Gadis Belia Istri CEO Duda

Gadis Belia Istri CEO Duda
Part 40


__ADS_3

Libur kuliah telah usai. Belva sudah harus kembali ke Surabaya, berpisah lagi dengan Gilang untuk sementara waktu.


Hampir dua bulan lamanya Belva berada di Jakarta. Dia sudah terbiasa ada Gilang di sisinya setiap saat.


Berpelukan erat menjelang tidur. Tentu setelah rangkaian aktivitas yang melelahkan namun tak pernah bosan untuk dilakukan.


Lalu setiap Belva membuka mata, masih ada Gilang yang senantiasa memeluk dirinya di bawah selimut tebal yang menutupi tubuh mereka.


Sadar dia harus segera ke Surabaya, dengan malas-malasan Belva mengemasi sebagian pakaiannya dan keperluannya yang lain yang akan dia bawa kembali ke Surabaya.


Setengah hati Belva melakukannya. Karena dia ingin tetap berada di sini, berada di dekat Gilang di setiap saat.


"Yang semangat, dong, Sayang," ucap Gilang saat melihat istrinya menelungkupkan wajah dan tubuhnya ke atas koper yang masih tertutup.


"Mas Gilang nyuruh aku semangat, seneng, ya, pisah sama aku?"


"Kok, malah gitu ngomongnya? Maksud Mas itu semangat ke Surabaya karena di sana mau menuntut ilmu. Biar cepet selesai kuliahnya, biar kita bisa kumpul kayak gini lagi, Sayang."


Belva menghembuskan napas dengan sedikit kasar. Entahlah, hatinya terlalu sensitif akhir-akhir ini. Mungkin efek tamu bulanan yang kembali dia dapatkan siang tadi.


Bulan ini Belva gagal lagi untuk hamil. Meskipun Gilang berkata seolah dia baik-baik saja kalau Belva memang belum hamil, tapi Belva tau kalau Gilang sebenarnya juga kecewa.


Dia yang paling besar harapannya agar Belva segera hamil. Sedangkan Belva, memang berharap. Tapi harapannya tak sebesar harapan Gilang.


Mungkin itu alasan kenapa Allah belum juga mengijinkan untuk hamil meskipun usaha mereka sudah dilakukan siang dan malam, pagi maupun sore asal ada kesempatan meskipun hanya lima belas menit saja.


Belva yang sebenarnya belum siap untuk menjadi seorang ibu.


Tapi bukan berarti dia juga tidak mau kalau seandainya hamil. Belva pasti mau belajar untuk menjadi ibu yang baik.


"Kapan Mas Gilang akan ke Surabaya?"


"Belum juga balik, Sayang. Udah tanya aja kapan Mas ke sana."


"Harusnya, kan, udah dijadwalkan."


"Iya. Memang sudah. Yang tenang, Sayang. Besok setelah Mas antar kamu ke Surabaya, Mas menginap satu malam. Terus Mas ke Manado dulu empat hari. Baru habis itu ke Surabaya lagi. Pas banget sama waktu kamu selesai bulanan nanti." Gilang tertawa renyah.


"Ih, malah sampai situ ngomongnya."


"Kenapa, Sayang? Enggak apa-apa, dong, sama istri sendiri, kok."


Belva membuang muka. Masih dengan wajah cemberut, Belva memasukkan barang-barangnya ke dalam koper besar berwarna Lilac kesukaannya.


🌻🌻🌻


"Suntuk amat istri CEO," celetuk Eliza yang baru saja datang menghampiri Belva di sebuah cafe tempat mereka berjanjian untuk bertemu.


Harusnya kemarin saat liburan mereka menghabiskan waktu bersama seperti dulu. Jalan-jalan, nonton, hunting foto, pergi ke tempat-tempat wisata yang aesthetic dan Instagram able.


Tapi Belva memilih untuk bersama dengan Gilang sepanjang liburan kemarin. Dan Eliza pun tidak masalah karena memang sahabatnya itu sudah bersuami.


