Gadis Belia Istri CEO Duda

Gadis Belia Istri CEO Duda
Part 81


__ADS_3

Sebagai pendatang baru di Jakarta, Belva belum memiliki seorang pun teman.


Hidupnya hanya seputar rumah, kantor Gilang, rumah mertuanya dan juga rumah Mikha dan Gavin.


Kadang Belva merasa bosan. Namun tetap berusaha menikmatinya. Tempat termudah untuk mendapatkan teman adalah kampus. Sedangkan Belva kuliah saja tidak.


Belva menghembuskan napas panjang. Setelah melahirkan nanti, Belva akan daftar kuliah di Jakarta saja.


Hari ini Gilang sudah harus kembali bekerja. Cutinya telah usai. Masa liburan telah habis. Gilang harus kembali mencari uang untuk dirinya dan anak-anak mereka nanti.


Gilang sempat mengajak Belva ke kantor tapi Belva menolaknya. Setiap Belva ikut ke kantor, Gilang bukannya bekerja malah kembali meminta jatahnya dari Belva.


Tak ingin terus merasa bosan, Belva ingat bahwa kemarin dia belum sempat membeli sebagian besar perlengkapan untuk calon bayinya.


Belva menelepon Yunita untuk menemani. Untung saja ibu mertua yang baik dan cantiknya sudah seperti bidadari itu sedang tidak sibuk sehingga siap sedia menemani kemanapun Belva pergi.


***


"Hai, Sayang. Sudah siap?"


Belva menganggukkan kepalanya dan tersenyum lebar. "Udah, Ma." Tangannya mencium tangan Yunita. Dia baru saja datang.


"Mama mau masuk dulu?"


"Kita langsung aja, ya, Sayang."


Kepala Belva pun mengangguk tanda setuju. Dia lantas masuk ke dalam mobil Alphard putih milik Yunita. Cukup lega dan nyaman untuk Belva yang sudah mulai mudah merasa begah ketika duduk.


Sesampainya di baby shop, Yunita langsung mengarahkan Belva untuk memilih barang-barang yang harus di beli.


"Pompa ASI penting juga loh, Sayang. Biar bisa tetap kasih ASI meskipun kamu sedang pergi-pergi gitu."


Belva menurut dan mengambil pompa ASI dengan merk yang cukup ternama dan sering dipakai oleh artis-artis Indonesia.


"Beli korset juga, Bel."


"Buat apa, Ma?"


"Biar perutnya bisa kembali seperti sebelum hamil. Kalau nggak di rawat, nanti perutnya bergelambir, dong. Belva mau begitu?"


Belva menggelengkan kepalanya dengan cepat. Membuat Yunita tertawa kecil.


Belva tidak mungkin membiarkan tubuhnya tidak kembali seperti semula. Selama bisa diusahakan, pasti Belva usahakan.


Apalagi suami tampannya itu harus mendapatkan backingan istri yang tetap cantik agar dia tidak bisa melirik wanita lain.


Ya meskipun Belva yakin kalau Gilang tidak akan macam-macam. Belva sudah berhasil menyulap lelaki itu menjadi lelaki yang setia dan bucin kepadanya.


Untung saja dia mengajak ibu mertuanya untuk membantu membeli semua perlengkapan yang Belva butuhkan. Kalau tidak, mana kepikiran Belva soal seperti ini?


"Kamu udah ada baju-baju yang busui friendly, Sayang?"


"Yang gimana itu, Ma?

__ADS_1


"Yang kancingnya ada di depan. Biar gampang kalau mau menyusui."


"Tuh, kan, aku nggak ngerti lagi, Ma. Ini kalau Mama nggak bilang aku pasti nggak kepikiran."


Yunita tertawa renyah mendengarnya. Sudah dia duga sebelumnya. Pasti banyak hal-hal yang tidak dipikirkan oleh Gilang dan Belva dalam mempersiapkan kelahiran bayi mereka.


Ketika tengah membayar semua barang yang sudah mereka beli, Belva tak sengaja melihat Hengky tengah berjalan bersama seorang wanita dan masuk ke toko yang sama dengan Belva.


Wanita itu bukan Viona. Membuat Belva bertanya-tanya siapa wanita muda yang bersama Hengky tersebut?


Bukankah dia tengah memperjuangkan Viona? Lalu kenapa sekarang malah menggandeng wanita lain?


Inikah yang membuat Viona berubah menjadi lebih baik? Dianggapnya sebuah teguran dan hukuman begitu mungkin?


Ingin bertanya, tapi Belva merasa itu bukanlah urusannya. Entah kenapa segala hal tentang Viona membuatnya penasaran sekarang.


🌻🌻🌻


Andai Gilang tau apa yang Belva lakukan sekarang, pasti dia akan mengomel sepanjang rel kereta jurusan Jakarta-Surabaya.


Pasalnya, demi menuntaskan kekepoannya tentang Viona, dia rela mendatangi rumah Risma. Dengan membawa sejumlah mainan untuk Gina sebagai alat untuknya beralasan. Tak lupa juga membawa sedikit bingkisan untuk Risma.


