
Belva sudah siap. Hanya saja dia harus menunggu Gilang yang masih menemui tamunya yang baru saja datang.
Harusnya jika cuti begini tidak ada pekerjaan yang harus dia kerjakan. Tapi namanya juga bos, pimpinan perusahaan, sedang sakit pun kadang masih ditelepon untuk urusan pekerjaan. Apalagi hanya cuti untuk rencana honeymoon yang entah kapan akan terwujud ini.
Belva duduk di atas kursi yang ada di lantai dua. Sedikit merasa bosan menunggu Gilang sejak sepuluh menit yang lalu.
"Papamu lama sekali," gumamnya sambil mengusap perutnya. Bayinya menendang kecil di dalam sana.
Seolah dia turut merasakan kebosanan yang Belva rasakan.
Belva tertawa kecil saat merasakan tendangan kaki kecil itu di dalam perutnya.
Saat itulah Gilang naik dan menyaksikan Belva tengah tertawa sambil mengusap perutnya.
Tak ingin kehilangan momen berharga tersebut, Gilang langsung memotret Belva dengan handphonenya. Lalu dia jadikan wallpaper handphone.
Wallpaper handphone yang semula polos dan seringnya memakai gambar bawaan handphone, kini sudah memakai foto Belva yang tengah hamil.
"Sudah siap, Sayang?"
Senyum di wajah Belva memudar mendengar suara Gilang. "Hampir balik tidur lagi," jawabnya sambil beranjak dan berjalan mendahului Gilang.
"Hati-hati, Sayang."
Gilang mengejar Belva yang menuruni tangga dengan berjalan cepat. Gilang segera menggandeng tangan Belva agar Belva tak terjatuh nantinya.
***
Dalam tenangnya Belva, sebenarnya jantungnya berdegup kencang. Pertama kalinya dia akan berhadapan dengan seorang pelakor yang berniat untuk merebut suaminya.
Wanita itu masih di rawat di rumah sakit untuk pemulihan pasca koma.
Gilang melirik istri cantiknya yang nampak begitu tenang. Tapi dia yakin Belva tengah gugup sekarang.
Gilang sendiri tidak tahu apa yang akan Belva ucapkan pada Viona nantinya.
Sesampainya di rumah sakit, Belva memasang wajah seceria mungkin. Bibirnya menyunggingkan senyuman manis dan tangannya tak segan untuk menggandeng tangan Gilang.
Berbeda sekali dengan wajah dingin yang dia tunjukkan kepada Gilang selama ada di rumah maupun di dalam mobil tadi.
Gilang lebih dulu masuk ke dalam kamar rawat Viona. Ternyata Hengky pun ada di sana. Lelaki itu sepertinya masih berjuang untuk mendapatkan hati Viona yang masih tertambat pada hati Gilang.
"Lang..." Viona memasang wajah bahagia melihat kedatangan Gilang.
Hampir saja Viona menghampiri Gilang untuk memeluknya. Tapi Belva lebih dulu menampakkan dirinya di samping Gilang dan memeluk tangan Gilang dengan posesif.
__ADS_1
Senyum di wajah Viona memudar. Berganti dengan tatapan kecewa melihat Belva yang begitu cantik. Lebih cantik dari dirinya tentu saja. Apalagi Belva tengah hamil sekarang.
"Hai, Tante. Kenalkan, aku Belva. Istrinya Mas Gilang." Belva menyapa dengan senyuman mengejek. Apalagi panggilannya untuk Viona sudah benar-benar mengejek Viona.
Wajah sedikit terlihat lebih tua dari usianya karena tidak ada perawatan selama bertahun-tahun. Tubuhnya kurus kering.
"Tante? Kamu panggil aku Tante? Emangnya wajah aku kayak Tante-tante apa?" Viona protes tak terima.
"It does look like that. Aku melihatnya seperti itu."
Viona tak terima dibilang seperti tante-tante seperti itu. "Lang, ajari istrimu untuk berbuat sopan. Lagian anak kecil begini dijadiin istri. Nggak punya sopan santun sama yang lebih tua."
"Lah, situ sendiri yang merasa tua. Gitu nggak terima dipanggil Tante."
Melihat perdebatan tersebut, Hengky segera mendekati Viona. "Sudah, ya. Mereka tamu loh. Duduk dan bicara baik-baik, ya."
"Mas Hengky diam aja, deh," ucap Viona dengan kesal sambil menepis tangan Hengky yang ada di bahunya.
"Kamu nggak tau antara Gilang dan aku itu sudah ada anak? Gilang harus bertanggungjawab atas anaknya."
Belva mengangguk paham. Masih dengan memasang wajah yang begitu tenang. Menghadapi pelakor harus dengan cara yang mahal dan lebih anggun lagi.
"Aku tau. Lalu kenapa nggak dari dulu kamu cari Mas Gilang? Dan sekarang malah merendahkan diri mau jadi pelakor?"
"Kurang ajar, kamu!" Viona hampir menampar wajah Belva. Tapi dengan sigap Gilang menahan tangan Viona.
