
Spesial part 100, full adegan romantis Belva Gilang. Skip aja kalau bosan dan mau muntah, ya. 😂 Pertama kalinya nulis sampai bab 100. Apa yang aku tulis, woyy? 🤣🤣
🌻🌻🌻
Hari anniversary pernikahan Belva dan Gilang yang ke tujuh tahun, bertepatan dengan usia kehamilan yang memasuki bulan ke enam.
Sebagai perayaan hari pernikahan mereka, Belva mengajak Gilang berlibur bersama anak-anaknya ke luar negeri. Amsterdam, Belanda menjadi tempat tujuan mereka.
Tentu saja mereka tidak hanya berangkat berempat. Kedua pengasuh Zurra dan Gina harus dibawa karena Belva dan Gilang harus memiliki waktu untuk berdua.
Dua kamar dengan tipe president suite sudah dibooking jauh-jauh hari oleh Gilang.
Tak main-main dengan fasilitas yang diberikan Gilang untuk keluarganya di manapun mereka berada.
Hari kedua mereka liburan di Amsterdam adalah hari dimana tanggal peringatan anniversary pernikahan mereka.
Anak-anak sudah aman bersama pengasuhnya karena hari ini mereka terlalu asyik berjalan-jalan sampai menjelang malam.
Sebelum mereka kembali ke hotel, Belva sudah lebih dulu memesan sebuah paket dinner romantis untuk di design di balkon kamar mereka.
Tempat tidur juga sudah dihias dengan berbagai bunga untuk paket honeymoon. Atau babymoon. Terserahlah mereka menyebutnya dengan apa.
"Mas Gilang, Sayang. Pakai setelan jas yang ganteng, ya. Kita dinner malam ini," ucap Belva mesra diakhiri dengan kecupan singkat di bibir Gilang.
Hampir saja Gilang menahannya agar Belva menciumnya lebih lama. Tapi gerak Belva terlalu cepat sampai Gilang tak punya kesempatan untuk menggapai tubuh Belva.
"Aku ganti baju sekalian bersih-bersih dulu di kamar mandi, Mas. Aku harap kamu sudah siap ketika aku keluar nanti."
"It's oke, Sayang. Ganti baju juga nggak akan lama. Pasti kamu yang lama dandannya."
Belva mencebikkan bibirnya lalu masuk ke dalam kamar mandi.
***
Hampir sepuluh menit lamanya Gilang menunggu Belva keluar dari kamar mandi.
Berkali-kali juga Gilang memanggil Belva tapi Belva selalu berkata sebentar lagi.
Gilang menghembuskan napas dengan bosan. Apa dia bilang tadi? Persiapannya lebih cepat daripada persiapan Belva.
Pintu kamar mandi terbuka. Membuat Gilang bernapas lega. Akhirnya penantiannya telah usai, pikirnya. Ah, lebay sekali bapak-bapak satu itu.
Saat Belva keluar, Gilang membelalakkan kedua matanya.
Penampilan Belva malam ini begitu terbuka dengan dress berwarna merah dengan belahan sampai ke paha. Bagian atasnya juga tak berlengan hingga menampakkan leher jenjang serta belahan dad*nya yang mulus dan mengundang Gilang untuk segera menyentuhnya.
Bibirnya merah merona. Rambut pirangnya digerai dan sedikit bergelombang.
"Sayang, kita mau dinner. Kamu yakin dengan pakaian kamu seperti ini? Kita keluar dari kamar loh." Gilang panik sendiri.
Tidak mungkin dia membiarkan istrinya yang telah memutuskan untuk berhijab itu akan keluar dengan penampilan seperti itu.
Andai belum berhijab pun, Gilang tidak akan membiarkan hal tersebut dilakukan oleh Belva.
Belva tertawa kecil mendengar pertanyaan Gilang. "Kita dinner di balkon kamar ini, sayang. Nggak akan ada yang lihat. Ayo..." Belva mengulurkan tangannya. Dan Gilang pun menyambutnya sembari bernapas lega.
"Apa ini?" tanyanya saat melewati tempat tidur. Kamar mereka memang terdapat tembok sekat antara kamar, pantry, dan juga ruang tv, serta kamar mandi.
Semacam apartemen tapi ini adalah hotel.
"Itu nanti. Kita keluar dulu," ucap Belva menarik tangan Gilang lalu keluar ke balkon kamar.
__ADS_1
Di sana sudah ada set meja dinner beserta makanannya. Meskipun sudah sedikit dingin, tak masalah. Yang terpenting bukan makanannya. Tapi keintiman acara mereka malam ini.
Tak berminat untuk menikmati makanan tersebut, Gilang memilih untuk menaikkan tubuh Belva ke atas meja.
Lalu mencium bibirnya dengan penuh semangat. Belva menaikkan satu kakinya. Membuat paha mulus serta bagian terdalamnya terpampang begitu saja.
"Kamu cantik, Sayang. Semakin seksi dengan perut besarmu ini," bisik Gilang membuat tubuh Belva meremang.
"Makan dulu," ucap Belva tersendat. Rasa yang diberikan oleh lidah Gilang begitu memabukkan.
"Mas lebih memilih untuk memakan kamu, Sayang."
