
"Mau lagi, Sayang."
"Capek. Ini jam berapa coba?"
"Baru juga jam sebelas."
"Tapi aku udah tiga kali."
"Mas baru dua kali."
"Udah dua kali juga. Nggak capek apa?"
"Enggak. Apalagi suasana mendukung seperti ini. Ya, sayang? Masih ada gaya yang belum kita coba malam ini."
Belva mengerutkan keningnya. "Gaya yang kayak gimana?"
Mendengar pertanyaan Belva, Gilang tersenyum penuh arti. "Makanya, ayo tambah lagi biar tau gaya mana yang belum dicoba malam ini."
"Tapi, Mas..."
Belva tak punya kesempatan untuk menolak atau menghindar karena Gilang sudah lebih dulu mencium dan melu*at bibir Belva dengan rakusnya.
Semula memang menolak. Tapi Belva tak tahan lagi untuk tidak mende*ah ketika Gilang memperdalam dan mempercepat gerakannya.
Gilang benar-benar tidak membiarkan Belva untuk beristirahat malam ini. Gilang benar-benar memanfaatkan waktu berdua mereka agar terasa seperti dulu sebelum mereka belum memiliki anak.
***
"Mama, Papa!" Gina berlari ke arah Gilang dan Belva ketika dia melihat orangtuanya masuk ke dalam rumah.
"Mamamama, papap." Zurra tak mau ketinggalan.
Zurra yang sudah bisa berjalan itu pun berlari kecil menghampiri Papa dan Mamanya.
Sepertinya berpisah semalam saja sudah membuat mereka begitu rindu.
"Ciyee... Kayaknya capek amat, Bel?"
Belva langsung melihat ke arah suara. Ada Mikha yang tengah berdiri diambang pintu kamar Yunita.
"Kak Mikha di sini? Kapan datangnya? Mama dimana?"
"Mama baru masak tuh. Aku udah dari tadi pagi, sih. Kamu check out sore amat. Ngapain aja, Bel?"
Belva hanya tersenyum tanpa menjawab apapun. Tanpa mengatakannya pun Mikha pasti sudah tau apa yang Belva dan Gilang lakukan selama di hotel.
__ADS_1
"Mama, leher Mama merah-merah. Kenapa?" tanya Gina yang duduk di samping Belva.
Belva tidak sadar kalau sejak tadi Gina memperhatikan dirinya. Dan Belva pun juga lupa tidak memakai sweater yang menutup sampai lehernya lagi. Dia sempat melepasnya ketika di dalam mobil.
Kedua mata Belva menatap Gilang yang sedang menggendong Zurra. Manusia satu itu hanya tersenyum tanpa dosa.
"Habis dikerokin Papa tadi. Mama masuk angin soalnya," jawab Belva berbohong.
Tidak mungkin dia akan mengatakan kalau lehernya merah itu hasil ulah mulut Gilang semalam dan pagi tadi sampai siang hari.
Mikha tertawa mendengar jawaban Belva atas pertanyaan Gina.
***
"Gina kayaknya dekat banget sama kamu ya, Bel?" Mikha bertanya.
Keduanya tengah pergi berdua meninggalkan anak-anak mereka. Rumah Belva sudah seperti sekolah paud yang isinya anak-anak beserta susnya.
"Ya gitu, deh, Kak. Aku juga udah sayang sama dia. Terlepas dari bagaimana masa lalu ibunya dengan Mas Gilang."
"Dia nggak ada nanyain ibunya?"
"Bukan nanyain ya, Kak. Setiap sebulan sekali dia pasti ngajak aku atau Mas Gilang ke makam ibunya. Dan hari dimana dia ngajak itu selalu hari dimana Viona meninggal. Nggak tau, deh, kebetulan aja atau emang dia benar-benar mengingat hari kematian Viona."
Mikha mengangguk paham. "Terus cara kamu bagi kasih sayang kamu dan Gilang ke Gina dan Zurra gimana? Pasti rasa condong ke salah satunya ada, dong?"
Ditambah lagi dengan status Zurra yang memang anak kandungnya dengan Gina yang anak Gilang dari perempuan lain.
"Satu-satunya cara untuk aku agar tidak terlihat mencolok ketika aku membela Zurra adalah dengan mengatakan pada Gina bahwa Zurra masih kecil. Apa-apa belum bisa sendiri. Aku juga mengatakan kalau dulu waktu Gina kecil pasti juga seperti itu. Semua bayi itu sama. Mereka hanya tau menangis ketika keinginan mereka tidak dituruti."
Lagi-lagi Mikha hanya menganggukkan kepalanya. Dia tidak mau berandai-andai jika dia berada di posisi Belva.
