
"Hai, Kak Mikha... Triplets mana? Aku bawa banyak barang buat mereka."
Mikha hanya bisa melongo melihat barang-barang yang dibawa Belva. Itu baru sebagian yang ada di tangannya. Belum lagi yang masih ada di dalam mobil karena Belva tak bisa membawa dalam sekali waktu.
Entah berapa banyak baju kembar tiga yang Belva beli. Masih ada mainan yang mungkin toko tempat Belva membeli bisa untung jutaan saat Belva membelinya.
Tak cuma untuk triplets, Belva juga membelikan barang-barang branded untuk Mikha sebagai kado untuk dirinya yang sudah hamil dan melahirkan triplets dengan penuh perjuangan.
Mikha senang, tentu saja. Apalagi barang-barang yang dibelikan untuknya itu semua adalah selera Mikha. Sesuai dengan gaya fashion Mikha.
"Bel, kamar triplets bisa jadi baby shop kalau kayak gini caranya."
Belva tertawa renyah. "It's oke, Kakak. Aku senang beli ini buat triplets."
"Gilang nggak marah kamu belanja sebanyak ini?"
"Ini semua belum seberapa dari uang bulanan yang dikasih Kak Gilang."
"Iya, deh. Paham, kok."
Tentu saja Mikha paham. Uang bulanan dari Gilang tidak mungkin sedikit. Dulu saat Mikha yang jadi istrinya saja sebulan bisa dua ratus juta lebih.
Apalagi dengan Belva yang Gilang saja sudah cinta mati padanya. Sudah milyaran mungkin.
"Kamu belum hamil, Bel?"
Belva menggelengkan kepalanya. "Belum, Kak. Aku baru aja selesai datang bulan kemarin."
"Langsung gas aja, sih. Siapa tau bulan depan udah positif."
"Aamiin. Kakak dulu berapa lama jarak dari nikah sampai hamil?"
"Sekitar dua bulanan mungkin. Aku lupa. Kalian nggak ada niat menunda, kan, sebelumnya?"
Mendengar pertanyaan Mikha, Belva sedikit salah tingkah. Mikha pun bisa membaca raut wajah Belva itu. Ada hal yang disembunyikan oleh Belva.
"Jujur, Bel! Tenang aja, aku nggak akan cerita ke siapapun, kok."
Belva mengalihkan pandangan. Tak bisa melihat Mikha yang menatapnya penuh curiga.
"Diam-diam aku sempat minum pil KB."
"What?" Mikha tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
"Tapi udah nggak lagi waktu kak Mikha lahiran kemarin. Aku merasa bersalah lihat Kak Gilang yang seneng banget waktu lihat triplets. Jadi aku memutuskan untuk tidak lagi meminumnya."
Mikha menatap Belva dengan lekat. Lalu menggenggam satu tangannya sebagai bentuk dukungan. "Apa alasan kamu melakukan itu, Bel?"
"Aku belum siap hamil, Kak. Pernikahan kami saja belum diumumkan. Lantas bagaimana kalau orang-orang tau aku hamil sedangkan mereka belum tau kalau aku sudah menikah? Aku juga belum siap dengan segala sesuatunya. Aku masih ingin kuliah dengan bebas. Aku masih mau fokus untuk itu."
"Lalu kenapa kamu belum mau pernikahan kamu diumumkan, Bel? Dengan cara mengadakan resepsi mungkin."
__ADS_1
"Aku dan kak Gilang menikah saat seminggu kak Gilang membatalkan pertunangannya dengan Kak Jihan yang digelar mewah, semua kolega diundang. Aku nggak mau dikira yang aneh-aneh kalau aku menikah dengan kak Gilang sedangkan mereka taunya Kak Gilang itu bertunangan dengan Kak Jihan."
"Emm... Bukan karena kamu sedang menjaga hati cowok lain, kan?"
"Nggak ada yang seperti itu." Dengan cepat Belva tidak membenarkan ucapan Mikha.
Mana mungkin Belva menjaga hati pria lain sedangkan satu-satunya laki-laki yang dia inginkan sebagai pendamping hidup adalah Gilang?
