Gadis Belia Istri CEO Duda

Gadis Belia Istri CEO Duda
Part 79


__ADS_3

Sudah sebulan lamanya Gilang dan Belva berada di Turki. Kini mereka harus kembali ke Indonesia untuk melanjutkan segudang pekerjaan yang sudah lama Gilang tinggalkan.


Keduanya juga perlu untuk mempersiapkan kelahiran anak pertama mereka yang belum diketahui jenis kelaminnya.


"Sampai Jakarta langsung ke dokter dulu, ya, Sayang. Harusnya udah seminggu yang lalu kita lihat anak kita."


Belva mengangguk setuju. Dia juga sudah penasaran dengan jenis kelamin anak pertama mereka yang akan lahir sekitar satu setengah bulan lagi.


***


"Semua sehat dan normal, ya. Baby-nya sepertinya senang sekali habis jalan-jalan dari Turki."


Belva dan Gilang tertawa kecil mendengar ucapan dokter yang menjadi langganan mereka semenjak Belva pindah ke Jakarta.


"Baby-nya cewek apa cowok ya, Dok? Udah keliatan, kan?"


Dokter cantik itupun tertawa kecil. "Saya pikir tidak ada yang pengen tau anaknya cewek apa cowok."


"Pengen lah, Dok. Biar bisa nentuin habis ini mau beli baju warna apa," jawab Belva yang memang sehelai baju pun belum dia beli untuk calon anak mereka.


Untuk anak pertama, Gilang dan Belva termasuk orang yang cukup santai dalam menyiapkan segala keperluan untuk bayi mereka.


Excited. Tapi kata orang tua jangan beli apapun dulu sebelum usia tujuh bulan.


Meskipun Belva dan Gilang tidak terlalu percaya hal-hal seperti itu, mereka memilih untuk patuh saja. Membeli semuanya di usia lebih dari tujuh bulan.


"Siapkan dress yang lucu-lucu, ya, Mama. Aku cewek nih..." ucap dokter Larissa yang membuat Belva dan Gilang tersenyum lebar.


"Alhamdulillah..."


"Cantik banget kayak Mamanya pasti. Hidungnya udah kelihatan mancungnya, ya, Mam?"


Belva mengangguk mengiyakan. USG empat dimensi yang dipilih oleh Belva dan Gilang ternyata memberikan hasil yang cukup memuaskan.


Mereka bisa melihat wajah bayi mereka dengan cukup jelas.


"Mulai banyak gerak, ya, Mam. Senam ibu hamil, jalan pagi, naik turun tangga tidak masalah selama tidak merasakan sakit atau nyeri pada perut."


"Kalau untuk melakukan itu bagaimana, Dok?"


Dokter Larissa langsung paham dengan apa yang tanyakan oleh Gilang meskipun tidak langsung pada intinya.


Belva sampai harus menyenggol lengan Gilang dengan gemas karena merasa malu dengan pertanyaan yang Gilang lontarkan.

__ADS_1


"Sangat boleh, Bapak. Semenjak usia kandungan delapan bulan sudah diperbolehkan untuk sering-sering melakukannya. Bukan tanpa alasan mengapa melakukan **** saat hamil tua yang bisa membantu proses persalinan agar lebih cepat. Hal ini disebabkan pada saat melakukan hubungan intim, tubuh seseorang akan banyak melepas hormon. Hormon-hormon seperti hormon endorphin, oksitosin, dan juga DHEA dilepaskan lewat bagian yang bernama bagian hipofisis. Nah, hormon oksitosin sendiri merupakan hormon yang berguna mendorong pengerahan serat-serat otot yang banyak digunakan saat terjadi kontraksi."


Mendengar jawaban dokter Larissa, Gilang langsung melirik Belva dengan penuh godaan. Lagi-lagi Belva dibuat malu oleh suami tuanya itu.


"Dasar nggak tau umur!" ucap Belva dalam hati.


Setelah urusan periksa dengan dokter Larissa selesai, keduanya langsung meninggalkan rumah sakit.


Tujuan mereka adalah apotek besar yang ada di samping rumah sakit. Sengaja mereka memilih apotek yang ada di luar rumah sakit agar mereka tak perlu mengantri dengan pasien lain jika menebusnya di dalam rumah sakit.


***


"Kita langsung belanja aja boleh nggak, Mas?"


"Enggak, Sayang. Besok, ya. Tadi dokter bilang kamu harus banyak istirahat dulu karena baru saja melakukan perjalan jauh."


Belva menghembuskan napas pasrah. Jiwanya memang menginginkan belanja. Tapi saat ini dia tak bisa lagi egois karena ada nyawa lain yang harus dia jaga kesehatannya juga.


