
"Aku tak menyangka kita bertemu di sini," kata seorang wanita yang tadi terjatuh karena Shane tak sengaja menabraknya.
Shane pun tersenyum. "Ya, aku juga tak menyangka kita bisa bertemu karena insiden kecil ini. Ah, bagaimana kakimu?"
Wanita itu menggerak-gerakkan tungkai kakinya. "Sepertinya hanya sedikit terkilir, tapi aku baik-baik saja,"
"Syukurlah. Apa kabarmu?" tanya Shane lagi.
"Aku baik. Bagaimana denganmu?" tanya wanita itu pada Shane.
Shane merentangkan kedua tangannya. "As you see. Aku baik-baik saja. Sudah berapa lama kita tidak bertemu, yah? Sudah lama sekali, bukan?"
"Ya. Hei, apakah kau lupa namaku? Dari tadi kau belum menyebutkan namaku. Tebak lah, siapa namaku? Kau pria terpopuler yang pernah aku jadikan kekasih. Apakah sekarang kau masih populer seperti dulu?" tanya wanita itu. Senyumnya yang cantik dia kembangkan untuk Shane.
Shane memutar kedua bola matanya ke atas, dahinya berkerut-kerut. "Hmmm, siapa ya? Hahaha, tidak mungkin aku lupa. Kau Liana. Iya, 'kan?"
Wajah wanita itu merona kemerahan. "Kukira kau melupakanku, Shane,"
"Tidak pernah. Oh, ya, kudengar kau memiliki seorang anak? Mana dia?" tanya Shane.
Raut wajah wanita itu berubah. Dia menundukkan kepalanya dan terlihat sedih. "Ya, aku memiliki seorang anak perempuan cantik. Tapi, dia sudah mati,"
"Apa? Mati? Aku turut berdukacita atas kepergian anakmu, Liana. Aku sungguh-sungguh tak tau, maafkan pertanyaan ku. Mari kita lupakan saja," ucap Shane, merasa bersalah.
"Suamiku meninggalkanku setelah kematian putriku. Dia berpikir karena aku tidak merawatnya dengan baik maka putriku meninggal," kata Liana. Air matanya menggenang di sudut matanya yang berwarna biru cemerlang.
Shane memeluk Liana dan mengizinkan wanita itu untuk meminjam bahunya. "Kau boleh meminjam bahuku untuk menangis. Bagilah kisah mu denganku, Liana,"
Liana mengangguk dan menangis terisak-isak di bahu Shane yang lebar. Setelah puas menangis, dia mengangkat wajahnya. "Kemeja mu jadi basah. Maafkan aku,"
"Tidak masalah, yang penting kau sudah merasa lebih baik sekarang." jawab Shane. Tiba-tiba dia terdiam dan memperhatikan wajah Liana dengan seksama. "Tunggu dulu, aku punya kenalan seorang gadis muda dan wajahnya sedikit banyak mirip denganmu,"
"Apa sekarang kau mencoba untuk merayuku, Shane? Hahaha!" tanya Liana menggoda.
__ADS_1
Shane tidak tertawa, dia semakin serius memperhatikan wajah Liana. "Aku serius. Kau mirip sekali dengan gadis yang kukenal,"
"Setahuku, di dunia ini setiap manusia memiliki tujuh orang yang wajahnya serupa. Mungkin saja gadis muda mu itu kembaran ku, hehehe," jawab Liana.
Jauh di dalam lubuk hati wanita itu, dia bertanya-tanya siapa gerangan gadis muda yang dimaksudkan oleh Shane tersebut? Apakah, ...? Dia pun berusaha memancing Shane mengenai gadis muda yang baru saja dia katakan.
"Gadis muda kenalan mu itu, usianya berapa tahun kalau aku boleh tahu?" tanya Liana.
Shane mengusap dagunya. "Hmmm, kisaran 20-an tahun karena dia baru saja lulus dari kuliahnya."
Liana tersenyum kecil. "Wah aku tersanjung sekali disamakan dengan seorang gadis muda berusia 20 tahun. Jika anakku masih hidup, usianya seumuran dengan temanmu itu,"
"Oh yah? Kau nikah muda, yah?" tanya Shane.
Lagi-lagi, Liana memberikan senyuman sebagai jawaban. Dia mengangguk dan tersipu malu. "Ya, Aku membayangkan menikah muda itu cukup mengasyikkan, tapi ternyata perkiraan ku salah,"
"Tidak usah kau pikirkan lagi hal-hal yang membuatmu sedih, Liana. Pikirkan saja masa depanmu dan gantungkan lah harapanmu pada mimpi barumu. Kita sudah dewasa jadi Jangan membuang waktu hanya untuk memikirkan hal-hal yang membuat kita bersedih hati. Benar begitu, bukan?" sahut Shane tersenyum lebar.
Liana memandang pria yang dulu pernah mengisi hidupnya itu. Sisa ketampanan masih terpatri jelas di wajahnya. Ingatannya kembali terlempar ke masa lalu.
