Gadis Culun Milik Sugar Daddy

Gadis Culun Milik Sugar Daddy
Bab 49


__ADS_3

Shane pun segera beranjak dari ranjangnya. Dengan hanya memakai selimut untuk menutupi tubuh atletisnya, pria itu mengambil pakaian yang tercecer di lantai.


"Jika kau menjebak ku, aku tidak akan bertanggung jawab atas apa yang terjadi padamu nanti!" ancam Shane dengan mengacungkan jari telunjuknya pada Jenna.


Jenna memberengut kan bibirnya. "Tentu saja kau harus bertanggung jawab, Shane! Kau harus menikahi ku! Aku tidak mau, anakku lahir tanpa seorang ayah di sisinya!"


Shane membalasnya dengan jari tengah. "Never!"


Shane pun lantas pergi dan memutuskan untuk kembali ke apartemennya. Setibanya dia di sana, pria itu segera masuk dan membersihkan dirinya di kamar mandi. Dia menyikat tubuhnya dari atas sampai bawah, seolah banyak kotoran yang menempel di tubuhnya. "Aarrgghh! Wanita Sial!"


Setelah merasa bersih, Shane mengambil sebotol air dingin dari lemari pendinginnya dan meminumnya dalam sekali tenggak.


Kemarahannya yang menggelegak itu dia tujukan pada Dave. Maka, ia pun langsung menghubungi Dave saat itu juga. "Datang ke apartemenku sekarang!"


Dave segera mengiyakan panggilan dari bos besarnya itu. Pagi hari itu, ada rapat penting yang seharusnya dihadiri oleh Shane. Namun, dia tidak tahu mengapa bos-nya malah meminta dia untuk datang ke apartemennya.


Pria itu terpaksa mencari pengganti yang sanggup menggantikan tugasnya saat rapat. "Hei, Anak Baru!"


Baik Mario dan Yuna menoleh. Dave berkacak pinggang dan menunjuk Mario. "Kau, yang laki-laki, ke sini sebentar,"


Mario pun menghampiri Dave. "Ada apa, Tuan?"


Dave menunjukkan materi rapat yang ada di layar laptopnya. "Ada keperluan mendesak yang harus ku hadiri dan kebetulan bos tidak dapat hadir pada rapat pagi ini. Aku mau, kau pelajari ini dan bawakan rapat hari ini. Kau sanggup?"


Mario mengklik slide demi slide halaman yang terpampang di layar laptop Dave itu. "Oke, aku akan pindahkan datanya dulu,"


"Tidak perlu. Kau pakai saja laptopku. Setelah selesai rapat, segera antar kan ke alamat yang nanti aku berikan kepadamu via chat," ucap Dave. "Tapi, kau paham, 'kan?"


Mario mengangguk. "Aku paham. Ini tidak terlalu sulit dan jika ada pertanyaan nanti, bolehkah aku menjawabnya?"


"Hahaha, silahkan. Aku akan mempromosikan mu untuk naik jabatan jika jawabanmu mampu membuat user terkesan. Bagaimana?" ucap Dave.


Mario tersenyum antusias. "Benarkah? Oke, baiklah,"

__ADS_1


Dave memberikan ibu jarinya pada Mario. "Karirmu dipertaruhkan di sini, Anak Muda,"


Tak lama setelah memberikan penjelasan, Dave pun bergegas pergi untuk menemui Shane. Jarak dari kantor mereka ke apartemen Shane tidak begitu jauh, sehingga Dave tidak perlu berlama-lama di jalan.


Setelah dua puluh menit di perjalanan, akhirnya tibalah Dave di apartemen Shane. Dia membunyikan bel yang berada di sisi pintu ruangan presiden suite itu.


Shane membuka pintu dan segera menarik Dave masuk ke dalam. Sebuah tinju mentah melayang di wajah pria itu. "Sialan kau, Dave! Kau menghubungi Jenna kemarin, 'kan? Di saat aku mabuk!"


Dave terpelanting dan Shane tidak berhenti di situ. Dia menarik kerah baju Dave dan meninjunya lagi. "Kau tahu, aku tidak suka dengan dia! Aku tidak pernah mencintainya! Sialan! Brengsek!"


Dave mengangkat kedua tangannya. "Aku tidak pernah menghubungi dia, Shane! Sumpah!"


"Kenapa dia bisa membawaku ke rumahnya? Apa jangan-jangan, kau meninggalkanku seorang diri di sana dan dia kebetulan datang? Tidak mungkin!" tanya Shane berang.


Dia sungguh tidak tahu bagaimana dia bisa berakhir di kamar Jenna tadi malam. Shane mengacak-acak rambutnya kasar. Pria itu kemudian mengambil bantal dan melemparkan bantal itu ke di dinding. "Aarrgghh! Sialan!"


Dengan tangan bersandar pada kursi makan, Dave berusaha berdiri. Langkahnya terseok-seok menuju sofa tamu berbentuk huruf L. "Dengarkan aku! Aku tak pernah menghubungi dia! Kau bisa cek riwayat panggilan di ponselmu, Shane."


Shane tersentak. Kenapa dia tidak mengecek riwayat panggilan atau chat di ponselnya. Merasa bersalah kepada asistennya, Shane mengambil ice gel dan memberikannya pada Dave.


