Gadis Culun Milik Sugar Daddy

Gadis Culun Milik Sugar Daddy
Bab 52


__ADS_3

"Nyo-, Nyonya!" pekik Shane menutupi wajah dengan kedua tangannya untuk mengurangi air yang disiramkan ke tubuhnya.


Leona dan Yuna serentak menghampiri Lauren yang sedang mengomel di depan pintu masuk. "Ma, ada apa?"


"Nek, kenapa?" tanya Yuna.


Mereka berdua pun terkejut melihat apa yang terjadi dengan Lauren. Wanita itu sedang bersiap mengguyur Shane dengan kaleng penyiram tanaman.


Dengan secepat kilat, Yuna memegangi tangan Lauren. "Nenek! tahan, Nek! Jangan siram lagi, dia bisa masuk angin nanti. Sudah, ayo, Nenek tenang dulu di dalam,"


Yuna memeluk Lauren dan membawa neneknya itu untuk masuk ke dalam. Sedangkan, Leona memberikan Shane selembar handuk untuk mengeringkan rambutnya yang basah kuyup.


"Kenapa kau bisa disiram oleh ibuku?" tanya Leona. Dia kembali lagi keluar dan memberikan kaus miliknya yang kebesaran pada Shane. "Pakai ini dulu untuk sementara,"


Shane mengambil kaus berwarna putih dengan motif hati besar di tengahnya dan bertuliskan "XOXO MINE 💋"


"Tidak adakah baju lain? Atau bisakah kau masukan pakaianku ke dalam mesin pengering?" tanya Shane.


Leona menghembuskan napas lelah. "Tetap saja kau harus memakai sesuatu untuk menutupi tubuhmu, 'kan?"


Gerak tubuh Shane menjadi salah tingkah. "Baiklah, aku pinjam salah satu kamarmu,"


Leona mengedik kan kepalanya, memberi kode pada Shane untuk masuk ke dalam rumahnya. Bersamaan dengan itu, mobil Mario datang menjemput.


"Nenek, aku pergi bekerja dulu. Aku akan membawakan nenek sesuatu saat aku pulang nanti. Apa yang sedang nenek ingin makan?" tanya Yuna lembut. Gadis itu berusaha mengambil hati Lauren, supaya wanita tua yang sedang merajuk itu tidak marah lagi.


Lauren berpikir sesaat kemudian dia menjawab dengan malu-malu. "Aku ingin nachos dengan guacamole,"


"Oke, aku akan bawakan Nenek nachos dengan guacamole dengan keju yang melimpah. Bolehkan aku memeluk nenek? Maafkan aku sudah membuat nenek khawatir," ucap Yuna sambil memeluk wanita yang tubuhnya mulai mengecil itu. "Aku jalan dulu, Nek,"


Lauren mencium kening cucunya dengan sayang dan mengantarkan dia pada Mario. "Anak muda, jangan kau permainkan cucuku! Awas saja kalau kau membuatnya menangis, aku tidak akan segan membuatmu tidak dapat melihat matahari terbit lagi!"


Mario menundukkan kepalanya dengan sopan. "Baik, Nyonya. Kami pergi dulu,"

__ADS_1


Dalam perjalanan, Yuna bercerita tentang Lauren yang melarangnya untuk pindah ke apartemen. "Nenek tidak mengizinkanku dan dia menjadi sedikit merajuk tadi,"


"Jelas saja kau dilarang hidup sendiri. Kalau aku menjadi nenekmu, aku juga tidak akan mengizinkanmu hidup sendirian. Aku tidak rela!" tukas Mario tertawa.


Yuna memberikan roti lapis buatannya dan menyuapkannya kepada Mario. "Bagaimana rasanya? Kau harus memberikan penilaian dengan jujur,"


"Hmm, nyi enyak. Aku bicawa jujuw," jawab Mario sambil mengunyah. Pipinya menggembung karena mulutnya penuh dengan roti sandwich.


"Benarkah?" tanya Yuna tak percaya.


Mario mengangguk. "Benar. Aku mau lagi. Aaaaa, ...."


Dengan malu-malu, Yuna menyuapi roti lapis itu ke dalam mulut kekasihnya. Wajahnya berseri-seri karena makanan buatannya dipuji oleh Mario.


Sementara itu, di kediaman Leona. Wanita berusia 40-an tahun itu baru saja keluar dari ruang cuci. "Hei, bajumu sudah aku masukan ke dalam mesin pengering. Lima belas menit lagi akan selesai,"


"Aku ingin bicara dengan Yuna," ucap Shane.


"Cucuku sudah berangkat dengan kekasihnya!" kata Lauren yang saat itu melewati kamar Leona.


"Huh!" tukas Lauren sambil lalu begitu saja tanpa menjawab pertanyaan Shane.


Setelah Lauren masuk ke dalam kamarnya, Shane memberanikan diri untuk keluar dari kamar Leona. Dia mengintip Leona yang sedang sibuk mengawasi mesin pengering. "Hei, boleh aku tahu bagaimana hubungan Mario dengan Yuna?"


