
Meskipun status mereka sudah mantan suami dan mantan istri, tetapi Belva tidak bisa tenang setelah mendengar berita kecelakaan yang Gilang alami.
Apalagi sudah dua kali dua puluh empat jam Gilang tidak sadarkan diri. Pendarahan di kepalanya dan beberapa tulang rusuknya patah. Ditambah lagi kedua kakinya juga patah.
Belva tak sanggup membayangkannya.
Belva rasa dia pun tak siap jika ayah dari anak yang dikandungnya itu tak dapat bertahan hidup.
Terlepas dari semua kesalahan Gilang, Belva tetap ingin anaknya kelak mengenal ayahnya secara visual.
Bukan hanya dengan sebuah foto atau melalui cerita saja anaknya akan mengenal Gilang.
Belva pun pulang ke Indonesia. Kedatangannya disambut penuh haru oleh Yunita. Yunita memeluk erat Belva yang masih Yunita anggap seperti anaknya sendiri.
Meskipun menyayangkan keputusan Belva untuk bercerai, tapi Yunita tidak berhak melarang setiap keputusan yang sudah Belva ambil.
Tapi ternyata keputusan Belva tersebut benar-benar membuat Gilang terpuruk. Bahkan lebih buruk keadaanya jika dibandingkan saat berpisah dengan Mikha dulu.
"Kamu sehat, Bel?"
Belva menganggukkan kepalanya. "Sehat, Tante."
Senyum di bibir Yunita memudar mendengar panggilan Belva untuknya. "Tetap panggil Mama, ya. Jangan panggil Tante seperti itu. Kamu tetap anak Mama meskipun kamu dan Gilang sudah berpisah. Maafkan semua kesalahan Gilang, ya, Bel. Mama takut Gilang tidak bisa bertahan lebih lama lagi."
Belva mengusap kedua matanya saat air matanya hampir terjatuh. "Mas Gilang pasti bisa bertahan, kok, Ma. Dia lelaki kuat. Aku percaya Mas Gilang pasti sehat seperti sedia kala."
"Dia pernah bilang, Bel. Rasanya percuma hidup kalau nggak ada kamu di sisinya."
Belva tersenyum canggung. Dalam hatinya bertanya-tanya, apakah kecelakaan Gilang ini juga bagian dari kesalahannya? Akibat keputusannya memilih berpisah begitu?
"Temui Gilang, Bel. Dia pasti senang ada kamu di sini."
Kepala Belva mengangguk, mengiyakan ucapan Yunita.
***
Sunyi. Hanya terdengar suara alat pendeteksi jantung yang terdengar. Belva pun tak tahu apa nama alat tersebut.
Yang ada di hadapannya hanyalah Gilang yang terbaring lemah tak sadarkan diri. Matanya terpejam. Kepalanya di balut perban. Kedua kakinya juga terpasang gips.
Melihat foto mobil Gilang pasca kecelakaan, Belva tak bisa membayangkan apa yang dirasakan Gilang saat itu.
Berada di dalam mobil yang tertabrak truk lalu mobil tersebut terguling hingga masuk ke dalam sungai.
Belva mengusap air mata yang mengalir di pipinya. Melihat orang yang pernah dia sayangi seperti itu keadaannya. Dulu dia begitu gagah. Belva begitu mengaguminya. Tapi sekarang dia terlihat lemah tak berdaya.
"Hai, Mas," sapa Belva. "Kenapa harus bawa mobil pakai kecepatan tinggi, sih? Kan, kalau pelan juga bakalan sampai. Pakai nerobos lampu merah segala. Udah tau bahaya, masih nekat juga."
Belva memegang tangan Gilang lalu kembali berucap, "Mas nggak pengen apa lihat anak kita lahir? Usianya udah tujuh bulan sekarang. Aku itu nggak pernah ngelarang kalau Mas Gilang nanti mau lihat anak kita lahir karena Mas Gilang itu Papanya. Masa Mas nggak pengen?"