"Sorry. Aku cuma nanya aja, Bel."
Belva mengangguk mengerti.
"Oke. Yang penting sekarang kamu udah nggak minum itu lagi. Dimana-mana, suami istri itu kalau ada apa-apa dibicarain berdua, Bel. Contoh urusan seperti ini. Kamu minum pil KB itu tanpa persetujuan Gilang. Kalau Gilang tau, dia pasti marah besar, kan? Ujung-ujungnya kalian bertengkar."
"Iya, Kak. Aku juga was-was banget. Nggak tenang. Minumnya harus sembunyi-sembunyi kalau lagi pas sama dia."
"Ya gitu kalau orang buat salah tapi sembunyi-sembunyi nggak mau ngaku. Yang ada cuma rasa gelisah doang." Mikha tertawa kecil. "Bercanda loh, Bel. Jangan diambil hati, ya. Aku emang orangnya suka bercanda."
Belva pun ikut tertawa. "Lagian, kan, yang dibilang kak Mikha bener. Kenapa aku harus marah?"
Belva dan Mikha menyemburkan tawa mereka. Nyaman sekali dekat dengan orang yang satu frekuensi. Diajak bercanda tidak diambil hati. Diajak serius dia juga bisa.
"Gimana, kak, rasanya jadi ibu baru? Apalagi langsung tiga sekaligus begini?"
Mikha tersenyum lebar. "Capek, sih. Tapi ada sus mereka yang bantuin. Mama Yunita sama mamaku juga sering ke sini buat bantuin. Kak Gavin juga mau bantuin kalau mereka nangis kehausan atau popok mereka penuh. Malah kalau malam seringnya aku nggak dibangunin kalau mereka nangis karena haus."
"Terus, minumnya sufor?"
Belva mengerutkan keningnya. "Apa itu DBF atau ASIP?"
Kini giliran Mikha yang menatap Belva penuh tanya. "Belum paham soal itu?" tanya Mikha.
Belva menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"DBF itu Direct breastfeeding. Alias menyusui langsung dari payu**** ibu ke bayi. Hal ini sangat disarankan sebenarnya. Terutama pada bulan-bulan pertama setelah bayi lahir. Tapi kalau tiga begini ya aku yang nggak kuat, Bel. Belum lagi bapaknya," ucap Mikha yang diakhiri dengan tawa kerasnya.
Mikha yang berucap, tapi Belva yang salah tingkah. Obrolan orang yang sudah menikah memang sering mengarah ke hal-hal tersebut. Tak apa, Belva juga sudah sering merasakannya. Eh!
Tawa Mikha berhenti, lalu dia kembali menjelaskan perihal ASIP yang belum dipahami oleh Belva. "Kalau ASIP itu, air susu ibu perah atau ASIP didapatkan dengan cara memerah ASI dari payu**** untuk ditempatkan dalam wadah steril, seperti botol atau wadah ASIP lainnya. Nanti bisa disimpan di dalam freezer dan dihangatkan terlebih dahulu sebelum dikasihkan ke bayi. Bisa tahan enam sampai dua belas bulan kalau disimpannya di freezer khusus yang suhunya di bawah minus dua puluh derajat."
"Oh..." Belva manggut-manggut mengerti dengan apa yang dijelaskan oleh Mikha. "Aku paham sekarang," lanjut Belva.
"Jadi jangan khawatir soal bagaimana mengurus bayi kalau kamu masih harus kuliah. Bisa cari pengasuh dan nggak perlu khawatir kalau nggak bisa mengaASIhi karena sekarang semudah itu, Bel."
"Tapi, kan, jaman sekarang ada pengasuh yang nggak amanah itu, Kak. Anak-anak malah disiksa. Nangis dikit dijewer. Mereka nggak sabaran. Aku takut kalau itu nanti terjadi sama anak aku misal aku sewa pengasuh."
