Gadis Belia Istri CEO Duda

Gadis Belia Istri CEO Duda
Part 71


__ADS_3

Sederhana, mungkin hanya ucapan saja. Kenyataannya acara ngunduh mantu tetap digelar dengan mewah.


Yang katanya tamu tak akan seberapa banyaknya, itu juga hanya ucapan saja. Hampir seribu orang datang ke acara ngunduh mantu Belva dan Gilang.


Belva kembali dirias dengan cantik. Bedanya, kali ini Belva dirias dengan adat Jawa. Yunita yang menginginkannya.


Dulu, sesepuh Yunita berasal dari Jawa asli. Dan Yunita tak ingin menghilangkan jiwa kejawen yang ada di dalam keluarganya.


Wajah bule Belva dirias dengan cantik dengan riasan pengantin Jawa. Sempat ditolak Gilang karena khawatir Belva akan pusing karena kepala Belva dipasangi sanggul dan aksesoris lainnya.


Tapi ternyata Belva tetap enjoy menjalaninya. Bahkan dipertengahan acara Belva masih bisa tersenyum ceria. Padahal sudah banyak serangkaian acara adat Jawa yang mereka lakukan sejak awal acara ngunduh mantu dimulai.


"Beneran nggak pusing kepalanya? Itu kayaknya berat banget, Sayang."


"Nggak seberat yang Mas lihat, kok. Aku menikmatinya. Aku cantik nggak dandan seperti ini?" Belva tersenyum lalu mengedipkan kedua matanya.


"Cantik banget. Udah kayak Puteri keraton."


"Kamu rajanya, Mas."


"Ya iya, dong. Mana mungkin Mas rela rajanya kamu itu orang lain?"


"Asal raja nggak cari selir aja, ya, Mas."


"Nggak mungkin, dong, Sayang. Raja yang satu ini nggak butuh selir. Cukup sang ratu yang ada di depan mata ini yang mendampingi sampai akhir hayat nanti."


Belva tersenyum malu mendengar gombalan yang diucapkan Gilang. Belva berharap semoga ini bukan hanya gombalan semata. Tapi memang berasal dari hati terdalam Gilang.


Semakin malam, acara semakin santai.


Belva dan Gilang sudah turun dari kursi pengantin untuk menyapa para tamu secara bergantian.


High heels yang dikenakan Belva sudah berganti dengan sandal seharga satu unit motor agar Belva lebih nyaman. Kakinya sudah mulai pegal. Dan demi menjaga keseimbangan Belva yang tengah hamil besar.


Saat tengah menyapa tamu, tiba-tiba tangan Belva terlepas dari genggaman Gilang.


Rupanya Gilang sedang melihat handphonenya yang berdering. "Mas angkat telepon dulu, ya, Sayang," ucapnya meminta ijin pada Belva.


Belva mengangguk dan tersenyum lalu mempersilahkan. Dalam hati bertanya-tanya siapa yang menelepon Gilang di saat acara penting seperti ini. Apalagi Gilang sampai harus menjauh dari Belva begini.


Tak mau bergelut dengan isi pikirannya sendiri, Belva mengikuti kemana perginya Gilang untuk mengangkat teleponnya.


Rasa curiga Belva semakin besar saat Gilang harus menoleh ke kanan dan ke kiri sebelum mengangkat telepon tersebut. Seperti tengah memastikan bahwa tak ada orang yang sedang melihatnya.


Tapi bukan Belva namanya jika dia tidak bisa mendapatkan apa yang dia mau. Termasuk menjadi detektif dadakan seperti ini.


"Kenapa telepon malam-malam begini? Apalagi malam ini sedang ada acara untuk gue dan Belva."


"_"


"Apa urusannya sama gue?"

__ADS_1


"_"


"Oke. Gue akan kesana. Tapi nggak malam ini. Mungkin besok atau lusa."


"_"


"Bukan urusan gue. Lo jaga dia. Bilang sama dia kalau gue udah punya istri sekarang."


"...."


"Terus maksud Lo gue harus berpura-pura masih duda gitu di hadapan dia? Ya nggak mungkinlah, Mir. Gue nggak mau kayak gitu. Gue punya istri dan gue cinta sama istri gue. Jangan ganggu gue dulu malam ini. Apalagi ini soal Viona. Gue bakalan urus semuanya secepatnya asal Lo nggak ganggu gue malam ini."


Sebelum Gilang mengakhiri teleponnya dengan seseorang di seberang sana, Belva sudah lebih dulu meninggalkan tempat persembunyiannya dengan perasaan yang campur aduk.


Mir, Viona, pura-pura masih duda. Siapa sebenarnya yang menelepon Gilang?


Ada urusan apa sampai Gilang harus berpura-pura masih duda?


Sedikit yang melegakan hati Belva adalah saat Gilang bersikeras menolak untuk berpura-pura belum menikah lagi.


Siapa Viona?


Gilang kembali dengan wajah yang tampak normal. Seolah sebelum ini dia tak berbuat kesalahan.


Baiklah, Belva ikuti permainan Gilang. Apa lagi yang akan terjadi di pernikahannya setelah Belva rasa semua sudah selesai dan kebahagiaannya sudah di depan mata?


"Siapa, Mas, yang telepon?"


Kebohongan pertama Gilang yang Belva ketahui. Belva masih belum tau kebohongan apalagi yang Gilang sembunyikan. Untuk sementara, Belva bersikap seolah dia tidak tahu apa-apa.


