
"Lang, Belva kemana? Mama teleponin dia nggak diangkat. Mikha juga udah coba telepon tapi nggak diangkat juga. Papa juga. Dia baik-baik aja, kan, Lang? Kalian lagi nggak ada masalah, kan?"
Gilang memijat keningnya. Sedikit frustasi karena masalah ini. Belum usai keterkejutannya membaca isi pesan dari ibu mertuanya, Mamanya telepon dengan suara penuh kekhawatiran karena Belva yang tak mau mengangkat telepon darinya.
Karena cemburunya yang keterlaluan, masalah yang sebenarnya bisa dia selesaikan dengan Belva sendiri menjadi sebesar ini.
Harusnya Gilang bisa menahan emosinya. Menanyai Belva secara baik-baik siapa lelaki itu. Bukan malah menuduh mereka menjalin hubungan. Bahkan sampai mengira bahwa anak yang dikandung Belva bukan anaknya.
Kalau sudah seperti ini, Gilang pun tak akan bisa menyelesaikannya sendiri. Belva sudah melibatkan kedua orangtuanya.
Lalu Gilang pikir, kepada siapa lagi Belva akan berlindung kecuali dengan kedua orangtuanya? Sedangkan Gilang yang dianggap sebagai rumah sudah mematahkan, bahkan menghancurkan hatinya.
"Belva lagi kuliah, Ma. Masa mau ngangkat telepon?" jawab Gilang, berbohong lagi.
"Mama nggak percaya. Masa kuliah nggak ada istirahatnya? Mama coba telepon dia dari pagi loh."
"Dia lagi sibuk mungkin, Ma_"
"Udah nggak usah banyak omong, Lang. Kamu lagi ada masalah, kan, sama dia? Ada apa lagi? Kamu apain lagi Belva?"
"Maa..."
"Belva itu anak baik. Jadi kalau ada masalah apa-apa, pasti datangnya dari kamu." Yunita tak memberikan kesempatan Gilang untuk berbicara.
Lagipula, meskipun Gilang diberi kesempatan untuk bicara, yang dia ucapkan hanyalah kebohongan untuk menutupi kesalahannya sendiri.
"Awas kamu, Lang, kalau sampai pernikahan kamu kali ini gagal lagi."
Tak ada yang bisa Gilang ucapkan sampai Yunita kembali memutus sambungan teleponnya.
***
"Maaf, Mas. Bapak sama ibu tidak mengijinkan Mas Gilang untuk masuk ke dalam," ucap satpam rumah Belva.
Selain tidak mengijinkan Gilang untuk bertemu dengan Belva lagi, Gilang juga sudah tidak diijinkan untuk menginjakkan kakinya di kediaman Darmawan.
"Ini, Mas." Satpam tersebut menyerahkan tas yang tidak terlalu besar.
__ADS_1
Gilang memandang satpam tersebut dengan penuh tanya. "Apa ini?"
"Saya kurang tau, Mas. Mbak Belva yang nitip ini kemarin. Suruh ngasih ke Mas Gilang kalau Mas Gilang ke sini."
Gilang segera menerimany, lalu meletakkannya ke tempat duduk sampingnya.
Tak ingin membuang waktu dengan memohon agar bisa masuk ke dalam rumah Darmawan, Gilang lebih memilih pergi meninggalkan rumah mewah tersebut.
Kalau bukan karena Mamanya, Gilang sendiri masih enggan untuk menemui Belva yang menurutnya telah mengecewakan dirinya.
Saat Gilang membuka tas tersebut, di dalamnya ada beberapa potong pakaiannya yang masih tertinggal di rumah Darmawan.
Tak ada yang lain. Hanya beberapa potong pakaian saja.
🌻🌻🌻
Belva sudah mulai kuliah lagi setelah absen beberapa hari. Life must go on. Hidup harus terus berjalan, bukan?
Hatinya memang hancur, fisiknya memang sedang tidak baik-baik saja karena mual dan muntah yang dia rasakan setiap paginya. Tapi Belva tidak boleh terpuruk. Hidupnya tidak hanya seputar Gilang saja.
Memang cintanya tak mungkin berhenti begitu saja. Tapi rasa kecewanya mengalahkan rasa cintanya untuk Gilang.
Belva menggelengkan kepalanya. "Aku belum tau, Ran."
"Apa kamu tidak mau menjelaskan apapun ke dia?"
Belva menggelengkan kepalanya lagi. "Orang kalau cemburu, dia nggak akan pernah dengar apapun penjelasannya, Ran. Biar waktu yang membuat dia paham."
