Gadis Culun Milik Sugar Daddy

Gadis Culun Milik Sugar Daddy
Bab 67


__ADS_3

"Liana benar-benar melakukan itu? Tega sekali! Kupikir dia mengurus buah hati kami dengan baik," tanya Andrew. Tampak jelas di raut wajahnya kekecewaan yang begitu mendalam pada wanita yang pernah dicintainya itu.


Leona mengangguk kan kepalanya. "Ya, dia berkata kau pergi dan meninggalkan tanggung jawab mu atas dirinya dan Yuna. Kami juga tidak pernah menyangka kalau Liana akan meninggalkan Yuna di sini hanya dengan selembar surat,"


Andrew dian dan tertunduk. "Aku sama sekali tak pernah berhasil untuk mengerti dia. Di saat aku mengira aku sudah memahaminya, dia malah bertindak di luar apa yang aku pikirkan,"


"Jadi sebenarnya apa yang sudah terjadi di antara kalian sampai kalian berdua menelantarkan seorang anak kecil yang tak bersalah?" tanya Leona.


"Aku bekerja. Hari itu, aku berkata pada Leona kalau aku ingin mencari pekerjaan dan membuat hidup kami menjadi lebih baik. Dia pun setuju. Jadi tanpa curiga dan hanya berbekal kepercayaan ku pada Liana, aku pun pergi bekerja di luar negeri. Saat itu Yuna masih kecil sekali," jawab Andrew memulai kisahnya.


Dia memejamkan matanya sesaat dan tertunduk. "Setiap Yuna berulang tahun, aku selalu mengirimkan uang kepada mereka dan selama itu pula, Liana selalu memberikanku kabar tentang dirinya dan perkembangan Yuna. Namun, begitu Yuna berusia tiga tahun, dia mulai jarang mengabari ku. Hanya keluhan, kalau dia merasa seorang diri dan butuh pendamping yang selalu bisa ada disampingnya. Saat itu, aku menyarankan dia untuk menginap di sini, sehingga dia tidak kesepian. Dia pun setuju."


"Kupikir setelah itu, hubungan kami membaik kembali dan aku mencoba berpikir positif setiap kali Liana tidak membalas pesanku. Ya, sejak Yuna berusia empat tahun, dia sama sekali tidak pernah mengabari ku lagi. Dan, saat Yuna berusia lima tahun, dia meninggalkan Yuna kami di sini," ujar Andrew lagi, suaranya tercekat karena menahan kesal dan tangis.


Pria dewasa itu tentu saja merasa bersalah kepada putri yang sudah dia perjuangkan, tetapi ternyata justru disia-siakan oleh istrinya sendiri.


Andrew memijat-mijat pelipisnya. "Maafkan aku, Leona. Aku juga ingin bertemu dengan Lauren dan meminta maaf kepadanya. Aku ingin meluruskan semua kesalahpahaman ini. Aku tidak ingin dianggap buruk dan tak bertanggung jawab oleh ibu mertuaku sendiri. Lauren sudah ku anggap sebagai orang tuaku, jadi aku tak tega jika aku membuatnya kecewa,"


"Lebih baik, aku berbicara dulu pada Ibu, setelah itu kau bisa berbicara padanya. Aku takut, jika ibu melihatmu, dia akan emosi. Selama ini yang dia tahu, kau meninggalkan Liana dan menelantarkan Yuna. Bertahun-tahun dia hidup dalam trauma dan kesakitan nya sendiri," usul Leona. Dia membayangkan Lauren akan marah besar begitu melihat Andrew dan bahkan mungkin, pisau daging akan melayang ke arah Andrew sebelum kakak iparnya itu membuka mulut.


Itu juga yang terjadi pada Shane dan Mario. Lauren menjadi sangat berhati-hati kepada setiap pria yang datang ke rumah itu.


Andrew mengangguk. "Baiklah kalau begitu. Tapi, kau percaya padaku, 'kan?"

__ADS_1


"Kalau melihat caramu bercerita dan semua penyampaian mu, aku mempercayaimu. Aku akui, kakakku belum sedewasa usianya. Kabar terbaru yang kudengar darinya, dia ingin mengajak Yuna dan membawanya tinggal bersama. Awalnya kupikir tujuannya baik, ternyata hanya untuk membuktikan kepada suami barunya kalau dia memiliki seorang anak gadis yang sudah beranjak dewasa. Dia benar-benar membuatku emosi!" jawab Leona. Dahinya berkerut-kerut dan dia mengerucutkan bibirnya kesal.


"Jadi dia ingin menikah lagi?" tanya Andrew. "Walaupun dia ibu dari anakku, tapi tak akan menghalangiku untuk menyebutnya wanita gila, ckckck!" katanya berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepala.


