
"Semua gadis cantik dilarang bertengkar! Aku ambil Gadis Cupu kalian, yah?" sahut Shane yang tiba-tiba muncul entah darimana.
"Siapa Anda?" tanya Sabrina, dia berusaha melepaskan cengkraman tangan Shane.
Shane tersenyum. Wajah tampannya seolah menyihir Sabrina dan kawan-kawannya, tak terkecuali dengan Yuna.
"Aku kekasih gadis cupu ini," ungkap Shane sambil tersenyum dan merangkul pundak Yuna.
"Heh! Bohong! Kau pembohong! Apa kau dosen baru disini?" tuntut Sabrina. Gadis itu merasa tidak terima saat Shane berkata kalau dia adalah kekasih Yuna, Si Gadis Cupu itu.
Shane merengkuh pinggang kecil Yuna dan mengecup pipi gadis itu dengan meninggalkan semburat kemerahan di wajah Yuna.
"Kalian percaya sekarang?"tanya shane.
Sabrina menjejakkan kedua kakinya bergantian dan berdecak kesal.
"Ck.. Aku masih tidak percaya! Lihat saja, akan ku buktikan kalau kalian pembohong! Kau pasti hanya kasihan melihat Si Cupu ini dan ingin menyelematkan nya,Iya, 'kan?"
Entah dorongan darimana, tangan Shane masuk memegang pipi Yuna, merengkuh ceruk lehernya dan mendorongnya sehingga bibir mereka saling bertemu. Shane menggerakkan bibirnya perlahan dan bersorak senang saat Yuna membuka sedikit mulutnya. Ciuman mereka kini semakin memanas.
Yuna merasakan ada sesuatu yang bangkit dari dalam dirinya, seperti ada seekor kupu-kupu yang terbang menggelitik perutnya.
Ketika rasa itu semakin dalam, Yuna mendorong Shane menjauh dan berdeham.
"Ehem! Ka-, kau percaya sekarang?"
Shane mengusap bibirnya sendiri dan mengulum senyumnya.
'Hmmm, ciumannya tidak buruk!'
__ADS_1
Sabrina menggandeng kedua lengan sahabatnya dan bergegas pergi meninggalkan Yuna dan Shane.
"Ma-, maafkan teman-teman saya. Terima kasih karena kau telah membantuku sampai harus berciuman denganku," ucap Yuna kepada Shane sesaat setelah Sabrina pergi.
Shane tersenyum.
"Aku tidak membantumu. Aku sengaja melakukan itu. Seharusnya aku yang meminta maaf kepadamu karena mencuri ciuman mu. Apakah itu pertama untukmu?"
Wajah Yuna kembali memerah dan dia mengangguk perlahan sambil menyembunyikan wajahnya.
"I-,iya," jawab Yuna dengan nada terbatas
"Kalau begitu, maafkan aku. Kau melakukan ciuman pertamamu dengan orang asik. Tapi, aku cukup menikmatinya." Kata Shane lagi. Dia menikmati pemandangan yang ada di hadapannya itu.
Seorang gadis muda dengan wajah malu-malu dan suaranya yang menurut Shane cukup seksi sampai rasanya ingin sekali mendaratkan bibirnya ke benda kenyal yang sekarang sedang dikatupkan oleh gadis itu.
Lagi-lagi pria dewasa itu berhasil membuat wajah Yuna bersemu merah. Yuna memandang Shane dan mengingat-ingat di mana mereka pernah bertemu. Sampai akhirnya, gadis itu melebarkan kedua matanya.
"Oh, kita pernah bertemu di pusat perbelanjaan! Tuan Shane, maaf bukan maksudku melupakanmu. Aku benar-benar tidak ingat!"
"Hahaha! Apa bedanya lupa dengan tidak ingat?" tanya Shane sambil tertawa.
"Maaf," Yuna kemudian melirik jam tangannya. "Oh, aku harus segera masuk kelas. Aku ada kelas di pukul sepuluh saat ini. Sekali lagi terima kasih untuk pertolongan dan bantuanmu,"
"Aku juga harus kembali bekerja. Terima kasih untuk ciuman pertamamu. Sampai jumpa lagi, Gadis Cupu," sahut Shane.
Sepanjang hari itu, Yuna sangat bahagia tanpa alasan yang jelas. Dia terus mengingat ciuman pertamanya dengan Shane hari itu. Rasanya dia tidak ingin menghilangkan jejak bibir Shane pada bibirnya.
Selepas jam kuliah selesai, Yuna kembali ke rumahnya. Hatinya masih berbunga-bunga saat dia tiba di rumah. Tentu saja, hal ini menarik perhatian Laurent, nenek Yuna.
__ADS_1
"Ada apa denganmu? Apakah kau baru saja mendapatkan pelangi?" goda Laurent.
Yuna tersenyum kecil. "Lebih indah dari pelangi, Nek," jawab Yuna.
"Kau jatuh cinta? Begitulah wajah gadis muda yang sedang jatuh cinta," kata Laurent, mengusap rambut Yuna dengan sayang. "Ingat saja kalau kau jatuh cinta, pastikan pria itu belum beristri dan tidak merusak hidupmu," ucap Lauren menasehati Yuna.
"Iya, Nek. Aku akan mengingat pesanmu. Tapi aku rasa, aku belum sampai pada tahap jatuh cinta. Aku hanya sedang mengagumi seseorang," jawab Yuna tegas.
*
*
Sementara itu, Shane sedang asik merayakan sesuatu dengan sahabat baiknya, Dave di sebuah bar.
"Kau tampak bahagia sekali. Apa yang terjadi padamu? Apa kau bertemu dengan bidadari surga?" tanya Dave. Pria itu cukup heran melihat kawannya hari itu. Dia belum pernah melihat Shane sebahagia ini semenjak mereka bersahabat.
Shane menenggak segelas Brandy.
"Kau tau, Dave. Benar kata orang zaman dahulu, kalau cinta tak memandang usia,"
"Apa maksudmu?" tanya Dave tak paham. "Kau jatuh cinta dengan seorang gadis?"
Shane mendengus tertawa.
"Hemh.! Ya, aku yang sudah nyaris menopause ini jatuh cinta kepada gadis berusia dua puluh tahunan, Dave. Hari ini aku merampas ciuman pertamanya dan aku seperti kecanduan. Aku ingin menciumnya lagi. Bagaimana ini, Dave?" tanya Shane dengan percaya dirinya menceritakan apa yang sudah terjadi padanya.
"Kau gila!" jawab Dave sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
***
__ADS_1