
Tidak ada yang lebih membahagiakan selain berkumpul kembali dengan keluarga yang utuh.
Hubungan Gilang dan kedua mertuanya sudah membaik. Seperti tak pernah ada permasalah apapun di antara mereka.
Nomor Gilang sudah tidak lagi diblokir oleh Darmawan dan Vita. Kerjasama yang baru dalam berbisnis pun mulai direncanakan.
Malam ini mereka makan bersama di sebuah restoran ternama. Bukan dalam rangka apapun. Hanya untuk saling merekatkan hubungan yang sempat merenggang.
"Kuliah kamu gimana, Bel?" tanya Vita saat mereka sudah selesai makan, namun belum ingin pulang.
Gilang pun turut memandang Belva. Hal ini juga belum dia bicarakan dengan Belva sebelumnya.
"Aku belum ngobrolin sama Mas Gilang, Ma, soal itu."
"Memangnya rencana kamu apa?" tanya Vita lagi.
"Aku udah bolos berminggu-minggu. Aku pasti bakalan ngulang semester ini tahun depan, Ma. Terus lagi, kandungan aku semakin besar. Nggak lama lagi lahiran. Selama lahiran aku juga nggak mungkin bisa pergi ke kampus."
"Jadi gimana, Sayang?" Gilang menyahut.
"Berhenti dulu sementara waktu. Boleh? Nanti kalau habis lahiran, udah sehat, bisa fokus lagi sama kuliah."
Vita dan Darmawan kompak mengangguk. "Boleh saja. Dulu Mamamu juga gitu. Berhenti dulu selama hamil besar. Lanjut lagi kuliah meskipun banyak hal yang harus diurus lagi karena Mama kamu dulu juga waktu hamil besar waktu semester dua. Kalau belum empat semester, kan, belum boleh ngambil cuti," ucap Darmawan yang dibenarkan oleh Vita.
"Gampanglah. Nanti biar Gilang yang urus ke pihak kampus soal ini," sambung Darmawan lagi.
Gilang mengangguk setuju. Besok dia akan datang ke kampus Belva untuk mengurus semuanya. Tak masalah jika harus mengulang semester di tahun depan.
Yang terpenting Belva dan anaknya sehat dan tidak kelelahan selama menjalani kuliah. Apalagi di tahun pertama kegiatan kampus pasti sangat banyak.
"Berarti aku boleh ikut Mas Gilang ke Jakarta, kan, Pa, Ma?"
"Ya boleh, dong. Tempat ternyaman seorang istri itu di dekat suaminya. Tapi Mama minta sama Gilang, jangan sampai kamu nyakitin Belva lagi, ya."
"Saya janji akan menjaga Belva, Ma," ucap Gilang dengan yakin.
"Terus kapan kalian mau mengadakan resepsi pernikahan? Ada baiknya pernikahan itu segera diumumkan demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan."
Gilang dan Belva saling pandang mendengar pertanyaan Darmawan. Hal ini juga belum sempat mereka bicarakan.
Jelas belum sempat membicarakan apapun karena kemarin yang mereka lakukan hanya seputar obrolan kasur yang berujung adu urat di atas kasur.
__ADS_1
"Kalian belum ada rencana?"
Gilang dan Belva kompak menggelengkan kepala.
Darmawan menghembuskan napas panjang. "Kayak gini kalau dikasih ke anak muda nggak bakalan selesai, sih, Ma. Mending kita sendiri yang merencanakan resepsi untuk mereka," ucapnya pada Vita yang lebih terdengar seperti sebuah gerutuan.
"Dua Minggu lagi ajalah, Pa. Aku yakin Mas Anton sama Mbak Yunita setuju-setuju aja soal ini. Keburu perut Belva tambah besar. Kecapekan nanti nyalamin tamu-tamu."
"Oke. Nanti telepon Anton dan Yunita. Soal rencana pernikahan ini biar mereka pilih tema, dekorasi yang dimaui sama pilih baju aja. Yang lainnya biar kita yang urus."
Yang Gilang dan Belva rasakan seperti campur aduk. Entah harus bahagia, malu, atau merasa tidak enak hati karena semua diurus oleh para orangtua.
Tapi sebenarnya ada enaknya juga. Mereka tidak perlu lelah mencari capek-capek mengurus semuanya sendiri. Apalagi dengan keadaan Belva yang tengah hamil.
