
Setibanya di kantor, Shane segera menarik tangan Yuna yang sedang mengetik. Tanpa memperdulikan Mario serta karyawan lainnya, Shane mengajak Yuna keluar begitu saja.
"Apaan, sih! Lepaskan aku! Lepas!" tukas Yuna sambil terus berusaha melepaskan cengkeraman tangan Shane.
Shane justru mencengkeram semakin kuat, dia membawa Yuna ke pantry yang untungnya sedang kosong saat itu dan mengunci ruangan pantry.
"Kenapa sulit sekali berbicara denganmu?" tanya Shane melepas mu tangan Yuna dengan kasar. Sekilas, dia melihat tangan Yuna kemerahan karena ulahnya. Shane pun berdecak tak sabar dan mengambil ice gel dari kulkas mini yang ada di pantry. "Balut tanganmu dengan itu supaya tidak memar,"
Yuna menangkap ice gel yang dilemparkan oleh Shane dan melingkarkan benda dingin tersebut di pergelangan tangannya. "Ada apa denganmu? Kenapa kau tiba-tiba saja menyeret ku seakan aku melakukan kesalahan yang fatal?"
"Aku kesal," jawan Shane singkat.
Mata Yuna berkaca-kaca. Kalau Shane menjawab kesal, dia pun lebih kesal. "Apa salahku?"
Shane menyugar rambutnya ke belakang. "Kau muncul di hadapanku, Yuna! Itu kesalahanmu!"
"Baik, siang ini aku akan mengajukan surat pengunduran diri supaya aku bisa menghilang dari hadapanmu!" tukas Yuna ketus.
"Tidak bisakah kau lembut kepadaku, Yuna?" tanya Shane menuntut.
Yuna menggelengkan kepalanya. "Kau pun tidak bisa lembut kepadaku, kenapa aku harus lembut kepadamu?"
Emosi Shane memuncak. Dia menggebrak meja dengan kesal. "Aarrgghhh! Kau tau kenapa aku marah kepadamu? Karena kau tertawa di hadapanku bersama pria lain! Kau tersenyum di hadapanku karena pria lain! Dan yang terakhir, inilah alasan mengapa aku menjadi sangat kesal kepadamu, kau berubah menjadi cantik, Yuna! Astaga!"
Setelah Shane memekik gusar seperti itu, keheningan pun menyelimuti mereka berdua. Untuk memecah kecanggungan, Shane berdeham. "Ehem! Maksudku, aku-, aku, ...."
"Aku lebih marah pada diriku sendiri, kenapa aku sebodoh itu melepaskan mu. Kau selalu cantik di mataku, Yuna tapi kini, kau bukan milikku lagi. Itu yang membuat aku kesal. Maafkan aku, maaf," sambung Shane lagi.
Suasana kembali canggung sampai seorang karyawan mengetuk pintu pantry itu. "Permisi, siapa di dalam? Aku mau mengambil kopi,"
"Masuk saja!" jawab Yuna dan Shane bersamaan.
Karyawan wanita itu pun masuk dan semakin menambah kecanggungan suasana pagi itu. "Ma, maaf, Tuan Shane, saya mau membuat kopi. Apa Anda mau?"
__ADS_1
Shane menggelengkan kepalanya. "Tidak usah. Saya sudah selesai," kata Shane, kemudian dia melengos pergi keluar dari pantry.
Yuna masih terdiam di pantry, dia menutupi wajah dengan kedua tangannya. Tak lama, Mario menyusul ke dalam dan merangkul pundak kekasihnya itu.
"Hei, kau baik-baik saja? Wajah Shane tadi seram sekali," tanya Mario.
Pria itu tau kalau kekasihnya dalam kondisi tidak baik-baik saja. Yuna menangis sesenggukan, Mario segera memasukan gadis itu ke dalam pelukannya. "Hei, sudah ada aku. Apa yang terjadi padamu, Sayang?"
Emosi mulai memuncak dan bergemuruh di dada Mario. Dia tidak terima, kekasihnya menangis karena orang lain. Pria itu mengepalkan kedua tangannya. Saat ini dia ingin sekali berhadapan dengan Shane, tetapi Yuna lebih butuh dirinya.
Keesokan harinya, bahkan sebelum matahari terbit, mobil Shane sudah terparkir rapi di depan rumah Yuna. Leona yang sudah bangun, berjingkat-jingkat untuk memberitahukan kedatangan Shane pada Yuna.
"Yuna, kenapa Shane ada di sini?" bisik Leona.
Yuna yang saat itu baru saja terbangun, terkejut mendengar kabar dari bibinya. "Heh? Shane?"
"Iya, coba saja kau intip," kata Leona. Perlahan dia menyibakkan tirai kamar Yuna dan meminta keponakannya untuk mengintip sedikit ke luar.
