Gadis Belia Istri CEO Duda

Gadis Belia Istri CEO Duda
Part 42


__ADS_3

Sudah lima menit lebih Belva dan Rania berhenti di depan apotek yang berada tak jauh dari kampus mereka.


Motor sudah terparkir tapi Belva belum juga turun dari motor Rania.


Rasanya ragu, malu, takut. Wajah Belva terlalu baby face untuk membeli sebuah testpack.


"Aku tau apa yang ada di pikiran kamu, Bel."


Belva menganggukkan kepalanya. "Alhamdulillah kalau kamu paham. Tolong beliin, ya."


"Ih, nggak mau," tolak Rania dengan cepat. "Cepetan sana sebelum mereka benar-benar mengira kamu hamil di luar nikah!"


"Pindah apotek aja, deh. Mbaknya udah lama ngeliatin kita. Pasti nanti kalau aku masuk beneran ngira aku hamil di luar nikah."


"Ya ngapain tadi nggak cepet-cepet masuk, Bel? Kalau nanti di apotek satunya gini lagi, aku nggak mau ngantar lagi."


"Ih, kok, gitu?"


"Ya habisnya kamu, sih..."


"Iya, iya. Ayo."


Rania mengantar Belva ke apotek yang lain. Sekitar dua kilometer dari apotek sebelumnya.


Mengingat ancaman Rania, Belva langsung turun dari motor setelah Rania memarkirkan motornya.


Belva memberanikan diri untuk masuk ke dalam apotek dan meminta sebuah testpack yang paling bagus.


"Kelas berapa, dek?"


Belva mengerutkan keningnya. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri. Barangkali ada orang lain yang datang membeli. Tapi ternyata hanya dirinya.


"Jangan digugurkan, ya, kalau beneran hamil. Suruh pacarnya tanggung jawab. Jangan boleh kabur."


Belva semakin tidak mengerti.


"Maksudnya apa, ya, Mbak?" tanya Belva pada pelayan apotek yang mungkin usianya masih sekitar dua puluh limaan.


"Pasti pacarannya keterusan, ya, sampai beli testpack begini?"


"Saya sudah menikah, Mbak," jawab Belva dengan cepat, namun tetap tenang meskipun tersinggung dengan ucapan wanita itu.

__ADS_1


Wanita itu menatap Belva tak percaya. "Paling baru kelas tiga, kan? Masa udah nikah, sih?"


"Tapi kayaknya ini bukan urusan Mbak, ya. Saya hanya membeli di sini, bukan minta untuk dikomentari. Saya bisa laporkan atas pencemaran nama baik. Asal Mbak tau, saya mahasiswi semester dua dan saya sudah menikah. Masih nggak juga? Apa perlu saya tunjukkan buktinya?"


Wanita itu menggelengkan kepalanya dengan wajah yang takut. Berani menyenggol tapi disenggol sedikit langsung panik.


"Lemes banget itu mulut. Berapa jadinya?" tanya Belva dengan sengit. Tak biasanya dia sekasar ini dalam berbicara. Tapi ucapan wanita itu benar-benar menyinggungnya.


Memangnya dia perempuan apaan?


"Harganya seratus tiga puluh enam ribu."


Belva mengeluarkan dua lembar uang berwarna merah menyala. Lalu meletakkan ke atas etalase. "Kembaliannya ambil aja!" ucapnya lalu pergi dengan membawa dua buah testpack di sebuah kantung plastik.


Rania yang menunggu Belva di luar pun bertanya-tanya kenapa Belva keluar dalam keadaan wajah yang terlihat begitu kesal.


Rania juga sempat melihat Belva berdebat kecil dengan penjaga apotek tersebut.


"Kenapa, sih, kayaknya ribut-ribut gitu?"


"Beneran dikira anak SMA yang hamil di luar nikah, dong, Ran. Kesel banget aku. Aturan yang beli Mas Gilang, deh, kayaknya."


"Lah? Kenapa nggak nyuruh suami kamu aja buat beli?"


"Ciyeee..." Rania justru menggoda Belva. "Ya udah, sih. Anggap aja itu pengorbanan buat ngasih kejutan ke suami kamu."


Belva mengangguk lesu.


Keduanya langsung meninggalkan pelataran apotek tersebut dan kembali ke kampus karena setelah ini masih ada kelas lagi.


***


Belva tidak tahu menahu soal seperti ini.


Bagaimana cara memakai testpack tersebut pun Belva tidak tahu.