"Mbak Viona ada, Bu?"


"Dia baru sholat dhuhur, Nak Belva. Baru sempat karena tadi Gina badannya panas dan nggak mau ditinggal."


Satu hal baru yang membuat Belva semakin terkejut. Viona sholat. Melihat sikap Viona ketika pertama kalinya mereka bertemu, Belva rasa tidak mungkin kalau saat itu Viona sudah melakukan sholatnya.


Ah, kenapa justru dia yang menghitung amal seseorang?


"Katanya sudah turun panasnya. Tapi kadang kalau malam naik lagi suhu badannya."


"Apa perlu dibawa ke rumah sakit, Bu?"


"Untuk sementara Viona masih mengusahakan dengan obat yang biasa di minum Gina, Nak Belva."


"Kalau ada apa-apa nanti telepon Mas Gilang, ya, Bu, biar Gina dibawa ke rumah sakit."


Risma tertawa kecil dan menganggukkan kepalanya. "Baik, Nak Belva."


Tak lama Risma dan Belva mengobrol. Setelahnya Risma meninggalkan Belva karena akan pergi ke pengajian.


Kini tinggallah Viona yang duduk di hadapan Belva.


"Diminum, Bel. Maaf, seadaanya."


"Nggak apa-apa, Mbak. Mbak Viona nggak ikut Bu Risma ke pengajian?"


"Biasanya ikut. Tapi karena Gina sedang sakit, aku ijin, Bel."


Belva mengangguk paham. Satu fakta lain yang Belva ketahui. Viona juga mulai mengikuti pengajian.


"Ngomong-ngomong, Bel. Ada perlu apa, ya? Tumben sekali kamu datang?"

__ADS_1


"Aku bosan, Mbak, nggak punya teman. Ku pikir datang ke sini main sama Gina bukan masalah, kan? Nggak apa-apa, kan, Mbak?"


"Oh, tentu saja nggak apa-apa, Bel. Kapanpun kamu dan Gilang mau main dengan Gina, silahkan. Aku nggak masalah."


Belva tersenyum. "Tapi malah Gina-nya sakit, ya, Mbak? Sejak kapan?"


"Semalam, Bel. Di sini lagi musimnya anak panas. Teman mainnya Gina pada panas semua."


"Gina ketularan dari teman-temannya itu, Mbak."


Viona tertawa kecil mendengarnya.


Merasa tak ada lagi yang akan diucapkan oleh Belva maupun Viona, keduanya akhirnya saling diam.


Belva sebenarnya ingin mulai bertanya tentang hubungan Viona dengan Hengky. Tapi Belva bingung harus memulainya dari mana.


"Pak Hengky masih sering ke sini, Mbak?" tanya Belva pada akhirnya.


Pertanyaannya itu membuat wajah Viona yang semula cerah berubah menjadi sendu. "Dia udah lama nggak ke sini, Bel," jawabnya.


"Kenapa, Mbak?"


"Katanya, sih, pindah ke Belanda tinggal dengan anaknya. Tapi aku nggak tau juga karena dia nggak pamitan sama aku, Bel. Mungkin dia marah."


"Marah kenapa, Mbak?" Belva semakin penasaran. "Eh, maaf, Mbak. Aku terlalu kepo, ya?" ucap Belva selanjutnya karena merasa pertanyaannya terlihat sekali bahwa Belva ingin tahu banyak tentang hubungan Viona dengan Hengky.


Viona tertawa kecil. "Nggak apa-apa, Bel. Lagian ini bukan suatu rahasia yang harus dirahasiakan dari siapapun. Mungkin Hengky marah karena aku nggak mau terima cinta dia dan pengorbanan dia selama ini. Dia pergi begitu saja tanpa pamit. Aku yakin kalau dia marah sama aku. Setelah dia pergi, aku baru sadar kalau aku juga nggak bisa hidup tanpa dia. Sehancur itu aku ditinggalkan dia, Bel. Tanpa kabar sampai sekarang."


Belva hanya bisa mengusap bahu Viona dan mengucapkan kata sabar.


Dalam hati Belva berucap bahwa Hengky tidak sedang berada di Belanda. Kemarin dia bertemu dengan Hengky bersama wanita lain.


Tapi Belva tak sampai hati mengatakannya melihat Viona yang terpuruk begini karena yang dia tau Hengky ke Belanda dan tidak berpamitan kepadanya.


🌻🌻🌻


"Sayang, aku on the way ke kantor sekarang."


"Tumben? Tadi aja nggak mau diajak ke kantor."


Belva tertawa renyah. "Lagi kangen sama Mas Gilang."


Gilang tak menjawab. Di seberang sana, Gilang tengah berbicara dengan Juan. "Batalkan meeting sore ini, Ju."


"Kenapa mendadak, bos?"


"Ada hal yang lebih penting dari meeting ini. Ganti saja besok pagi."


"Siap, bos."


Belva tertawa lagi mendengar Gilang membatalkan meetingnya karena memilih Belva.


"Mas menunggumu, Sayang."

__ADS_1


"I'm coming, baby. Tungguin, ya."


🌻🌻🌻


__ADS_2