
Percobaan bunuh diri yang dilakukan Viona sudah terdengar sampai ke telinga Gilang dan Belva.
Gilang tak habis pikir dengan Viona. Apa yang dia pikirkan dan rasakan sampai nekat mencoba bunuh diri?
Kalau cara ini dia gunakan sebagai alat untuk memaksa Gilang, itu percuma karena Gilang tidak akan pernah peduli lagi dengan wanita itu.
Viona belum meninggal. Meskipun dia belum sadar selama enam jam, tapi dokter mengatakan bahwa tidak ada yang serius dari lukanya.
"Viona kayak gini karena Lo, kan, Lang?" Amira menghakimi Gilang yang baru saja datang untuk melihat keadaan Viona.
Kalau bukan Hengky yang memintanya, Gilang juga tidak sudi datang ke rumah sakit.
"Terus Lo mau gue ngapain?"
Ditanya seperti itu, Amira diam. Dia juga bingung apa yang harus dilakukan Gilang. Meminta Gilang menikahi Viona, memangnya dia pikir dia siapa?
Bukankah Gilang bersedia bertanggungjawab atas Regina saja harusnya sudah membuatnya bersyukur?
Setidaknya dia bisa lepas tanggungjawab sehingga dia bisa menjalani pekerjaan yang dia sukai.
"Ayah, apakah ibu akan bangun?" tanya Regina yang tentu saja kembali bersedih melihat ibunya kembali terbaring di rumah sakit.
Regina masih kecil. Tapi dia begitu paham dengan apa yang dilihatnya. Termasuk mengerti keadaan ibunya yang sakit.
Kejadian tadi tentu saja juga membuatnya trauma. Regina yang pertama kali melihat Viona bersimbah darah dan terkapar di lantai kamarnya.
"Gina berdoa saja. Semoga ibu baik-baik saja nanti," jawab Gilang sambil mengusap kepala anaknya itu dengan lembut.
"Saya permisi dulu, Pak Hengky. Besok saya dan istri harus terbang ke Turki."
"Disaat seperti ini masih bisa kamu pergi ke Turki, Lang? Dia begini karena kamu loh."
Gilang menghembuskan napasnya dengan jengah. Tidak habis pikir juga dengan jalan pikiran Amira. Entah Amira maupun Viona sama saja menurutnya.
"Lalu menurut Lo, gue harus di sini nungguin dia? Sedangkan gue ada kewajiban untuk istri gue."
"Liburan bisa nanti." Amira masih enggan untuk mengalah.
"Itu urusan gue. Hak gue mau pergi kapan saja. Lagipula saya dan Viona tidak ada hubungan apapun. Gue nggak ada kewajiban menjaga Viona. Dia begini bukan salah gue. Tapi salah dia sendiri yang enggan berdamai dengan kenyataan."
Jawaban Gilang membuat Amira bungkam. Gilang menatapnya sinis. Lalu kembali berpamitan dengan Hengky, Regina dan ibu dari Amira.
🌻🌻🌻
Sehari semalam Viona tidak sadarkan diri. Lagi-lagi Tuhan memberinya kesempatan hidup. Harusnya bisa dia gunakan dengan baik.
__ADS_1
Tapi bukan Viona namanya jika dia tidak keras kepala..
Viona masih saja mencari Gilang saat pertama dia membuka matanya. Berharap ada Gilang yang menunggunya, tapi ternyata kamar rawatnya kosong. Hanya ada dirinya yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.
Tidak ada seorangpun yang menunggunya. Ngenes. Kasian sekali hidupnya, batin Viona.
Tak berselang lama, Hengky masuk ke dalam kamar rawatnya. Viona langsung memalingkan wajah. Enggan menatap Hengky. Bukan Hengky yang diinginkan Viona saat ini.
"Kenapa berpaling? Berharap Gilang yang datang?" tanya Hengky.
Viona menghela napas. "Harusnya kamu sadar diri dan pergi dari sini. Untuk apa masih menemani wanita seperti aku?"
"Saya masih berharap kamu berubah, Viona. Kamu diberi kesempatan untuk tetap hidup seharusnya kamu gunakan untuk memperbaiki diri."
"Aku bahkan tidak meminta kesempatan hidup ini."
"Hati-hati jika bicara. Tuhan murka dan mengambil nyawamu dalam keadaan kamu belum bertaubat, rugi kamu."
Viona tertawa sinis. "Jangan ajari aku bertaubat. Wanita sepertiku tidak mungkin akan mendapatkan ampunan."
Hengky hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar setiap jawaban Viona yang terdengar menyebalkan di telinganya.