"Kamu nggak mau berjuang, Bel? Bagaimanapun waktu itu dia lagi capek pulang kerja. Maaf, bukannya aku ikut campur atau membela dia, ya. Tapi menurutku, selama masih bisa diperbaiki, kenapa enggak? Maksudku gini, loh. Di sini, suami kamu itu salah paham. Jadi rasanya sayang aja kalau pernikahan harus selesai hanya karena sebuah kesalahpahaman."
Kali ini Belva mengangguk paham. Dia sangat paham dengan apa yang diucapkan Rania. "Perkataan dia yang menyakiti aku, Ran. Bayangkan jika kamu yang mengalami hal ini. Anak yang kamu kandung, dikiranya bukan anak hasil dari benih suami kamu. Sakitnya lagi, suami kamu sendiri yang mengucapkan hal tersebut. Mungkin aku masih bisa tahan kalau yang mengatakan orang lain, Ran. Tapi ini suamiku sendiri yang meragukan anak yang aku kandung itu anak dia atau bukan. Secara tidak langsung dia menganggap aku perempuan murahan, yang mau ditiduri laki-laki lain."
Belva menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Setelahnya, Belva kembali berucap, "aku sudah pernah berjuang untuk mendapatkan cintanya, Ran. Tapi kali ini aku tidak akan membuang waktuku untuk memperjuangkan lelaki yang tidak percaya denganku lagi."
"Ada anak diantara kalian."
Belva tersenyum sinis. "Ini anakku. Dia pun tak menganggap ini anaknya. Aku pun bisa jika harus membesarkannya seorang diri. Tanpa ayahnya, dia akan baik-baik saja."
__ADS_1
"Itu yang kamu lihat. Tapi kamu tidak pernah tau apa yang dirasakan oleh seorang anak yang tumbuh tanpa ada seorang ayah yang mendampingi, Bel."
Mendengar ucapan Rania, Belva terdiam dan menundukkan kepalanya. Sambil meyakinkan dirinya bahwa dia bisa membesarkan anaknya sendiri.
"Maaf kalau aku ikut campur terlalu jauh. Tapi apapun keputusan kamu, asalkan itu yang terbaik dan membuat kamu bahagia, aku pasti mendukungmu."
"Makasih, ya, Ran. Aku seneng punya sahabat kayak kamu sama Eliza."
"Kapan-kapan kenalin aku sama Eliza, dong, Bel."
Belva tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Boleh. Nanti kita atur waktu buat ketemu, ya."
"Eh, iya. Ngomong-ngomong, kamu masih mau, kan, ketemu dan ngobrol sama Kak Indra? Kemarin dia bilang kalau takut kamu nggak mau lagi ngobrol sama dia karena masalah kemarin."
Tawa renyah Belva berderai. "Boleh, kok," ucapnya. Lagipula, Indra tidak bersalah dalam hal ini.
Harusnya dia yang khawatir kalau dia tidak akan memiliki teman lagi setelah kejadian kemarin.
***
Sejak tadi handphone Belva berdering. Nama Mikha dan ibu mertuanya silih berganti memenuhi layar handphonenya sebagai pemanggil.
Tapi Belva pun enggan menerimanya.
Mereka memang tidak bersalah. Bahkan mungkin belum tau bagaimana perlakuan Gilang terhadap dirinya.
Entah kapan, tapi Belva pasti akan menemui mereka. Menjelaskan duduk perkara yang terjadi. Yang pasti tidak dalam waktu dekat. Belva masih ingin menenangkan dirinya. Lepas dari soal Gilang untuk sementara waktu.
Saat ini, Belva pun tau Gilang tengah berada di parkiran kampus. Entah untuk apa dia ada di sana. Belva rasa dia tidak mungkin menunggu Belva.
Untuk apa? Menyesali perbuatannya? Atau justru semakin menghakimi Belva?
Untung saja pagi tadi dia tidak membawa mobil dan meminta Pak Bambang untuk mengantarnya.
Jadi Belva bisa menyuruh Pak Bambang untuk lewat gerbang belakang kampus untuk menjemput dirinya. Jadi Belva tak perlu bersusah payah untuk berusaha bersembunyi dari Gilang.
🌻🌻🌻
__ADS_1
Aku nggak tau kenapa judul partnya bisa berantakan. 😅 yg penting ceritanya tetap nyambung aja ya ges ya..
****Tapi untuk kali ini,.kayaknya nggak nyambung. aku nggak tau. LG banyak pikiran, mohon dimaafkan untuk semua kesalahan. 😌😌****