Gadis Belia Istri CEO Duda

Gadis Belia Istri CEO Duda
Part 88


__ADS_3

Belva pikir, semua drama sudah selesai ketika dia sudah membawa Gina ke rumahnya untuk tinggal bersama dirinya dan Gilang.


Tapi ternyata dugaannya salah. Justru semua drama baru saja dimulai ketika Gina menginjakkan kakinya di kediaman Belva dan Gilang.


Belva yang baru belajar menjadi seorang ibu untuk anaknya sendiri, kini juga harus belajar menjadi seorang ibu untuk Gina.


Segala yang dia lakukan harus serba hati-hati agar Gina tak merasa dia dibedakan. Termasuk dalam hal kasih sayang antara Zurra dan Gina.


Tidak perlu disalahkan. Semua adalah keputusannya sendiri untuk membawa Gina masuk ke dalam rumahnya. Jadi apapun yang resikonya, Belva akan menghadapinya.


Belum lagi Belva harus membuat kedua mertuanya menerima Gina seutuhnya sebagai cucu mereka.


Ditambah lagi dengan orangtuanya sendiri yang sempat menganggapnya bodoh karena sudah mau merawat anak Gilang dengan selingkuhannya di masa lalu itu.


Tapi sekali lagi, ini kemauan Belva sendiri. Gilang mampu untuk bertanggungjawab meskipun dalam hukum Islam dia tidak berkewajiban untuk menafkahi Gina.


"Nggak harus juga anak itu dibawa ke rumah, kan, Bel? Lagipula Gilang udah kasih pengasuh buat dia. Segala keperluannya juga sudah kalian tanggung," protes Vita yang mendapat dukungan dari Yunita.


"Aku juga sudah bilang kayak gitu lho, Dek Vita. Tapi Belva dan Gilang sama-sama ngeyel, sih." Yunita menimpali.


"Mama pernah bayangin nggak kalau seandainya ada di posisi anak itu? Meskipun tanpa ikatan yang sah negara, Mas Gilang itu ayahnya. Dan hanya Mas Gilang satu-satunya orang yang dia miliki saat ini. Ibunya sudah meninggal. Bukan pergi ke luar kota atau ke luar negeri. Aku nggak mau kalau Gina besar nanti Gina akan marah pada kami dan akan menimbulkan masalah baru lagi."


"Gimana kalau Gina berpikir, dia juga anaknya Mas Gilang. Tapi dia tidak mendapatkan perhatian dan perlakuan yang sama dengan anak Mas Gilang yang lainnya. Tolonglah, Ma. Aku cuma butuh dukungan agar aku bisa jadi ibu yang baik untuk mereka. Sekali lagi, Gina nggak salah. Yang salah itu kedua orangtuanya. Dia tetap anak kecil yang nggak tau apa-apa."


Yunita dan Vita saling melempar pandangan. Mereka hanya bisa terdiam setelah mendengar ucapan panjang Belva.


Gilang yang diam-diam mendengarkan pembelaan Belva untuk Gina pun turut terdiam. Dirinya baru saja pulang dari kantor dan langsung menjemput Gina di sekolahnya.


Gina yang belum sempat di briefing agar dia diam terlebih dahulu pun langsung berjalan ke arah Belva dan dengan lantang memanggilnya.


"Mama...",


Kedua ibu Belva memandang Belva dengan tajam mendengar panggilan Gina terhadap Belva.


"Hai. Sudah pulang sekolah? Sama siapa pulangnya?"


"Tadi dijemput Papa, Ma."

__ADS_1


"Terus sekarang Papanya dimana?"


"Masih di luar."


Belva tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Salim dulu sama Oma. Ini Oma Vita. Mamanya Mama. Dan ini Oma Yunita. Masih ingat, kan?"


Gina mengangguk dengan antusias. "Masih, dong, Ma."


Meskipun Vita dan Yunita tak bereaksi apapun, tapi mereka tidak menolak saat Gina mengulurkan tangannya untuk bersalaman.


Reaksi antara Belva dengan Gina menjadi perhatian bagi Yunita dan Vita. Apalagi panggilan Mama yang begitu nyaring didengar.


"Dia panggil kamu Mama, Bel?"


Belva tersenyum. "Aku lebih cemburu kalau dia panggil Mas Gilang dengan sebutan Papa sedangkan ke aku panggilnya Tante atau yang lainnya, Ma."