Harus dengan cara apa lagi membuat Viona sadar?
Viona melihat foto tersebut. Ada wajah Gilang dan Belva yang tersenyum bahagia menatap ke kamera. Tangan Gilang memeluk dan satunya memegang perut Belva yang membuncit. "Bismillah, Turki," tulis Belva di caption postingannya di Instagram.
Tentu saja hati Viona terasa panas. Di saat dia sekarat, dia pikir Gilang akan berada di sampingnya. Tapi ternyata dia malah asyik pergi ke Turki untuk melakukan babymoon bersama istrinya.
"Lelaki yang kamu harapkan tengah berbahagia dengan istrinya. Dia tidak peduli dengan kamu. Bahkan di saat kamu hampir mati, Viona. Berhenti menuruti ambisimu yang tidak masuk akal itu. Belajar menerima kenyataan! Bukankah sudah cukup Gilang mau bertanggungjawab dan mengakui keberadaan Regina? Dia bisa bahagia dengan pilihan hidupnya. Kamu pun bisa bahagia dengan hidup kamu jika kamu mau bangun dari semua ini. Move on! Jalani hidup kamu dengan bahagia. Jangan menganggap laki-laki di dunia ini hanya Gilang! Bukan berarti saya mau kamu mau mengakui keberadaan saya. Jika kamu menginginkan lelaki lain pun saya akan pergi asal kamu bahagia. Dan juga asalkan bukan Gilang alasan kamu untuk meminta saya pergi."
Setelah berkata seperti itu, Hengky pergi meninggalkan Viona sendiri di kamarnya. Entah pergi kemana, Viona pun tak mau tau.
Tapi hati Viona kian resah saat berhari-hari Hengky tidak datang mengunjungi Viona.
Sampai Viona pulang dari rumah sakit pun Hengky tidak datang.
Viona mulai bertanya-tanya, kemana perginya Hengky? Benarkah Hengky memilih pergi dan menyerah untuk meluluhkan hati Viona?
Hati Viona kian ngenes saat melihat foto-foto Gilang dan Belva memasang foto-foto yang begitu mesra. Kebahagiaan jelas terpancar di wajah mereka.
Viona benar-benar tidak ada artinya lagi bagi Gilang.
***
"Mas Hengky kemana, ya, Mir?"
__ADS_1
Amira menatap Viona dengan heran. "Tumben Lo nanyain dia?"
"Udah mau dua Minggu dia nggak datang ke sini nemuin gue."
"Lo mulai sadar kalau dia cinta mati sama Lo?"
Viona menggelengkan kepalanya. "Gue udah lama sadar bahwa dia cinta sama gue. Tapi gue yang masih berharap sama Gilang."
"Lo bodoh kalau masih berharap sama Gilang. Lo udah lihat, kan, bahagianya dia sama istrinya?"
Viona mengangguk membenarkan.
Beberapa hari terakhir dia menjadi stalker handal demi menelusuri foto demi foto Gilang dan Belva. Semua terlihat mesra. Semua orang memuji mereka pasangan yang serasi meskipun sebelumnya adalah gadis dan duda yang usianya terpaut sepuluh tahun.
"Gimana rasanya ditampar kenyataan?"
"Sakit. Akunya yang keras kepala."
"Bagus kalau Lo sadar. Lo mau tau kemana Hengky?"
Viona mengangguk antusias mendengar pertanyaan Amira. "Kemana? Dia kemana?"
"Anaknya yang di Belanda minta papanya untuk tinggal di sana. Dia nggak tega lihat Hengky hidup sendiri apalagi untuk mengemis cinta dari Lo."
"Lo serius? Tau dari siapa Lo?"
"Dari temannya. Semalam dia main sama gue."
"Kapan dia berangkat?"
"Udah berangkat dua hari yang lalu."
"Kenapa nggak pamit sama gue? Gue bahkan belum nyuruh dia untuk pergi. Tapi dia malah pergi duluan ninggalin gue."
Viona tak bisa menahan air matanya. Penyesalan memang selalu datang di akhir.
Memang hatinya belum sepenuhnya mencintai Hengky. Tapi rasa kehilangan tentu saja dia rasakan.
Selama ini hanya Hengky satu-satunya lelaki yang tulus mencintainya.
Tapi sekarang lelaki itu juga memilih pergi dari hidupnya. Viona semakin merasa hidupnya tak lagi berharga.
🌻🌻🌻
kalau di series Gavin Mikha, harusnya lelaki itu namanya Damar. tapi ya udahlah ya. aku juga lupa, males baca ulang. jadi namanya Hengky aja udah. 😌😌
__ADS_1