"Ah iya, Bibi benar. Untuk apa dia ke sini?" tanya Yuna.
Yuna berpikir sejenak dan kemudian dia mengangguk. "Aku rasa itu ide paling bagus saat ini. Oke, aku akan ke luar,"
Tak lama kemudian, dengan memakai sweater, Yuna menghampiri mobil Shane. Dia mengetuk pintu mobil itu. Shane membukakan pintu untuknya dan meminta Yuna untuk masuk ke dalam.
"Ah, selamat pagi, Yuna. Aku akan menyalakan penghangat mobil. Kau pasti kedinginan," ucap Shane, tangannya sibuk mengatur penghangat mobil. Setelah dirasa cukup hangat, Shane menyeringai lebar kepada Yuna.
Saat sudah merasa hangat, Yuna menggulung lengan sweater nya. "Untuk apa kau datang ke rumahku? Bahkan ayam saja belum bangun!"
"Kau cantik sekali pagi ini," ucap Shane. Netranya mengunci manik Yuna.
Ditatap seperti itu, Yuna pun salah tingkah. "Apa maksudmu? Kau tidak menjawab pertanyaan ku! Untuk apa kau datang ke sini? Kau bisa dimarahi oleh nenekku,"
"Tidak masalah. Aku sudah membawa baju ganti," jawab Shane santai sambil terus menatap manik biru Yuna. "Aku hanya ingin melihatmu sebelum kekasihmu itu melihatmu,"
__ADS_1
"Ck! Kau gila! Aku turun dan kumohon, pulanglah!" kata Yuna memohon.
Shane menahan tangan Yuna sebelum gadis itu membuka pintu. "Jangan pergi!"
Tatapan mata Shane begitu sedih saat melihat Yuna menghindarinya. Yuna yang masih memiliki sedikit sekali hati untuk Shane pun, tak tega meninggalkan pria dewasa itu dalam kondisi seperti ini.
"Apa yang kau inginkan dariku, Shane?" tanya Yuna. Suaranya terdengar lelah dan frustrasi. Dia tidak mengerti apa yang terjadi pada Shane. Kenapa Shane terus mengikutinya? Ke mana tunangannya. "Ke mana tunangan mu? Bukankah kau akan menikah, dia akan marah nanti kalau melihatmu berada di sini. Aku tidak ingin terkena masalah hanya karena masalah sepele seperti itu,"
"Aku sudah putus dengannya. Dari awal, aku hanya mengikuti permainan ibuku demi warisan. Tapi sekarang, aku sadar. Kau lebih berharga dari warisan, Yuna. Aku tidak bisa hidup tanpamu," jawab Shane lugas.
Yuna meneguk saliva nya mendengar jawaban Shane tersebut. Bisa-bisanya Shane mengungkapkan isi hatinya dengan gamblang seperti itu?
"Aku pikir dengan aku melepas mu, hidupku jadi damai dan aku bisa melupakanmu. Tapi aku salah, Tuhan seperti menghukum ku. Bayanganmu selalu ada di hatiku, Yuna. Kau selalu menghantuiku, aku jadi sulit untuk bergerak. Bahkan aku sulit bernapas hanya karena merindukanmu," kata Shane lagi.
"Apakah sedalam itu perasaanmu padaku?" tanya Yuna. Dia tak pernah mengira kalau Shane bisa begitu mencintainya dan sekarang, perlahan Shane masuk kembali ke dalam hati Yuna. Gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya kuat-kuat untuk mengusir Shane dari dalam hatinya.
Shane mengangguk. "Ya, aku pun baru sadar kalau aku mencintaimu bahkan sangat mencintaimu. Aku hancur tanpamu, Yuna."
Lagi-lagi hening. Matahari mulai menyapa hangat walaupun belum sepenuhnya muncul.
"Aku tahu kau sudah memiliki kekasih, tapi tolong, jangan jauh-jauh dariku. Kita bisa berteman, 'kan?" tanya Shane lagi.
Yuna terdiam sesaat kemudian perlahan mengangguk. "Ya, Shane,"
"Bolehkan aku memintamu satu hal?" tanya Shane.
"Apa itu?" Yuna bertanya kembali.
Shane mendekati Yuna dan mempersempit jarak di antara mereka. Dengan lembut, dia mendaratkan kecupan di bibir Yuna. Perlahan, dia menggerakkan bibirnya dan entah dorongan darimana, Yuna membalas kecupan kecil dari Shane tersebut.
Setelah sadar, Yuna menarik tubuhnya ke belakang. "Aku harus bersiap-siap!"
Shane mengusap bibir Yuna. "Kau masih mencintaiku, Yuna. Putuslah dari Mario dan ayo, kita kembali," ajak Shane.
__ADS_1
***