"Emang istri CEO nggak boleh punya wajah suntuk?" balas Belva.


"Nggak pantas. Banyak duit soalnya."


"Bukannya dari dulu aku udah banyak duit, ya, meskipun duit orangtua? Sekarang udah gede bukannya cari duit sendiri malah minta ke suami."


Eliza tertawa lepas. "Iya, yang orang kaya."


"Emang situ miskin?"


"Orangtua yang punya duit."


"Sama kalau gitu."

__ADS_1


Kini keduanya sama-sama tertawa. Tau hal ini hanya sebuah candaan. Bukan bermaksud untuk beradu kekayaan.


"Bukannya enak, ya, minta duit ke suami? Nggak usah capek-capek kerja hidupnya udah terjamin kaya raya."


"Bener banget kata, Lo."


"Yaelah... Di Jakarta berapa hari, sih, udah berubah Lo gue aja?"


Belva tertawa kecil. "Khilaf. Kebiasaan dengar suami aku ngobrol sama kakak-kakaknya begitu."


"Nggak makan, Bel?"


"Lebih ke kangen, sih, daripada lapar."


"Makan, tuh, kangen! Aku lapar, mau pesan makan. Kamu pesan nggak?"


"Spaghetti aja yang kayak biasanya."


"Oke."


***


"Kamu masih ingat nggak teman kita yang namanya Wulan?" tanya Eliza saat tengah menikmati makanan mereka.


"Hmm. Yang anak alim, pendiam itu, kan? Kenapa memangnya?"


"Dia udah mau nikah."


"Bagus, dong. Duluan aku nikahnya. Enggak masalah juga."


"Masalahnya, dia hamil duluan."


Uhhukk!


Mendengar cerita Eliza, Belva sampai tersedak. "Ya ampun, pelan-pelan, dong, Bel."


"Ya sorry. Mau dilanjut nggak nih?"


Belva menganggukkan kepalanya. Dia berhenti makan dan memilih untuk mendengarkan cerita Eliza terlebih dahulu.


"Kamu tau hamilnya dia sama siapa?"


Belva menggelengkan kepalanya. "Mana gue tau. Orang denger kabar Wulan aja baru ini, kok."


"Sewot amat, Bu," ujar Eliza memprotes nada bicara Belva.


"Enggak, biasa aja. Udah cepetan ngomong dia hamil sama siapa."


"Sama Pak Aris. Guru olahraga kita."


"Hah? Kok, bisa?"


Eliza mengendikkan bahunya. "Masalah ini belum ada yang tau, Bel."


"Itu kamu tau. Dari mana?"


"Dari si Deni. Dia, kan, sepupunya Wulan. Katanya, mereka emang udah dekat sejak masih sekolah. Tapi sering ketemu juga akhir-akhir ini sampai Wulan ketahuan hamil."


Belva merenungi setiap ucapan Eliza. Wulan dan gurunya saja yang mungkin baru melakukannya beberapa kali bisa langsung hamil.


Sedangkan dirinya dan Gilang, entah sudah berapa puluh kali mereka melakukannya, tapi Belva tak kunjung hamil juga.


Memang empat bulan pertama Belva mengkonsumsi pil KB. Tapi dua bulan ini dia dan Gilang intens melakukan hubungan suami istri.


Tapi kemarin dia masih saja mendapatkan tamu bulannya. Apakah ini sebuah hukuman untuknya karena diam-diam menunda kehamilan tanpa sepengetahuan Gilang?

__ADS_1


Atau Belva harus jujur pada Gilang agar Allah bisa memaafkan dirinya lalu mengijinkan dirinya untuk hamil?


Tapi membayangkan reaksi Gilang nanti, Belva bergidik ngeri. Bagaimana kalau Gilang marah nantinya?


"Hey!" Eliza melambaikan tangannya di depan wajah Belva. "Kok, malah melamun, sih? Mikirin apa?"


"Eh, enggak, kok. Nggak mikirin apa-apa."