"Kan, ada petunjuknya di wadahnya itu, Bel. Jangan malas baca!" Omel Rania di seberang sana. Rania gemas sendiri dengan Belva yang mendadak lemot.


"Oh. Iya, ya? Wadahnya udah aku buang," jawab Belva dengan polos. Tidak tahu saja dia kalau Rania merasa gemas dengan dirinya.


"Aduh, Bel. Googling!"

__ADS_1


"Oke, oke."


Belva segera mencari tahu bagaimana cara menggunakan testpack tersebut. "Lebih baik pagi setelah bangun tidur karena urin di pagi hari mengandung konsentrasi hormon HCG yang tinggi," gumam Belva membaca hasil pencairannya.


Masih ragu, Belva rela membuka tempat sampah yang ada di kamar mandinya untuk mengambil wadah testpack tersebut. Ya, meskipun dengan sedikit jijik karena harus membuka tempat sampah.


"Oh, berarti harus besok pagi, dong?" tanyanya tanpa mendapatkan jawaban dari siapapun karena dia sendiri di dalam kamar.


Sambungan teleponnya dengan Rania pun sudah Belva akhiri lima menit yang lalu.


"Nggak sabar nunggu pagi tau!" Belva berbicara sendiri lagi.


"Tapi ini katanya lebih baik pagi hari saat bangun tidur. Berarti sekarang juga bisa walaupun artinya nggak lebih baik. Iya nggak, sih? Ah, coba, deh, satu yang udah aku buka ini. Tadi ini yang murah. Besok pagi baru yang satunya."


Sesuai petunjuk yang ada di dalam wadah tersebut, setelah menampung urine-nya di wadah kecil, Belva segera mencelupkan testpack tersebut ke dalamnya.


"Tunggu selama tiga menit. Garis satu negatif, garis dua positif," ucapnya sambil membaca pengunjuk pemakaian lagi. "Lama!" komentarnya dengan tidak sabar.


Karena tak sabar, Belva sudah mengangkat testpack tersebut dengan hati-hati. Ternyata tak sampai tiga menit, testpack tersebut sudah menunjukkan hasil.


Belva mencuci testpack tersebut setelah lebih dari tiga menit. Untuk menghilangkan sisa-sisa urine yang masih menempel. Lalu membawa testpack tersebut keluar dari kamar mandi.


Belva mendudukkan dirinya di atas ranjang. Kedua matanya terus memperhatikan testpack yang ada di tangannya.


"Ini kalau samar begini artinya apa? Di gambar, kan, garis duanya harusnya tebal semua. Ini yang satu samar begini. Kayaknya aku nggak hamil, deh." Belva terlihat kecewa.


Lalu tiba-tiba dia menangis. Membayangkan betapa kecewanya Gilang nanti kalau dia menyadari bahwa Belva telat datang bulan. Terlanjur bahagia, tapi ternyata tidak hamil.


Belva juga sedih kalau ternyata dirinya tidak hamil. Garis dua, tapi yang satu samar. Harusnya kalau hamil garisnya tebal dan jelas, pikir Belva.


Namanya juga belum pernah berpengalaman dalam hal seperti ini. Saking paniknya, Belva sampai tidak berpikiran untuk berkonsultasi pada Mamanya, atau Rania, bahkan dengan Eliza sekalipun yang kuliah di kebidanan.


Ingin menangis di pelukan Gilang, tapi mereka sedang long distance marriage. Gilang berada di Singapura, dan akan lanjut ke Kamboja. Dan akan pulang seminggu lagi.


Lagipula Belva ingin memberikan kejutan sekaligus hadiah ulangtahun untuk Gilang. Tidak mungkin dia menelepon Gilang dan mengadu soal masalah ini.


Saat masih menangis, Belva sadar akan sesuatu. Belva langsung menghentikan tangisnya dan menatap dengan penuh harap satu testpack yang masih belum dia gunakan.


"Kan, tadi katanya lebih baik pagi setelah bangun tidur. Kalau sore begini artinya nggak baik. Besok pagi dicoba lagi aja, deh, ya. Semoga hasilnya nggak samar lagi dan bikin bingung kayak gini," ucapnya dengan sebuah harapan baru.


"Semoga yang ini nanti tidak mengecewakan," ucap Belva dengan penuh harap.

__ADS_1


🌻🌻🌻


Hari Minggu tipis-tipis aja ye kan😌😌


__ADS_2