"Jangan coba-coba kamu menyentuh milikku, Vi."
"Kamu tanya? Masih bisa kamu tanya seperti itu? Dia istriku. Apapun akan ku lakukan untuk melindungi dia. Jangan macam-macam kamu!"
Dalam hati Belva rasanya begitu bahagia mendengar pembelaan Gilang. Artinya memang tak ada perasaan apapun di dalam hati Gilang untuk Viona.
"Masalah tanggungjawab, kamu tidak perlu khawatir. Mas Gilang akan tetap bertanggungjawab atas anak itu. Meskipun sebenarnya anak diluar pernikahan satu, tidak memiliki hubungan nasab dengan ayahnya, melainkan mempunyai hubungan nasab dengan ibunya. Ayahnya tidak ada kewajiban memberi nafkah kepada anak tersebut, namun secara biologis adalah anaknya. Jadi hubungan yang timbul hanyalah secara manusiawi, bukan secara hukum."
"Dua, tidak saling mewarisi harta dengan ayahnya. Karena hubungan nasab merupakan salah satu penyebab mendapat warisan. Sedangkan anak kalian itu tidak ada nasab dengan Mas Gilang."
"Tiga, ayah tidak dapat menjadi wali bagi anak di luar nikah. Apabila anak di luar nikah kebetulan seorang perempuan dan sudah dewasa lalu akan menikah, maka ia tidak berhak dinikahkan oleh ayah biologisnya."
"Aku rasa sampai di sini kamu paham, ya. Mas Gilang itu nggak punya kewajiban apapun. Adanya hanya rasa kemanusiaan aja untuk tanggungjawab ke anak kamu. Kamu mau mengenalkan Mas Gilang sebagai ayahnya, silahkan. Tapi kamu nggak berhak menuntut apapun dari Mas Gilang."
Viona merasa lawannya bukanlah wanita biasa. Istri yang dipilih Gilang benar-benar cerdas dalam hal bicara, pikirnya.
Gilang sendiri terpana dengan cara Belva memberi penjelasan. Sangat jelas dan begitu lancar. Entah sejak kapan istri belianya itu berubah sedewasa ini dan sepintar ini dalam berdebat.
Tidak tahu saja mereka. Belva harus mencari sumber informasinya dari google. Dia juga harus menghapal detail demi detail agar bisa lancar berbicara di depan wanita ular macam Viona.
Belva segera mengajak Gilang keluar dari kamar rawat Viona. Sesampainya di dalam mobil, Belva menghembuskan napas lega, lalu memeluk Gilang dengan erat.
__ADS_1
"Wanita itu tersinggung sama ucapan aku nggak ya, Mas?"
"Kamu berkata benar, Sayang. Masalah tersinggung atau enggak, itu urusan hatinya sendiri. Yang penting kamu nggak salah. Terimakasih sudah mau ada di samping Mas, ya, Sayang. Kamu hebat banget tadi."
Berulangkali Gilang mengecup kepala Belva dengan penuh sayang dan penuh rasa bangga.
"Maafkan Mas, ya, Sayang. Maaf kalau kesalahan Mas terlalu banyak sampai kamu bosan mendengar permintaan maafnya Mas."
"Aku akan tetap mendampingi kamu dalam keadaan apapun, Mas. Asal kamu tidak mencintai wanita lain dan tetap menjadikan aku satu-satunya yang ada di hidup kamu."
"Mas janji nggak akan ada wanita lain yang Mas cintai."
"Soal anak itu..." Belva menggantung ucapannya, membuat Gilang berdebar menunggu kalimat selanjutnya.
"Aku nggak apa-apa kalau Mas mau dekat dengan dia. Bagaimanapun juga, dia darah daging kamu."
"Mas tidak akan melakukannya jika kamu keberatan, Sayang."
"Jangan membohongi hati Mas sendiri. Mas juga sayang, kan, sama dia? Aku yang akan mencoba menerima dia dalam hidupku."
Gilang tak bisa lagi berkata-kata untuk mengungkapkan perasaannya saat ini.
Belva luar biasa baginya. Entah terbuat dari apa hati yang dimiliki Belva sampai dia mau menerima Gilang dengan segala masa lalu buruknya.
"Hari Selasa kita berangkat ke Turki."
"Serius?"
Gilang mengangguk pasti. "Iya, Sayang. Kalau perlu kita keliling dunia. Kemanapun kamu mau, Mas akan kabulkan."
Belva tersenyum dan mengecup pipi Gilang dengan lekat. "Terimakasih, Mas."
"Kok, cuma pipi? Sebentar doang lagi."
"Terus maunya apa?"
"Yang lainnya juga, dong."
"Ngelunjak, ya. Lupa kalau sama dokter suruh puasa dulu beberapa waktu?"
"Enggak lupa, Sayang. Kita telepon dokternya boleh apa enggak."
"Mas, ih. Masa telepon dokter cuma mau tanya soal begituan?"
"Ya nggak apa-apa namanya juga kebutuhan."
"Mas Gilang, ih. Jangan_"
__ADS_1
"Halo, Dok..."
🌻🌻🌻