
"Mas..."
Gilang menoleh. Dilihatnya Belva yang terbangun. Sedangkan Gilang tak tidur semalaman. Ada banyak hal yang dia pikirkan.
"Sudah bangun, Sayang?" Gilang mendekat. Meletakkan segelas kopi yang dipegangnya ke atas meja, lalu mendekap kembali tubuh istrinya. Waktu masih jam tiga dini hari.
"Mas nggak tidur apa gimana? Jam segini minum kopi."
"Tadi udah tidur sebentar. Terus kebangun tapi nggak bisa tidur lagi, Sayang," jawab Gilang berbohong. Semalaman dia tidak tidur walaupun hanya semenit saja.
Gilang masih kepikiran tentang semalam saat di bandara. Satu hal yang dibicarakan oleh wanita yang sudah lama dikenalnya.
"Mas Gilang ada masalah? Masih kesel, ya, sama aku?"
"Enggak, Sayang. Nggak ada apa-apa. Tidur lagi aja, sayang. Masih jam tiga."
"Tumben Mas Gilang nggak minta?"
"Memangnya kamu mau?"
Tanpa basa-basi Belva menganggukkan kepalanya. Rasanya ada yang berbeda jika semalam saja Gilang tidak menyentuhnya.
Gawat! Belva mulai kecanduan Gilang.
***
Gilang memberikan waktu dua hari untuk honeymoon dadakan yang diminta oleh Belva.
Mereka harus segera kembali ke Jakarta karena keluarga Anton akan segera mengadakan acara ngunduh waktu.
Pagi menjelang siang, Belva mengajak Gilang untuk datang ke tempat penjual nasi liwet solo kesukaannya yang ada di Bali.
Ada beberapa tempat yang menjualnya, tapi Belva hanya suka pada satu tempat saja. Tak peduli bahwa tempatnya lebih jauh. Bahkan keduanya harus menempuh hampir dua jam perjalanan.
"Mas Gilang ada masalah apa, sih? Cerita sama aku. Atau Mas Gilang masih nggak ikhlas nganterin aku ke sini? Kayaknya dari semalam Mas Gilang banyak diam." Belva bersuara. Memecah keheningan di dalam mobil.
Gilang lebih banyak diam sejak semalam. Membuat Belva merasa curiga, barangkali masih ada kesalahannya yang belum dimaafkan.
"Enggak ada masalah apa-apa, Sayang."
"Kayaknya umur aku emang masih kecil, ya, Mas, sukanya dibohongin gitu. Sayangnya aku nggak bisa dibohongin, Mas. Mata dan sikap Mas Gilang itu nggak bisa berbohong kalau sebenarnya ada hal yang sedang Mas Gilang pikirkan."
Pembicaraan mereka terhenti karena mereka sudah sampai di tempat tujuan. Belva turun terlebih dahulu tanpa menunggu Gilang.
Bahkan masuk ke dalam restoran pun tidak menunggu Gilang terlebih dahulu.
Setelah memesan dua porsi makanan yang diinginkan Belva, Belva pergi ke kamar mandi. Kehamilannya yang semakin besar membuat kandung kemihnya penuh dengan cepat.
Gilang yang sebelumnya sudah melihat Belva duduk dimana segera mendatangi meja tersebut sebelum ditempati orang lain.
Belva datang bersamaan dengan makanan yang sudah dia pesan.
"Dihabiskan ya, Sayang." Gilang membuka suara. Mengecek apakah Belva marah padanya atau tidak karena Gilang lebih banyak diam.
__ADS_1
Tanpa Gilang sangka, Belva justru mengulas senyuman lebar di bibirnya. "Siap, Mas. Nambah boleh?"
"Tentu saja. Tapi yang ini dihabiskan dulu, ya."
Belva mengangguk mengiyakan. Dia segera menikmati makanan yang tersaji di hadapannya.
"Habis ini mau kemana, Sayang?"
"Pulang ke hotel, Mas."
"Nggak pengen jalan-jalan dulu?"
Belva menggelengkan kepalanya. "Aku udah sering jalan-jalan ke Bali, Mas. Aku ke sini cuma pengen makan ini doang, nggak pengen jalan-jalan."
Sudah tidak terhitung lagi berapa kali Belva menginjakkan kakinya di Bali. Penerbangan yang tidak memakan waktu yang cukup lama pun membuat Surabaya Bali seolah hanya dari kamar sampai depan rumah saja bagi Belva.
Belva bisa berangkat pagi lalu pulang lagi sore atau malam hari.
"Oke. Kalau gitu besok kita udah bisa pulang ke Jakarta, kan? Pakai jet pribadi milik teman Mas saja biar tempat duduk kita nggak jauhan lagi."