"Apa yang ingin kau ketahui?" tanya Leona. Kini dia mengambil setrika uap untuk mengeringkan kemeja dan celana panjang Shane. "Niy, sudah selesai,"


Shane mengambil kemeja itu dan dengan santai dia membuka kaus bergambar hati itu di depan Leona. "Thanks. Segalanya. Beritahu aku tentang segalanya,"


"Kurasa sudah tidak ada lagi yang harus aku beritahukan kepadamu. Ku kasih tahu kalau mereka berdua sudah mulai menjalani hubungan ini dengan lebih serius. Bahkan setahuku Mario mengajak Yuna untuk tinggal bersama di sebuah apartemen," jawab Leona berbohong. Dia tidak mau keponakannya kembali lagi kepada Shane. Selain karena umurnya yang terpaut jauh, kondisi ekonomi serta sosial mereka pun sangat berbeda.


Wajah Shane seperti tertampar. Pria itu menelan saliva nya dengan kasar dan berusaha membasahi tenggorokannya yang terasa kering saat mendengar kabar keseriusan hubungan gadis yang dia sukai dengan seorang pria lain. "Benarkah? Kau tidak sedang membohongiku, 'kan?"


"Apa untungnya aku berbohong padamu? Kau memintaku untuk memberitahu bagaimana hubungan keponakanku dengan Mario, dan begitu aku memberitahukan mu, kau menganggap ku berbohong. Lucu sekali!" tukas Leona yang kemudian masuk ke dalam kamarnya. Terdengar suara klek dari dalam, menandakan pintu terkunci.

__ADS_1


Tak lama, wanita itu sudah keluar lagi dengan pakaian yang berbeda. Piyama tidur yang tadi dia kenakan sudah tergantung rapi di lemarinya. "Kau akan tetap di sini? Aku harus bekerja,"


Shane menggigit bibir bawahnya. "Aku tidak menganggap mu berbohong. Hanya saja untuk gadis seusia Yuna, terlalu beresiko sekali, 'kan, jika memutuskan untuk tinggal bersama seorang pria di sebuah apartemen?"


"Itu yang pernah kau lakukan dengan Yuna-ku dan itu juga yang sempat kurasakan kepadamu," jawab Leona sambil mengikat tali sepatu hak tingginya.


Suara klakson mobil berbunyi, Leona memulas bibirnya dengan pewarna bibir berwarna nude. "Maaa, aku jalan!"


"Siapa itu?" tanya Shane, dia mengenali mobil yang tampak tak asing itu. "Bukankah itu mobil Bryan?"


Leona mengangguk dan tersenyum. "Ya, kami berkencan sekarang." Kemudian dia melambaikan tangannya pada Shane dan berlari kecil masuk ke dalam mobil.


"Aargh! Shiit! Kenapa jadi aku yang ditinggal sendiri di sini?" tanya Shane bermonolog. Dia kembali ke dalam dan mencari Lauren. "Nyonya, saya permisi dulu. Maaf mengganggu dan terima kasih,"


"Hei, kau! Duduk di sini!" kata Lauren memanggil Shane yang hendak keluar.


Shane pun membalikkan tubuhnya menghadap Lauren. "Ya, Nyonya?"


Lauren menunjuk kursi di depannya. Shane menurut, dia berjalan menghampiri Laurent dan duduk di kursi yang tadi ditunjukkan oleh Lauren.


"Kenapa kau datang lagi ke sini?" tanya Lauren tajam.


Mendengar suara Lauren yang cukup tegas, Shane tahu ini pembahasan serius. Maka, dia akan menjawab segala pertanyaan Lauren dengan jujur, tanpa ada satupun yang akan dia tutupi. "Aku ingin menemui Yuna,"


"Untuk apa? Kau tahu dia sudah memiliki kekasih, 'kan?" tanya Lauren lagi.


Shane mengangguk. "Ya, aku tau. Aku hanya ingin mengatakan pada Yuna kalau aku masih mencintainya dan aku juga ingin meluruskan kesalahpahaman antara aku dengan Jenna,"


Lauren mendengus. "Huh! Ku perhatikan, kau mudah berpaling dan berpindah hati. Mana bisa aku percaya pada buaya sepertimu!"


"Terserah apa anggapan mu, Nyonya. Aku hanya ingin membuat Yuna melihat kepadaku saja. Aku tidak peduli anggapan keluargaku atau siapapun, aku hanya peduli pada Yuna! Aku hanya peduli tentang anggapan Yuna kepadaku!" tegas Shane panas. Dadanya naik turun karena dia mengemukakan pendapatnya dengan penuh semangat dan berapi-api.


Lauren bangkit berdiri sambil merapikan meja. "Buktikan saja dulu kepadaku, setelah itu, kau boleh membuktikan ucapan mu pada Yuna. Aku tidak mau mengulangi kesalahan yang sama untuk kedua kalinya,"

__ADS_1


Pandangan mata Lauren kini menerawang dan sebutir air mata bergulir dengan cepat dan terjatuh di tangan keriputnya. "Pergilah! Pergi!"


***


__ADS_2