Gadis Belia Istri CEO Duda

Gadis Belia Istri CEO Duda
Part 87


__ADS_3

Jasad Viona telah terkubur di bawah tanah. Belva masih tak percaya Viona akan pergi secepat ini.


Harusnya Belva sudah merasa tenang karena satu-satunya orang yang dianggapnya akan menjadi pengganggu dalam rumah tangganya sudah tiada.


Tapi kenyataannya tidak. Entah apa yang harus dirasakan Belva. Sedih, ada. Tapi tak seberapa karena Viona pun bukan siapa-siapanya.


Senang, haruskah Belva merasa senang ketika ada orang meninggal? Belva tak sejahat itu.


Yang menjadi prioritas Belva dan Gilang kali ini adalah Gina. Bagaimanapun juga sekarang Gilang yang berkewajiban untuk membesarkan dan mendidik Gina.


Gina juga tidak mungkin akan dibiarkan tinggal dengan Risma yang dalam status hubungan tidak ada hubungan apapun. Tidak ada darah yang mengikat antara Risma dan Gina.


"Ma..."


Belva menghampiri Yunita yang tengah duduk sembari memangku Zurra.


"Ya, Sayang. Duduk sini!" Yunita menepuk tempat duduk di sebelahnya.


"Aku pengen ngomong sama Mama."


"Mau ngomong apa, Bel? Tumben?"


Jantung Belva berdebar. Belva harus menarik napas dan menghembuskannya secara berulangkali.


"Aku sama Mas Gilang berencana untuk mengajak Gina tinggal di sini, Ma."


Yunita mengerutkan keningnya. Menatap Belva dengan tajam meskipun hanya sekilas. Lalu kembali menimang Zurra.


"Kenapa?" Nada suara Yunita tak selembut sebelumnya.


"Ibunya sudah meninggal, Ma. Yang dia punya cuma Mas Gilang. Aku pun nggak akan tega melepaskan anak itu begitu saja dengan orang yang tidak ada hubungan darah dengan Gina."


"Kenapa harus tinggal di sini? Kamu dan Gilang sudah kasih pengasuh untuk anak itu, kan?"


Belva mengangguk membenarkan. "Ma, yang salah itu Viona dan Mas Gilang. Gina nggak ada salah apapun. Lagipula, bagaimanapun juga ada darah Papa dan Mama yang mengalir di dalam tubuh Regina. Mungkin Mama hanya membenci Viona sampai kebawa pada Gina. Tapi Viona juga udah nggak ada, Ma. Aku bisa menerima Gina. Berarti Mama pun bisa melakukannya."


Yunita menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan sedikit kasar.


Memang benar adanya yang diucapkan Yunita. Yunita pun paham. Dia hanya membenci Viona. Tapi setiap melihat wajah anak itu, yang dilihatnya adalah wajah Viona.


Viona pun sudah pergi. Tidak ada alasan lagi baginya untuk membenci anak itu.


"Terserah kalian saja, Bel. Tapi Mama masih butuh waktu untuk menerima anak itu."


Belva tersenyum lebar mendengar jawaban Yunita yang terdengar memuaskan. "Nggak masalah, Ma. Aku pun juga butuh waktu untuk menerima Gina. Aku paham Mama butuh waktu juga. Terimakasih, ya, Ma. Doakan kami selalu sehat dan rukun nantinya."


Yunita tersenyum tipis. Raut wajahnya tak sekesal tadi. "Doa Mama dan Papa tidak pernah terputus untuk anak-anak dan cucu-cucu Papa dan Mama."


***


Setelah tujuh hari meninggalnya Viona, Belva sendiri yang datang menjemput Gina dan Rika untuk tinggal di rumahnya.


Hari itu, setelah Belva berhasil mendapatkan ijin dari Yunita untuk membawa Gina tinggal bersama mereka, Belva langsung mengatakannya pada Gilang.


Gilang sangat berterimakasih pada Belva yang telah berusaha untuk mendapatkan ijin dari Yunita.


Beda cerita kalau Gilang yang mengatakannya. Yunita pasti akan langsung menolak mentah-mentah rencana Gilang untuk membawa Gina tinggal bersama mereka.


"Ibu sebenarnya tidak masalah jika ada Gina di sini, Nak Belva. Ibu sudah menganggap Gina seperti cucu ibu sendiri."

__ADS_1


Belva tersenyum. Hatinya paham sekali dengan apa yang dirasakan Risma. Terlihat sekali Risma begitu menyayangi Gina. Apalagi Risma sudah merawat Gina sejak Gina lahir ke dunia.


"Gina menjadi tanggungjawab Mas Gilang, Bu. Kami akan sering bawa Gina untuk datang ke sini menemui ibu."


"Beneran, ya, Nak Belva. Rumah ini pasti sepi sekali tanpa ada Gina."


