
"Belva!"
Rania yang baru saja datang pun begitu panik melihat Belva sudah kesakitan. Tak peduli motornya yang ambruk karena Rania tinggalkan begitu saja. Indra dan Tiara yang juga baru saja kembali sudah berusaha menolong Belva.
Sedangkan Gilang, dia masih dengan ketidakpeduliannya. Jahat memang. Tapi cemburu telah membutakan segalanya.
Sedangkan keributan mereka pun sudah menjadi pusat perhatian orang yang berlalu lalang di sekitarnya.
"Sakit banget, Ran."
"Kita ke rumah sakit sekarang, Bel. Sabar, ya. Mobil kamu mana?"
"Mobilnya rusak. Baru dibenerin itu." Indra menimpali.
"Ya udah pakai mobil Kak Indra aja. Cepetan."
Rania dan Tiara membantu Belva untuk berjalan ke mobil Indra. Sedangkan Indra sudah bersiap untuk menyetir mobilnya.
"Mas montir," panggil Rania kepada orang yang memperbaiki mobil Belva sebelum mereka benar-benar berangkat. Montir itu pun segera mendekat ke arah mobil Indra. "Titip motor aku bentar, ya. Mobilnya juga jagain dulu. Nanti bayarnya dilebihin, kok."
"Baik, Mbak."
***
Indra mengemudikan mobilnya menuju sebuah klinik untuk ibu dan anak tempat Mamanya membuka praktek.
Indra sendiri adalah anak dari seorang dokter kandungan senior. Dan Papanya direktur di sebuah perusahaan BUMN.
"Ma... Mama." Indra berteriak dengan menggendong Belva. Tak peduli dengan banyaknya pasien yang sedang mengantri untuk diperiksa oleh Nissa, Mamanya.
Seorang perawat tergopoh-gopoh mendatangi Indra. "Ada apa ini, Mas?"
"Ambilin kursi roda atau brankar, cepetan!"
Perawat tersebut dengan cepat mengambil apa yang diminta oleh Indra. Mereka sudah mengetahui kalau Indra ini adalah anak dari Nissa.
"Mama!" teriak Indra lagi karena melihat Belva yang menangis sambil memegangi perutnya.
Sebenarnya sudah tidak terlalu nyeri. Hatinya yang terasa begitu sakit mendengar ucapan Gilang tadi.
"Apa, sih, teriak-teriak? Yang sopan, dong. Kamu ganggu pasien Mama."
"I don't care, Ma. Yang penting Mama tangani dia dulu. Dia lagi hamil, perutnya sakit."
Nissa melihat ke arah Belva, lalu memandang anaknya dengan tatapan curiga. "Hamil?" tanya Nissa.
Indra menganggukkan kepalanya. "Iya, Ma. Cepetan diperiksa!"
"Bukan anak kamu, kan?"
__ADS_1
Indra terdiam. Tiara dan Rania pun saling berpandangan. Tiara yang belum dikenalkan dengan Nissa pun hanya bisa diam tanpa bisa melakukan pembelaan untuk kekasihnya.
"Ya ampun. Bukan, Ma. Dia adik tingkat aku. Udah punya suami. Dia lagi hamil tapi perutnya sakit."
Nissa mengangguk lega. "Oke. Bawa ke ruang periksa ya, sus," ucap Nissa pada perawatnya.
"Baik, Dok."
Nissa segera mempersiapkan alat USG. Karena kedatangan Indra yang membuat semua orang panik, Nissa harus mendahulukan Belva terlebih dahulu.
Padahal antrian pasiennya masih banyak.
"Suaminya kemana?" tanya Nissa pada Belva.
Belva tersenyum tipis. Sebenarnya mengingat Gilang saja enggan. Hatinya sakit setiap mengingatnya. "Sedang di luar negeri," jawab Belva berbohong.
Nissa tersenyum. Lalu memulai memeriksa Belva.
"Enggak apa-apa, kok. Janinnya sesuai dengan usianya. Enam Minggu lebih tiga hari. Jangan terlalu stress, ya. Jangan terlalu lelah. Kalau terjadi seperti ini lagi, bisa duduk atau tiduran dengan posisi yang nyaman. Selama tidak ada pendarahan insyaaAllah tetap aman. Masih nyeri?"
Belva menggelengkan kepalanya. "Udah nggak terlalu, Dok."
"Obat penguat kandungan dan vitaminnya masih? Sudah pernah periksa ke dokter, kan?"
Belva menganggukkan kepalanya. "Sudah, Dok. Semuanya masih."
Wajah Belva terlihat begitu lesu. Dia juga tak ingin pulang terlebih dahulu. Kalau bisa, Belva menghilang saja dari jangkauan semua orang. Dia tak ingin bertemu dengan Gilang yang telah melukai hatinya dengan ucapannya.
Belva masih tak percaya Gilang bisa mengatakan hal seperti itu. Serendah itukah Belva di mata Gilang?