Mikha tidak yakin dia akan mampu.
Menerima Gilang yang selingkuh saja Mikha tidak mau. Apalagi sampai harus merawat anak hasil dari perselingkuhan itu sendiri.
Tak ingin membahas soal rumah tangga Belva, Mikha membahas hal lainnya.
"Nggak ada niatan untuk kuliah lagi, Bel?"
"Ada, kak. Tahun depan mungkin. Aku juga belum bicarakan ini sama Mas Gilang. Selain itu aku juga pengen merintis usaha.'
"Usaha apa? Uang dari Gilang udah lebih dari cukup kali."
"Ya pengen menciptakan lapangan kerja aja, Kak. Aku lihat diluar sana pengangguran semakin banyak karena lapangan kerja yang begitu sempit. Aku pengen punya usaha dimana semua kalangan bisa masuk. Nggak harus pakai ijazah dan gelar pendidikan. Ya mengingat aku sendiri nggak kuliah. Ilmu yang aku punya di dunia bisnis dan usaha juga masih sedikit. Nanti minta bantuan Mas Gilang pastinya."
__ADS_1
Mikha mengangguk setuju dengan pemikiran Belva.
"Tapi kan, kamu juga anak tunggal, Bel? Kenapa nggak bekerja aja di sana?"
Belva tertawa kecil mendengarnya. Padahal sebelumnya dia sudah menjelaskan bahwa dia ingin menciptakan lapangan kerja tanpa memandang ijazah dan gelar pendidikan seseorang.
Apalagi dia sendiri juga tidak kuliah dan tidak memiliki ilmu dan pengalaman soal mengurus perusahaan yang sebesar itu.
"Ku bangun dulu kedua kakiku, Kak. Nanti setelah aku memiliki ilmunya dan usaha yang aku rintis nanti sudah berjalan, aku pasti akan mengelolanya kalau sudah diminta papa untuk mengurusnya."
"Good luck, ya. Semoga lancar semuanya."
"Aamiin."
***
Setelah Mikha dan Belva puas nongkrong cantik di sebuah cafe besar dan cukup ternama, Mikha meminta Belva untuk menemaninya berbelanja.
Ingin menolak dengan alasan kemarin baru saja Belva menghabiskan uang hampir dua milyar dalam semalam. Tapi Belva merasa tak enak hati.
Apalagi keduanya juga jarang menghabiskan waktu berdua seperti ini karena kesibukan mereka masing-masing.
"Kamu mau beli apa, Bel? Ambil, deh, biar aku yang bayarin."
Belva menggelengkan kepalanya. "Enggak, deh, Kak. Semalam aku sama Mas Gilang udah belanja banyak banget."
"Belanja lagi aja nggak apa-apa. Gilang juga nggak akan marah kali. Habis ini kita ke supermarket buat belanja bulanan sekalian, ya."
Belva mengangguk setuju.
Yang namanya perempuan, bilangnya tidak belanja lagi karena kemarin sudah belanja. Tapi ternyata Belva menghabiskan banyak uang lagi hari ini.
Meskipun Belva tahu Gilang tidak mempermasalahkan dan menanyakannya, tapi Belva tetap merasa tidak enak hati sudah menghabiskan uang Gilang sebanyak itu dalam dia hari saja.
Terbukti Gilang hanya bisa melongo melihat belanjaan Belva malam ini. Para pekerja di rumahnya yang berjumlah lima orang harus turun tangan untuk membantu menurunkan barang-barang belanjaan tersebut dari dalam mobil.
"Aku habis belanja kebutuhan dapur dan bulanan sekalian, Mas. Makanya sebanyak itu belanjaannya."
"No problem. Mas justru khawatir kamu kelelahan karena belanja sebanyak itu sendirian. Mikha sendiri pasti juga bawa belanjaannya sendiri, kan? Jadi nggak ada yang bantuin kamu. Kamu capek pasti, kan? Apalagi semalam kamu tidak tidur."
"Seriusan, Bel? Sampai nggak tidur?" Mikha heboh sendiri mendengar Gilang mengatakan bahwa semalam Belva tidak tidur.
"Tidur, kok. Masa orang nggak tidur? Udah kayak ikan, dong." Belva mengelak.
Semalam memang Belva tidak tidur karena Gilang yang tidak bisa diam membiarkan Belva memejamkan matanya. Dia baru bisa tidur pukul dua dini hari dan bangun subuh lalu tidur lagi selepas subuh. Belva pun terbangun di jam sepuluh pagi.
__ADS_1
Saat itu juga Gilang masih sempat meminta jatahnya lagi sebelum mereka check out dan meninggalkan hotel untuk kembali ke rumah.
🌻🌻🌻