Air mata Belva kembali terjatuh melihat kondisi Gilang saat ini yang hanya diam seperti ini. Rasa bersalah di hatinya begitu besar jika benar dirinyalah yang menyebabkan Gilang kecelakaan sampai kondisinya seperti ini.
"Mas Gilang harus sembuh, ya. Aku janji, deh, kalau Mas sembuh, aku akan ikuti semua kemauan Mas Gilang. Nggak tega banget lihat Mas Gilang seperti ini." Belva menangis sesenggukan.
Ucapannya benar-benar tulus dan bukan hanya terucap dari bibir saja.
Ucapannya pada Rey bahwa dia tidak lagi mencintai Gilang, itu salah. Kenyataannya Belva begitu takut kalau sampai Gilang tidak bisa bertahan hidup dengan kondisinya saat ini.
__ADS_1
Belva berkata bahwa dia bisa hidup tanpa Gilang itu bohong. Kenyataannya Belva ingin waktu berputar kembali. Membawa Belva ke masa-masa dia dan Gilang sedang di mabuk asmara.
Belva akan memilih untuk terus berada di samping Gilang daripada melanjutkan kuliahnya di Surabaya.
Pasti Belva tidak akan dituduh hamil dengan lelaki lain.
Pasti saat ini mereka tengah bahagia menyambut kehadiran buah hati mereka.
Pasti saat ini mereka tengah menikmati hari-hari yang bahagia.
Belva telah membohongi hati dan perasaannya sendiri. Belva berpura-pura benci padahal hatinya sangat rindu pada Gilang.
"Bangun, Mas. Aku sayang sama Mas Gilang," ucap Belva yang menelungkupkan wajahnya di samping tubuh Gilang.
Yunita yang menyaksikannya dari luar pun turut meneteskan air mata. Berharap pintu hati Belva bisa terketuk dengan melihat kondisi Gilang saat ini.
🌻🌻🌻
"Bel... Bangun, Nak."
Belva merasakan sebuah tangan yang mengusap pipinya pelan. Bahunya pun digoncangkan tidak begitu kencang.
Kedua mata Belva terbuka meskipun harus menyesuaikan cahaya terlebih dahulu.
Dia tertidur saat ruangan masih disinari matahari dari jendela. Dan dibangunkan saat penerangan sudah berubah menjadi lampu.
"Ma? Mas Gilang di mana? Dia udah sadar?"
Yunita mengangguk dan tersenyum lebar. "Gilang sudah bangun tuh. Tadinya Mama mau bangunin kamu, kasih tau kalau dia sudah sadar. Tapi katanya jangan. Mau lihat kamu tidur dulu katanya."
Belva melirik ranjang tempat Gilang duduk dan tengah tersenyum lebar sambil menatapnya.
Bahkan wajahnya terlihat lebih sehat. Kepalanya pun hanya memar sedikit di atas alisnya.
"Ma?"
"Ya, Sayang. Kenapa, ada apa?"
"Bukannya Mas Gilang kecelakaan?"
Yunita mengangguk membenarkan. "Iya, Bel. Kenapa, sih?"
"Bukannya Mas Gilang koma?"
"Nggak separah itu kali, Yang. Mas baik-baik aja ini. Kamu cuma mimpi itu." Gilang menyahut membuat Belva terdiam sejenak.
Belva mengingat lagi apa yang terjadi. Semua terasa nyata tapi ternyata hanyalah sebuah mimpi.
"Tapi_"
"Ma, kita boleh bicara dulu berdua?" Gilang berbicara sebelum Belva menyelesaikan ucapannya.
Yunita mengangguk dan keluar dari kamar rawat Gilang. Membiarkan Gilang berbicara berdua dengan Belva.
Setelah Yunita keluar, Gilang mendekati Belva yang duduk di atas sofa.
"Mas Gilang mau ngapain?" tanya Belva dengan panik melihat Gilang turun dari tempat tidurnya. Bahkan sembari menarik tiang tempat infusnya menggantung.
__ADS_1
"Kamu mimpi apa?" tanya Gilang setelah duduk di samping Belva. Tangannya yang tidak diinfus mengusap kepala Belva yang sedikit basah karena berkeringat.