Mikha tersenyum lembut. "Tidak perlu mengkhawatirkan hal yang belum terjadi, Bel. Di dunia ini masih banyak orang baik dan tulus meskipun yang jahat juga banyak. Percaya, deh. Pasti ada, kok, orang baik itu. Gilang tidak mungkin salah mencari pengasuh nanti. Udah, ah. Yang penting hamil dulu. Soal pengasuh dipikirkan lagi nanti kalau anaknya udah lahir."
Keduanya mengobrol panjang lebar. Semua hal bisa begitu menarik untuk dibicarakan berdua.
Belva juga banyak belajar seputar kehamilan, melahirkan dan mengurus bayi sesuai dengan pengalaman Mikha sendiri.
__ADS_1
Belva juga sempat belajar menggendong bayi dengan nyaman, mengganti popok bayi. Dan memandikan bayi andai Belva mau.
Tapi Belva belum cukup berani untuk memandikan bayi. Menggendong anak Mikha yang masih bayi merah tanpa alas selimut pun Belva masih takut.
Sempat juga Belva bergidik ngeri melihat Mikha yang mulai mahir menggendong bayinya dengan segala posisi. Kadang hanya dengan satu tangan. Kadang kepala bayi bersandar di bahunya. Kadang juga bayinya dihadapkan ke depan.
"Itu begitu nggak apa-apa, Kak?" tanya Belva dengan nada khawatir.
Mikha tertawa kecil mendengarnya. "Enggak apa-apa tau. Justru kebanyakan bayi bakalan nyaman digendonb seperti ini. Sering-sering juga tummy time. Manfaatnya banyak. Mengembangkan keterampilan mengontrol kepala. Meningkatkan keterampilan motorik kasar. Mencegah plagiocephaly atau kepala bayi peyang. Mengurangi perut kembung. Meningkatkan hubungan antara ibu dan bayi."
"Kakak belajar itu dari mana?"
"Ya dari mana aja. Googling, dong, Bel. Konsultasi juga sama dokter. Pokoknya selama hamil itu jangan sampai malas belajar, Bel. Karena akan banyak hal yang belum pernah kita alami sebelumnya, dan terjadi ketika hamil dan melahirkan."
Ketika mereka tengah mengobrol, handphone Belva berdering dengan nyaring.
Siapa lagi kalau bukan Gilang yang menelponnya? Lelaki itu begitu rewel ketika tiga puluh menit saja Belva tidak mengabari dirinya yang saat ini terpaksa harus masuk kerja karena ada kolega dari luar negeri yang ingin bertemu dengannya.
"Gilang, ya?"
Belva tersenyum malu dan menganggukkan kepalanya.
"Angkat dulu. Udah kangen tuh." Goda Mikha pada Belva.
Belva pun segera menjauh dari Mikha untuk mengangkat telepon dari Gilang.
"Kemana aja, sih, Sayang, nggak ngabarin?" Baru juga Belva menempelkan handphonenya ke telinga, Gilang sudah mengomel.
"Baru ngobrol sama Kak Mikha. Belajar ngurus bayi."
"Persiapan, ya, Sayang? Habis ini langsung pulang, ya. Kita juga perlu membuatnya."
"Membuat apa?"
"Ya membuat bayi-lah. Masa buat donat?"
"O-oh, iya. Iya, Mas. Habis ini aku langsung pulang." Suara Belva terdengar salah tingkah. Padahal bukan pertama kalinya Gilang bicara sefrontal itu. Lebih dari itupun pernah Gilang ucapkan.
"Oke, Sayang. Mas juga on the way pulang ini. Hati-hati di jalan."
"Iya. Mas Gilang juga hati-hati di jalan."
Setelah mematikan sambungan teleponnya dengan Gilang, Belva segera berpamitan dengan Mikha.
Mikha pun tak menahan Belva untuk tinggal sebentar di rumahnya. Justru Mikha menggoda Belva sampai Belva terlihat malu dan salah tingkah.
"Semoga bulan ini jadi, ya. Gas pol terus pokoknya," ucap Mikha yang membuat Belva menutup wajahnya karena malu.
🌻🌻🌻
Part yang dibuat saat kehabisan ide. 😌
__ADS_1