
Dengan lembut, Shane melepaskan satu per satu kancing kemeja Yuna. Namun begitu tangan Shane sampai di dadanya, Yuna segera merapatkan kembali kancing kemejanya. Dengan wajah merah merona, dia berkata,
"Aku tidak bisa dan aku harus pulang! Nenek dan bibiku akan mengamuk kepadaku, jika aku terlambat sampai rumah! Terima kasih atas, ... Atas segala bantuanmu. Sampai jumpa!" Yuna pun menyambar tasnya dan berlari keluar, meninggalkan Shane yang tertawa seorang diri.
"Bisa-bisanya aku jatuh cinta pada seorang gadis kecil, hahaha!" ucap Shane bermonolog.
Di dalam perjalanan pulang, jantung Yuna tak melambatkan debarannya. Dia menutup wajah dengan kedua telapak tangannya, kemudian dia mengusap wajah itu dengan kasar.
"Aarggh! Pria mesum! Tapi, kalau tadi aku pasrah, apakah, ... Apakah? Aarrgghh! Tidak! Sadarlah, Yuna!" seru Yuna di dalam hati.
Setibanya di rumah, Yuna segera membersihkan dirinya. Seakan tuli, dia tidak menjawab pertanyaan Laurent yang bertanya kenapa dia basah, seperti orang kehujanan.
"Yuna, ada apa dengan bajumu, Nak? Kau diisengi lagi? Besok aku dan Leona akan menghadap ke dosen pembimbingmu,"
Tak lama, Yuna keluar dari kamar mandi dengan kondisi tubuh jauh lebih segar.
"Tidak usah, Nek. Sebentar lagi juga aku lulus. Penindasan mereka tidak berpengaruh apa pun terhadap nilaiku,"
"Good," ucap Laurent sambil menepuk pucuk kepala Yuna yang masih basah.
"Makanlah, setelah itu istirahat," Laurent menghidangkan semangkuk nasi beserta lauk pauk dan sayur di atas meja.
__ADS_1
Keesokan paginya, Yuna kembali menunggu bus di halte. Hari itu, dia ada jam kuliah di siang hari. Di saat gadis itu sedang asyik menunggu sambil mengayunkan kepalanya mengikuti irama musik, sebuah mobil mewah berhenti di depan halte dan memanggil namanya.
Awalnya, Yuna tidak menyadari kalau ada seseorang yang memanggil namanya karena dia sedang memakai earpods yang menyumpal pada kedua indera pendengarannya.
"Yuna!" panggil orang itu lagi. Tak putus asa, dia membunyikan klakson mobilnya. "Yuna, hei!"
Setelah mendengar suara klakson, Yuna pun menoleh dan dia melihat Shane sudah berada di depan halte bus. Sontak saja wajah Yuna memerah. " tuan Shane,"
Shane keluar dari mobil dan menbukakan pintu mobil mewahnya untuk Yuna. "Masuklah, aku akan mengantarmu,"
Yuna menurut. "Apa kau kebetulan lewat lagi?"
Ya, pagi itu Shane sudah berada di halte bus lebih dulu untuk menunggu Yuna. Namun, karena gadis itu tak kunjung datang Shane pun memutarbalikkan roda besinya sambil bertanya-tanya dalam hati di manakah gadis kecil itu?
Setiap 1 jam sekali, Shane terus mengecek halte bus itu dan sampai akhirnya penantian pria berusia 40-an tahun itu tidak sia-sia saat dia melihat gadis yang sudah di tadi ditunggu-tunggunya sudah duduk manis di halte bus.
Entah apa sihir yang dipakai Yuna sehingga Shane tergila-gila kepadanya. Hatinya terus terpaut pada gadis itu begitu pula dengan kedua mata dan ingatannya.
Sepanjang perjalanan Chen terus mengajak Yuna untuk mengobrol. Ya benar-benar ingin mengenal lebih jauh tentang gadis yang kini duduk di sampingnya itu.
"Rumahmu berada di dekat situ?" tanya Shane.
__ADS_1
Yuna mengangguk. "Ya, aku harus berjalan kaki sedikit untuk sampai di halte,"
"Bolehkah aku sekali-kali main ke rumahmu? Hanya sekedar bersilaturahmi saja dan bertemu dengan keluargamu?" tanya Shane lagi.
"Aku belum begitu mengenalmu jadi jika aku membawamu ke rumah atau masuk ke dalam kehidupan pribadiku rasanya akan janggal sekali, 'kan? Apalagi umur kita terpaut jauh. Orang-orang pasti akan bertanya-tanya Apakah aku gadis baik atau gadis yang hanya mengincar harta seorang pria dewasa," jawab Yuna tegas. Dia tidak akan membiarkan shine mengobrak-abrik hidupnya dan merusak mimpinya.
Shane terdiam. Akan tetapi di dalam lubuk hatinya seperti ada seekor monster yang memberontak dengan hebat. Rasa penasaran yang membuat Shane ingin terus mendekati Yuna. Gadis itu tidak seperti wanita-wanita yang sering dikencani oleh Shane. Yuna benar-benar berbeda sekali.
"Kalau begitu, bolehkah aku menjadi temanmu? Supaya kita bisa saling mengenal lebih jauh," tanya Shane.
Lagi-lagi Yuna menjawabnya dengan anggukan. "Boleh saja. Tapi aku bukan tipe gadis yang menyenangkan. Aku lebih senang belajar dan menyendiri. Itu sudah menjadi kebiasaanku dan aku senang seperti itu. Apa kau tidak keberatan dengan itu?"
Shane tersenyum dan menggeleng. Dia memarkirkan mobilnya di parkiran kampus Yoona. "Aku tidak pernah keberatan mengenai apapun yang ada hubungannya denganmu,"
Shane mencondongkan tubuhnya ke arah Yona. Hasrat kelaki-lakiannya bangkit saat dia mencium harum wangi vanilla dari tubuh gadis itu. "Aku harap kau tidak keberatan juga dengan ini,"
Sambil melepaskan seat belt yang terpasang di pinggang Yuna, pria itu memberikan Yuna kecupan singkat di bibir dan kecupan itu berhasil membuat wajah Yuna merah merona.
"Aku keberatan! Jangan ulangi lagi atau aku tidak mau berteman denganmu!" ancam Yuna. Gadis berkacamata itu pu segera turun dari mobil dan membanting pintu mobil mewah Shane sampai Shane meringis saat mendengar suara bantingan pintu yang cukup keras.
***
__ADS_1