Gadis Culun Milik Sugar Daddy

Gadis Culun Milik Sugar Daddy
Bab 14


__ADS_3

Lauren terus memperhatikan gerak gerik Yuna. Untung saja, dia dapat menahan senyumnya dengan baik. "Kau boleh saja berpacaran selama itu bukan suami orang atau lelaki sudah berumur. Carilah pria yang memang dapat membimbing mu dan menerimamu apa adanya tanpa harus merubah pribadimu,"


"Aku tidak berpacaran dengan siapa-siapa, Nek. Dia hanya teman yang pernah menolongku," kata Yuna berkilah. Dia juga tidak ingin larut dalam perasaan yang tak pasti.


Lauren mendengus.


"Huh, teman? Nenek lihat kalian berciuman, tidak mungkin hanya sekedar teman, 'kan? Jaga dirimu! Kalau memang kalian hanya berteman, jangan biarkan dia menyentuhmu!"


Yuna merasa bersalah karena dia membohongi neneknya. Seseorang yang telah mengurus dan membesarkan dirinya sedari kecil dengan tulus. Dalam hati, Yuna bertekad untuk menjauh dari Shane.


Sayangnya tekad Yuna itu hanya bertahan selama semalam. Keesokan paginya, mobil Shane sudah terparkir rapi di dekat rumah Lauren. Dengan gagahnya, pria itu turun dari mobil dengan membawa sesuatu yang cukup besar.


Kebetulan pintu rumah Yuna terbuka, jadi Shane menjulurkan kepalanya sedikit ke arah pintu lalu tersenyum dengan manis.


"Permisi, saya temannya Yuna. Saya mau menjemput Yuna untuk jalan ke kampus,"


Lauren memandang Shane tajam. Alih-alih mempersilahkan pria itu untuk masuk, Lauren menghampirinya.


"Siapa kau?"


"Shane, Bu," jawab Shane sopan. Dia kemudian menyerahkan sesuatu yang tadi dia bawa kepada Lauren.


"Ehem! Ini ada roti dan buah untuk Yuna dan keluarga. Mohon diterima,"


Lauren tak bergeming. Wajahnya galak.

__ADS_1


"Apa maksudmu datang mengantar jemput cucuku, membawa ini dan itu? Sepertinya kau sudah cukup umur. Apa kau sudah memiliki istri atau keluarga? Aku tidak mau Yuna-ku berhubungan dengan pria berumur sepertimu!"


"Saya rasa, Anda tau kalau saya dengan Yuna masih dalam tahap pendekatan. Jujur saja, saya menyukai cucu Anda sejak pertama kami bertemu di Mall. Anda perlu mencatat kalau saya belum memiliki seorang istri, apalagi anak. Saya juga bukan seorang duda," jawab Shane sambil memperlihatkan jari pemegang cincinnya.


Jari penunjuk Lauren digoyang-goyangkan ke kanan dan kiri. "Tetap saja! Kau bisa menjerumuskan cucuku karena kau terlalu tua untuk cucuku!"


Sembilu pedih dirasakan oleh Shane mendengar kata-kata Lauren.


"Aku tidak pernah menjerumuskan seseorang, Bu. Aku hanya ingin dekat dengan cucumu,"


"Pulanglah. Anakku yang akan mengantar Yuna. Kumohon, jangan pernah sekalipun kau temui cucuku lagi!" setelah berbicara seperti itu, Laurent menutup pintu dengan kencang.


Shane berlalu meninggalkan tempat Yuna. Dia kembali ke kantor dan menemui Dave.


Suara hembusan napas menyiratkan jawaban Shane.


"Bingo! Why? Tell me!" desak Dave. Baru kali ini, dia melihat Shane gundah gulana seperti sekarang. Predikatnya sebagai pria tampan nan mapan peluluh hati wanita, sepertinya akan hancur.


"Sudahlah, sepertinya memang aku harus mencari wanita dewasa saja. Yang lebih bebas dan dapat menentukan keputusan sendiri," jawab Shane. Suaranya terdengar putus asa.


Dave menepuk pundak sahabatnya itu. "Malam ini, ikut aku kencan buta. Ada beberapa wanita yang ingin berkenalan denganmu,"


Dengan tatapan malas, Shane melirik ke arah Dave. "Haruskah?"


Sebenarnya, dia malas untuk ikut kencan buta. Mungkin umurnya meminta dia untuk segera mencari seorang pendamping yang serius dan siap menikah. Tapi, kenapa dia memilih Yuna? Umur gadis itu bahkan masih 20-an tahun. Shane mengacak-acak rambutnya kasar.

__ADS_1


"Ayolah, ikut saja. Paling tidak, ini bisa menyembuhkan patah hatimu karena si gadis muda itu," bujuk Dave.


Shane akhirnya mengangguk. "Baiklah, tapi aku hanya akan mampir,"


"Oke!" sahut Dave sambil melonjak kegirangan.


Senja pun dengan cepat berganti malam. Kesibukan padat akan segera berakhir. Lagi-lagi Dave menghampiri Shane untuk memastikan sahabatnya itu ikut dengannya.


"Shane, pakai mobilku saja. Nanti Brian yang akan mengambil mobilmu setelah acara ini selesai,"


Shane menggelengkan kepalanya. "No! Pakai mobilku saja, sudah kukatakan kepadamu, aku hanya akan mampir sebentar,"


"Oke," jawab Dave singkat.


Perjalanan mereka menuju sebuah kafe tidak perlu memakan waktu lama. Setibanya mereka di sana, beberapa orang yang mereka kenal melambaikan tangan ke arah mereka.


"Ahoi!" sapa Deva bersemangat. "Aku membawa Romeo kita, hahahaha! Kebetulan dia baru saja patah hati, jadi tugas kita di sini adalah untuk menghibur dia. Shane, ayo ke sini!" kata Dave lagi.


Shane bergabung dengan sungkan. Matanya seolah mendeteksi beberapa wanita yang akan dikenalkan kepadanya.


Dave mengajak Shane untuk berkenalan dengan wanita-wanita tersebut. Ada salah seorang wanita yang menarik perhatiannya. Wanita itu sepintas mirip sekali dengan Yuna.


Wanita itu tersenyum. "Hai, Shane. Namaku Leona," kata wanita itu memperkenalkan diri.


***

__ADS_1


__ADS_2