"Nanti makanannya tambah dingin."
"Nanti kita hangatkan lagi kalau sempat."
Tanpa banyak berucap lagi, Gilang menyingkirkan piring dan gelas yang ada di atas meja. Meletakkannya ke atas kursi karena meja tersebut akan dia gunakan untuk, ah, paham pasti tanpa perlu dijelaskan lagi.
Tanpa takut siapapun akan melihat keduanya. Kamar tersebut begitu privat. Andaikan dari gedung-gedung lain melihat mereka, orang-orang tersebut tidak akan peduli dengan apa yang dilakukan oleh Gilang dan Belva.
"Di sini?"
"Kenapa, sayang. Kita cari sensasi baru."
"Dilihat orang bagaimana?"
"Mereka tidak akan peduli."
Gilang mematikan lampu balkon dan kamarnya. Suasana menjadi gelap seketika.
"Mereka tidak akan sadar ada kita di sini."
"Tapi, Mas. Ak_ emm."
***
"Apa ada yang sakit, Sayang?"
Belva menggelengkan kepalanya. Tak sanggup berkata-kata lagi. Detik demi detik terasa begitu nikmat baginya.
Berhenti beberapa menit agar Belva beristirahat terlebih dahulu. Lalu memulainya lagi sampai sudah satu jam berlalu.
Belum ada tanda-tanda Gilang akan menghentikan aktivitasnya meskipun kini keduanya sudah berpindah ke atas tempat tidur.
"Kita pindah ke depan tv gimana?"
"Sekarang?"
"Lalu kapan lagi, sayang?"
Tanpa melepaskan apa yang melekat, Gilang menggendong Belva menuju ke sofa yang ada di depan televisi.
Gila, pikir Belva. Rasanya luar biasa dibawa sambil berjalan. Untuk saja perutnya tak terlalu besar sehingga tak ada halangan diantara tubuhnya dan tubuh Gilang.
Gilang dan Belva melanjutkan aktivitas mereka lagi, lagi, dan lagi. Semoga anaknya yang di dalam kandungan tidak mabok karena Belva terus mendapatkan guncangan-guncangan cinta dari ayah si jabang bayi tersebut.
***
"Lapar tau, Mas. Udah dulu kenapa, sih?"
Mereka sedang berbaring di atas sofa. Tapi tangan dan bibir Gilang tidak diam begitu saja.
__ADS_1
Gilang tertawa pelan mendengar Belva yang menggerutu. Sadar kalau Belva butuh tenaga, Gilang segera mengambil handphone berniat untuk memesan makanan lagi.
"Mau ngapain?"
"Pesan makanan, sayang. Katanya lapar?"
"Yang diluar aja diangetin."
"Diluar udah kotor, nggak ditutupi, sayang."
"Mas nggak lihat kalau tadi ada penutup piringnya?"
Gilang menggelengkan kepalanya. Dia tidak tahu kalau ada penutup piring yang menutupi makanan tersebut.
Akhirnya Belva sendiri yang bergerak mengambilnya lalu menghangatkannya ke dalam microwave.
"Mas Gilang mau makan?"
Gilang menganggukkan kepalanya. "Habis ini sekali lagi, ya."
Belva mengangguk tanpa ragu. "Boleh."
"Seriusan?"
Belva mengangguk lagi. "Serius, Mas. Selama tubuh aku kuat, aku nggak akan pernah menolak kalau Mas Gilang minta."
Gilang mencium Belva lagi. Hampir saja Gilang keterusan kalau saja Belva tidak melepaskan dirinya dengan paksa.
"Aku makan dulu!"
Tawa Gilang berderai. "Maaf, Sayang. Mas lupa kamu belum makan."
***
Pukul dua dini hari waktu setempat, Belva dan Gilang baru saja menyelesaikan aktivitas mereka.
Entah sudah keberapa kali kepu*san yang mereka dapatkan malam ini.
"Dedeknya nendang terus dari tadi, Mas."
"Mungkin dia seneng bapaknya udah nggak ganggu dia lagi malam ini," ucap Gilang sambil mengusap perut Belva. Tangannya pun turut merasakan tendangan-tendangan cinta tersebut.
Belva terkekeh kecil. "Bisa jadi. Bapaknya na*suan banget."
"Kan, kamu yang mempersilahkan."
"Iya, ya?"
Keduanya tertawa bersama.
"Mas Gilang mau punya anak berapa, sih? Kita belum pernah ngobrol soal ini loh."
"Kan, udah mau tiga. Nambah dua lagi bolehlah, Sayang. Kamu anak tunggal, Mas juga cuma dua aja sama Gavin. Nggak enak, kan, rasanya?"
Belva mengangguk membenarkan. Meskipun ada enaknya menjadi anak tunggal, tapi rasa tidak enak itu pasti juga ada.
"Jadi kita punya lima anak nanti."
"Habis ini mau program kembar aja biar sekali lahir dua. Jadi udah nggak hamil lagi nanti."
"Boleh. Bayi tabung gimana?"
__ADS_1
"Boleh tuh. Nanti kalau yang di dalam perut ini usianya udah setahun baru program."
🌻🌻🌻