Gadis Belia Istri CEO Duda

Gadis Belia Istri CEO Duda
Part 63


__ADS_3

Katanya, orang hamil moodnya gampang berubah. Keinginannya juga bisa berubah setiap saat. Bahkan terkesan mendadak.


Seperti Belva saat ini. Kemarin dia lupa membeli seragam untuk Bridesmaids. Untuk Tiara, Eliza dan Rania. Belva sudah membayangkan bagaimana reaksi mereka kalau tau Belva akan mengadakan resepsi pernikahannya dengan Gilang.


Atau mungkin reaksi mereka tau kalau Belva dan Gilang sudah kembali berbaikan mengingat besarnya pertengkaran mereka waktu itu. Belva pun sampai menghilang untuk menenangkan dirinya.


"Kamu nggak jadi ikut Mas ke Jakarta, Sayang?"


Belva menggelengkan kepalanya. "Aku nyusul aja. Aku mau ketemu sama temen-temen aku dulu."


Gilang ingin menunggu Belva sampai besok atau lusa agar bisa berangkat bersama ke Jakarta. Sejak hubungannya dengan Belva kembali harmonis, Gilang enggan melewatkan sedetik pun tanpa Belva di sampingnya.


Tapi pekerjaan sudah memanggilnya. Gilang tidak bisa lagi menundanya sampai besok.


"Ya sudah. Jangan malam-malam pulangnya, ya. Mas berangkat dulu."


Belva mengangguk, mengantar Gilang sampai depan rumah. Gilang tak mengijinkan Belva untuk mengantarnya sampai ke bandara karena perjalanan menuju bandara cukup jauh.


Setelah Gilang pergi, Belva pun bersiap-siap pergi ke butik yang dia kunjungi kemarin untuk membeli dress untuk ketiga temannya.


***


Tiara dan Indra sudah datang lebih dulu. Menyusul Eliza. Lalu Rania yang datang setengah jam kemudian karena dia baru selesai kuliah.


Sedangkan tersangka yang mengajak mereka bertemu belum juga nampak batang hidungnya. Siapa lagi kalau bukan Belva.


Setelah beberapa menit menunggu, Belva datang dengan membawa tiga paper bag di tangannya.


Wajahnya terlihat begitu ceria seperti Belva yang mereka kenal dulu. Tidak seperti kemarin saat Belva tengah bertengkar dengan Gilang. Yang meskipun sedang tertawa, tapi matanya tetap menampakkan sebuah luka.


"Hai..." sapa Belva kepada teman-temannya.


"Hai, Bel. Sehat, kan?" tanya Tiara yang memang sudah lama sekali mereka tidak bertemu.


"Sehat, Kak."


"Seneng banget kayaknya. Ada apa, nih?"


Belva tersenyum lebar. Lalu memberikan masing-masing paper bag yang sudah bertuliskan nama mereka masing-masing.


Mereka memandang Belva dengan penuh tanya. "Apa, nih?" tanya Eliza.


"Buka, dong."


"Baju?" tanya Rania. Lalu melihat yang dikeluarkan oleh Eliza dan Tiara. Baju dengan warna yang sama tapi dengan model yang berbeda.


"Ada acara apa nih kita di kasih seragam begini?"


"Resepsi pernikahan aku, dong. Kalian jadi Bridesmaids, ya," jawab Belva yang membuat teman-temannya terkejut.

__ADS_1


"Serius?"


Belva menganggukkan kepalanya.


"Udah baikan sama si Gilang itu?" sambung Indra yang sejak tadi hanya diam.


"Kalau nggak baikan, mana mungkin mau resepsi begini?"


"Gimana ceritanya?" Eliza penasaran. Padahal tidak penting juga baginya bagaimana proses Belva dan Gilang berbaikan. Yang terpenting adalah sahabatnya bahagia.


"Nggak usah diceritain. Yang penting kalian nanti datang, ya. Jangan sampai enggak. Di Surabaya, kok, resepsinya. Tapi setelah itu nanti kayaknya aku bakalan lama di Jakarta."


"Terus kuliah kamu gimana?"


"Aku berhenti untuk sementara waktu. Yah, udah resiko dari semua keputusan yang pernah aku ambil. It's oke. Nggak masalah, kok."


"It's oke, Bel. Apapun keputusan kamu, kita tetap dukung, kok, yang terbaik buat kamu. Be happy, ya. Jangan kabur-kaburan lagi. Dan semoga kemarin itu masalah besar yang terakhir yang menimpa rumah tangga kamu. Duh jadi pengen dinikahin juga, kan," ucap Tiara yang langsung mendapat lirikan mata dari Indra.


"Ngode, Yang?" tanya Indra.


