Gadis Belia Istri CEO Duda

Gadis Belia Istri CEO Duda
Part 72


__ADS_3

Hal yang paling menakutkan bagi Belva bukan lagi kehilangan Gilang. Tapi dia begitu takut kehilangan buah hatinya.


Entah sudah ke berapa kalinya Gilang melukai hatinya. Yang Belva harapkan saat ini hanyalah anaknya baik-baik saja di dalam sana.


Belva dan Gilang bernapas lega saat dokter mengatakan Belva dan janinnya baik-baik saja.


Hanya faktor kelelahan dan banyak fikiran yang menyebabkan Belva pendarahan. Janin masih bisa dipertahankan dengan syarat Belva harus bed rest total.


Demi kebaikan bersama, Gilang memutuskan untuk Belva dirawat di rumah sakit agar kondisinya bisa terpantau langsung oleh dokter.


Belva tak banyak bicara. Asalkan yang terbaik untuk anaknya, apapun akan dia lakukan.


Seperti sudah lelah untuk berdebat, Belva hanya diam di atas tempat tidur rumah sakit yang tak seberapa luasnya.


Keberadaan Gilang dia biarkan begitu saja. Belva tak peduli dengan apa yang dilakukan oleh lelaki itu. Pergi menemui wanita itupun tak akan Belva cegah.


"Sayang..."


Dengan pelan Belva menyingkirkan tangan Gilang yang menyentuh bahunya.


Posisi tidur Belva miring membelakangi Gilang yang duduk di dekat ranjang.


"Aku sudah baik-baik saja, Mas. Mas bisa kembali ke kamar wanita itu."


"Boleh Mas menjelaskan semuanya, Sayang?"


"Aku pernah bilang, aku hanya memiliki satu kesempatan untuk Mas Gilang. Kalau Mas Gilang kembali membuatku kecewa, aku udah nggak punya lagi kesempatan untuk kamu kembali ke dalam hidupku, Mas."


"Mas pun kecewa dengan diri Mas sendiri, Sayang," ucap Gilang dengan menundukkan kepalanya. Kedua tangannya mengusap wajahnya dengan kasar.


***


Belva yang dirawat di rumah sakit membuat panik para orangtua. Gilang hanya menjawab Belva kelelahan sebagai penyebab Belva dirawat.


Masalah diantara mereka, mereka tutupi rapat-rapat. Menurut Belva, orangtua belum waktunya tau akan hal ini.


Belva ingin menyelesaikan masalahnya terlebih dahulu dengan Gilang. Kalau keduanya tidak menemukan titik terang, baru akan melibatkan para orangtua untuk memberikan pendapat dan solusi terbaik.


Semakin dewasa, Belva sadar bahwa mengucapkan kata cerai bukanlah akhir dari setiap permasalahan yang terjadi di dalam rumah tangga.

__ADS_1


Tapi jika seperti ini keadaannya, Belva pun sebenarnya ragu untuk kembali berlayar dengan Gilang yang menjadi nahkodanya.


Terlalu besar ombak dan badai yang menghadang jalan mereka.


"Perlu Mama temani di sini, sayang?" Belva menggelengkan kepalanya merespon pertanyaan Vita.


"Enggak perlu, Ma. Sudah ada Mas Gilang di sini."


Sebisa mungkin Belva berusaha untuk menutupi wajah sedihnya.


Menyesakkan bukan? Ketika mulut ingin bercerita banyak, tapi hati berkata jangan. Selesaikan dulu berdua. Jangan sampai orangtua terlibat sebelum diminta.


"Kalau gitu kami pulang dulu, ya, Sayang. Baik-baik di sini. Ingat apa pesan dokter biar kalian tetap sehat."


"Iya, Ma."


"Mama titip Belva, ya, Gilang."


"Iya, Ma. Tentu saja Gilang akan menjaga Belva."


Sepulangnya para orangtua, Belva kembali membelakangi Gilang, mendiamkan Gilang dan tak memperdulikan Gilang.


Ingin menangis, tapi rasanya sudah terlalu lelah untuk menangisi setiap kesalahan Gilang.


"Dulu kita pisah karena Mas ingin memperjuangkan Mikha. Dan dia pun akan menikah dengan orang lain. Tanpa Mas tahu, ternyata saat itu dia mengandung anak Mas. Dia batal menikah karena calon suaminya tahu dia tengah hamil. Mas nggak pernah tahu hal itu karena Mas sendiri sudah tidak peduli dengan apapun lagi termasuk dia."


Gilang menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Belva masih tetap diam tak merespon cerita Gilang.


"Amira itu sahabat Viona. Kemarin dia bilang hal ini ke Mas dan jujur, Mas takut berita sama kamu, Sayang. Hal ini yang tidak Mas harapkan kalau kamu tau semuanya. Mas takut kamu pergi ninggalin Mas karena hal ini."