Belva menjaga dirinya, menjaga hatinya, bahkan menjaga jarak dengan lelaki yang mendekatinya. Semua demi Gilang.
Tapi tuduhan Gilang seolah menganggap Belva murahan. Mau saja ditiduri oleh lelaki lain.
Padahal selama ini hanya Gilang yang menyentuhnya. Hanya Gilang yang tau apa yang ada di diri Belva.
Tak pernah sekalipun Belva mengijinkan laki-laki lain menyentuhnya. Bahkan hanya sekedar bersalaman saja Belva cepat-cepat menarik tangannya kembali.
"Bel, mau pulang sekarang?" tanya Rania yang menemani Belva di dalam kamar rawat. Sedangkan Indra dan Tiara berada di ruangan pribadi milik Nissa.
Belva menggelengkan kepalanya. Dia tidak menangis, tapi tatapan matanya begitu kosong.
"Aku mau ke kos-an Eliza aja, Ran."
"Eliza siapa?" tanya Rania. Belva memang belum mengenalkan Rania kepada Eliza.
"Dia sahabatku waktu SMA. Kos-annya nggak jauh dari kampus."
"Oke. Aku minta tolong kak Indra buat ngantar, ya?"
__ADS_1
Belva menggelengkan kepalanya. "Diantar ke tempat mobil aku tadi aja. Aku bisa nyetir sendiri, kok."
"Dalam keadaan seperti ini?"
Dengan yakin Belva menganggukkan kepalanya. "Aku baik-baik aja."
Tak ada yang mampu mencegah keinginan Belva. Baik Indra, Tiara, Rania maupun Nissa sekalipun.
Indra mengantar Belva dan Rania ke tempat mobil Belva tadi.
🌻🌻🌻
Gilang tidak berani datang ke rumah kedua orangtua Belva. Tentu saja. Setelah apa yang dia ucapkan kepada anak mereka satu-satunya, Gilang tidak punya wajah untuk menghadap.
Dia tidak bisa menjelaskan apa yang terjadi. Memang salahnya. Tapi dia cemburu buta. Bahkan sampai saat ini pun masih belum percaya kalau anak yang dikandung Belva adalah anaknya setelah melihat Belva tertawa lepas bersama lelaki itu.
Sebebas itu mereka di mata Gilang. Sampai Gilang sendiri tak bisa berpikir secara jernih saat melihatnya. Mengedepankan emosi dan rasa cemburunya yang tanpa dia sadari akan menjadi boomerang untuk dirinya sendiri.
Tepat pukul sepuluh malam, terlihat nama ayah mertuanya berada di layar handphonenya. "Papa Belva memanggil".
Gilang menghembuskan napas dengan sedikit kasar. Menyiapkan jawaban yang akan dia berikan kalau menanyakan perihal Belva, yang mungkin sedang di rumah sakit. Atau pulang-pulang dalam keadaan menangis.
Entahlah. Gilang rasa Gilang pun tak perlu memperdulikan hal tersebut.
"Hallo, Pa."
"Lang, Belva ada sama kamu? Papa telepon nomornya tidak aktif. Harusnya kalau sama kamu di pamit dulu biar Papa dan Mama tidak kepikiran. Kamu pulang ke Indonesia hari ini, kan?"
Pertanyaan ini belum Gilang siapkan jawabannya. Kemana pula Belva? batin Gilang.
"Em. Iya, Pa. Belva ada sama saya. Tapi dia sudah tidur. Handphonenya kehabisan baterai sejak masih di kampus. Baru saya charge setengah jam yang lalu."
Dari satu kebohongan, akan timbul kebohongan yang lainnya.
"Syukurlah kalau dia ada sama kamu, Lang. Mamamu khawatir sekali sejak tadi. Ya sudah, selamat istirahat, ya. Besok main ke sini."
"Iya, Pa."
Sebenarnya Gilang tak ingin peduli dengan keberadaan Belva sekarang. Kalau bukan karena untuk menjaga nama baiknya di depan kedua orangtua Belva, Gilang pun enggan mencari keberadaan Belva saat ini.
Manusia satu itu seperti sudah lupa kalau kemarin dia cinta mati dengan Belva. Tapi karena cintanya itulah dia cemburu buta. Sampai mulut dan pikirannya pun tidak bisa dia kendalikan.
🌻🌻🌻
yang kemarin komen, kapan bahagianya, ada masalah Mulu. namanya juga hidup ya gaes ya, apalagi rumah tangga ya kan? masalah hidup akan selesai kalau orang sudah meninggal. betul?
terus yang minta jangan di putus2 ceritanya, nggak seru katanya kalau putus2, ini on going ya kakak. kalau putus2 itu wajar. apalagi aku update nya memang sehari sekali.
Udah gitu aja. takut dibilang banyak omong 🤣🤣 hari Rabu biasa,ya. update seadanya.
__ADS_1