***
Hari pertama setelah rencana resepsi pernikahan untuk Gilang dan Belva, Gilang dan Belva melakukan fitting baju pengantin dengan designer ternama. Bahkan mereka menyanggupi untuk membuat gaun yang diinginkan Belva dalam waktu sepuluh hari saja.
Belva meminta gaun yang mewah, namun bisa menutupi perutnya yang tengah hamil empat bulan. Dengan didukung tubuh yang tidak terlalu gemuk meskipun tengah hamil, gaun yang cantik dan terkesan seksi pun mudah sekali untuk di design.
Setelah dari designer, keduanya datang ke kantor wedding organizer yang sudah dipilih Vita dan Yunita untuk menentukan dekorasi pernikahan beserta temanya. Serta memilih undangan yang Belva inginkan.
Keputusan Darmawan dan Vita untuk Gilang dan Belva hanya mengurus baju dan dekorasi saja sepertinya memang keputusan yang sangat tepat.
"Makan dulu, ya, Sayang."
"Capek aku, Mas."
"Tapi harus makan."
"Makan di mobil aja boleh?"
Gilang mengangguk membolehkan. "Mau makan apa?"
"Soto Lamongan."
"Oke. Kita cari tempat dimana jual soto Lamongan."
"Yang di Lamongan, Mas."
"Apa?" Gilang bertanya, mencari penjelasan atas ucapan Belva.
__ADS_1
"Soto Lamongan yang asli Lamongan."
"Biasanya yang jual disini juga sotonya asli Lamongan kan, Sayang?"
Belva menggelengkan kepalanya. Membuat Gilang menatapnya penuh tanya. "Aku maunya belinya di Lamongan, Mas. Nggak mau yang ada di sini."
Gilang membelalakkan kedua matanya. "Jauh, Sayang."
"I don't care. Ke sana atau aku nggak makan." Belva memberi ancaman membuat Gilang tak bisa melakukan apapun selain menuruti keinginannya.
Semoga ketika Belva nanti minta makanan Italia, Belva tidak mengajaknya untuk makan di Italia langsung.
Bukan Gilang tidak ingin menurutinya. Tapi banyak urusan yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Apalagi Italia itu tidak dekat. Butuh beberapa jam penerbangan untuk sampai ke Italia.
***
Karena harus menuruti keinginan Belva yang ingin makan soto Lamongan tapi harus ke Lamongan juga, Gilang harus mengundur keberangkatan mereka ke Jakarta sore itu.
Belva tak peduli meski Gilang sudah mengingatkan hal tersebut pada Belva.
Yang Belva inginkan tetap satu, makan soto Lamongan di Lamongan.
"Lo gimana, sih, udah ditungguin Papa sama Mama juga?"
Gilang melirik Belva yang sudah tertidur di salah satu kamar hotel tempat mereka menginap. Mereka tak mungkin kembali ke Surabaya malam itu juga karena Belva sudah kelelahan.
"Belva minta makan soto Lamongan yang ada di Lamongan langsung, Vin. Kalau enggak dia nggak mau makan. Mintanya dadakan banget. Malam baru sampai nggak mungkin gue ajak dia balik ke Surabaya langsung."
Terdengar Gavin menyemburkan tawanya di seberang sana. Dulu nasibnya pun sama seperti Gilang saat ini.
Mikha mengajak ke Bandung malam-malam, lanjut paginya langsung mengajak ke Jogja sampai Gavin harus membatalkan beberapa meetingnya hari itu.
"Dahlah. Kita senasib kalau gitu. Ya udah gue ngomong sama Mama Papa soal ini. Kalau ada apa-apa itu ngabarin. Papa mama nungguin, kita nungguin. Triplets juga nungguin maminya di rumah."
"Iya-iya, sorry."
Tanpa mengucap sepatah kata pun lagi, Gavin mematikan sambungan teleponnya.
Gilang kembali memandang Belva yang tengah tertidur lelap. Rasanya semakin hari rasa cintanya semakin dalam untuk Belva. Wanita yang kini tengah mengandung benihnya.
Besar kesalahan yang pernah Gilang lakukan. Namun Belva masih mau menerima seorang pendosa seperti dirinya.
__ADS_1
🌻🌻🌻