
Jika biasanya Gilang yang sering memandang Belva yang tengah tertidur, kini giliran Belva yang memandangi Gilang yang tengah tertidur lelap.
Kehamilannya yang memasuki usia tujuh bulan sudah membuatnya sulit untuk tertidur lagi ketika terbangun tengah malam.
Jari lentik Belva menyusuri setiap inchi wajah Gilang. Suami tampannya itu terlihat tenang dan tak terusik sama sekali.
Orang-orang banyak yang bertanya, kenapa Belva mau menikah dengan Gilang yang usianya jauh lebih tua? Bahkan di luar sana tak kurang lelaki single dengan status perjaka yang bisa dijadikan pilihan oleh Belva.
Cinta itu buta. Mungkin itu awal yang Belva rasakan saat pertama kali jatuh cinta pads Gilang yang saat itu masih berstatus duren sawit. Duda keren sarang duit.
Tunggu, bukan duit yang dijadikan pertimbangan oleh Belva. Tapi wajah Gilang yang tampan dan tegap tubuhnya yang membuat Belva jatuh hati pada saat itu. Bahkan tak peduli dengan status yang Gilang miliki dan juga masa lalu Gilang yang bisa dibilang sangat buruk.
Belva berbuat nekat demi bisa memiliki Gilang hingga akhirnya dia berhasil melakukannya.
Banyak kejutan pula setelah pernikahan itu terjadi. Segala macam ujian tentang masa lalu Gilang dan lainnya bisa dilalui Belva dengan baik sampai mereka berada di titik ini sekarang.
Sekarang, jika ada yang bertanya kenapa Belva memilih Gilang, jawabannya bukan lagi soal cinta. Tapi Belva melihat apa yang tidak mereka lihat di dalam diri Gilang.
"Matanya ini tajam banget kalau lagi natap aku. Apalagi kalau lagi mau gituan. Bikin meleleh," ucap Belva saat jarinya menyentuh pelan mata Gilang yang tertutup.
"Ini pipi halus banget kayak pipi cewek," ujarnya lagi saat jarinya turun ke pipi Gilang.
Jari Belva beralih ke bibir. Saat itu juga jantung Belva berdegup kencang. "Bibirnya ini kalau nyium enak banget rasanya. Kalau ngomong sama aku juga sweet banget. Tapi kalau sama orang lain judesnya minta ampun."
"Ada yang hilang nggak dari wajah Mas?"
Belva tersentak mendengar Gilang berbicara. Jari telunjuknya masih bertengger manis di atas hidung Gilang.
"Sejak kapan Mas Gilang bangun?"
"Sejak kamu mulai menelusuri satu persatu bagian wajah, Mas, sayang."
"Berarti Mas Gilang dengar semua yang aku omongin tadi, dong?"
Gilang tertawa kecil. Dia mendengar semuanya. Mendengar setiap pujian yang diberikan Belva untuk setiap bagian dari wajahnya.
"Sekarang tatapan mata Mas gimana?" tanya Gilang yang menatap lekat wajah Belva.
"Mau minta itu, sih," jawab Belva yang sudah mulai hafal dengan semua sikap Gilang.
"Sini cium. Katanya bibirnya enak kalau lagi nyium?"
"Lagi nggak pengen dicium." Belva menghindar dengan memalingkan wajah saat Gilang mendekatkan bibirnya untuk mencium bibir Belva.
"Pengennya apa, dong?"
__ADS_1
"Pengen makan aja aku, Mas."
"Lapar?"
"Orang kalau pengen makan pasti karena lapar, Mas."
Gilang terkekeh kecil. "Oke-oke. Mau makan apa, sayang?"
"Yang ada ajalah, Mas. Kayaknya tadi kebabnya masih dua, kan?"
Gilang menganggukkan kepalanya lalu berjalan menuju pantry di kamar mereka di Turki. Belva pun menyusul langkah Gilang dari belakang.
Setelah kebab dihangatkan, Gilang menyajikannya di hadapan Belva. Sebelumnya Gilang juga sudah mengambilkan susu almond untuk Belva.
Mata Gilang dibuat tak berkedip melihat penampilan Belva. Dengan santainya dia hanya memakai lingerie dengan bahan yang sangat tipis.
Meskipun itu juga baju, tapi tak menutupi kulit tubuh Belva.
Perutnya yang menonjol itu membuat Belva terlihat berkali-kali lipat semakin seksi di mata Gilang.
Belva bertambah cantik setelah mengandung buah cinta mereka. Lebih dewasa, lebih mempesona, lebih hot di saat mereka berc*nta, dan lidahnya itu lebih lincah saat berbicara.