"Oke. Tapi beneran istirahat, ya. Mas Gilang jangan macam-macam."


"Macam-macamnya kita mulai besok saja, Sayang. Mas mau kalian istirahat dulu malam ini."


Belva tak banyak protes. Percuma dia rasa. Bagaimana pun mencoba untuk protes, Belva tetap luluh setiap Gilang menyentuhnya.


🌻🌻🌻


"Hei, kamu nggak apa-apa, Sayang?" Belva segera menolong gadis kecil yang menabrak dirinya.


Entah apa yang dilakukan anak itu sampai dia bisa menabrak Belva.


"Gina, ibu bilang apa? Jangan lari-lari. Nabrak tantenya, kan. Kasian tantenya lagi hamil itu."


Belva mendongak mendengar seseorang mengomel dan menyebut nama anak itu. Memang sebelumnya Belva tak mengenali anak itu karena sebagian wajahnya tertutup rambut panjangnya.


"Maaf, Mbak. Mbak_ Bel? Kamu nggak apa-apa?" tanya Viona melihat seseorang yang ditabrak oleh Regina adalah Belva.


Belva menggelengkan kepalanya dengan kaku. "Eng-enggak apa-apa, Tante."


Viona tertawa kecil. "Masih aja kamu panggil aku Tante."


"Eh, sorry. Mbak Viona better?"


Viona menganggukkan kepalanya. "Kamu beneran nggak apa-apa? Maafin Regina, ya? Anaknya aktif banget."

__ADS_1


Belva tentu terkejut dengan perubahan sikap dan cara bicara Viona kepada dirinya.


Sebulan lebih tidak bertemu. Sekalinya bertemu Viona sudah berubah drastis. Wajah dan suaranya menjadi lebih lembut. Tak banyak nyolot seperti dulu.


"Enggak apa-apa, Mbak. Namanya juga anak kecil. Regina mungkin yang sakit. Dia tadi sempat jatuh."


Viona tertawa kecil. "Selama dia nggak nangis, itu artinya nggak ada yang sakit. Kamu sendirian aja?"


Belva menggelengkan kepalanya. "Aku sama Mas Gilang, sih, Mbak. Dia lagi ke toilet."


"Oh.."


Tak lama kemudian, Gilang datang menghampiri Belva dan Viona. Hampir saja Gilang menuduh Viona yang tidak-tidak kalau saja Regina tidak menyadarkan Gilang.


Regina yang menyadari keberadaan ayahnya terlihat gembira bahkan mengulurkan tangannya untuk meminta gendong.


Gilang menatap Belva sebentar, meminta ijin lewat tatapan matanya. Belva menganggukkan kepalanya tanda setuju. Barulah Gilang membawa Regina ke dalam gendongannya.


"Gina lagi jalan-jalan? Mau beli apa?" tanya Gilang.


"Gina mau tas dan sepatu baru, Ayah. Kata ibu, Gina udah mau sekolah."


"Panggil Papa, ya. No ayah. Gina beli tas dan sepatu sama Papa, ya?"


Sengaja Gilang mengubah panggilan ayah menjadi Papa. Pasangan ayah itu ibu. Sedangkan yang Belva mau mereka dipanggil Papa dan Mama untuk anak mereka nanti.


"Terus Mbak Viona gimana, Mas? Masa ditinggal?" tanya Belva saat Gilang menggandeng tangannya dan menggendong Gina. Berniat untuk mengajak Belva pergi.


"Dia bisa ikut kita kalau mau, Sayang. Kalau nggak mau dia bisa pulang lebih dulu, atau jalan-jalan sendiri. Nanti kita antar Gina pulang."


"Jangan gitu, dong, Mas. Kasian Mbak Viona."


"Aku nggak apa-apa, Bel. Kalian bisa pergi bertiga. Kebetulan aku ada janji dengan temanku di cafe samping mall ini."


Belva kembali dikejutkan dengan reaksi Viona yang terlihat pasrah anaknya dibawa oleh Gilang.


Sepertinya dulu Viona pernah bilang kalau dia dan Gina itu sepaket. Jika ada Gina, maka Viona juga harus ada di dekatnya.


Tapi sekarang Viona banyak berubah. Apa kehilangan banyak darah saat percobaan bunuh diri itu membuatnya sadar?


Atau otaknya sudah dibersihkan saat dia tidak sadar saat percobaan bunuh diri itu?


Ah, Belva jadi penasaran apa yang membuat Viona berubah seperti ini. Harapannya semoga ini bukanlah sebuah kepalsuan dan menjadikan hal ini sebagai celahnya untuk mendapatkan perhatian. Semoga Viona memang benar-benar sudah berubah.

__ADS_1


🌻🌻🌻


__ADS_2