Gadis Belia Istri CEO Duda

Gadis Belia Istri CEO Duda
Part 86


__ADS_3

"Bu Belva, Bu Viona sedang kritis. Ini saya dan Regina sedang perjalan ke rumah sakit."


Berkali-kali Belva harus mengulang membaca isi pesan dari Rika, pengasuh Regina. Semua demi meyakinkan bahwa yang dia baca itu tidak salah.


Viona kritis. Dia kenapa?


"Baca, Mas!" perintahnya pada Gilang yang tengah menggendong Zurra. Handphonenya dia berikan kepada Gilang.


"Apa?"


"Pesan dari Rika."


Reaksi Gilang pun tentu sama dengan Belva. Gilang juga membacanya berulangkali demi memastikan bahwa dia tidak salah baca.


"Sakit apa dia?"


"Aku nggak tau, Mas. Rika juga nggak bilang, kan? Mending Mas ke rumah sakit sekarang, deh."


Gilang mengerutkan keningnya. "Buat apa?"


"Kok, buat apa, sih, Mas? Ya biar tau keadaan Viona, dong. Dia sakit apa, kenapa bisa kritis?"


"Tunggu kabar dari Rika ajalah, Sayang. Ngapain juga Mas ke sana?"


Belva menghembuskan napas pelan. Percuma juga menyuruh Gilang untuk pergi ke rumah sakit. Gilang justru memilih menidurkan anaknya ke tempat tidur bayi. Lalu Gilang mengajak Belva untuk berbaring di atas ranjang.


"Serius Mas nggak mau ke sana?" Belva masih berusaha membujuk Gilang.


Rasa penasarannya terlalu tinggi. Rika juga tak kunjung memberikan kabar terbaru tentang Viona.


"Tidur, sayang. Mumpung anaknya lagi tidur, kamu juga harus tidur." Gilang mengucapkannya dalam keadaan mata sudah terpejam.


Belva menghela napas pasrah. Dia hanya bisa menunggu kabar dari Rika tentang Viona.


***


"Ya, hallo."


"Nak Gilang, Viona sudah meninggal."


Gilang yang semula masih mengumpulkan nyawanya pun kini membelalakkan matanya mendengar ucapan seseorang yang meneleponnya.


Sebelumnya Gilang tak melihat siapa yang meneleponnya. Ternyata itu adalah Risma yang mengabarkan bahwa Viona sudah tidak ada.


"Bu Risma serius?"

__ADS_1


"Apa mungkin hal seperti ini seperti ini saya jadikan bahan candaan, Nak? Viona meninggal setengah jam yang lalu. Sekarang kami sedang dalam proses mengurus kepulangan jenazahnya."


"Saya ke rumah sakit sekarang, Bu."


"Baik, Nak Gilang."


Gilang segera beranjak dari tempat tidurnya untuk membersihkan diri terlebih dahulu.


Kepalanya sedikit pusing karena bangun dalam keadaan terkejut.


"Mas Gilang mau kemana?" Belva yang sudah terbangun pun bertanya pada Gilang yang sedang menyisir rambutnya di depan cermin.


"Sayang, ada kabar duka."


"Apa, Mas? Kabar duka apa?"


"Tadi Bu Risma telepon dan mengabarkan kalau Viona meninggal dunia."


"Apa? Seriusan?"


Gilang menganggukkan kepalanya. "Sekarang Mas mau ke rumah sakit dulu."


"Aku ikut, Mas."


"Nggak sekarang, Sayang. Kamu bersih-bersih dulu, nyusuin Zurra dulu. Nanti Mas jemput kamu kalau jenazahnya sudah dibawa pulang."


"Mas juga belum tau. Bu Risma belum bilang apa-apa. Nanti Mas cari tahu dulu."


Belva mengangguk setuju. Dia membiarkan Gilang meninggalkannya setelah Gilang mencium keningnya dengan lekat.


Kepala Belva terus memikirkan apa penyebab Viona meninggal sampai dia tidak fokus sama sekali. Bahkan saat memberikan ASIP untuk Zurra pun ujung botol susunya tidak masuk ke dalam mulut kecil Zurra.


"Mbak Belva, itu botolnya meleset," tegur Yeni yang baru saja masuk ke kamar Zurra.


"Ya Allah... Basah semua bajunya, Sus. Aduh, gara-gara ngelamun. Maafin Mama ya, Sayang."


Dengan sigap Belva mengganti baju Zurra yang basah karena ASI yang tumpah gara-gara Belva melamun.


Setelah menggantikan baju anaknya, Belva kembali mencoba menelepon Gilang. Tapi sayang, Gilang belum juga mengangkatnya.


Perasaan Belva menjadi tak karuan. Ingin rasanya dia pergi ke rumah sakit menyusul Gilang. Tapi tadi Gilang berpesan bahwa dia yang akan menjemput Belva nanti.