***


Sejak hari itu, Yunita sendiri juga sudah berusaha mengakrabkan diri dengan Gina.


Kadang, ketika dia datang dan membawa mainan, Yunita tak hanya membawa untuk Zurra saja. Tapi juga membawakan Gina meskipun mainan tersebut tak semahal yang diberikan pada Zurra.


🌻🌻🌻


Setahun sudah Gina tinggal bersama Belva dan Gilang.


Perlahan dia mulai mengerti bahwa dia bukanlah anak kandung Belva.


Hati dan cinta itu tidak bisa adil. Pasti akan condong ke salah satu pihak. Perhatian Belva dan Gilang sudah tentu lebih banyak ke Zurra.


Juga perhatian semua orang yang datang ke rumah Belva. Mereka pasti lebih perhatian kepada Zurra dan hanya menyapa Gina sekilas saja.


"Kamu enak, ya, Dek. Semua orang sayang sama kamu. Kamu juga masih punya Mama. Ibuku udah nggak ada. Aku kangen, deh, sama ibu," ucap Gina saat dia tengah menemani Zurra bermain.


Belva yang tidak sengaja mendengarnya pun merasa tidak enak hati dengan apa yang diucapkan Gina. Marah mungkin karena Gina seolah-olah tidak menganggap dirinya itu Mamanya seperti yang Belva lakukan selama ini.


Menerima dan menganggap Gina sebagai anaknya sendiri. Dan juga berusaha tidak membeda-bedakan antara Gina dengan Zurra meskipun masih banyak hal yang kurang.

__ADS_1


"Maksudnya apa Gina ngomong kayak gitu? Mama nggak suka, ya, Gina ngomong begitu. Gina boleh kangen sama ibunya Gina. Tapi Mama ini juga Mamanya Gina. Gina nggak suka punya Mama?"


Gina menatap Belva dengan penuh rasa takut. Sadar ucapannya sudah kasar, Belva segera memeluk Gina.


"Gina jangan ngomong kayak gitu lagi, ya. Gina itu punya Mama dan Papa. Mama dan Papa minta maaf kalau selama ini kurang perhatian ke Gina. Tapi Mama sedih kalau Gina bilang seperti itu."


"Gina minta maaf, Ma. Gina kangen sama ibu. Gina pengen sekolah diantar jemput sama ibu kalau sekolah kayak teman-teman Gina yang lainnya."


"Kalau gitu mulai besok Mama dan adik Zurra akan ikut mengantar Gina ke sekolah. Habis itu kita jenguk ibu, ya. Katanya Gina kangen sama ibu."


Gina mengangguk antusias. Wajah sedihnya sudah berubah menjadi ceria mendengar ucapan Belva. "Beneran, Ma?"


"Iya, dong. Tapi Gina harus janji, ya. Jangan ngomong kayak tadi lagi. Mama nggak suka. Kalau Papa dengar pun pasti Papa juga nggak suka, sayang."


"Maafin Gina, ya, Ma. Gina janji nggak akan ulangi lagi."


"Good girl."


***


"Pagi-pagi udah rapi aja, Sayang? Mau kemana?"


Belva memang tidak menceritakan apa yang terjadi kemarin pada Gilang. Sampai dia lupa kalau mulai pagi ini dia sendiri yang akan mengantar Gina ke sekolah.


Tidak yakin bisa setiap hari. Tapi setidaknya Belva sudah berusaha.


"Aku mau sering-sering ikut mengantar Gina ke sekolah, Mas."


"Kenapa? Kok, tumben?"


"Ya biar ada kegiatan aja, Mas. Kan, seru kayaknya kalau antar jemput anak sekolah itu."


Gilang tertawa kecil. Sepertinya Belva sudah lupa kalau dulu dia berkeinginan untuk melanjutkan kuliah setelah melahirkan.


Tapi Gilang tak ingin menanyakan hal tersebut. Sejujurnya dia lebih senang jika Belva berada di rumah. Namun jika suatu hari nanti Belva untuk kuliah atau usaha yang lainnya sebagai kesibukannya setelah anak-anak besar nanti, Gilang tak akan melarangnya.


🌻🌻🌻

__ADS_1


Mohon maaf kalau selanjutnya banyak part absurd, membosankan. sebenarnya ide udah habis. tapi ada satu hal yang membuat aku nggak bisa tamatin sekarang. 🙂🙂🙂


__ADS_2