"Wanita Ja*ang itu yang menghubungiku, lalu siapa yang mengangkat panggilannya?" tanya Shane.


"Bartender itu, Shane. Saat kau mabuk, aku sempat ke kamar kecil dan begitu aku kembali, kau sudah tidak ada," jawab Dave sambil sesekali mengerang kesakitan.


Shane tidak menanggapi kalimat Dave, kini tangannya asik menari lincah di atas keypad ponselnya. Setelah itu dia menatap Dave. "Maafkan aku. Dokter akan ke sini. Istirahatlah,"


"Lalu? Kau mau ke mana?" tanya Dave.


"Rapat. Kau bilang ada rapat penting yang harus ku hadiri," jawab Shane santai sambil memakai dasi berwarna biru garis-garis di lehernya.


Dave mengibaskan tangannya. "Aku sudah meminta anak baru itu untuk membuka rapat ini. Kalau dia gagal, kau jadi punya alasan untuk memecat dia, 'kan? Dengan begitu, kau bisa mendekati Yuna,"


Senyum Shane mengembang lebar. "Wah, aku tak pernah mengira kau memiliki pikiran licik seperti ini, Dave. Ide mu selalu luar biasa. Okelah, aku akan menunggu komplain masuk dari user kita, hehehe!"

__ADS_1


Sayangnya, dugaan Shane dan Dave tidak terbukti. Mario berhasil memimpin rapat dengan baik. Segala pertanyaan dapat dijawab dengan luar biasa sehingga sang penanya pun tampak puas dengan jawaban yang diberikan oleh Mario.


Pria itu benar-benar menguasai materi, selayaknya seorang senior yang sudah sangat berpengalaman. Kontrak kerjasama pun berhasil ditandatangani oleh kedua belah pihak.


"Kau hebat sekali, Mario. Aku yakin setelah ini, kau akan mendapatkan promosi untuk kenaikan jabatan," ucap Yuna bangga.


Mario tersipu malu. "Ah, itu juga karena mu, Yuna. Kau membantuku menjawab pertanyaan yang tidak ku mengerti,"


"Tapi, kau berhasil membawakan materi itu seperti seorang profesional. Pokoknya, aku bangga sekali padamu," ujar Yuna.


Pipi Mario merona merah. Hari itu, dia seperti melayang ke langit ketujuh saat Yuna memujinya. "Aku ingin mengumpulkan uang supaya aku bisa melamar mu, Yuna,"


Langkah Yuna terhenti. "Melamar ku?"


Mario berdiri menghadap gadis yang dia cintai itu. Dia mengangguk. "Ya, melamar mu. Tidak sekarang, tapi suatu saat nanti. Sejak kita meresmikan hubungan kita beberapa waktu yang lalu, aku menempatkan mu di dalam salah satu impian hidupku,"


"Aku belum berpikir untuk sampai tahap melamar ataupun mengikat hubungan kita lebih serius.Maksudku, Aku ingin kita menjalani hubungan ini pelan-pelan saja dan tidak terburu-buru. Banyak sekali yang masih ingin ku raih dan untuk membicarakan hal seserius ini, aku sedikit takut. Maafkan aku," jawab Yuna jujur, dia tertunduk tak berani menatap mata Mario yang saat itu sedang memandangnya.


"Aku mengerti, Yuna dan aku tidak akan memaksa atau memburu-burui mu. Kita jalani saja hubungan ini dengan santai, oke? Yuk, cari makan. Aku sudah lapar," ucap Mario, dia menggandeng tangan Yuna dengan erat dan dia bersumpah, tidak akan melepaskan tangan gadis ini sampai kapanpun.


Sementara itu, Jenna datang menemui Willia dengan menangis.


"Tanteeee! Tanteee!" tangisnya.


Willia yang saat itu sedang makan siang bersama Kate pun terkejut.l dan serta merta memeluk calon menantunya itu. "Jenna Sayang, kenapa, Nak?"


"Shane, Tante. Tadi malam, Shane mabuk dan dia memanggilku untuk menjemputnya. Kami-, kami, ...." Jenna memperlihatkan foto-foto tanpa busana yang diambil oleh Jenna sendiri tadi pagi, saat Shane belum bangun dalam kondisi mabuk.


"Lalu, setelah itu dia memutuskan hubungan kami. Katanya, tidak ada pernikahan. Tapi, dia sudah menanam benihnya di rahimku, Tante. Aku harus bagaimana? Anak ini nanti tidak akan memiliki ayah. Tanteeeee!" tangisnya lagi semakin kencang.


Willia mematung. "Tidak! Tidak! Tenangkan dirimu, Jenna. Tante akan bicara pada Shane untuk mempercepat pernikahan kalian. Oh, Sayang, jangan menangis lagi. Nanti cucu Tante ikut sedih."


Dengan sabar, Willia mengusap air mata yang berjatuhan di pipi Jenna. "Mulai detik ini, panggil Tante dengan Mama. Oke, Sayang? Nanti, Mama akan atur pertemuan dengan orang tuamu juga. Makan bareng Mama dan Kate dulu ya dan jangan menangis lagi,"

__ADS_1


Jenna pun mengangguk dan menyunggingkan senyum penuh kemenangan di wajahnya.


***


__ADS_2