Kemudian, dia kembali mengingat wanita muda yang dibicarakan oleh Shane tadi. Apakah itu jangan-jangan putrinya sendiri yang pernah dia tinggalkan di rumah ibu dan adiknya? Secara tidak sadar, Liana menggelengkan kepalanya kuat-kuat, berusaha membuang jauh semua pikiran mengerikan yang baru saja dia pikirkan.
"Hei, ada apa denganmu?" tanya Shane. Dia melihat ke arah jam tangannya. Shane meminjam ponsel Liana dan mencatat nomor ponselnya ke dawai Liana.
Liana tersada. "Ah, tidak apa-apa,"
"Aku sudah memasukan nomor ponselku ke dalam sana dan kuharap kau bersedia menghubungiku jika sesuatu terjadi. Aku harus pergi. Kau benar baik-baik saja, 'kan?" tanya Shane sekali lagi, hanya untuk memastikan.
Liana melihat nomor Shane yang tersemat di ponselnya, kemudian dia tersenyum. "Ya, aku baik-baik saja. Senang berjumpa lagi denganmu, Shane,"
Shane mengacungkan ibu jarinya. "Yups, aku pun senang bisa bertemu denganmu. Aku pergi dulu, Liana. Sampai jumpa,"
Sementara itu di kantor, saat jam istirahat, Yuna menghampiri Mario. Kemarin mereka sempat bertengkar kecil karena Mario cemburu.
__ADS_1
"Hei," sapa Yuna.
"Hmmm," jawab Mario lagi.
Yuna memberanikan diri untuk masuk dan duduk di samping kekasihnya itu. "Maafkan aku soal kemarin. Bukannya aku tidak mau cerita padamu, tapi memang tidak ada apa-apa,"
Gadis itu terpaksa berbohong supaya Mario tidak merasa tersakiti. Andaikan, dia mengatakan apa yang sesungguhnya terjadi, Mario akan marah pada Shane dan itu berakibat buruk pada karirnya.
"Aku tidak marah padamu. Kemarin, aku terbawa emosi. Claire memberitahuku bagaimana hubunganmu dengan Shane sebelumnya. Aku khawatir," kata Mario, dia menatap lekat kedua manik biru Yuna.
"Itu masa lalu yang sudah ku tutup dan tidak pernah kubuka lagi. Sekarang, aku hanya ingin menatap masa depanku. Kalau kau mau bersamaku, ayo, kita susun bersama masa depan kita," ujar Yuna. Dia tidak hanya bermaksud menghibur, tetapi dia benar-benar ingin hubungannya dengan Mario kali ini berhasil.
Namun entah mengapa, Mario bukanlah tipe pria yang sulit dicintai, tetapi Yuna kesulitan mencintai pria itu. Segala cara dan upaya sudah dia lakukan, tetapi belum berhasil. Saat ini, Yuna masih berada pada tahap merasa nyaman berdekatan dengan Mario. Berbeda dengan Shane. Mudah sekali membuka hati untuk pria dewasa itu. Jadi, saat ini Yuna benar-benar harus bekerja keras untuk belajar mencintai Mario.
"Kau ingin bersamaku?" tanya Mario bersungguh-sungguh.
Yuna mengangguk. "Tentu saja, kau kekasihku. Kalau kau bersedia, ayo, kita buat ini berhasil!"
Mario memeluk gadis yang sangat dia sayangi itu. "Aku sangat mencintaimu, Yuna. Aku takut kehilanganmu, jangan pergi atau menjauh dariku,"
"Aku juga mencintaimu,Mario," balas Yuna datar.
Di lain tempat, Liana diam-diam pergi ke rumah ibunya, Lauren. Dia hanya ingin melihat bagaimana kabar mereka, terutama kabar Yuna.
Dia memarkirkan mobilnya di depan rumah Lauren, tanpa masuk ke dalam halaman rumahnya. Dalam diam, Liana memperhatikan aktivitas di rumah tersebut.
Karena hari mulai menjelang malam, Liana melihat satu mobil memasuki pekarangan rumah itu. Dia memincing kan kedua matanya. "Leona? Oh, dia sudah memiliki kekasih,"
Liana tersenyum. "Akhirnya, dia mempunyai kekasih," katanya bermonolog.
Tak lama, satu mobil lagi memasuki pekarangan rumah itu dan Liana melihat seorang pria dan gadis muda turun dari mobil itu. Mereka berempat terlihat akrab dan sangat bahagia.
"Yuna? Itukah Yuna kecilku? Oh, cantik sekali," ucap Liana, masih berbicara pada dirinya sendiri. Rasa bersalah menyelimuti hatinya malam itu.
__ADS_1
Selagi Liana memperhatikan adik dan putri kecilnya yang beranjak dewasa, sebuah mobil mewah sedang memperhatikan dirinya dari dalam mobil.
***