Apalagi dalam hal membantah aturan Gilang yang menurut Belva terlalu overprotektif.
"Na*suan! Ngapain Mas Gilang lihatin aku kayak gitu?" tanya Belva yang sadar kalau sejak tadi Gilang terus menatapnya. Gilang seolah-olah ingin menerkam Belva saat itu juga.
"Baperan banget itu yang di bawah?"
"Tandanya masih normal, Sayang."
"Percaya. Kalau nggak normal nggak mungkin ini perut bisa melendung begini."
Gilang tertawa keras mendengar ucapan Belva. Benar, kan? Lidahnya itu semakin lincah berbicara.
"Habis ini lagi, ya, Sayang? Mau di sini aja nggak? Cari sensasi baru." Gilang menaikturunkan alisnya menggoda Belva. Barangkali Belva mau menuruti keinginannya kali ini.
Belva menenggak susu almond itu sampai habis. Kebab tak semuanya di habiskan karena wajah Gilang yang menggodanya itu tidak bisa dianggurkan begitu saja.
Apalagi dada bidang dan perut kotak-kotaknya itu tak tertutupi oleh kemeja yang hanya dipakai saja tanpa Gilang berniat untuk memasang kancingnya.
Dengan langkah pelan, Belva berjalan mendekati Gilang. Sedikit menggoda Gilang dengan menyentuh bahu kanan, lalu menyeret jarinya sepanjang menuju bahu kiri Gilang.
"Oke, honey. Kenapa enggak? Let's play," bisik Belva yang membuat Gilang langsung membawa tubuh Belva untuk di dudukkan ke atas meja makan.
Tengah malam waktu Turki setempat, Gilang dan Belva kembali melakukannya lagi. Aktifitas yang tak akan pernah bosan mereka lakukan.
__ADS_1
Benar-benar di atas meja makan, lalu berpindah ke depan tv tanpa Gilang melepaskan penyatuan mereka.
Belva benar-benar dibuat mabuk kepayang dengan segala yang dilakukan oleh Gilang.
Beruntung anaknya di dalam sana kuat dan tidak protes dengan kontraksi maupun yang lain saat papanya menengoknya berulangkali dan kemungkinan bisa mengusiknya.
🌻🌻🌻
Lantunan merdu ayat suci Alquran yang dibacakan oleh seseorang membangunkan Viona yang semula terlelap dalam tidurnya.
Dilihatnya jam dinding yang menunjukkan pukul setengah lima pagi.
Tak perlu ditanyakan lagi siapa yang melantunkan ayat-ayat tersebut. Sudah pasti itu adalah Risma, ibu dari Amira.
Yang setiap sepertiga malam sampai waktu matahari terbit tak pernah meninggalkan tempat sholatnya.
Risma, seorang janda satu anak yang selalu berharap agar Amira kembali ke jalan yang benar.
Tak lagi menjadi wanita malam seperti yang dia lakukan selama ini.
Risma sudah lelah untuk menasehati. Melalui jalur langit, Risma mengadu pada Rabb-nya agar anak semata wayangnya itu segera bertaubat.
Viona sendiri pun lupa kapan terakhir dia menunaikan sholat sebagai kewajibannya seorang muslim.
Jangankan bacaan sholatnya. Gerakannya pun Viona lupa-lupa ingat.
"Sudah bangun, Vi? Mau sholat?"
"Eh?" Viona tersenyum canggung. Lalu dengan kaku Viona menggelengkan kepalanya. "Enggak, Bu."
Risma tersenyum lembut. Tidak masalah baginya jika Viona belum mau kembali sholat. Doanya semoga Viona segera tergerak hatinya untuk bertaubat juga.
"Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolong. Apapun keadaan hidup kamu, sesusah apapun hidup kamu, sehancur apapun hidup kamu, jangan pernah tinggalkan sholat. Pelan-pelan kembali ke jalan yang benar, ya, Viona. Ibu tau kamu anak yang baik. Regina juga butuh ibu yang baik karena ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya."
Viona mengangguk kaku. Dalam pikirannya, entah dari mana dia harus mulai memperbaiki hidupnya yang tak terarah ini.
"Nanti bisa bicara dengan ibu kalau ada hal yang ingin kamu ceritakan."
"Iya, Bu."
Apa yang terjadi di dalam hidup Viona begitu menamparnya sampai dia berada di titik ini.
Titik dimana dia mulai merasa lelah dan menyerah sehingga dia berpikir untuk mencari ketenangan hidup.
Dan lantunan ayat yang dilantunkan oleh Risma tadi, tanpa sadar telah mengetuk pintu hatinya.
__ADS_1
🌻🌻🌻