Eliza mengangguk paham. "Ya meskipun kamu nggak mau ngomong, aku tau ada yang kamu pikirkan. Emangnya aku kenal kamu baru kemarin?"


"Oh, kita udah kenal lama, ya? O iya, aku lupa. Kamu, kan, yang dulu suka ngompol kalau kebanyakan ketawa?"


"Ih, kenapa harus buka aib, sih?"


Belva tertawa puas. Setidaknya dengan begini dia bisa sedikit melonggarkan pikirannya.


***


"Hai, Bel."


"Eh, iya, Pak Arkan."


Arkan menaikkan satu alisnya. "Saya bukan dosen kamu, Bel. Kenapa harus panggil Pak?"


"Tapi Pak Arkan tetap dosen di sini meskipun tidak mengajar di kelas saya. Saya harus tetap hormat, kan?"


Arkan mengangguk-anggukkan kepalanya. "Oke. Saya boleh minta alamat rumah kamu, Bel?"


Kini Belva yang mengerutkan keningnya. Menatap Arkan penuh tanya. "Mau ngapain?"


"Mau bertemu dengan Pak Darmawan. Meminta ijin untuk mempersunting putri satu-satunya."


"Pak Arkan serius? Saya sudah punya pacar."


"Saya serius. Daripada pacar kamu hanya berani macarin tanpa berani menikahi?"


Tidak tahu saja dia, batin Belva. Arkan tidak tahu kalau bahkan Belva sudah bersuami. Bahkan telah melewatkan malam-malam yang begitu panas. Ah, bukan saatnya memikirkan hal itu.


"Tapi saya nggak mau."


"Kalau Allah menakdirkan saya jodoh kamu. Mau kamu nggak mau pun akan tetap menikah dengan saya."


"Pak Arkan yakin kalau ucapan bapak ini tidak akan menyakiti hati seseorang?"


Giliran Arkan yang mengerutkan keningnya. "Maksud kamu apa?"


Belva tertawa sinis. "Jangan pikir saya nggak tau, Pak. Pak Arkan sudah menikah, kan? Lebih baik bahagiakan istri Pak Arkan daripada merayu wanita lain. Aku lihat dari kedua mata istri Pak Arkan, dia tidak bahagia. Kasian sekali dia dapat suami macam Pak Arkan ini yang sukanya merayu wanita lain padahal di rumahnya sudah ada bidadari."


Setelah berkata seperti itu, Belva berlalu meninggalkan Arkan. Tidak peduli dengan reaksi Arkan yang menahan kekesalannya.


Mungkin dia bertanya-tanya dari mana Belva tau kalau Arkan sudah menikah.


Beberapa hari yang lalu, saat Belva tengah menghabiskan waktunya bersama mamanya, mereka bertemu dengan ibu Arkan bersama seorang wanita berhijab. Cantik, baik, murah senyum, tapi irit bicara. Belva bisa melihat juga kalau matanya seperti menyimpan begitu banyak luka.


Karena dulu mereka pernah bertetangga dan sudah lama tidak bertemu, mereka mengobrol banyak hal. Termasuk menanyakan siapa wanita itu.


Ternyata dia adalah istri dari Arkan.


Tentu Belva sangat terkejut. Selama ini, Arkan sering sekali terang-terangan mendekatinya. Sekedar mengirim pesan singkat yang berisi perhatian-perhatian kecil yang sering Belva abaikan begitu saja.


Bahkan Belva harus memblokir nomor Arkan karena takut Gilang mengetahuinya.


Sekarang Belva paham luka seperti apa yang istri Arkan rasakan. Bisa jadi Arkan tidak mencintai dia. Terbukti dari pernikahan yang disembunyikan. Juga Arkan yang berani menggoda Belva.


♥️♥️♥️

__ADS_1


sengaja di ulur begini biar bisa ngerasain bikin novel yang partnya sampai ratusan. biasanya cuma mentok di 80 aja. 😌😌


__ADS_2