Belva pun tengah dilakukan. Semua sedang berusaha dan berharap akan segera membuahkan hasil.
Gilang yang sudah mendengar kabar hilangnya Belva pun terlihat biasa saja. Tak ada sedikitpun raut khawatir di wajahnya.
Namun tak juga membuahkan hasil. Belva menghilang seperti ditelan bumi.
Gilang dan Indra tak sengaja bertemu di sebuah minimarket. Indra tersenyum sinis melihat lelaki yang telah menyakiti Belva. Wanita yang sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri.
"Kenapa, Lo? Ada masalah sama gue? Oh, iya. Dimana Lo menyembunyikan Belva?" tanya Gilang dengan dingin.
Lagi-lagi Indra tersenyum sinis. "Penting banget keberadaan Belva buat Lo? Setelah apa yang Lo lakukan ke dia? Kalaupun gue tau, gue nggak akan ngasih tau Lo dimana Belva berada."
"Berarti memang Lo yang menyembunyikan Belva? Buat apa? Agar bebas bercumbu mesra?"
Tangan Indra rasanya sudah gatal ingin meninju mulutnya yang dengan mudahnya mengucapkan kata-kata seperti itu, tentang istrinya sendiri.
"Lo suaminya, tapi Lo nggak bisa percaya sama istri Lo sendiri? Lo punya otak nggak, sih? Otak Lo ada di dengkul apa gimana?"
__ADS_1
"Jangan banyak omong Lo!"
"Dengerin, ya. Gue udah punya cewek. Dan gue nggak minat untuk meniduri istri orang. Aku yang bukan siapa-siapa Belva aja bisa menilai kalau Belva itu anak baik-baik dan nggak mungkin berbuat macam-macam. Nggak mungkin tidur sama laki-laki lain. Lo yang suaminya malah nuduh dia kayak gitu? Ternyata Lo cuma tua di umur doang. Kepala Lo kopong nggak ada isinya sama sekali." Tawa sinis dari bibir Indra kembali terdengar.
"Hati-hati, Man." Indra menepuk bahu Gilang sebanyak dua kali. "Lo nggak akan menemukan cewek sebaik Belva nantinya. Ingat, penyesalan itu di akhir. Kalau di awal, itu namanya pendaftaran."
Indra langsung meninggalkan Gilang tanpa menunggu respon apa yang akan Gilang berikan.
***
Gilang naik ke roof top di rumahnya. Ada hal yang mengejutkan. Ternyata di roof top rumahnya sudah berdiri sebuah rumah kaca dengan ukuran kecil dan ada foto-foto di dalamnya.
Gilang masuk ke dalamnya. Ada dekorasi dengan tulisan happy birthday Mas Gilang menggunakan balon.
Ada juga foto-foto kebersamaannya dengan Belva yang sudah Belva cetak, lalu Belva gantung dengan cara yang begitu aesthetic.
Sebuah kotak kecil bertalikan pita berwarna silver terletak di atas meja. Gilang membukanya. Rupanya sebuah testpack bergaris dua. Lalu ada sebuah hasil foto USG dengan tulisan di bawahnya, "Hai, Daddy".
Tubuh Gilang seperti dihantam dengan batu besar. Kakinya mendadak lemas dan tubuhnya terduduk di salah satu kursi yang ada di sana.
Belva sudah menyiapkan kejutan untuknya. Tapi semua gagal karena peristiwa siang itu. Saat Gilang tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri.
Kesadaran hatinya mulai datang. Dari penjelasan Indra, juga semua yang dia lihat saat ini, seolah menunjukkan bahwa apa yang dia tuduhkan pada Belva itu salah besar dan sangat keterlaluan.
Perlahan, Gilang mulai menyesali semuanya. Gilang mulai memikirkan dimana keberadaan Belva. Gilang sadar apa yang dia lakukan sudah sangat keterlaluan. Dan Gilang pun sekarang percaya bahwa anak yang dikandung Belva adalah anaknya.
Sekarang, kemana Gilang harus mencari Belva yang hilang? Tak ada satupun yang tau kemana perginya Belva.
"Bel, kamu dimana?" Gilang bertanya di dalam keheningan. Hanya angin yang berhembus pelan yang menjadi jawaban.
Gilang mencoba menghubungi Belva. Tapi nomor Gilang masih saja diblokir oleh Belva.
Bahkan kedua orangtua Belva pun turut memutus komunikasi dengan Gilang.
__ADS_1
Karena kecemburuannya dan keegoisannya, Gilang kehilangan semuanya. Gilang yakin jalannya untuk mendapatkan maaf dari Belva dan kedua orangtuanya tidak akan pernah mudah setelah apa yang pernah dia lakukan pada Belva.
♥️♥️♥️