🌻🌻🌻


Sesampainya Gilang di rumah sakit, di sana sudah ada Risma, Hengky, Amira, Regina dan juga Rika.

__ADS_1


Regina terus menangis di pelukan Risma. Anak itu begitu kehilangan ibunya. Usianya baru hampir menginjak lima tahun. Tapi perjalanan hidupnya begitu berat untuk ukuran anak kecil seperti dirinya.


Tumbuh tanpa dekapan ibunya karena ibunya koma setelah melahirkan dirinya. Lalu baru beberapa saat merasa bahagia ada ibunya, kini ternyata Tuhan lebih sayang pada ibunya.


"Nak Gilang."


Hanya Risma yang menyapa Gilang di sana. Hengky sibuk mondar-mandir mengurus administrasi. Wajahnya terlihat hancur sekali setelah kepergian Viona.


"Apa yang terjadi, Bu?"


Risma mengusap kepala Gina sembari mengingat kembali beberapa saat yang lalu saat Viona merasakan kesakitan yang luar biasa di perutnya.


"Dia bilang dia mengidap kanker rahim setelah memeriksakan sakitnya itu ke dokter, Nak Gilang. Tapi karena imun tubuhnya yang lemah pasca koma, kanker itu tumbuh dengan sangat cepat. Karena itu dia ngotot sekali agar Gina tinggal dengan kalian. Padahal ibu tidak masalah jika mengasuh Gina yang sudah ibu anggap seperti cucu ibu sendiri."


"Apa karena sakit ini Viona tidak pulang? Maaf, Bu. Saya memang mendapatkan berita apapun tentang Viona melalui Rika. Termasuk Viona yang tidak pernah pulang lagi setelah Rika tinggal di sana."


Risma menganggukkan kepalanya. "Benar, Nak Gilang. Tadinya dia mau kemoterapi agar bisa sembuh dan bisa hidup lebih lama dengan Gina. Tapi belum sampai di rumah sakit, Viona sudah jatuh tak sadarkan diri saat menunggu angkutan umum. Sejak saat itu, Viona tak lagi membuka matanya. Ibu yang setiap malam menjaganya di sini. Dan dini hari tadi, kondisinya benar-benar menurun sampai dia dinyatakan kritis oleh dokter. Ibu juga meminta Rika untuk membawa Gina ke sini dengan harapan Viona akan kembali bangkit jika ada Gina di sampingnya. Tapi ternyata dia memilih menyerah dengan rasa sakitnya. Allah menakdirkan bahwa umurnya hanya sampai hari ini saja."


Gilang mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Selama ini dia sudah curiga dengan Viona. Mengira Viona bekerja di dunia malam seperti halnya Amira.


Tapi ternyata dia sedang berjuang antara hidup dan mati.


Risma juga menceritakan bahwa Viona juga sempat terpuruk saat Hengky memilih pergi meninggalkan Viona tanpa kabar.


Padahal Viona dan Amira sudah ada rencana untuk mencari Hengky yang katanya pindah ke Belanda.


Saat mendengar Viona sakit dan kembali koma, Hengky segera mendatangi Viona dan menguraikan sederet panjang tentang penyesalannya meninggalkan Viona.


Dulu Hengky berharap semoga dengan perginya Hengky untuk beberapa saat akan membuat Viona tersadar akan besarnya cinta yang dia miliki.


Hengky berhasil melakukannya. Tapi kembalinya dia sudah terlambat. Viona telah pergi meninggalkan semua orang yang menyayanginya di dunia. Termasuk anaknya sendiri.


"Papa... Gina udah nggak punya ibu, ya? Kata nenek ibu sudah ke surga, ya?" Gina yang masih menangis terisak memandang Gilang dengan penuh tanya.


Mata itu menunjukkan luka yang amat dalam.


Gilang segera mengambil Gina dari pangkuan Risma. "Doakan ibumu, ya, Nak. Jangan pernah merasa sendiri karena masih ada Papa, nenek Risma, aunty Amira, Om Hengky, Mama Belva, adik Zurra. Dan semua orang yang menyayangi Gina."


"Allah jahat sudah ambil ibuku, Pa."


"Ssstt... Jangan berkata seperti itu, Gina! Allah tidak pernah jahat kepada hambanya. Allah mengambil ibunya Gina, itu karena Allah sayang sama ibunya Gina. Allah ingin lebih cepat bertemu dengan ibunya Gina."


Gilang mengeratkan pelukannya lagi pada tubuh kecil Gina.


Setelah ini mungkin dia akan membawa Gina tinggal di rumahnya. Tapi sebelumnya dia harus berbicara lagi kepada keluarganya.

__ADS_1


Kemarin Gilang sempat menyinggung Gina akan tinggal di rumahnya. Tapi Yunita dengan tegas menolak dan tidak mau Gina tinggal bersama Gilang dan Belva.


🌻🌻🌻


__ADS_2