Gadis Belia Istri CEO Duda

Gadis Belia Istri CEO Duda
Part 85


__ADS_3

Inara Maezurra Pratama.


Nama indah yang diberikan oleh Gilang dan Belva untuk buah hati pertama mereka.


Inara dan Pratama adalah nama panjang Belva dan Gilang. Sengaja mereka sematkan pada nama anak mereka sebagai bukti bahwa Zurra adalah buah cinta mereka.


Juga untuk adik-adiknya nanti, Belva dan Gilang pun akan memberikan nama panjang yang sama.


Acara aqiqah pun digelar dengan mewah dengan mengundang ratusan anak yatim dari beberapa panti asuhan.


Lalu memberi santunan dan sedikit bingkisan untuk mereka.


Sedikit untuk Gilang dan Belva. Tapi sudah terbilang mewah untuk rakyat biasa.


Peralatan sekolah dengan merek dan harga yang fantastis.


Tidak untuk dibilang sombong. Tapi selagi bisa memberikan yang terbaik untuk bersedekah, kenapa tidak? Itu yang ada dipikiran Belva dan Gilang.


Megahnya acara aqiqah Zurra pun membuat hati Viona sedikit iri. Cinta Gilang untuk Belva dan Zurra begitu besar.


Bahkan dari story yang dibagikan Mikha, Belva dan Zurra mendapatkan hadiah dari Gilang yang nilainya tidak sedikit.


Ratusan juta, atau bahkan bisa sampai milyaran mengingat mewahnya hadiah-hadiah tersebut.


Tapi saat Gina lahir, jangankan diberikan hadiah oleh ayahnya. Mengadzankan saja Risma meminta tolong pada adik kandungnya.


Viona paham saat itu Gilang tidak tahu bahwa Viona melahirkan anak hasil benih yang Gilang tanam. Karena Viona sendiri pun memang berniat untuk tidak mencari Gilang.


Tapi ketika Gilang tahu tentang Gina, tak ada penyambutan seperti Gilang menyambut kelahiran anak yang dikandung oleh Belva.


Padahal Gina juga darah dagingnya. Adanya Gina juga berasal dari dirinya.


Inara Maezurra Pratama. Viona tertawa sinis membaca barisan nama yang terdapat pada paper bag bingkisan aqiqah yang dikirimkan ke kediaman Risma.


Bingkisan itu dimaksudkan untuk Regina yang berisi mainan-mainan mahal. Baju-baju mahal dan beberapa jajanan serta buah-buahan.


Viona berpikir, kenapa mereka tidak diundang saja ke acara mereka? Kenapa justru hanya mengirimkan semua itu untuk Regina? Lewat kurir pula.


Apa mungkin mereka malu jika ada Regina di tengah-tengah mereka?


Viona menghembuskan napas panjang. Otaknya terus memikirkan bagaimana nasib anaknya nanti jika Gilang tidak menganggapnya seperti ini?


🌻🌻🌻

__ADS_1


Belva menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Di hadapannya kini sudah ada Viona. Dia nekat datang ke rumah seorang diri.


Entah apa lagi yang akan Viona katakan. Belva pun tak tahu. Yang jelas dia sedang berusaha menahan hatinya agar dia tetap tenang menghadapi Viona.


"Kalau mau bicara soal Regina, tunggu Mas Gilang pulang aja, Mbak. Aku udah telepon dia biar cepat pulang."


Viona menganggukkan kepalanya, setuju dengan ucapan Belva.


Memang soal Regina yang akan Viona bicarakan. Dan memang sebaiknya ada Gilang juga di sana karena Gilang adalah ayah Regina.


Setelah lima belas menit menunggu, Gilang pun datang dengan raut wajah yang tak bisa dibilang ramah. Sangat sinis dan hampir saja berkata kasar saat melihat Viona duduk di ruang tamu rumahnya.


"Langsung saja pada intinya," ucap Gilang tanpa basa-basi.


"Lang, Bel. Bu Risma sudah tua. Gue nggak enak kalau harus merepotkan dia dalam mengasuh Gina."


"Kan, ada Mbak Viona," sela Belva.


Viona tersenyum tipis. "Gue bukan orang kaya atau punya warisan banyak yang bisa menghasilkan uang hanya dengan duduk saja. Gue butuh kerja untuk bisa membiayai hidup gue dengan Gina."


"Terus mau Lo apa?"


"Jangan berlagak lupa, Lang. Dia juga anak Lo. Kenapa Lo membedakan sekali antara Regina dengan Zurra? Bukankah Gina juga bisa tinggal di sini? Rumah kalian ini luas sekali. Bahkan jika Belva tidak ingin melihat Gina pun bisa dia lakukan walaupun Gina tinggal di sini. Gina bisa tidur di kamar pembantu mungkin. Asalkan dia ada yang menjaganya."