Belva tertawa kecil mendengarnya. Mengingat semalam saat mereka berangkat ke Bali.
Gilang sempat menawarkan jet pribadi milik temannya juga untuk berangkat. Tapi Belva tidak mau karena sudah terlanjur membeli tiketnya.
"Terserah Mas Gilang aja, deh."
"Oh iya, Mas belum kasih kamu hukuman atas perbuatan kamu kemarin, Sayang."
"Perbuatan yang mana?"
Belva tertawa lagi. "Emangnya mau hukum aku apa, Mas?"
"Nanti, ya, habis dari sini. Kita check out dari hotel yang tadi. Pindah ke hotel yang lebih romantis."
"Kok, aku udah feeling, ya, hukuman apa yang mau Mas kasih buat aku?"
Tawa Gilang berderai. "Kali ini akan berbeda, Sayang."
"Aww... Jadi penasaran," ucap Belva sambil menggigit bibir bawahnya untuk menggoda Gilang.
"****!" Gilang mulai gerah mendapatkan godaan dari Belva. Sejenak dia lupa tentang masalah yang dia pikirkan. "Cepat habiskan makananmu, Sayang. Mas udah nggak sabar buat ngasih hukuman ke kamu."
Belva tertawa lepas mendengar ucapan Gilang.
***
Gilang membawa Belva ke sebuah resort dengan view lautan. Berbeda dengan hotel sebelumnya yang berada di pusat kota Bali.
Berada di ketinggian, kamar yang dipesan oleh Gilang tersebut berjarak sekitar lima puluh meter dengan kamar yang lain. Kamar Gilang dan Belva berada di tempat tertinggi. Dan tentunya pemandangannya juga lebih bagus lagi.
Saat membuka pintu, pemandangan pertama ada lautan lepas. Dilengkapi dengan kolam renang pribadi juga.
"Suka nggak sama tempatnya?"
__ADS_1
"Suka banget, Mas."
Senja menyambut kedatangan mereka. Mata keduanya semakin dimanjakan dengan pemandangan alam semesta yang begitu indah.
"Kalau begitu, aku mau di sini beberapa hari lagi, Mas," ucap Belva.
"Sampai besok saja, sayang. Habis acara di Jakarta Mas masih cuti. Kita pergi ke tempat yang nggak kalah bagusnya dari sini."
"Janji?"
Gilang menganggukkan kepalanya dengan yakin. "Janji, Sayang."
Belva sibuk menatap dan mengagumi senja. Tapi Gilang justru mengagumi wanita cantik di hadapannya. Wanita yang semakin terlihat seksi dengan perutnya yang membesar karena mengandung buah cinta mereka.
"Cantik banget, Mas."
"Kamu lebih cantik, Sayang."
Tangan kekar namun lembut tersebut mengusap pipi Belva. Belva memejamkan matanya menikmati sentuhan yang semakin lama semakin menyentuh tempat-tempat tertentu yang berhasil membuat tubuhnya terasa panas dingin.
"Siap untuk menerima hukuman, Sayang?" bisik Gilang dengan sedikit menggigit daun telinga Belva.
Belva tertawa kecil. "Aku selalu siap jika seperti ini hukumannya, Mas. Ke kamar yuk."
"No. Mas mau di sini."
"Oke."
Belva tak menolak saat Gilang mengajaknya bercinta di luar kamar. Hari mulai gelap saat keduanya saling menanggalkan pakaian yang mereka kenakan.
Benar kata Gilang, kali ini terasa berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Selain dengan suasana yang berbeda, ada hal lain juga yang Belva rasakan.
Gilang berhasil membuatnya squi*ting. Hal yang baru Belva ketahui kalau perempuan pun bisa mengalaminya. Rasanya berkali-kali lebih nikmat dari biasanya.
"Astaga, Mas. Memangnya kita udah sholat Maghrib sama isya'?"
"Astaghfirullah, Belva. Mas lupa."
"Kalau gitu, nanti dosanya yang nanggung Mas Gilang. Mas yang ngajakin duluan soalnya."
"Iya, Sayang. Mas yang salah. Kita mandi dulu habis itu sholat. Maghribnya juga dikerjakan."
"Emang boleh kayak gitu?" Belva menyela ucapan Gilang.
"Mas nggak tau, Sayang. Yang penting dikerjakan dulu. Masalah diterima apa enggak itu urusan Allah. Tapi nanti habis sholat dilanjut lagi, ya?" Gilang menaikturunkan kedua alisnya.
Di saat seperti ini, masih sempat juga Gilang mengucapkan kalimat tersebut.
"Aku lapar, Mas. Makan dulu."
Gilang tertawa kecil. "Oke. Habis ini kita turun dulu buat makan, ya."
"Oke."
__ADS_1
🌻🌻🌻