Gadis Belia Istri CEO Duda

Gadis Belia Istri CEO Duda
Part 101


__ADS_3

Setelah satu Minggu berada di negeri orang, keluarga kecil Belva pun akhirnya kembali ke Jakarta.


Kedua anak gadisnya sudah ijin sekolah selama satu Minggu untuk berlibur. Padahal satu bulan lagi mereka harus menghadapi ujian akhir semester.


Tidak ingin terlalu lama ijin sekolah, Gilang dan Belva memutuskan untuk seminggu saja mereka berada di Amsterdam.


Belva merasa aneh dengan perasaannya. Sepanjang perjalanan hatinya merasa tidak tenang dan begitu gelisah. Dia pun tak tahu apa yang menyebabkannya.


Sepanjang perjalanan Belva lebih banyak diam dan menikmati langit malam dari dalam pesawat.


"Kok, diam aja, sih, Mam? Sedih, ya, udah selesai liburannya?"


Belva menggelengkan kepalanya. "No. Perasaan aku gelisah banget, Mas. Tapi aku nggak tau kenapa."


Gilang merangkul pundak Belva untuk menenangkannya. "Dzikir yang banyak. insyaaAllah nggak ada apa-apa," ucap Gilang yang dibalas anggukan kepala oleh Belva.


Tak ada masalah apapun selama penerbangan dari Amsterdam menuju Belanda. Belva pikir perasaannya yang gelisah karena takut kalau pesawat yang mereka naiki akan mengalami kejadian buruk.


Rupanya tidak, bahkan sampai hampir dua puluh jam perjalanan udara yang mereka lewati tak membuat hati Belva tenang sedikitpun.


Sampai mereka mendarat di Soekarno Hatta airport, Belva belum juga bisa tenang.


Belva terus bertanya dalam hatinya, ada apa ini? Kenapa hatinya tidak tenang seperti ini?


Dalam kegelisahan, Belva menunggu Gilang yang tengah serius sekali menerima telepon dari seseorang. Belva belum tau siapa yang menelepon Gilang.


Tapi dari raut wajah dan gerak tubuh Gilang, seperti telepon itu sangat penting sekali. Mungkin ada masalah serius di kantornya, pikir Belva.


Tak lama menunggu, Gilang kembali mendekati Belva.


"Sayang, kita langsung terbang ke Surabaya, ya," ucap Gilang membuat Belva memandangnya dengan tatapan bingung.


"Kenapa?" tanyanya.


"Ada masalah serius. Kita terbang pakai jet pribadi aja biar cepat. Karena kalau cari tiket yang terbang sekarang juga Mas yakin udah nggak ada. Anak-anak biar pulang dulu."


"Ada apa, Mas?"


"Nanti Mas jelaskan, Sayang. Pesawatnya udah siap. Kita ke sana sekarang."


Sebelumnya, Gilang sudah menginstruksikan kepada kedua pengasuh anak-anaknya untuk pulang terlebih dahulu. Sopir mereka sudah menunggu.


***


"Ada apa, sih, Mas?"


Bukannya menjawab, Gilang justru memeluk tubuh Belva dengan erat. Berkali-kali dia mencium kepala Belva.

__ADS_1


"Apapun yang terjadi nanti, kamu yang sabar, ya, sayang," ucap Gilang membuat jantung Belva berdebar kencang.


"Ada apa, Mas? Bilang sama aku ada apa!"


Gilang menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Menatap kedua mata Belva yang sudah mulai berkaca.


"Mungkin ini yang menyebabkan perasaan kamu tidak tenang sepanjang penerbangan tadi."


"Jangan bertele-tele, Mas. Bilang ada apa!?"


"Papa Darmawan dan Mama Vita mengalami kecelakaan tunggal di jalan tol. Keduanya masih di rawat di rumah sakit dengan kondisi_"


"Apa, Mas? Papa sama Mama kecelakaan? Kondisinya gimana sekarang?"


"Mas belum tau, Sayang. Kita berdoa mudah-mudahan Papa dan Mama baik-baik saja."


"Ya Allah, Papa, Mama..."


Belva sudah menangis histeris dalam pelukan Gilang. Rasanya ingin mempercepat laju pesawat agar bisa cepat sampai di Surabaya. Belva ingin segera melihat kondisi kedua orangtuanya.


Sebenarnya Gilang sudah tau bagaimana kondisi kedua mertuanya. Tapi Gilang tak berani mengatakannya kepada Belva.


***


"Pelan, Sayang. Yang tenang!"


"Iya, Mas paham. Tapi ingat, kamu tidak sedang membawa diri kamu sendiri. Ada anak kita di dalam kandungan kamu yang juga harus kamu pikirkan keselamatannya. Kalau kamu berlari, apa itu nggak bahaya buat anak kita?"


