Gadis Culun Milik Sugar Daddy

Gadis Culun Milik Sugar Daddy
Bab 46


__ADS_3

"Siapa gadis tadi? Karyawan barumu? Masih kecil sekali kelihatannya? Apa bisa dia bekerja?" tanya Jenna setelah Shane menariknya dan mengajaknya makan siang di sebuah restoran.


Shane melirik wanita yang ada dihadapannya itu dengan kesal. "Tidak ada hubungannya denganmu! Makan saja cepat, setelah itu laporkan ke ibuku kalau aku mengajakmu makan siang!"


Jenna mencebik.


"Hish! Kenapa kau selalu galak kepadaku, Shane? Aku ini calon istrimu!"


"Aku tidak mau menikah denganmu dan kalaupun aku harus menikah denganmu, itu bukan karena aku menyukaimu. Aku hanya butuh namaku tertulis di daftar penerima warisan saat ibuku sudah tidak ada nanti!" jawab Shane sekenanya.


"Shane! Ucapan mu jahat sekali! Tidak bisakah kau membuka hatimu untukku? Anggap saja menyenangkan ku?" tukas Jenna. Segala upaya sudah dilakukan oleh Jenna, tetapi entah mengapa Shane belum juga membuka hati untuknya.


Dalam beberapa bulan menjalin hubungan dengan Shane bahkan sampai bertunangan, jangankan menyentuh, Shane bahkan tak pernah menghubunginya sekedar menanyakan kabar. Dia berpikir, dengan mengajak Shane bertunangan, pria itu akan lebih terbuka dan perlahan belajar mencintainya. Akan tetapi, kenyataannya tidak seindah apa yang dia pikirkan.


"Sudah kukatakan padamu berkali-kali, kalau aku sedang tidak ingin menjalin hubungan dengan siapapun! Aku tidak peduli kau cantik, kau kaya, atau keluargamu terhormat. Aku benar-benar tidak peduli! Bisakah kau sampaikan itu pada ibuku?" jawab Shane putus asa.


Bagaimana caranya menyuruh Yuna pergi dari hatinya? Itu sulit sekali, apalagi setelah sekarang Yuna berubah menjadi gadis yang manis dan cantik.


Jenna terdiam dan melanjutkan mengiris daging yang ada di piringnya. Siang hari itu, sama seperti biasanya. Mereka menghabiskan jam makan siang dengan bertengkar dan diam.


Sementara itu, Yuna dan Mario sedang menikmati waktu mereka. Hubungan keduanya semakin dekat saat Yuna memutarkan untuk membalas perasaan Mario.


"Kenapa Shane memanggilmu?" tanya Mario sambil menyuapi es krim strawberry pada Yuna.

__ADS_1


Yuna mengangkat kedua bahunya. "Entahlah. Kurasa dia belum bisa bersikap profesional. Dia menanyakan masalah pribadi padaku. Padahal ini di kantor dan masih dalam jam kerja, jadi aku hanya menjawab seperlunya saja,"


Mario mengacak-acak rambut Yuna. "Menurutku dia terkejut melihatmu,"


"Tidak ada hubungannya. Saat kami berpisah, ... Apakah tidak apa-apa menceritakan ini kepadamu?" tanya Yuna. Dia khawatir akan menyakiti hati pria yang saat ini sedang menguasai hatinya itu.


Mario menggelengkan kepalanya. "Silahkan. Aku tidak akan marah atau cemburu,"


Yuna pun memutuskan untuk bercerita. "Saat kami berpisah saat itu, aku memintanya untuk menungguku karena hubungan kami ditentang oleh keluarganya. Aku tidak bisa memaksakan kehendak ku untuk tetap menjalin hubungan dengannya karena, bagaimanapun seorang ibu selalu menginginkan yang terbaik untuk anaknya, bukan? Dan ibu Shane pasti menganggap aku bukan wanita yang baik untuk anaknya sehingga dia menentang hubungan kami,"


"Di saat yang sama, aku juga sedang fokus pada skripsi ku dan aku mengatakan kepadanya untuk menjauh sementara dan biarkan aku fokus menyelesaikan apa yang harus aku selesaikan. Setelah itu aku akan kembali kepadanya pada saat aku sudah merasa pantas dan layak untuk menjadi kekasihnya. Tapi, seperti yang kau lihat, dia sudah memiliki seorang kekasih yang lain lagi jadi kupikir hubungan kami sudah benar-benar selesai dan berakhir," sambung Yuna lagi.


Ingatan Yuna akan kejadian saat itu kembali terbuka dan tiba-tiba saja dia merasakan sesuatu yang menusuk-nusuk di dasar hatinya. Secara tidak sadar, dia masih menyimpan bayangan di dalam sana.


"Aku akui kau seorang gadis yang kuat, Yuna. Kau dapat mengatasi sakit hatimu dan bangkit dengan cepat." ucap Mario.