Belva menganggukkan kepalanya. "Saya janji, Bu."


Gina dan Rika yang sudah selesai menyiapkan semua barang-barang mereka pun akhirnya keluar dari kamar.


Gadis kecil itu terlihat berat sekali untuk meninggalkan Risma. Gina langsung duduk di samping Risma dan memeluk Risma dengan erat.


"Gina jadi anak baik, ya. Yang nurut sama Papa dan..." Risma memandang Belva. Seolah bertanya bagaimana Gina harus memanggil Belva.


Belva yang paham pun segera menatap Gina dengan lembut. "Gina, you can call me Mama," ucapnya dengan senyum mengembang di bibirnya. Sangat ikhlas Belva melakukannya.


"Mama?"


"Yes. Ulangi lagi, Sayang!"


"Mama."


"Good! Gina boleh peluk nenek dulu, Sayang."


Melihat apa yang dilakukan Belva, Risma tak perlu lagi merasa khawatir jika Gina tinggal dengan Gilang dan Belva.


Risma yakin mereka adalah orang-orang baik yang tidak mungkin akan berbuat jahat pada Gina.


***


Tidak ada penyambutan khusus bagi Gina saat Gina menginjakkan kakinya di rumah mewah milik Belva dan Gilang.


"Rumahnya besar, Ma," celetuk Gina mengagumi rumah Gilang yang tak sebesar rumah Risma tempatnya tinggal selama ini.


"Ini rumah Gina juga sekarang," balas Belva.


Belva lantas mengajak Gina ke kamarnya yang ada di lantai dua. Sebelah kamar Gina juga ada kamar Rika.


"Kamar Mama dan Papa di mana?"


"Kamarnya ada di atas. Sementara Gina di sini dulu, ya, karena yang di atas sudah penuh ruangannya."


Gina menganggukkan kepalanya. Baginya tidak terlalu penting kamarnya ada di lantai berapa.


***


Gilang pulang tepat saat Belva, Gina dan orang-orang yang ada di rumahnya sedang makan malam.


Belva memang tidak membedakan pekerja di rumahnya soal dimana mereka harus makan.


Selagi meja makan cukup untuk bersama, tidak perlu mereka makan sendiri di dapur.


Lagipula Belva lebih senang jika suasana makan di rumahnya begitu ramai. Jadi semua pekerjanya diperbolehkan untuk makan bersama dengan Belva dan Gilang.


"Papa..."


Gina langsung memanggil Gilang saat Gilang baru saja memasuki ruang makan.


Gilang tersenyum dan mendekati Gina. Sebelumnya, Gilang sudah lebih dulu mencium kening Belva.

__ADS_1


"Hai, Gina. Makan apa ini?"


"Makan ayam goreng, Pa. Tadi yang masak Mama Belva."


Mendengar Gina menyebut Belva dengan sebutan Mama, Gilang terkejut.


Kedua matanya menatap Belva dengan penuh tanya. Tapi Belva hanya tertawa kecil dan menganggukkan kepalanya tanda dia tidak keberatan Gina memanggilnya Mama.


"Enak masakan Mama?"


Gina menganggukkan kepalanya. "Enak banget, Pa."


"Udah bilang makasih sama Mama?"


Gina mengangguk lagi. "Udah, kok, Pa."


"Oke. Makan yang banyak, ya."


"Iya, Pa."


***


Entah kebaikan apa yang sudah Gilang lakukan sampai dia diberikan istri yang berhati malaikat seperti Belva.


Setelah semua masa lalunya diterima oleh Belva dan kesalahan demi kesalahannya telah dimaafkan, kini Belva dengan lapang dada menerima Gina.


Bahkan Belva tak masalah jika Gina memanggilnya dengan sebutan Mama.


Rasa cinta di hati Gilang untuk Belva semakin besar. Allah begitu baik menakdirkan Belva sebagai jodohnya.


"Sayang, udah dua bulan loh."


"Apanya, Mas?"


"Kamu sudah selesai nifas sejak usia Zurra empat puluh hari, kan? Ini udah dua bulan loh usia Zurra."


"Terus kenapa?"


"Kapan kira-kira Mas bisa buka puasa?"


"Memangnya Mas Gilang tadi pagi sahur? Kan, enggak. Nekat puasa?"


"Bukan itu maksud Mas, sayang. Masa kamu nggak paham, sih?"


Belva tersenyum lebar. Tentu saja Belva paham dengan apa yang dimaksud Gilang.


"Aku belum pasang KB."


"Nanti diatur biar nggak hamil, Sayang."


"Emang bisa?"


"Bisa, dong. Titipin Zurra ke sus Yeni malam ini."


"Ih, kok, gitu?"


"Malam ini Mama Belva khusus untuk Papanya."


🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2