"Alhamdulillah kalau peka."


"Kalau semua bawa pasangan, aku gimana, dong?" tanya Rania yang dibalas dengan tawa. Semua tahu bahwa hanya Rania yang tidak memiliki kekasih.


Tunggu, setau Belva Eliza juga tidak punya pacar karena baru saja putus beberapa bulan yang lalu.


Rania memandang Belva. "Kamu belum tau, ya? Aku lupa cerita."


"Cerita apa?"


"Tau, kan, yang pernah aku ceritain anak kesehatan yang dekat sama Kak Wisnu?"


"Jangan bilang Eliza orangnya!"


"Ya emang dia."


"Whatt? Serius, El?" Belva tak bisa mengontrol suaranya. Bahkan Eliza harus membungkam mulut Belva dengan tangannya karena mereka sudah menjadi pusat perhatian.


"Aku aja baru tau sepulangnya kita dari Jakarta waktu itu. Kak Wisnu tanya-tanya gimana bisa aku foto sama Eliza di sana. Ya dia bilang kalau Eliza itu ceweknya dia."


"Oh, my God. Plot twistnya keren banget, sih, ini. Nggak nyangka banget kalau Eliza jadi pacarnya Kak Wisnu sekarang. El, kamu nggak cerita kalau udah punya pacar? Tega kamu, ya."


Eliza tersenyum malu. "Sorry. Waktu itu kita jadiannya pas kamu nggak ada kabar. Pas ketemu, aku juga lupa mau cerita ke kamu."


Belva mengangguk paham.


Lagipula, tidak semua yang terjadi dihidup Eliza dia harus tau. Begitupun sebaliknya.


Yang terpenting adalah persahabatan mereka tetap awet dan tidak ada masalah apapun. Saling pengertian satu sama lain.

__ADS_1


🌻🌻🌻


Kabar kembalinya Belva dengan Gilang sudah terdengar oleh Rey. Bahkan bersamaan dengan kabar resepsi pernikahan yang akan segera mereka laksanakan.


Lagi-lagi Rey dibuat patah hati. Pulangnya ke Indonesia dengan harapan yang begitu besar bisa memiliki Belva, nyatanya tidak pernah terwujud juga.


Sedikit menyesal saat itu mengijinkan Belva untuk membeli tiket konser di Jakarta dan Belva datang juga kesana demi menemui teman-temannya.


Hal yang Rey takutkan adalah, pertemuan kembali antara Belva dan Gilang. Lalu mereka bicara dan akhirnya kembali bersatu seperti ini.


Harusnya dia memakai cara yang licik untuk memisahkan Belva dan Gilang. Kalau perlu dengan cara yang menjijikkan sekalipun.


Tak peduli asalkan Belva bisa menjadi miliknya.


"Kamu itu kayak nggak ada wanita lain aja, sih, Rey. Kamu ganteng, masih muda, pekerjaan mapan. Bahkan calon pewaris tunggal. Jangan sampai kamu merusak rumah tangga orang," ucap Renita, Mama Rey, penuh dengan penekanan.


"Rey masih bisa berpikir normal, Ma. Cinta nggak membuat Rey bodoh."


"Siapa yang bilang? Ini kamu galau begini bukan termasuk bodoh karena cinta? Lagian Mama udah berkali-kali bilang sama kamu, nggak pantas kamu suka sama sepupu kamu sendiri."


"Tapi halal untuk dinikahi, kok, Ma."


"Emang pantas dilihat orang-orang menikahi sepupu sendiri? Kayak nggak ada perempuan lain aja. Udahlah, move on! Kamu ganteng, cari cewek yang lain. Yang nggak kalah cantik dari Belva."


"Tuh, kan. Mama aja mengakui kalau Belva cantik."


"Ya emang cantik. Terus kalau Belva cantik yang lain enggak cantik gitu?"


"Belva paling cantik."


"Bukan Mama?" Renita terlihat cemburu anak lelakinya menyebut wanita lain paling cantik.


"Setelah Mama. Belva perempuan paling cantik setelah Mama."


Rey memeluk Renita dari belakang. Sedikit merayu agar Mama tersayangnya itu tidak ngambek lagi karena Rey memuji wanita lain.


"Besok datang ke resepsi pernikahan Belva. Siapa tau ada calon menantu Mama."


"Ma, mulai, deh."


"Ya kenapa, sih, orang umurnya juga udah pantas buat nikah."


"Terserah Mama aja, deh."


Rey tak menjawab lagi. Percuma berdebat dengan ras terkuat di muka bumi. Yaitu emak-emak.


🌻🌻🌻


Nulis satu jam selesai. kumpulin niatnya sehari semalam.

__ADS_1


__ADS_2