Gadis Belia Istri CEO Duda

Gadis Belia Istri CEO Duda
Part 53


__ADS_3

"Ini Eliza, ya?"


"Rania?"


Rania menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Dia lalu menyalami Eliza sebagai bentuk perkenalan.


Dua hari yang lalu, Rania dan Eliza sama-sama mendapatkan paket yang berisi tiket konser Tulus di Jakarta yang akan di gelar seminggu lagi. Beserta tiket pesawat dan nomor kamar hotel yang sudah di booking untuk mereka.


Ini merupakan janji Belva beberapa Minggu yang lalu saat Rania mengatakan ingin menonton konser Tulus.


Mereka sudah tau bahwa pengirim paket itu adalah Belva. Tapi mereka juga bertanya-tanya, mengapa nomor Belva masih belum aktif juga?


Tentu bertanya-tanya dimana keberadaan Belva sekarang. Sudah sebulan lamanya Belva menghilang. Berita menghilangnya pun sudah tidak di update lagi. Pertanda memang Belva sudah ditemukan, namun tak ingin keluar dari persembunyiannya.


Rania dikirim tiket bersama dengan nomor handphone Eliza yang Belva ingat. Karena Belva tidak mau membuka handphone untuk melihat nomor Rania.


Yang Belva ingat hanya nomor Eliza yang begitu mudah dihafal, dan tidak pernah diganti dari dia kelas satu SMA.


Karena itu Rania bisa menelepon Eliza untuk berjanjian untuk bertemu terlebih dahulu sebelum mereka berangkat ke Jakarta.


Dimasing-masing paket juga bertuliskan sebuah surat di kertas yang tidak begitu besar.


"Aku baik-baik saja, kok. Ini tiket yang aku janjikan kemarin. Tapi maaf, aku nggak bisa ikut. Aku masih butuh waktu untuk menenangkan diri. Have fun ya kalian. Miss you."


Mereka bertemu di parkiran fakultas kesehatan karena mereka berada di kampus yang sama, hanya berbeda fakultas saja.


"Ada kabar soal Belva enggak?" tanya Rania.


Eliza menggelengkan kepalanya dan memasang wajah sedih. Baru kali ini Belva pergi menghilang tanpa kabar. "Nggak ada kabar apapun. Pas aku datang ke rumahnya kemarin, rumahnya malah kayak rumah yang udah lama nggak ditempati."


"Maksudnya?"


"Kotor. Halaman rumah kotor banget. Rumah juga sepi banget. Lampu depan rumah nyala terus walaupun siang hari."


"Kira-kira Belva kemana, ya, El? Harusnya kita nonton bertiga. Tapi dia malah ngirim tiket buat kita berdua."


"Nggak tau aku, Ran. Yang penting dia baik-baik aja di manapun dia berada."


Rania mengangguk setuju.


***


Meski tanpa Belva dan tentu saja ada rasa yang kurang di hati mereka, mereka tetap menikmati lagu-lagu yang dibawakan oleh Tulus.


Alunan nada membawa mereka hanyut dalam kenangan yang mungkin tersisa.


"Mau minuman nggak, Kak? Aku bawa banyak nih." Seseorang yang duduk di samping Rania menawarkan sebuah minuman.


Rania mengerutkan keningnya. Merasa aneh dengan minuman yang ditawarkan. Takut ada obat di dalamnya dan Rania akan dirampok seperti di berita-berita yang pernah ada.

__ADS_1


"Nggak ada obatnya, Kak, yaelah. Takut, ya?"


Rania tersenyum canggung. Merasa tidak enak karena telah menolak minuman yang diberikan oleh gadis di sampingnya.


Gadis dengan wajah tertutup masker dan kacamata hitam.


Menurut Rania itu aneh. Di dalam ruangan seperti itu gadis tersebut memakai kacamata hitam.


"Apa, sih, Ran?" tanya Eliza dengan sedikit keras.


"Ada yang nawarin minum. Nggak enak mau nolak, El."


"Jangan diterima. Ntar ada apa-apanya terus kita dirampok lagi. Serem."


"Aku tadi mikirnya juga gitu."


Percakapan mereka yang tidak bisa dibilang pelan masih bisa didengar oleh gadis yang ada di samping Rania.


Gadis itu tersenyum lebar di balik masker dan kacamata hitamnya. Lalu mengirimkan pesan kepada Eliza dan Rania dengan isi yang sama.


[Sombong amat, sih, Kak, nggak mau terima minuman dari aku?]


Eliza dan Rania saling pandang setelah membaca pesan tersebut. Pesan yang dikirimkan oleh Belva. Seseorang yang telah lama menghilang.


"Belva!"


"Belva!" panggil Eliza dan Rania secara bersamaan.


