Gadis Belia Istri CEO Duda

Gadis Belia Istri CEO Duda
Part 59


__ADS_3

Berada di pelukan Gilang sebenarnya adalah tempat ternyaman bagi Belva.


Meskipun belum sepenuhnya hatinya kembali menerima Gilang, tapi Belva tak menolak saat Gilang memeluk dirinya.


Hati Belva pun masih dihantui rasa takut akibat dari mimpi yang dia alami.


Bagaimana kalau hal buruk itu benar-benar terjadi? Di dalam mimpi saja Belva tidak sanggup menjalaninya. Apalagi jika benar-benar terjadi di dunia nyata? Mungkin selamanya Belva akan dihantui oleh rasa bersalahnya.


Hati Belva bergetar saat Gilang menyentuh perutnya yang sudah sedikit membuncit. Tidak lagi rata. Tanda kehamilan yang paling nyata sudah terlihat.


"Sekarang berapa usianya?" tanya Gilang.


"Enam belas Minggu."


"Udah bisa lihat jenis kelaminnya belum?"


"Emangnya bisa dilihat, ya?" tanya Belva dengan polos.


Dua kali melakukan pemeriksaan, Belva masih belum paham kalau jenis kelamin bisa terlihat melalui proses USG.


"Bisa lewat USG. Nanti kita lihat berdua, ya."


Belva menganggukkan kepalanya. Suara Gilang terdengar begitu lembut menyapa telinganya.


Gilang kembali mengeratkan pelukannya. Dia amat sangat merindukan Belva. Tak akan pernah dia lakukan lagi hal bodoh yang membuat Belva pergi darinya. Hampir saja dia kehilangan Belva.


Bahkan Gilang pun meneteskan air matanya karena begitu bahagia dan sangat bersyukur Belva mau menerimanya kembali.


"Mas Gilang nangis?" tanya Belva dan berniat untuk merenggangkan pelukan mereka.


Tapi Gilang segera menahan tubuh Belva agar tak melepaskan pelukan. "Mas bahagia sekali kamu mau menerima Mas kembali, Sayang."


"Mas... Aku..."


"Mas hanya ingin memelukmu, Sayang."


"Aku belum ngomong kalau aku menerima Mas Gilang lagi."


"Kamu tidak perlu bicara, Sayang. Kamu menolak pun Mas akan memaksa kamu menerima Mas lagi."


"Kok, gitu?" Kini Belva benar-benar menjauhkan diri dari Gilang. Melepas pelukan Gilang.


"Memangnya kamu nggak mau balik lagi ke Mas, sayang? Nggak mau terima Mas lagi?"


"Papa mamaku belum tentu mau menerima Mas Gilang lagi."


"Itu bisa kita pikirkan lagi, Sayang. Yang terpenting kamu mau menerima Mas lagi."


"Nggak ada aku ngomong begitu."


"Terus kamu maunya apa?"


Ditanya seperti itu, Belva hanya bisa diam. Jujur, keinginan untuk meminta cerai dengan Gilang itu sudah enyah. Belva tidak tahu kapan Belva mulai merasa bahwa dia tidak ingin berpisah dengan Gilang.


"Kamu mau kita tetap berce_"


Belum juga menyelesaikan ucapannya, mulut Gilang sudah dibungkam dengan tangan Belva. "Jangan dilanjutin, Mas!" seru Belva.


Gilang tersenyum lebar. Tangannya lalu mengambil tangan Belva yang Belva gunakan untuk membungkam mulutnya. Lalu Gilang mencium tangan Belva tersebut berulangkali.

__ADS_1


"Kalau mau berhentiin Mas bicara, jangan pakai tangan, Sayang."


"Terus maunya pakai apa? Kaki? Di tendang gitu?"


"Jahat banget sih, Yang. Pakai bibir, dong. Dicium gitu."


"Dih, cari kesempatan. Dasar om-om mesum." Belva memalingkan wajah.


"Memangnya kamu nggak kangen sama ciuman, Mas, sayang?"


"Enggak," jawab Belva tanpa menatap Gilang.


Gilang menyentuh dagu Belva. Menariknya pelan sampai wajah Belva kini berhadapan dengan Gilang.


"Beneran nggak kangen?" Gilang menatap Belva dengan lekat sampai Belva terlihat salah tingkah.


"Eng..gak." Belva tak bisa menutupi kegugupannya. Jantungnya sudah berlompatan di dalam sana.


Gilang tersenyum lembut. Melihat Belva yang salah tingkah memberikan kebahagiaan tersendiri baginya. Tidak perlu dipertanyakan lagi. Belva memang merindukan dirinya. Semua terbaca dari gerak tubuh Belva saat Gilang semakin mendekatkan wajahnya.


Belva sudah hampir menghindar kalau saja Gilang tidak cepat-cepat menahan kepala belakang Belva agar Belva tetap diam.


Tak ingin membuang waktu lagi, Gilang segera mencium bibir Belva dan melu*atnya lebih dalam.


Kedua mata mereka sama-sama terpejam. Menikmati ciuman yang sudah lama tidak mereka berdua lakukan.


Belva rindu, Gilang pun tak kalah rindunya.


Tanpa sadar, kedua tangan Belva pun sudah mengalung di leher Gilang. Bahkan Belva tak segan mencengkeram pelan rambut Gilang.


Gilang tak tahan. Sayang, tangannya yang diinfus membuatnya tidak bisa bergerak banyak untuk menyentuh Belva.


Napas Belva masih memburu saat Gilang melepaskan ciumannya. Gilang tersenyum dan menatapnya lekat. "Mau yang lebih nggak?"