Selama ini dia tidak pernah membenci anak yang tidak berdosa itu.


"Seandainya, Bel," ralat Viona. Namun terlanjur membuat Belva kesal karena ucapannya yang sebelumnya.


"Di sini sama saja nggak ada yang menjaga Gina. Mbak Marni kerjanya bersih-bersih di sini. Sus Yeni jaga Zurra."


"Lang, dia anak Lo juga. Lo pasti tahu solusi dari semua ini. Tolonglah! Bisa Lo adil antara Zurra dan Gina? Mereka sama-sama anak Lo, Lang."


"Gue pikirin dulu solusinya. Nanti biar Belva kasih kabar ke Lo."


Viona mengangguk setuju. Dia pergi setelah keinginannya dipertimbangkan oleh Gilang dan Belva.


***


"Kok, aku sakit, ya, Mas, dengar Mbak Viona bilang mereka sama-sama anaknya Mas Gilang. Kayak kesel aja, Mas. Mas pernah main sama perempuan itu."


Belva menunduk sedih. Bukan bermaksud ingin kembali membahas tentang masa lalu. Tapi Belva tidak bisa memendam perasaannya.


Mendengarnya, Gilang memeluk Belva dari belakang. "Maaf untuk buruknya masa lalu, Mas, ya, Sayang. Seperti ini membuat Mas merasa nggak cukup baik untuk kamu."

__ADS_1


Belva membalikkan tubuhnya menghadap Gilang. Menatap kedua mata Gilang dengan perasaan bersalah. Sekali lagi, bukan maksud Belva untuk menyinggung kembali masa lalu yang sudah ditutup rapat-rapat oleh Gilang.


"Bukan gitu maksud aku, Mas. Mas Gilang yang sekarang itu udah luar biasa baik buat aku. Tapi Mas ngerti kan, kalau aku masih butuh waktu untuk menerima semua ini? Apa yang pernah aku lakukan untuk Gina, itu bentuk usahaku untuk menerima dia sebagai anak kandung Mas Gilang."


***


Setelah semalam berunding dengan Belva tentang solusi dari permintaan Viona, akhirnya Gilang memutuskan untuk memperkerjakan seseorang untuk mengasuh Regina ke rumah Risma.


Viona sempat protes kenapa Gilang justru melakukan hal tersebut dan malah tidak membawa Gina ke rumahnya.


Tapi Gilang mengatakan kalau Gilang perlu waktu untuk membicarakan hal tersebut kepada keluarga besarnya.


Gilang tidak mau kalau Regina kembali menyaksikan perdebatan orang dewasa saat kedua orangtuanya maupun kedua orangtua Belva melihat ada Gina di rumahnya.


Hal itu akan berdampak buruk bagi pertumbuhan mentalnya.


Viona pasrah. Dianggapnya hal ini sebagai bentuk kecil dari tanggungjawab Gilang.


Viona juga tidak bisa lagi menuntut banyak. Adanya orang yang mengasuh Gina pun sudah bisa membuatnya tenang jika Viona harus meninggalkan Gina.


Setidaknya Risma tidak lagi kelelahan mengasuh Gina karena Gina yang semakin aktif dan Risma yang semakin tua.


🌻🌻🌻


"Bu Viona beberapa hari ini tidak pulang, Bu."


"Kamu nggak nanya ke Bu Risma Mbak Viona kemana gitu?"


"Saya nggak berani, Bu. Kemarin terakhir Bu Viona meninggalkan rumah, dia bilang ke Gina kalau mau kerja."


"Terus kegiatan Bu Risma sekarang apa, Rik? Apakah dia benar-benar istirahat seperti yang diinginkan Mbak Viona?"


"Bu Risma kalau sore ada yang jemput, Bu. Katanya, sih, itu anak laki-lakinya yang minta tolong buat bantu jaga anaknya yang lagi sakit karena anaknya itu masuk kerja shift malam. Paginya sekitar jam delapan baru sampai rumah lagi."


"Oh. Ya udah, Rika. Makasih, ya, untuk infonya. Kalau ada informasi lagi, tolong kabari saya."


"Baik, Bu Belva."


Belva meletakkan handphonenya ke atas meja. Dalam hati dia curiga kalau Viona terjun ke dunia malam seperti yang dilakukan Amira.


Kalau memang iya. Itu artinya dia sedang mencari uang untuk dirinya sendiri. Bukan untuk Gina seperti yang dia ucapkan kemarin.


Tapi, Amira saja harus cari pekerjaan yang halal demi bisa menghidupi Regina. Apa mungkin Viona tidak berpikir sampai sejauh itu jika memang dia bekerja sebagai wanita malam?

__ADS_1


🌻🌻🌻


__ADS_2