"Leona, bolehkah aku bertemu dengan Yuna? Aku ingin melihat wajahnya dan sama seperti yang kulakukan padamu, aku ingin Yuna tahu kalau aku ayah yang bertanggung jawab," tanya Andrew.


Sementara itu di tempat lain, Yuna yang menahan segala emosinya. Wanita yang duduk di hadapannya kini dan yang mengaku sebagai ibunya itu sungguh sangat menjengkelkan Yuna sejak kemarin.


Entah kenapa gadis itu sulit sekali menerima Liana dalam hidupnya. Selain karena ibunya sudah membuangnya saat dia berusia 5 tahun dan sekarang Liana mengacak-acak hidupnya.


"Aku tidak peduli! Mau dia bekas siapapun, aku tidak peduli!" tukas Yuna gusar.


Matanya menatap tajam ke arah Liana. "Apa kau sempat berpikir, suami yang sekarang bekas siapa? Mungkin saja dia bekas seorang wanita yang bekerja sebagai pekerja sekss malam? Kau juga tidak tahu, 'kan dan kau tidak peduli! Kenapa kau harus selalu ikut campur dalam hidupku? Masa-masa itu sudah lewat, Liana!" seru Yuna.


Wajah Liana seperti tertampar mendengar kata-kata Yuna. "Ka-, kau!" tangannya terangkat hendak memukul wajah putrinya tersebut.


Namun, Shane menahannya. "Jika kau menamparnya, aku tidak akan segan-segan mempidanakan kasus ini! Aku akan melaporkanmu dengan dugaan kekerasan dalam rumah tangga dan penelantaran anak di bawah umur! Turunkan tanganmu, Liana!"


Liana menatap Shane dengan berang. Dia geram kesal karena dipermalukan oleh anak dan mantan kekasihnya di muka umum. "Eerrgghh! Brengsek!" tukasnya, lalu dia pergi begitu saja tanpa meminta maaf pada Yuna atau Shane.


"Maafkan ibuku, Shane. Aku tidak pernah tahu kalau ibuku seperti itu. Sejak aku tahu, dia meninggalkanku di rumah nenek, sejak saat itu pula aku membencinya," ucap Yuna sengit.


Sakit hati yang dirasakan oleh Yuna, dapat dirasakan juga oleh Shane. Pria itu dapat merasakan dari nada suara Yuna yang terdengar getir dan pahit. Ada banyak emosi di dalam suaranya.

__ADS_1


"Aku juga tak pernah mengira kalau semuanya akan saling berhubungan seperti ini. Anyway Yuna, tentang pertanyaan ku kemarin, kau sudah memikirkannya?" tanya Shane berharap.


*


*


Saat Yuna sedang memikirkan tentang ibunya dan jawaban untuk pertanyaan Shane. Mario sedang memikirkan perbuatan dan egonya.


"Bagaimanapun, harga diriku telah terluka saat melihat Shane mencium Yuna! Cih! Laki-Laki Brengsek!" tukasnya bermonolog sambil memukul samsak yang berada di depannya.


Sulit untuk diakui, tetapi dia merindukan Yuna. Ada perasaan menyesal yang membuatnya galau sore itu. Claire datang dan mencoba untuk menghiburnya.


"Hei, ikut saja kencan buta atau kopi darat? Kau mau?" tanya Claire. "Kau menyesal telah memutuskan Yuna tapi kau tidak mau kembali padanya. Aneh sekali,"


"Sampai kapanpun, aku tidak bisa kembali padanya. Bukannya aku tidak mau, tapi aku tidak bisa ,Claire!" jawab Mario gusar.


"Kenapa?" tanya Claire penasaran.


Mario berhenti memukuli samsak dan mengambil handuk kecil untuk mengusap keringat yang bercucuran di keningnya. "Sejak awal, aku tahu hatinya tidak pernah ada untukku. Tapi, aku terus berusaha dan mencoba dengan harapan, kalau aku berhasil mengusir bayang-bayang Shane dari hidup Yuna, aku akan memenangkan hatinya. Ternyata, semakin aku berharap, mataku semakin terbuka, dan aku semakin sadar kalau aku tidak pernah ada di sana, Claire. Sakit sekali."


"Andai saja, dia menyisakan cinta itu untukku sedikit saja, aku akan berjuang. Tapi, dia memberikan seluruh cintanya pada Shane tanpa menyisakan untukku," sambung Mario lagi.


Kedua adik kakak itu terdiam. Claire menepuk pucuk kepala kakaknya. "Kalau begitu, lupakan saja dia. Aku akan selalu mendoakan kebahagiaanmu, Kak,"

__ADS_1


***


__ADS_2