"Kau paling banyak membantuku. Mulai dari menjadi tutor ku saat aku menyusun skripsi dan kau mengisi kekosongan hari-hariku. Kau menerimaku apa adanya dan kupikir itu sesuatu yang luar biasa," tutur Yuna dengan jujur.


Di saat Yuna patah hati karena Shane, Mario-lah yang selalu berada di sisinya. Walaupun mereka menghabiskan waktu dengan belajar dan membahas materi, tetapi Mario membuat Yuna tidak merasa kesepian.


Mario tersipu malu. "Semoga saja kita bisa terus bersama-sama," pria itu mengambil tangan Yuna dan mengecup punggung tangannya.


Di saat hubungan Yuna dan Mario bermekaran seperti bunga, lain lagi dengan hubungan Dave dan Bryan. Bryan terang-terangan mengatakan kalau dia mencintai seorang wanita, dan wanita itu adalah Leona, bibi Yuna.

__ADS_1


Leona pun menyambut baik perasaan Bryan. Hal ini membuat emosi Dave meradang. Apalagi setelah dia tau kalau Leona adalah bibi Yuna, anak baru yang bekerja satu kantor dengannya.


"Jadi dia itu bibi Yuna? Yuna-nya Shane? Yuna yang bekerja di kantorku? Yuna anak baru itu? Tidak mungkin! Tidak mungkin, Bry!" tukas Dave, dia menutupi wajah dengan telapak tangannya yang besar.


Bryan sedikit merasa bersalah karena telah mengkhianati temannya itu. Sebenarnya dia tidak ingin melabuhkan hatinya di tempat lain, apalagi pada seorang wanita. Namun, wanita ini, Leona, muncul begitu saja. Dengan segala kelembutan dan kebaikannya membuat Bryan seolah-olah tersihir dan terpesona dibuatnya.


"Itu mungkin, Sayang. Aku pun tak sadar dan tiba-tiba saja aku sudah jatuh ke dalam hati Leona. Wanita itu sangat-,"


"Jangan panggil aku Sayang kalau kau memuja wanita lain di depanku, Bryan!" tukas Dave. Dia memalingkan wajahnya dari pria yang masih sangat dia cintai itu. Rasanya masih tidak percaya kalau Bryan akan mengkhianatinya. Bahkan dia mencintai seorang wanita, itu seperti penghianatan terbesar yang pernah dia terima sepanjang hidupnya.


Bryan berusaha menggenggam tangan Dave, tetapi pria itu menepisnya. "Jangan sentuh aku! Aku pikir saat itu kau hanya mengagumi, tapi ternyata kau benar-benar jatuh cinta kepadanya! Berarti, hubungan kita saat ini sudah berakhir, Bry!"


"Kita masih bisa berteman, Dave. Ayolah, kita sudah sama-sama dewasa dan hubungan kita masih akan tetap sama seperti kemarin." ujar Bryan. Ada rasa bersalah di dalam hatinya saat melihat kedua manik Dave berkaca-kaca. "Ini semua di luar kendaliku, Dave. Maafkan aku. Aku benar-benar tidak punya maksud untuk menyakitimu atau mengakhiri hubungan kita,"


Dave bangkit dar kursinya dan dengan dramatis dia berkata, "Jangan temui aku dulu! Aku butuh waktu untuk sendiri!"


Beberapa hari setelah patah hati, Dave kembali ke kantor dengan wajah bengkak dan mata sembab. Dia mengeluhkan semuanya pada Shane. "Seharusnya saat itu, kau jangan putuskan Leona,"


"Kenapa memangnya? Saat itu aku lebih memilih keponakannya, aku baru tahu kalau ternyata mereka memiliki hubungan keluarga," jawab Shane santai.


"Karena kau memutuskan Leona dan memilih keponakan kecilnya, Bryan memutuskan hubungan kami dan memilih untuk menjalani hubungan dengan Leona! Untunglah aku lebih mencintai diriku sendiri dan aku bisa pulih dengan cepat," ucap Dave berbangga hati. "Bagaimana denganmu dan Jenna? Kapan kalian akan menikah?"


Shane tersenyum, dia mendekati Dave yang sedang melihat Yuna dan Mario. "Aku memutuskan untuk mengakhiri segala sandiwara ku dengan Jenna dan aku akan mengejar kembali cintaku," kata Shane sambil mengetuk jendela kaca yang menghadap Yuna.

__ADS_1


"Bagaimana dengan warisan mu?" tanya Dave. "Apa kau sudah siap merangkak dari bawah?"


"Sebagian besar saham ku tertanam di perusahaan ini atas namaku dan ibuku tidak bisa mengambil alih begitu saja perusahaan ini, Dave. Makhluk kecil itu, ...." jawab Shane lagi sambil menunjuk Mario dari jendela kaca ruangannya. "Makhluk kecil itu akan menjadi saingan cintaku!"


__ADS_2