"Mimpi buruk," jawab Belva singkat.
"Pasti mimpi Mas kecelakaan, lukanya parah. Bangun-bangun bilangnya Mas koma," tebak Gilang yang dibalas anggukan kepala oleh Belva.
"Lucu, ya."
Belva mengerutkan keningnya. "Apanya yang lucu?"
"Mimpi kita bisa nyambung gitu."
"Maksudnya gimana, sih, Mas?" Belva semakin tak mengerti dengan arah pembicaraan Gilang.
"Mas mimpinya cuma sampai Mas kecelakaan. Lalu setelah itu Mas kebangun."
"Memangnya sebelumnya Mas Gilang mimpi apa?" Belum ada nada keramahan sedikitpun dari Belva. Padahal, di mimpinya tadi dia menangisi Gilang.
"Mas mimpi kamu bercinta dengan sepupumu itu."
"Ngaco kamu, Mas. Sampai di mimpimu aja kamu menganggap aku mau disentuh lelaki lain. Padahal aku nggak pernah macam-macam dengan lelaki manapun. Bersentuhan hanya sebatas salaman, nggak lebih."
"Kamu terlalu dekat dengan sepupumu itu, Sayang."
"Kami udah dekat sejak kami masih kecil."
"Tapi dia cinta sama kamu."
"Yang penting aku enggak."
"Terus kamu cintanya sama siapa, dong?"
Belva terdiam mendengar pertanyaan Gilang yang satu itu. Ingin berkata bahwa dia hanya mencintai Gilang, tapi kini Belva tengah mempertahankan gengsinya untuk tidak mengucapkannya.
"Maaf, Sayang. Mas sadar itu cuma mimpi. Di mimpi Mas, Mas marah. Mas nggak terima kamu menjadi milik orang lain. Sampai akhirnya Mas kebut-kebutan lalu bertabrakan dengan truk. Saat itu Mas akhirnya sadar dari pingsan dan udah ada di rumah sakit ini. Tapi anehnya malah mimpinya kamu yang lanjutin," ucap Gilang setelah melihat Belva terdiam tak ada tanda-tanda akan menjawab pertanyaannya.
Belva masih belum bisa mencerna semuanya. Ini terlalu membingungkan baginya. Melanjutkan mimpi Gilang? Aneh, tapi itu yang terjadi.
Lalu soal janjinya yang ada di mimpi tadi, apakah Belva juga harus menepatinya?
🌻🌻🌻
Saat Yunita bersama Belva di restoran hotel tadi, Yunita mendapatkan kabar kalau Gilang kecelakaan.
Gilang nekat menyetir mobil dalam keadaan diinfus demi menyusul Belva.
Tapi karena kepalanya terlalu pusing, Gilang tak bisa menguasai mobilnya. Hingga akhirnya mobilnya menabrak pohon dan kepalanya mengalami benturan sampai dia tidak sadarkan diri.
Belva dan Yunita panik. Keduanya langsung menuju rumah sakit tempat Gilang mendapatkan penanganan.
Untung saja Gilang tidak terluka parah. Hanya luka memar di dahinya dan kondisi tubuhnya yang sedang tidak fit membuat Gilang tidak sadarkan diri.
Belva menunggu Gilang di kamar rawat. Gilang yang tak kunjung sadar membuat Belva akhirnya tertidur dan mengalami mimpi mengerikan tersebut.
🌻🌻🌻
Sengaja nggak bukain komentar setelah up yang kemarin. Banyak yang kecewa ya? 😂 Ternyata aku nggak siap dihujat. Gatel pengen up part ini dari semalam tapi sabar sampai pagi ini. Huhhh... sampai Ada yang mau berhenti baca katanya. Monggo, silahkan! 😅😅🙏🙏
__ADS_1
Soal hamil terus bercerai, kayaknya ada kok artis yang cerai waktu hamil. Dia nggak halu. Beneran kenyataan. 😂😂
Part ini lebih nggak nyambung lagi.