Belva ingin melihat sejauh apa kebohongan yang akan Gilang lakukan untuk menutupi rahasianya.


***


"Belum tidur, Sayang?"


Belva memaksakan sebuah senyuman meskipun di dalam hatinya sudah begitu kecewa dengan kebohongan Gilang.


"Nungguin Mas Gilang."


Gilang tertawa kecil lalu berbaring di samping Belva. Tapi Belva justru membelakangi Gilang, membiarkan Gilang memeluknya dari belakang.


Rasanya sulit sekali untuk berpura-pura baik-baik saja padahal ada sesuatu yang berputar di kepala dan ingin mengungkapkannya.


Apalagi menahan tangis. Belva harus menarik napas panjang berulangkali untuk meredakan sesak di dadanya.


Keesokan harinya, Belva masih berusaha bersikap biasa saja. Bahkan ketika Gilang berpamitan untuk berangkat ke kantor.


Entah lupa atau sengaja berbohong, seharusnya hari ini Gilang sudah mulai cuti. Tapi dia masih bisa berpamitan akan pergi ke kantor.


Belva pun tak bertanya banyak. Apalagi mengingatkan bahwa hari ini Gilang sudah mulai cuti dan Minggu depan keduanya akan berangkat ke Turki.

__ADS_1


Tanpa Gilang tau, Belva sudah memesan taksi online untuk mengikuti kemana perginya Gilang.


Setelah sekitar setengah jam menunggu, sopir taksi online mengatakan kalau Gilang pergi ke sebuah rumah sakit ternama di Jakarta. Orang yang menjadi suruhan Belva sementara itu mengatakan kalau Gilang masuk ke sebuah ruangan.


Belva segera mendatangi rumah sakit tersebut. Mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Dalam pikirannya, dia harus segera sampai di rumah sakit atau dia tidak akan mendapatkan informasi apapun tentang kebohongan Gilang.


Sesampainya di rumah sakit dan Belva sudah ada di depan ruangan yang sebelumnya sudah diinfokan oleh sopir taksi online tadi, jantung Belva berdegup kencang.


Pintu tak sepenuhnya tertutup. Pemandangan di depan matanya begitu menyesakkan dada.


Gilang tengah berpelukan dengan seorang wanita.


"Jangan tinggalin aku lagi, Lang. Aku dan anak kita butuh kamu," ucap wanita itu yang semakin membuat Belva tidak tahan lagi melihat semuanya.


Anak kita? Gilang memiliki anak dengan wanita itu?


Sejak kapan? Apakah wanita itu di rawat karena tengah hamil anak Gilang?


Kalau iya, bagaimana nasib rumah tangganya nanti?


"Ya Allah.... Ujian apa lagi ini?" Belva merintih dalam hati. Seperti tak pernah ada habisnya badai di pernikahannya dengan Gilang yang baru berumur satu tahun.


"Mas Gilang..."


Gilang menoleh. Saat itu juga Gilang tak dapat menyembunyikan keterkejutannya, sekaligus rasa takut karena Belva melihat dirinya berpelukan dengan Viona.


"Apa ini, Mas?"


"Sayang, Mas bisa jelaskan semuanya."


Belva tersenyum sinis. Mengusap air matanya dengan kasar. "Apa, Mas? Wanita itu hamil anak kamu? Kamu bermain di belakang aku, Mas? Kamu sibuk menuduh aku tapi ternyata kamu sendiri yang melakukan hal menjijikkan itu? Ku pikir kamu sudah berubah, Mas. Ternyata apa yang aku dapatkan nggak jauh beda dengan Kak Mikha."


"Sayang, nggak kayak gitu. Dia nggak lagi hamil. Tapi_"


"Apa, Mas? Kamu mau ngomong apa lagi untuk menutupi semua kebohongan kamu? Kurang apa aku dalam menerima kamu sampai kamu setega ini sama aku, Mas?"


"Aku memang memiliki anak dari dia, Sayang. Dan aku baru tau hal itu kemarin."


"Stop!" Belva mengangkat satu tangannya, memberi isyarat agar Gilang diam dan tak melanjutkan ucapannya. "Jangan bicara apapun lagi," lanjutnya sambil menahan sakit yang mulai menjalar ke seluruh tubuhnya.


Perutnya tiba-tiba merasakan kontraksi dan Belva yang belum paham akan rasa kontraksi tersebut terlihat begitu panik. Apalagi ketika melihat darah segar mengalir di kedua pahanya. Belva semakin ketakutan.


"Mas, darah. Anak kita.."


"Bel, ya Allah... Kita ke UGD sekarang, Sayang. Sabar, ya."


Gilang panik. Belva tak menolak saat Gilang menggendongnya dan membawanya ke UGD. Belva hanya bisa menangis sembari menahan rasa sakit.


Yang ada di dalam pikirannya sekarang adalah yang terpenting anaknya baik-baik saja.


🌻🌻🌻

__ADS_1


Ribut lagi. aku capek loh sebenarnya 🤣 tapi belum boleh tamat ini novel. masih banyak lagi konfliknya. apalagi orangtua Gilang belum tau kalau yg menyebabkan Gisella meninggal itu Gilang. 🤣🤣🤣 dibongkar sekalian enggak nih?


__ADS_2