Tapi keduanya tidak peduli. Keduanya segera memeluk Belva dengan erat tanpa memperdulikan sebagian orang yang memperhatikan mereka.


"I miss you so much," ucap Rania.


"Kamu kemana aja, Bel? Baik-baik aja, kan?" sambung Eliza.


"Kita ngobrol nanti lagi, ya. Mending nonton Tulus dulu. Sayang, udah mau selesai."


Mereka mengangguk menyetujui usulan Belva. Menikmati merdunya suara Tulus sampai akhir dengan Belva yang berpindah tempat duduk menjadi di tengah-tengah Eliza dan Rania.


***


"Udah puas ngilangnya?" tanya Rania.


"Udah puas bikin khawatir?" sambung Eliza.


"Udah puas pergi tanpa kabar? timpal Rania.


"Udah selesai drama penculiknya?" Eliza menyambung lagi.


Belva tertawa kecil. "Kompak banget, sih? Baru juga kenal seminggu."

__ADS_1


"Diam!"


"Diam!" ucap Rania dan Eliza secara kompak lagi.


"Kita sedang bicara serius saat ini," sambung Eliza.


"Siap salah." Belva menunduk dan menahan senyumannya.


"Kamu hanya diijinkan bicara jika pembicaraan kamu itu berisi penjelasan yang sangat jelas."


Belva menganggukkan kepalanya. "Aku nggak pernah diculik." Belva mulai bercerita.


"Terus berita itu?"


"Itu real. Mereka mencariku karena Papa dan Mama aku pun nggak tau aku ada dimana." Belva menarik napas lalu menghembuskannya perlahan. "Memang awal mulanya aku seperti akan diculik. Mobilku dihadang dan dihentikan oleh orang-orang yang menurutku menyeramkan meskipun pakaian mereka sangat rapi. Aku nggak mau banyak berontak karena takut mereka berbuat kasar dan berakibat buruk pada kandungan aku."


"Kamu pasrah gitu?" tanya Rania menyela ucapan Belva.


Belva mengangguk membenarkan. "Yes. Aku pasrah meskipun takutnya setengah mati. Pengen lari tapi aku sadar ada anak yang harus aku lindungi. Tapi ketakutanku hilang begitu saja saat aku tau siapa yang membawaku."


"Siapa?"


"Siapa?" Secara bersamaan lagi Eliza dan Rania bertanya pada Belva.


"Kakak sepupuku yang baru pulang dari luar negeri. Entah dari siapa dia bisa tahu semua tentang kehidupan aku. Bahkan masalahku dengan Gilang pun dia tau."


"Fiks dia cinta sama kamu kalau kayak gitu, Bel."


Belva mengangguk lagi. "I know. Aku bisa lihat dari kedua matanya dan semua sikapnya dalam memperlakukan aku. Tapi dia nggak mau ngomong. Aku juga nggak akan menanyakan hal tersebut."


"Dia sadar kamu udah ada suami. Meskipun kita nggak tau hubungan kamu sama suami kamu kayak gimana saat ini."


Kepala Belva menggeleng seiring dengan tawa miris yang keluar dari bibirnya. "Aku nggak pernah lagi ketemu dia sejak terakhir di kampus sebulan yang lalu. Nomornya juga udah aku blokir. Keluarganya nyoba hubungin aku juga nggak aku gubris."


Rania dan Eliza saling pandang. Mungkin yang ada di dalam pikiran mereka sama. Kemana arah pernikahan Belva dan Gilang nanti?


Tapi sadar bukan kapasitas mereka untuk ikut campur, mereka tak ingin menanyakan hal tersebut pada Belva.


"Terus mobil kamu ada di rumah kalian yang di Jakarta katanya? Kamu di sana apa gimana, sih?"


"Itu akal-akalan Kak Rey doang yang pengen ngerjain Gilang. Udah, ah. Males banget bahas itu semua. Mending balik hotel aja, yuk. Aku capek, ngantuk. You know that i'm pregnant now."


"Oke, bumil. Btw kita nggak sekamar kan, ya?" tanya Eliza.


"Tadinya aku mau pesen yang kamarnya ada tiga bed. Tapi ternyata nggak ada. Mau aku pesankan satu-satu ntar kalian kesepian lagi. Jadi yang twin bed buat kalian. Aku yang satu aja di depan kamar kalian, kok. Lagian lagi hamil gini tidurku lasak banget. Butuh tempat yang luas." Belva tertawa di akhir kalimatnya.


Ketiganya langsung menuju hotel yang sudah Belva booking jauh-jauh hari. Letaknya tak begitu jauh dari tempat mereka menonton konser.


🌻🌻🌻

__ADS_1


Mohon maaf kemarin nggak update. baru lemes banget badan aku. kayaknya besok Gilang sama Belva ketemu ya. tungguin aja. 😁


__ADS_2