"Nggak paham?"


Belva menggelengkan kepalanya. "Masa udah lupa?"


"Apa, sih, Mas?"


Tanpa menjawab, Gilang berdiri dan berjalan ke arah pintu.


"Mas Gilang mau kemana?"


"Mau minta suster buat lepas infus, Sayang."


"Nggak usah aneh-aneh, deh. Masih sakit juga."


"Udah sembuh. Ternyata obatnya bukan infus atau obat rumah sakit."


"Terus?"


"Obatnya kamu." Gilang mengedipkan satu matanya dengan genit.


***


Setelah hasil pemeriksaan medis keluar dan Gilang tidak mengalami luka dalam akibat kecelakaan yang terjadi siang tadi, Gilang diijinkan pulang malam ini meskipun dengan sedikit memaksa dokter agar diijinkan untuk pulang.


Yunita hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Gilang yang kembali kasmaran. Apalagi saat Gilang mengatakan bahwa dia dan Belva akan pulang ke rumah mereka. Yunita pun pasrah ketika dia harus pulang bersama sopirnya saja.

__ADS_1


Hal itu tentu menjadi hal yang membahagiakan bagi Yunita. Dia melihat Gilang dan Belva sudah berbaikan. Kembali menjalin rumah tangga dan Belva urung melayangkan gugatan cerainya.


"Aku nggak mau pulang sama Mas Gilang."


Ucapan Belva membuat langkah Gilang terhenti. Gilang memandang Belva penuh tanya. "Kamu bilang apa, Sayang?"


"Aku mau pulang ke hotel. Barang-barang aku masih ada di sana."


"Oke. Malam ini kita menginap dulu di hotel."


"Tanpa Mas Gilang."


"Kenapa, sih, Sayang? Aku maksa keluar rumah sakit malam ini demi kamu, Sayang."


"Aku nggak minta Mas Gilang melakukan itu."


Gilang menghembuskan napas panjang. Mencoba bersikap tenang, Gilang mengajak Belva untuk masuk terlebih dahulu ke dalam mobil.


"Kamu kenapa lagi, sih, Sayang? Bukannya kamu udah mau terima Mas lagi? Kenapa sekarang jadi begini lagi, sih?"


"Mas Gilang belum bisa dapat maaf dari Papa dan Mama. Sebelum itu, kita tetap sendiri-sendiri dulu."


"Tega kamu, Yang? Kamu istri Mas loh. Harus nurut sama Mas karena kamu sudah menjadi tanggungjawab Mas. Ingat, kan, kalau seorang istri itu sudah milik suaminya setelah dia menikah? Jadi suami dulu, baru orangtua. Selama Mas tidak menyuruhmu durhaka, kamu harus nurut sama Mas."


"Mas sendiri yang udah durhaka sama orangtua aku."


"Iya, nggak perlu diingatkan lagi Mas udah paham, Sayang. Mas akan minta maaf. Besok atau lusa kita ke Surabaya. Mas akan minta maaf sama Papa dan Mama. Kalau perlu Mas akan sujud di kaki mereka untuk mendapatkan maaf dari mereka. Sekarang kita pulang, ya."


Belva tak bicara banyak. Melarang Gilang untuk tidak dekat-dekat dulu dengan dirinya pun akan percuma.


"Ke hotel, bukan pulang."


"Iya. Menginap di hotel biar suasananya makin panas. Nanti kita pindah ke kamar suite, ya."


"Buat apa? Sama aja kamarnya nggak usah pindah-pindah segala."


Gilang tak menjawab lagi. Tapi Gilang mengutak-atik handphonenya lalu menelpon seseorang yang Belva tidak tau itu siapa.


"Pindahkan barang-barang di kamar 703 ke kamar suite, ya? Lantai paling atas. Siapkan juga kamar untuk honeymoon."


Belva melebarkan kedua matanya mendengar kata honeymoon. Setelah Gilang menyelesaikan percakapannya dengan seseorang itu, Belva menatap Gilang dengan tajam.


"Mas Gilang telepon siapa? Kenapa barang-barang aku dipindah ke kamar lain? Pakai minta paket honeymoon lagi."


"Resepsionis hotel."


"Kok, bisa punya nomor hotel itu?"


"Asal kamu tau, Sayang. Enam puluh persen saham hotel tersebut milik Mas. Biaya selama kamu dan kedua temanmu menginap sudah Mas tanggung. Uangmu sudah Mas transfer lagi ke rekeningmu."


Lagi-lagi Belva tidak bisa berkata-kata setelah mendengar ucapan Gilang. Belva tak pernah tau bahwa harta kekayaan Gilang juga bersumber dari hotel tersebut.


"Soal honeymoon, kita memang mau honeymoon, kan, sayang? Sementara di sini dulu. Mas urus cuti dulu, bulan depan kita pergi kemanapun kamu mau. Nanti non stop, ya? Kan, udah lama enggak gituan."


Wajah Belva memerah mendengarnya. Jantungnya berdebar, seperti ada ribuan kupu-kupu yang berterbangan di dalam perutnya.


Belva berpikir, jika Belva menuruti keinginan Gilang malam ini, bukan berarti Belva murahan, kan?


Gilang suaminya. Mereka juga baru saja berbaikan. Hati Belva juga sepenuhnya sudah memaafkan Gilang.

__ADS_1


🌻🌻🌻


Pada seneng nggak Belva Gilang baikan? kalau nggak seneng besok aku buat marahan lagi, deh. 😌


__ADS_2