"Lalu selamanya Mas Gilang akan berbohong akan hal ini? Menuruti apa kata wanita itu saat dia mengatakan kalau dia ingin Mas Gilang tetap ada di sampingnya?"


"Enggak, Sayang. Mas sudah ada rencana untuk menceritakan hal ini sama kamu. Tapi Mas belum tau bagaimana caranya dan waktu yang telah untuk bicara sama kamu soal ini. Dia koma setelah melahirkan. Dan baru sadar semalam. Apapun yang Viona minta, Mas tidak akan menurutinya karena sudah ada kamu yang Mas mau untuk mendampingi Mas sampai akhir hayat nanti."


Belva sendiri sudah bertekad untuk menerima semua masa lalu Gilang. Andai Gilang sebelumnya memiliki anak pun sebenarnya bukan masalah bagi Belva. Tapi kali ini anak Gilang berasal dari luar pernikahan.


Sudah bisa dibayangkan bagaimana liarnya hubungan Gilang dan Viona dulu sampai Viona hamil anak Gilang. Pasti mereka bukan hanya sekali dua kali melakukannya.


Apalagi dulu Viona adalah sekretaris Gilang. Setiap hari bertemu. Dan... Ah, Belva sakit hati membayangkannya.

__ADS_1


"Lalu anak itu?"


"Mas juga belum bertemu dengannya. Dia tinggal bersama Amira dan ibunya."


"Kenapa Amira nggak mencari kamu sejak dulu? Andaikan dia mau mencari kamu, atau Viona yang mencari kamu, pasti tidak akan seperti ini jalan hidupku."


"Kamu menyesal menikah dengan Mas, sayang?"


"Boleh aku merasa seperti itu, Mas? Bukankah itu hal yang wajar yang aku rasakan? Aku rasa semua wanita jika ada di posisiku akan merasakan hal yang sama. Memang aku yang mengejar Mas Gilang karena setau aku Mas Gilang itu duda. Kalau saat itu Viona mencari Mas dan kalian menikah, aku rasa aku juga tidak akan pernah jatuh cinta sama kamu, Mas."


"Papa dan Mama tidak pernah suka pada Viona yang menurut mereka terlalu liar, Sayang."


"Kenyataannya memang begitu, kan?"


"Iya," jawab Gilang sesuai dengan faktanya. "Amira tidak mencari Mas karena dia sibuk bekerja. Pagi sampai sore dia bekerja di sebuah perusahaan agar bisa memberikan makanan yang halal untuk anak itu. Sedangkan untuk gaya hidupnya yang mewah, Mas rasa kamu sudah tau bagaimana kehidupan dia di malam hari. Dan Amira tidak mau anak itu makan uang hasil kerja malamnya itu."


"Kamu berniat memasukkan anak itu ke dalam rumah kita?"


Jika memang iya, hubungan Gilang dan Viona tidak akan ada habisnya. Adanya anak diantara mereka bisa dimanfaatkan oleh Viona agar bisa terus berdekatan dengan Gilang.


"Viona sudah sadar. Mas rasa anak itu lebih baik bersama Viona."


"Dan itu bisa dijadikan alasan Viona untuk terus menjalin hubungan dengan kamu, Mas."


Gilang tak menampik hal tersebut. Viona sudah sadar, ada anak diantara mereka. Dan Viona pun sempat meminta Gilang untuk tetap bersamanya.


Pasti anak itu akan dijadikan oleh Viona sebagai alasan agar dia dan Gilang bisa terus berkomunikasi. Dan itu tidak baik untuk kelangsungan rumah tangganya bersama Belva.


"Mas akan bicara dengan Viona tentang pernikahan kita, Sayang."


"Hal itu tidak akan menjamin Viona akan berhenti mendekati kamu, Mas. Kamu lupa kalian menjalin hubungan saat kamu masih menjalani pernikahan dengan Kak Mikha?"


Keduanya sama-sama terdiam setelahnya. Gilang juga masih bingung dengan apa yang harus dia lakukan setelah ini. Terutama untuk membuat Viona berhenti memintanya untuk tetap bersamanya.


"Bicarakan ini sama para orangtua, Mas. Aku nggak tau lagi harus bagaimana," ucap Belva untuk terakhir kalinya sebelum dia menutupi tubuhnya dengan selimut.


Belva meninggalkan Gilang untuk beristirahat. Tak dia pedulikan lagi apa yang akan dilakukan oleh Gilang.


Bahkan ketika Gilang keluar kamar pun, Belva tak peduli. Firasatnya Gilang menemui Viona. Tapi Belva membiarkannya pergi begitu saja.

__ADS_1


Biarlah Gilang yang menyelesaikan semuanya sendirian. Masalah ini dia yang berbuat.


🌻🌻🌻


__ADS_2