Gilang membawa Belva untuk masuk ke dalam pelukannya. Diusapnya punggung wanita yang begitu dicintainya itu.


"Mas juga khawatir, sayang. Tapi kamu yang tenang. Kita akan cepat sampai di sana. Kita pakai helikopter agar bisa mendarat di roof top rumah sakit."


Waktu berjalan begitu lambat bagi Belva.


Menaiki helikopter cukup dengan waktu lima belas menit. Mungkin jika mereka menempuh perjalanan darat, mereka butuh waktu hampir satu jam untuk sampai ke rumah sakit tempat Darmawan dan Vita di rawat.


"Pak Darmawan dan Bu Vita ada di ruang ICU, Pak," ucap Pak Rudi, orang yang menjadi tangan kanan Darmawan di perusahaannya.


Belva dan Gilang buru-buru pergi ke ruang ICU. Sesampainya di sana, Belva menjerit histeris melihat kondisi kedua orangtuanya yang terluka parah.


Bahkan dokter mengatakan bahwa kemungkinan mereka bertahan hidup hanyalah sepuluh persen.


Seluruh organ mereka sudah rusak karena benturan-benturan yang mereka alami pada saat kecelakaan.


"Mas, Papa sama Mama pasti sembuh, kan? Mereka nggak akan ninggalin aku, kan, Mas?"


"Kita berdoa, ya, Sayang. Harapan kita sama. Ada keajaiban untuk Papa dan Mama."

__ADS_1


Jadi karena ini perasaan Belva tidak tenang. Kemarin mereka mengalami kecelakaan hebat karena di duga Darmawan mengantuk serta mengemudi mobil dalam kecepatan tinggi.


Melalui rekaman cctv yang ada di jalan tol tersebut, Belva bisa melihat bahwa mobil yang dikendarai oleh Papanya berjalan dalam kecepatan tinggi.


Lalu membentur pembatas jalan hingga terguling berkali-kali dengan cukup keras hingga mobil Papanya itu berbentuk tak beraturan.


Belva tidak bisa membayangkan betapa sakitnya yang dirasakan kedua orangtuanya ketika di dalam mobil tersebut.


"Dok, nadi semakin melemah," ucap perawat dari dalam ruang ICU.


Dokter yang menangani keduanya pun langsung masuk ke dalam dan memeriksa Darmawan dan Vita.


"Papa sama Mama, Mas."


"Mereka pasti baik-baik saja, Sayang."


Tindakan-tindakan yang dilakukan dokter tersebut tidak asing bagi Belva.


Dulu Belva sering melihat di TV tindakan tersebut ketika pasien kehilangan detak jantungnya.


"Papa, Mama!" Seketika dunia Belva gelap. Belva jatuh tak sadarkan diri.


***


Ketika Belva sadar, Belva sudah ada di pelukan Yunita. Entah kapan Yunita datang, Belva tak punya waktu untuk menanyakannya.


Yang dia ingin tahu adalah keadaan kedua orangtuanya sekarang. Dia berharap kejadian tadi hanyalah sebuah mimpi.


Tapi ketika Gilang masuk ke ruang perawatan Belva dan langsung memeluk Belva serta mengucapkan kata-kata penyemangat untuk Belva, Belva sadar ini semua bukanlah sebuah mimpi.


Perginya mereka hanya menunggu Belva datang. Belum sempat Belva memeluk mereka, mereka sudah lebih dulu meninggalkan Belva.


Gilang mendorong kursi roda yang dinaiki Belva menuju ruang jenazah sekaligus tempat kedua orangtua Belva akan dimandikan.


Tangis Belva seperti tiada hentinya. Orang terpenting dalam hidupnya kini pergi meninggalkan Belva. Yang lebih menyesakkan, mereka pergi bersama-sama. Kompak meninggalkan Belva. Tanpa pesan apapun, tanpa memberikan firasat apapun.


"Wajahnya akan segera kami tutup. Silahkan yang ingin menciumnya untuk terakhir kalinya. Air matanya jangan sampai mengenai jenazah, ya."


Belva semakin tersedu. Dia persilahkan keluarga yang lainnya terlebih dahulu untuk mengucapkan salam perpisahan kepada kedua orangtuanya.


Kini, tibalah gilirannya untuk memeluk dan mencium kedua orangtuanya untuk yang terakhir kalinya.


Belva memeluk dan mencium Darmawan dan Vita yang memejamkan matanya. Tak akan pernah terbangun lagi.


Tak akan lagi Belva melihat senyum dan tawa mereka. Tak akan pernah lagi Belva bisa bercanda dengan mereka.


Dunianya runtuh seketika.

__ADS_1


🌻🌻🌻


__ADS_2